Hari

Semua orang bergegas menyambut Hari Raya terbesar umat mayoritas di negara ini dengan sukacita. Menyiapkan segala detail perayaan, mengunjungi sanak saudara, menginap beberapa hari di villa yang mewah atau rumah keluarga, berkumpul bersama keluarga besar, mengirim bingkisan untuk orang terkasih. Euforia yang terjalin antara manusia dengan tanggal merah menjadikan suasana riuh dengan segala hilir mudik perpindahan objek dunia dari satu tempat ke tempat lain.

Saat itu, aku meringkuk kedinginan dalam selimutku, menikmati setiap bunyi jangkrik yang menggema, mengisi setiap ruang antara langit malam di sekitarku. Itu adalah kali pertama aku meresapi hangatnya minuman sereal, sendirian, di malam perayaan. Aku tak terkejut, tak merasa kesepian, malah aku sedikit menertawakan situasi yang sedang kualami detik itu. Setelah dua kali mengalami transisi kenikmatan Hari Raya dalam hampir dua dekade, memasuki dekade kedua akhir, suasana itu benar – benar berbeda seratus delapan puluh derajat; tenang dan syahdu. Aku tak merasa menyesal, aku bisa saja melakukan hal yang sama seperti orang lain, tetapi pada tahun itu, aku memilih tidak melakukannya.

Berangkat dari kebelengguan yang mengekang setiap sudut jati diriku, aku sudah lama mendambakan kebebasan seperti itu, tak lama sejak aku menginjakkan kaki di tanah Pasundan. Tanah itu, yang kata orang begitu indah dan subur, aku akui memang benar adanya. Namun, dengan aku menghabiskan beberapa waktu di sana dalam hidupku, bukan hal yang mudah untuk hanya melihatnya dari sisi yang baik. Sebab, memori yang tercipta, juga banyak yang tak baik – baik saja.

Sejak saat itu, semua perayaan yang semestinya kurayakan, menjadi hari yang sama saja dengan yang lainnya. Semuanya datar. Pemikiranku yang aneh lainnya adalah bahwa aku juga melihat dari semua sisi; setiap ‘hari’ ada saja berita suka dan duka dari seluruh dunia, baik yang disiarkan maupun tidak. Bahkan yang kuhadapi di depan mata, dalam satu hari, aku bisa merasakan roller coaster emosi; senang, sedih, marah, terharu. Kesenangan dan kesedihan, kebaikan dan kejahatan, putih dan hitam bercampur menjadi elemen keabuan; rasa syukur, hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik dari berbagai emosi tersebut. Warna – warni hanyalah pada permukaan layar.

Berempati, tetapi tak pesimis juga. Sebab, meskipun dunia dipenuhi oleh kejahatan, tetap selalu ada asa untuk mengamini semua kebaikan. Oleh karena itu, aku tetap menghormati prinsip semua orang. Hanya saja, aku menarik diri dari berbagai euforia perayaan dengan perspektif ini.

Justru, menurutku, yang menarik dari sebuah hari adalah, pertama, ketika aku bersama para manusia yang spesial di hidupku. Kedua, uanglah yang menjadikan kebersamaan itu terasa tidak membosankan dan meminimalisir konflik. Hei, ketika punya uang, semuanya terasa menyenangkan dan menenangkan, bukan? Ada atap untuk berteduh, pakaian untuk berbusana, makanan yang hangat untuk dimakan, tidurpun nyenyak sekalipun hujan deras, beribadah tenang karena tahu besok mau makan apa, bahkan bonusnya banyak lagi!

Bahkan ketika beberapa kali aku diuji, hari memang terasa berat untuk dijalani, tetapi hikmah yang kutarik selalu ada di hari selanjutnya. Aku bisa saja mengutuk hari – hari aku diuji itu, tetapi ternyata, pilihanku sendirilah juga takdir yang berkata bahwa itu semua terjadi. Jadi, antara salahku, atau memang takdir, hingga aku sampai pada titik ini. Aku bertanggungjawab atas hidupku.

Sekali lagi, ini pandanganku. Aku tahu kamu tak peduli. Namun, bagiku, semua hari terasa sama. Menyenangkan, juga menyedihkan, dan aku ada di antara keduanya.

—-

Bogor, 1 Januari 2025

Leave a comment