Dewasa

Kukira, menjadi dewasa itu menyenangkan.

Bebas hilir mudik melakukan apapun yang kumau.

Bebas menyatakan pendapat apapun yang kupunya.

Menyenangkan karena memiliki kekasih sepanjang hidup.

Menyenangkan karena bisa melawan siapapun yang tak kusukai.

Namun, ternyata, menjadi dewasa tak sebercanda itu.

Ternyata, uang menjadi alat pembayaran kebahagiaan kala dewasa.

Ternyata, uang menjadi penentu sikap asli manusia yang selama ini selalu menggunakan persona.

Ternyata, tak ada hubungan yang murni give and give, manusia adalah makhluk mutualisme yang harus saling menguntungkan satu sama lain.

Ternyata, masa muda adalah investasi berharga untuk meningkatkan kualitas diri.

Ternyata, waktu dan jarak yang dekat adalah alat yang jitu untuk memperdalam kasih sayang antara manusia.

Ternyata, semua kebijaksanaan membutuhkan hati seluas samudera.

Ternyata, semua ketangguhan membutuhkan logika sekuat baja.

Ternyata, semua orang dewasa hanya saling menyalahkan, tanpa introspeksi diri dalam berbagai masalah.

Ternyata, dunia orang dewasa itu beringas dan tak kenal ampun.

Ternyata, meninggalkan dan ditinggalkan adalah siklus yang lumrah terjadi dalam lingkaran setan ‘kedewasaan’.

Ternyata, penyesalan banyak bermunculan di fase dewasa.

Ternyata, salah pilih pasangan bisa berdampak sangat buruk untuk kehidupan diri, anak dan cucu.

Jika tak kenal rimbanya, bersiap – siaplah tergerus oleh kejamnya ‘kedewasaan’ manusia.

Tujuh tahun menginjak kepala dua, kusadari, bahwa aku cukup jauh melangkah dibanding orang lain seusiaku.

Mentalku cukup tua untuk menjalani usia yang cukup muda.

Seringkali hatiku dingin dan tak berperasaan, tetapi melunak sesekali oleh kehangatan empati manusia lain.

Jadi, untukmu yang baru saja ‘dewasa’, aku, yang bukan siapa – siapa ini, menitipkan pesan padamu.

Berhati – hatilah dan kuatkan dirimu, Kawan!

—–

Bogor, 20 Juni 2022

Leave a comment