
Hidup ini adalah sebuah paradoks. Salah satu paradoks yang paling kuyakini adalah, seringkali aku berpikir, bahwa untuk menjadi bahagia, kita harus menderita terlebih dahulu. Melepas hal yang kita sayangi, pergi demi kebaikan diri sendiri, merasakan cacing – cacing perut yang meraung kelaparan, dicaci maki, dan banyak lagi. Entah, aku tak ingin menggeneralisir semua orang seperti itu, tetapi hingga detik ini, aku berpikir bahwa banyak yang telah kukorbankan untuk kebahagiaanku sendiri. Hubunganku, ikatan batinku, karirku, hakku, apapun telah kukorbankan sejauh ini, hingga aku tak bisa lagi menghitung berapa banyak yang kuperjuangkan untuk kebahagiaanku. Aku bahkan pernah menekan ego dalam mengambil sebuah keputusan, dan itu benar – benar mengubah jalan hidupku sejak remaja.
Aku seringkali bertanya – tanya, apa jadinya hidupku jika aku tak pernah pergi dari rumah? Apa yang akan kulakukan saat ini? Apakah aku tetap sama, atau menjadi orang yang berbeda sama sekali saat ini? Bagaimana kisahku saat ini jika aku terus bersamanya yang dulu membuatku jatuh cinta untuk pertama kalinya? Andai, andai, andai, pertanyaan sejenis terus berputar dikepalaku.
Bukan, bukan aku tak bersyukur dengan keadaanku saat ini. Hanya saja, isi kepalaku dipenuhi pertanyaan – pertanyaan yang takkan pernah terjawab oleh siapapun dan kapanpun. Kemungkinan – kemungkinan yang takkan pernah bisa diperagakan di layer yang berbeda. Aku pusing sendiri memikirkannya. Namun, aku tak bisa menghentikannya. Dan aku sangat tahu bahwa pilihan – pilihanku sejak dulu merupakan takdir bagiku. Jadi, apapun keadaanku sekarang, akulah yang memegang kendali untuk berada di atas panggung ini. Akulah yang secara sadar memilih jalan ini.
Lalu, apakah aku bahagia sekarang? Jawabannya, ya dan tidak. Ya, karena aku bangga dengan diriku, aku sudah sejauh ini melangkah, dengan peluh, kekecewaan, kesedihan, dan keikhlasan yang kuhadapi. Aku sudah terlalu kuat untuk berdiri sendiri. Aku punya keluarga kecil yang sempurna, yang menyempurnakan kekurangan keluarga di masa kecilku yang penuh luka sana sini.
Tidak, karena luka – luka tadi membekas terlalu dalam, walaupun aku tak lagi membenci dan sudah memaafkan mereka, tetapi beberapa kali dalam setahun, luka itu muncul lagi dalam ingatan, mimpi, bahkan benda – benda yang berhubungan. Sebab, alam bawah sadarku telah merekam jejak luka itu hingga tersimpan secara tak sadar seperti kotak Pandora, yang bisa menganga setiap saat, bahkan dikala aku sedang tak ingin memikirkannya.
Kamu tahu? Aku sering menangis atau tertawa sendiri di sudut ruangan, mendengarkan lagu – lagu yang membuat pikiranku membara ke utopia yang kuciptakan. Apakah aku gila? Mungkin bagi orang normal, aku memang setengah gila, tetapi bagi orang gila, aku adalah orang terwaras yang pernah ada. Aku masih bisa membedakan realita dan fantasi. Dan lagi, utopia ini adalah tempat yang paling aku senangi di dunia ini. Dimana semua hal yang tak mungkin aku dapatkan di dunia nyata, bisa aku ciptakan di dunia fantasiku. Aku bisa menciptakan berbagai skenario, di berbagai latar tempat, waktu bahkan nuansa apapun. Akulah pemeran utama dalam utopiaku.
Aku ingat dulu, saat pertama kali cinta menyentuhku. Untuk pertama kalinya saat itu, aku melihat warna di dunia ini. Hingga akhirnya, sebuah kenyataan pahit menamparku berkali – kali. Perang batin menyelimuti diri. Hingga akhirnya, logikaku menang. Aku memilih pergi darinya, sebelum terlalu lama terjalin kenangan dengannya. Namun, ternyata aku salah. Belum lama, tapi dalamnya sudah mencapai ambang batas. Butuh waktu bertahun – tahun untuk bisa mengikhlaskannya.
Lagi, terkadang logika juga memaksa kita untuk melepaskan sesuatu yang kita inginkan, tetapi tak kita butuhkan. Terkadang pula, perasaan juga memaksa kita untuk menerima perlakuan tak menyenangkan dari orang lain, agar tak menjadi masalah di kemudian hari. Lihatlah, betapa setiap lini kehidupan memaksa kita untuk turut andil, meskipun betapa kerasnya kita menolak. Apa yang terjadi jika kita menolak? Kita juga akan dilanda masalah, karena terlena dengan keputusan yang semrawut dan gegabah. Keputusan yang bijak saja masih menimbulkan luka, apalagi dengan keputusan yang sembarangan? Musibahlah yang terjadi. Kamu pasti tahu maksudku. Serba salah ya.
Semakin dewasapun, manusia berusaha terlihat tegar dari luar, walaupun dirinya dipenuhi dengan luka – luka yang menganga dan masih basah. Sangat perih. Sebuah harga diri yang tak terbayarkan, dengan menambal luka – luka tadi dengan senyum palsu, hura – hura, niat menjatuhkan orang lain, cinta dari orang terdekat. Ah, sesekali, ingin kukatakan, betapa manusia memang makhluk yang munafik. Manusia adalah tempat berpadunya sumber kebajikan dan kejahatan dalam satu raga. Tak ada yang benar – benar baik, tak ada pula yang benar – benar buruk. Lagi – lagi, paradoks.
Mungkin tulisan ini akan membuatmu pesimis tentang hidup, tetapi lihatlah dari perspektif lain. Betapa kita menghakimi seseorang, disitu pula kita sebenarnya tak berbeda jauh dengannya. Sebab manusia tak luput dari kesalahan, sekecil apapun itu. Aku sendiri sering menghakimi orang lain, hanya saja metodenya yang berbeda – beda, tergantung situasi, dan tak semua baik di pandangan orang lain. Kebenaran itu relatif, bukan? Tergantung siapa dan bagaimana ia melihat.
Ah, sepertinya tulisan ini telah melebar kemana – mana, walaupun intisarinya masih sama; paradoks. Aku tahu, semua ini hanya ada dalam kepalaku, seperti yang pernah dikatakan oleh seseorang yang sama persis sepertiku (dan aku merindukannya, selalu). Namun, sampai detik ini, aku masih bertanya – tanya, apa arti kebahagiaan sebenarnya? Adakah manusia yang selalu merasa bahagia, hingga ia merasa bosan dan menghancurkan dirinya hanya untuk merasakan sedih dan sakit? Adakah manusia yang selalu sedih, hingga cara apapun tak mampu lagi menutupi luka – luka di hatinya?
Makna bahagia masih begitu ambigu bagiku, walaupun aku telah menikmati lingkup permukaannya. Namun, jauh di dalam hatiku, aku memiliki banyak lubang di hati, yang kulapisi persona tegar dari ragaku. Dan di dunia ini, ada milyaran orang yang sama sepertiku.
Jadi, apakah aku harus ‘menderita lagi’, agar aku bisa ‘bahagia lagi’?
—
Bogor, 28 Agustus 2022