Laki – laki

Sekumpulan anak laki – laki bermain bola di lapangan bulutangkis.

Tanpa alas kaki, bergawangkan sandal di sisi kiri dan kanan, permainan berlangsung seru dan menyenangkan.

Keringat yang membasahi, terik matahari sore yang menyilaukan, juga teriakan ambisi kemenangan membuat suasana pemukiman di sekitarnya hidup dan berwarna.

Mereka tak pernah membayangkan, satu atau dua dekade yang akan datang, mereka akan sibuk di depan laptop, menyusuri LinkedIn, berhari – hari, berbulan – bulan, bahkan bisa jadi bertahun – tahun.

Satu atau dua dekade lagi, setiap mereka akan bertanggungjawab atas kehidupan seorang wanita asing, yang dijemput atas dasar akad suci.

Satu atau dua dekade lagi, setiap mereka akan bergelut dengan drama lingkungan kerja dan pernikahan.

Satu atau dua dekade lagi, setiap mereka akan beradu klakson, bertukar polusi udara dan menua di jalan.

Satu atau dua dekade lagi, setiap mereka akan memutar otak untuk mencari pemasukan tambahan.

Satu atau dua dekade lagi, setiap mereka akan bertarung melawan pikiran dan ego masing – masing, untuk memilih antara keinginan masa kecil yang tertunda atau kebutuhan keluarga.

Satu atau dua dekade lagi, setiap mereka akan mengarungi kecamuk keresahan akan masa depan keluarga.

Aku tahu, siapa yang menjalani peran itu saat ini.

Kepada mereka di semua masa, terutama untuk yang kumiliki saat ini dan selamanya…

Terimakasih untuk semuanya.

—-

Bogor, 14 Februari 2025

Leave a comment