
Tumpah, rasionalitas itu meluap – luap dari epidermis kulitnya.
Melindungi pikirannya dari semua gencatan emosi.
Menakar kortisol yang menurutnya cukup untuk menjaga kewarasannya.
Menangkalnya dari manusia – manusia tak tahu diri yang menginjak harga dirinya.
Melegalkan nirempati pada dirinya untuk memenuhi semua egonya.
Melayangkan sindiran yang tenang pada kepedulian yang terlalu mengakar pada perspektif lain.
Menikmati kerja kerasnya secara frugal demi masa depan yang mapan.
—-
Di seberang sana, emosi tak terbendung hanya pada satu rasa.
Banyak pintu empati yang ia miliki, dan jika sebuah pintu terbuka, akan sulit untuk menutupnya kembali jika tidak hati – hati.
Kortisol berlebihan menciptakan bom waktu pada tubuh yang sering tumbang oleh terpaan stimulasi luar.
Roman picisan menjadi makanan bagi jiwanya; memenuhi dahaga cinta yang tak pernah ia dapatkan dari siapapun.
Kesedihan dibelinya dengan rasa iba dan donasi yang ia sisihkan dari anggaran kebutuhannya.
Masa depan menjadi kelabu baginya, dengan tabungan yang sering dihamburkan demi kemaslahatan saudara sedarah.
Namun, indah sekali caranya menolong sesama makhluk.
Perasaannya yang kaya dan tangan atasnya menjadikannya baik dipandang dari segi kemanusiaan.
—-
Mereka tak saling kenal, tetapi kini berada dalam satu jangkauan mata.
Yang satu menyimpan emas, yang satunya lagi mengambil uang.
Namun, satu kesamaan yang mereka miliki.
Gurat wajah yang sama – sama lelah untuk bertahan hidup.
—-
Jakarta, 19 Mei 2025