
Semua orang punya penyesalan, bukan?
Andai aku bisa kembali ke masa lalu, seperti yang dilakukan Takemichi atau Doraemon, aku ingin sekali menasihati betapa buruknya salah satu kelakuanku saat masih anak – anak, dan efeknya di masa depan nanti. Semuanya berawal dari warung Bulek Anti.
“Winda, jaga kede ya, Bulek mau mandi dulu!”
Teriakan Bulek Anti dari dapur rumahnya membuatku tersadar bahwa aku sudah memainkan congklak selama berjam – jam.
“Iya, Bulek”, teriakku.
Jika di daerah lain orang menggunakan kata warung, maka orang Medan menggunakan kata kede, yang berasal dari kata kedai. Mungkin karena malasnya menekan huruf i yang mendayu di akhir kata kedai, maka digantilah dengan huruf e. Seperti halnya orang Australia menyebut thanks dengan kata ta, atau bikkie untuk biscuit, karena mereka cenderung malas mengeja kata secara lengkap.
Akupun bergegas ke warung milik Bulek Anti yang masih terletak di pekarangan rumah yang sama. Rumah yang aku tempati sekarang sebenarnya merupakan rumah Mbah. Tanah rumah ini luas sekali, terdiri dari satu kavling sebesar dua ratus meter persegi, yang memuat pekarangan depan, satu rumah yang aku huni sekarang, satu rumah Mbah, yang dihuni oleh Mbah dan Bulek Anti, juga pekarangan belakang yang terdapat berbagai jenis pohon dan tanaman, sekaligus bak sampah yang cukup besar. Di pekarangan depan inilah warung Bulek Anti dan studio kerja Bapak berhadapan, tetapi masih menyisakan sisa pekarangan yang cukup luas untuk aku sapu setiap sore, akibat daun pohon jambu air yang berguguran. Itupun karena disuruh Bulek.
Sejak pindah ke sini, aku memang sering disuruh menjaga warung, karena Bulek sibuk mengurus Mbah yang mungkin sudah berumur lebih dari delapan puluh tahun, jadi beliau merasa terbantu dengan adanya aku di sini.
Warung kecil ini menjual beberapa macam jajanan, beberapa merek permen yang dipajang di sejumlah toples bening bertutup hitam, rokok, peralatan tulis, bola kok, berbagai jenis mainan kertas, dan lainnya. Namun, pada beberapa barang dagangan yang bukan berjenis makanan, baik yang digantung maupun dipajang di lemari, rata – rata dipenuhi debu, karena jarang dilap. Hanya lantainya yang disapu dan toples makanan yang dilap.
Supaya tidak jenuh menunggu pembeli, aku terkadang membawa mainan, mengerjakan tugas sekolah, atau membaca majalah wanita tahun 90-an, yang kupinjam dari Bulek Anti. Terdengar aneh memang, anak sembilan tahun membaca majalah wanita dewasa, tetapi aku memang senang membaca apa saja, selama konten bacaan itu tidak membuat aku pusing. Aku suka melihat para model memakai berbagai pakaian dan tata rias. Aku suka bernostalgia, membayangkan bagaimana rasanya hidup di era 60-an hingga 90-an. Aku suka membaca kisah inspiratif orang lain. Bahkan, hingga resep masakan yang tertera di majalah itu juga aku baca. Namun, jangan mengira diriku cerdas: aku bisa lupa apa yang kubaca atau kudengar lima menit yang lalu.
Sambil menunggupun, terkadang aku bolak – balik mengitari isi warung, melihat dagangan yang masih tersedia. Mainan kertas, peralatan tulis, sejumlah jajanan dan permen, menjadi fokus utamaku, karena rasanya ingin sekali aku memiliki semua itu. Berada di warung ini membuatku dilema. Bagaimana tidak, uang jajan sekolahku hanya tersisa lima ratus atau seribu perak, yang terkadang habis atau kutabung, entah buat apa, sedangkan aku ingin membeli banyak hal di warung ini.
Di hari yang kesekian kalinya menjaga warung ini, aku gugup, karena akhirnya aku memutuskan untuk mencuri mainan ular tangga yang terletak di rak bawah. Sudah lama sekali rasanya aku mendambakan mainan itu. Aku sembunyikan di balik kaos tipisku, tetapi bodohnya, karena ini pertama kalinya aku mencuri dalam hidupku, setelah aku keluar dari warung, aku berlari ke rumah, meletakkan mainan ular tangga tadi di bawah kasur, dan aku bergegas kembali ke warung, dan lagi – lagi berlari.
“Kok lari – lari kau?”, tanya Bulek Anti sambil bersandar di depan pintu rumahnya.
“Mau ke kamar mandi tadi, Bulek. Ini aku mau balek lagi ke kede”, jawabku dengan gugup, sambil mengatur napas habis berlari.
Saat di warung, tak henti – hentinya aku menyesali hal yang kulakukan tadi. Dilema kembali menyerangku. Apakah sebaiknya aku kembalikan saja mainan ular tangga tadi? Atau kubiarkan saja? Apakah Bulek Anti tahu aku tadi mencuri? Ah, memikirkannya saja semakin membuatku pusing.
Pikiranku teralihkan dengan datangnya satu pembeli. Tetangga depan warung ini, Rika, membeli permen yang bertekstur kenyal beberapa bungkus. Cukup banyak untuk dimakan sendiri.
Setelah Rika kembali ke rumahnya, aku melihat permen itu cukup lama. Aku membuka tutup hitam dan mengaduk permen – permen itu. Lalu, kututup kembali.
Ada lagi, kebiasaan aneh saat aku menjaga warung ini. Setiap kali aku melihat kendaraan lewat, aku bersembunyi di balik lemari warung. Aku berimajinasi bahwa berbagai kendaraan akan datang dan membawaku pergi, jauh dari sini dan tak akan pernah kembali lagi. Sungguh pemikiran yang bodoh.
Akhirnya, adzan magrib berkumandang. Aku mempersiapkan diri untuk kembali ke rumah. Setelah berpikir beberapa saat, aku memutuskan untuk mengambil beberapa permen kenyal seperti yang dibeli oleh Rika tadi. Hanya beberapa bungkus. Aku ingin membaginya dengan adik perempuanku yang berbeda dua tahun dariku.
Sore itu, aku merahasiakan kebiasaan burukku ini dari siapapun, dan hal ini berlanjut hingga aku duduk di bangku kuliah.
—–
Bogor, 14 Mei 2022