
Sepertinya aku tak tahu diri karena telah menanam sebuah bibit yang tak bermasa depan.
Kukira aku takkan candu, ternyata kini lebih dari sekedar rindu.
Mengulik riwayat pencarian di kolom kosong, aku lupa bahwa aku telah menutup akses itu.
Namun, kamu pula yang lebih dulu memintaku untuk pergi darimu.
Salah siapa?
Aku?
Kamu?
Lalu, kita ini apa?
Dan yang lebih menyedihkan lagi, ada bagian dirimu di dalam diriku; aku.
Ya, akulah yang mengingatkanku pada dirimu.
Dua garis sejajar yang terdistorsi oleh ilusi optik, seolah menyatu di akhir perjalanan; padahal tidak.
Betapapun jauhnya garis itu tertulis, kita takkan pernah bersinggungan satu sama lain.
Kamu tetap pada jalurmu, begitupun aku.
Sialnya lagi, aku benci mewakili garis identikmu itu di raga yang berbeda, di saat kita masih dalam satuan gravitasi yang sama.
Sebab, aku begitu menyukai diriku yang rapuh ini.
—–
Bogor, 13 Agustus 2022