3 – Segitiga

Aku punya teman sekolah yang bernama Bimo. Sebenarnya, dia adalah sepupu jauhku, tetapi aku sendiri tak tahu apakah aku ada hubungan darah dengannya, sebab kabarnya, dia merupakan anak angkat dari ipar Uakku. Entahlah.

Aku pertamakali mulai akrab dengannya saat duduk di kelas empat. Dengan jumlah siswa lebih dari limapuluh orang, siswa diperintahkan untuk duduk bertiga sebangku. Bangkunya persis seperti yang ada di warteg, dengan meja kayu penuh coretan tip-x. Saat itulah aku duduk bersamanya. Seorang lainnya adalah Rumi.

Sejak saat itu, kami menjadi sering saling membantu dalam mengerjakan tugas sekolah. Bimo sangat pintar dalam pelajaran eksak, sehingga aku dan Rumi seringkali minta diajarkan, atau bahkan mencontek tugasnya. Figurnya yang rapi, sopan dan lembut, membuatku dan Rumi sering merasa bahwa kami harus melindunginya. Bahkan, aku merasa lebih maskulin dibandingkan Bimo.

Rumi sendiri merupakan pemeriah suasana di antara aku dan Bimo, yang sama – sama pendiam. Berkat dirinya, suasana yang tadinya kikuk, menjadi cair dan luwes karena kepribadian Rumi yang ceria dan berisik. Tawanya juga menular. Kami bertiga banyak menghabiskan waktu bersama di sekolah.

Seiring berjalannya waktu, aku menaruh rasa suka terhadap Bimo. Bagaimana tidak, dibalik sikap pendiamnya, dia merupakan anak yang cerdas dan baik terhadap aku maupun Rumi. Cinta monyet; bisa dibilang begitu. Namun, aku hanya memendam rasa itu sendiri.

Suatu hari, ketika tugas menggambar tiba, aku bingung harus menggambar apa. Aku sudah bosan sekali menggambar dua gunung yang ada matahari di tengahnya. Biasanya, jika sudah buntu, tugas kategori ini aku serahkan kepada Bapak. Lalu, setelah aku memberikan kertas dari buku tulis, Bapak mulai menggambar pemandangan pesisir pantai tanpa contoh sama sekali. Gambar itu didominasi oleh laut, sehingga aku dapat menirunya dengan mudah. Toh, laut hanya gambar garis horizontal yang diberi gelombang. Tinggal fokus membuat detail pohon kelapa dan gubuk di pantainya.

Hasilnya cukup memuaskan bagiku. Sebenarnya, aku bisa menggambar dengan baik, hanya saja aku perlu contoh atau meniru sesuatu. Mungkin otakku imajinatif, tapi tidak sinkron dengan tanganku yang payah dalam hal seni rupa.

Sesampai di sekolah, dua teman sebangkuku itu siap menerkamku hidup – hidup. Mereka mencontek gambarku! Sudah pula aku mencontek dari Bapak, mereka malah mencontek hasil contekanku. Alhasil gambar kami bertiga menjadi sama persis.

Saat istirahat sekolah tiba, aku dan Rumi ke warung di depan sekolah bersama.

“Nona, aku mau ceritalah samamu”, Rumi berkata sambil menyeruput es limunnya.

Mengapa nama panggilanku berbeda di rumah dan di sekolah? Sebab, nama belakangku terlalu pasaran, dan kurang menarik bagiku. Nama depanku jauh lebih elegan dan unik menurutku, sehingga saat di sekolah, aku selalu memperkenalkan diri sebagai Nona, bukan Winda.

“Ceritalah”, jawabku singkat.

“Duduk dululah kita di situ”, ajak Rumi sambil menarik tanganku menuju depan ruang kelas tiga.

“Jadi?”, aku membetulkan posisi rokku untuk duduk di lantai.

“Non, awak suka loh sama Bimo. Ganteng ya dia, manis, pintar pula, ya kan?”, Rumi tersenyum lebar.

Aku terdiam sejenak, kaget, dan berusaha mencerna kata – kata yang baru diucapkan oleh Rumi.

Bagaimana bisa kami menyukai orang yang sama? Apa yang harus kulakukan? Aku tersenyum ketir. Tak mudah bagi seorang anak kelas empat menerima ini.

Kok diam, Non?”

“Oh, engga. Iya ya, ganteng sih memang dia”, kataku seraya menggaruk kepala dan tersenyum canggung.

“Cocok kau rasa, aku sama dia?”

Pertanyaan macam apa itu? Mengapa harus aku yang menjawab pertanyaan bodoh itu?

Bel berbunyi. Aku selamat. Tak kujawab pertanyaannya. Aku segera mengajak Rumi untuk masuk kelas.

Sejak saat itu, aku selalu memperhatikan gerak – gerik Rumi. Dia terlihat sangat berbunga – bunga dan selalu tersenyum anggun saat di dekat Bimo, yang menurutku sedikit dipaksakan, sebab Rumi yang ceria dan berisik berubah menjadi kemayu. Yang lebih membuatku terkejut lagi, Rumi menjadi sering mendekapkan diri untuk berbisik sesuatu kepada Bimo. Tentu saja aku tak tahu apa yang mereka bisikkan.

Akhirnya, demi kebaikan pertemanan kami, aku mengalah dengan Rumi. Rumi sudah lebih dulu mengatakan perasaannya padaku. Aku tak berhak mengganggunya hanya karena aku juga suka dengan Bimo. Aku tak apa – apa. Selagi belum terlampau jauh perasaan ini. Aku yakin bisa menepis perasaan sukaku dengan Bimo dalam waktu singkat.

Saat itu merupakan cinta segitiga yang pertama kali aku alami, dan juga terakhir kali, sebab aku memegang prinsip itu hingga aku dewasa. Aku berusaha untuk tak menaruh rasa dengan lelaki yang disukai temanku, karena aku yakin hal itu hanya akan merusak pertemanan kami.

Ternyata, keputusan yang kuambil memang tepat. Saat naik kelas lima, aku pindah rumah kembali ke Perumnas Simalingkar. Komunikasi pertemanan kami putus begitu saja, karena memang kami tak punya ponsel, dan aku tak pernah lagi bertemu dengan mereka. Perasaanku juga tak lagi berkembang lebih jauh kepada Bimo, sebab di sekolah pindahanku, aku bahkan bingung memilih siapa yang harus benar – benar aku sukai.

—–

Bogor, 29 Mei 2022

Leave a comment