1 – Congklak

Photo by Tobias Tullius on Unsplash

Jika manusia bisa memilih untuk terlahir dari siapa, maka aku akan memilih untuk terlahir di keluarga kaya raya.

Mengapa? Jelas sekali, aku ingin semua kebutuhan dan keinginanku terpenuhi. Tak perlu khawatir terhadap kebutuhan pangan hari ini, bahkan esok hari. Tak lupa, aku bisa membeli semua mainan yang aku inginkan tanpa harus menunggu berbulan – bulan sampai akhirnya aku tidak minat lagi terhadap mainan itu. Aku juga bisa membeli jajanan warung sebelah rumahku, bahkan satu warungnya aku beli sekalian, demi memenuhi hasrat ngemil-ku. Ada banyak lagi yang bisa kupenuhi ketika aku terlahir menjadi orang kaya raya. Inilah pikiran seorang anak kecil berusia sembilan tahun yang berandai – andai jika ia terlahir dari seorang kaya raya.

Congklak adalah barang yang pertama kali membuatku berimajinasi seperti itu. Sudah beberapa bulan berlalu sejak aku meminta kepada Ibu untuk dibelikan congklak. Berkali – kali aku meminta, berkali – kali pula ditolak. Aku tak tahu apa penyebabnya, tetapi aku lelah meminta dan hanya bisa berharap dalam angan, seandainya orangtuaku kaya raya.

Aku memiliki sebuah celengan plastik berwarna merah, yang terkadang kuiisi dengan uang lima ratus atau seribu perak, sisa uang jajan sekolahku. Namun, membayangkan celengan itu dibongkar hanya demi sebuah congklak, menjadi sebuah dilema bagiku, sebab walaupun aku menginginkannya, aku tak sudi pengorbananku berakhir hanya karena mainan plastik itu. Aku ingin membeli sesuatu yang lebih mahal dan berarti daripada sekedar congklak, dengan tabungan yang tidak seberapa itu.

Setelah berpikir lebih keras lagi, akhirnya sesuatu terlintas dalam pikiranku.

Aku bergegas mengambil tas sekolah yang kugantung di dinding kamar, dan mengambil kertas tiga kali dari bagian tengah buku tulis. Tak lupa, pensil dan penghapus aku keluarkan dari kotak pensil. Lalu, barang persiapan tadi aku bawa ke studio kerja Bapak, yang disebut ‘kios’ oleh Bapak dan orang disekitarku.

Mungkin studio kerja inilah yang menjadi alasan kepindahan keluargaku dari Perumnas Simalingkar, rumahku dulu. Sebab, tak lama setelah pindah ke sini, pohon rambutan yang tadinya besar, lebat dan berbuah setiap musim hujan, ditebang untuk membangun studio kerja yang hanya bersekat dinding pembatas tetangga setinggi tiga setengah meter ini. Bagian luar hanya ditutupi spanduk bekas, seperti penjual pecel lele, yang dilubangi di beberapa bagian agar pertukaran udara lebih baik, sekaligus sebagai peneduh dari terik matahari dan pelindung terpaan air hujan yang menyiprat ke studio kerja. Jika hujan sangat deras, lantai bagian dalam studio kerja bisa basah.

Aku sering membantu Bapak mengerjakan berbagai proyeknya di sini. Awalnya, aku diajari membuat huruf di spanduk bekas, lalu setelah Bapak menilai hasilnya bagus, Bapak menyuruhku menggoreskan kuas untuk membentuk huruf pada spanduk hijau yang telah dipaku di berbagai sisi tepi kainnya.

Di studio kerja ini juga terdapat meja besar yang digunakan untuk sablon spanduk. Di atas meja itu, terdapat screen sablon seukuran meja, beserta rakelnya, yang digunakan untuk menyapu tinta sablon di atas screen. Aku sering membantu Bapak menyablon spanduk, karena sapuan antara rakel dan screen sablon begitu halus dan memuaskan suatu bagian dari diriku. Bahkan seringkali hingga malam tiba, aku masih berkutat di studio kerja, mengerjakan tugas sekolahku, atau sekedar melihat Bapak berkarya.

Setiap kali melihat Bapak bekerja di sini, aku merasa takjub. Jiwa seni yang ada pada dirinya mengalir kental dalam darahnya. Mungkin butuh satu bab penuh untuk menceritakan betapa aku mengagumi Sang Maestro di keluargaku ini. Studio kerja ini menjadi salah satu saksi bisu atas karya beliau yang luar biasa, setidaknya di mata anak sembilan tahun ini.

Di lantai semen dekat meja sablon ini, aku menyingkirkan beberapa botol plastik yang berisi cat. Aku memilih area yang dekat dengan kipas angin. Walaupun bunyinya mengganggu karena berderik, hari ini terlalu panas untuk dilalui. Jadi, lebih baik aku mengalah padanya. Lalu, aku letakkan lembar kertas tadi di lantai dan kususun secara memanjang.

Ada yang terlupa, selotip! Setelah beberapa saat mencari, aku menemukan sebuah selotip kertas milik Bapak di kotak berisi tumpukan perkakas.

Kusambung kertas tadi dengan selotip. Aku mulai membagi kertas menjadi dua baris horizontal dan menggambar tujuh lingkaran sedang di setiap baris, serta dua buah lingkaran besar di sisi kiri dan kanan lingkaran sebelumnya. Tanpa jangkar, lingkaran yang kugambar tampak jelek dan reyot, sehingga berulang kali aku menghapus dan memperbaiki agar bentuknya lebih manusiawi.

Setelah itu, aku mencari bebatuan kecil. Beberapa bulan ini jarang sekali hujan, sehingga selokan depan pagar rumahku mengering. Aku menemukan beberapa batuan kecil dan biji salak di selokan itu. Aku kumpulkan sebanyak – banyaknya dan kusortir bebatuan yang layak saja. Senangnya bukan main, akupun tak sampai berpikir untuk mencuci bebatuan terlebih dahulu.

Di antara cahaya terik kota Medan yang memasuki studio kerja Bapak melalui celah – celah kain spanduk bekas, aku terhanyut dalam permainan tradisional itu.

Siang itu, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku memiliki “sepapan” congklak.

—–

Bogor, 6 Mei 2022

Leave a comment