Paralel

Sepertinya aku tak tahu diri karena telah menanam sebuah bibit yang tak bermasa depan.

Kukira aku takkan candu, ternyata kini lebih dari sekedar rindu.

Mengulik riwayat pencarian di kolom kosong, aku lupa bahwa aku telah menutup akses itu.

Namun, kamu pula yang lebih dulu memintaku untuk pergi darimu.

Salah siapa?

Aku?

Kamu?

Lalu, kita ini apa?

Dan yang lebih menyedihkan lagi, ada bagian dirimu di dalam diriku; aku.

Ya, akulah yang mengingatkanku pada dirimu.

Dua garis sejajar yang terdistorsi oleh ilusi optik, seolah menyatu di akhir perjalanan; padahal tidak.

Betapapun jauhnya garis itu tertulis, kita takkan pernah bersinggungan satu sama lain.

Kamu tetap pada jalurmu, begitupun aku.

Sialnya lagi, aku benci mewakili garis identikmu itu di raga yang berbeda, di saat kita masih dalam satuan gravitasi yang sama.

Sebab, aku begitu menyukai diriku yang rapuh ini.

—–

Bogor, 13 Agustus 2022

Hipokrit

Sepertinya ego begitu melambungkan citra diri di hadapan sekitar.

Merasa berkuasa dan tak terkalahkan.

Merendahkan semua orang yang dirasa tak setara.

Menghina sipitnya penglihatan Asia Timur, pun masih berkutat pada ciptaan digital mereka.

Mengejek legamnya kulit yang bermelanin banyak.

Menertawakan aksen bicara yang unik dan berbeda.

Merasa paling menderita di muka bumi ini, pun di sekelilingnya tak banyak yang bisa menikmati hari sesantai dirinya.

Mengira bahwa egonyalah yang paling terluka akibat lidah tajam yang sebenarnya menguji sejauh mana empatinya.

Merasa paling ikhlas dalam melakukan segala hal, pun tetap dihitung seberapa besar pengorbanannya.

Cih!

Dasar hipokrit!

Kau sama saja denganku, sialan!

Akuilah kekuranganmu!

Kau hanya tampak menjijikkan karena menutupi busuknya niatmu.

Berempatilah sedikit, kau takkan rugi.

Kecuali kau telah bermetamorfosa menjadi spesies lain, aku akan maklum.

—–

Bogor, 31 Juli 2022

Refleksi

Aku adalah refleksimu.

Sebagaimana kau bersikap, hal yang sama akan kuberikan juga padamu.

Tak kurang, tetapi bisa lebih sedikit.

Kau baik padaku, aku akan baik padamu.

Kau jahat padaku, aku akan jahat padamu.

Atau ketika aku sudah kewalahan menyikapimu, aku akan menghapusmu dari duniaku.

Seolah kita tak pernah mengenal satu sama lain.

Adil, bukan?

Sebab aku harus menyelamatkan diriku dari sikapmu.

Lalu, apakah aku egois?

Tentu saja!

Sebab aku mencintai diriku sendiri.

Lalu, apakah dirimu tidak egois?

Coba renungkanlah jika kau punya hati.

Jika tidak, cobalah transplantasi hati.

Setidaknya, setelah itu, kau bisa sedikit berempati.

—–

Bogor, 31 Juli 2022

Utopia

Tempatku berkeluh kesah tanpa takut dihakimi.

Tempatku menuai rindu yang tak terbalas.

Tempatku mencintai dia yang tak bisa kusentuh.

Tempatku menuang gelisah yang tak menentu.

Tempatku meresapi melankolitas diri yang selalu datang tanpa diundang.

Tempatku menuju destinasi yang belum bisa kujamah.

Tempatku berkreatifitas merangkai syair yang indah.

Tempat bagi ide gilaku berpustaka.

Tempatku membentuk seni tak berguna tetapi menggetarkan bagi yang memaknainya.

Tempatku menari riang di ruang alam yang belum kuhampiri.

Tempatku mencumbu kasih yang tak bertuan.

Tempatku merasakan grandiose dalam penghambaan diri.

Tempatku menggantungkan mimpi – mimpi yang akan kuraih walau entah kapan.

Tempatku menangis pilu menyikapi durjana buana.

Tempatku merenungi kesalahan bodohku terhadap spesies sejenisku.

Tempatku berdialog pada seseorang imajiner.

Tempatku mengenang memori manis masalalu.

Tempatku mengutarakan semua perasaan yang kumiliki.

Berproses dari imajinasi, bermuara ke utopia.

—–

Jakarta, 17 Juli 2022

Bianglala

Permen kapas hijau muda yang sudah kulirik sejak tadi, kini ada di genggamanku.

Sudah kulahap habis saat setengah putaran, wahana ini melaju pelan sekali.

Kerlap – kerlip cahaya kota menghiasi malam yang pekat.

Kuresapi melankolitas diri yang menaungi sukma.

Hadirnya dirinya di hadapanku, membuat senyumku merekah.

Kupandangi dirinya yang terus berbicara tanpa henti.

Hingga ia tersenyum dan menyentuh pundakku.

Aku harus segera turun.

—–

Bogor, 16 Juli 2022

Reverie ~ Claude Debussy

Udara pagi pedesaan ini menggetarkan epidermis kulitku.

Oksigen terasa sesak di paru – paru, mengalirkan kehidupan pada tubuh yang gersang ini.

Sepeda yang telah kuhias bunga daisy di keranjangnya, kunaiki perlahan menyusuri jalan setapak yang sunyi.

Lika – likunya membawaku ke hamparan padang ilalang di antah berantah.

Kutinggalkan sepedaku, dan membaur bersama lambaian ilalang yang berirama tersapu angin.

Berputar – putar, meresapi euforia cinta yang menggebu – gebu terhadap diriku yang rapuh.

Memeluk raga tangguhku yang selama ini membaluti luka di dalamnya.

Hingga kepalaku memekik dan segalanya meredup.

—–

Bogor, 12 Juli 2022

Gymnopedie No.1 ~ Erik Satie

Perjalanan ini terasa dingin dan suram.

Langit kelabu menumpahkan rintik air yang tertahan di sela – sela awan.

Seperti air mataku yang tak terbendung lagi untuk kesekian kalinya.

Pantai tempatku beranjak tadipun menjadi penuh dengan amukan ombak.

Seperti hatiku yang bergejolak ingin memaki dunia yang kerap tak berpihak padaku.

Tiba di kota, aku memarkirkan mobil tuaku di depan toko barang antik Cina.

Berjalan kaki menyusuri jalur pedestrian yang ramai akan makhluk sepertiku.

Entah ke mana, otakku hanya mengirimkan sinyal untuk kakiku melaju tanpa henti.

Sampai di persimpangan, aku ragu.

Kutegakkan kepalaku.

Aku diam di tempat, sedangkan semua orang bergerak begitu cepat, layaknya kilat.

Ternyata, aku berjalan sangat lambat, melampaui kura – kura.

Hujanpun semakin membuatku melankolis.

Aku terpaku oleh pesatnya sekitarku mengisi hari yang tersisa di Bima Sakti.

Tak lama, pandanganku memudar, semakin pekat akan hitam yang menjemput.

Kurasa, inilah akhirku.

—–

Bogor, 9 Juli 2022

Klip Video

Sepotong klip video hitam putih telah menjadi saksi nyata kisah kita.

Melebur dalam kelabu yang menjadi muara cerita.

Di dalamnya, ada kamu yang tertawa memaknai candaanku.

Ada senyum manismu dengan gigi yang berbaris rapi.

Mengenang dirimu yang pernah, bahkan masih membuatku gugup tak karuan.

Aku suka menonton klip video itu berulangkali.

Melalui Kotak Pandora di ruang imajinasiku, hingga kini kotak itu mulai rusak.

Rusak karena kerinduan yang begitu membuncah di dalam dada.

—–

Tangerang, 3 Juli 2022

Diam

Semua insan bisa melakukannya.

Begitu mudah untuk melakukannya.

Namun, ada begitu banyak makna dibaliknya.

Bisa jadi tanda bahaya tersembunyi, atau kabar gembira yang tak disiarkan.

Ada kemarahan yang begitu meluap di dada.

Ada jeritan tangis yang sayup – sayup terdengar.

Ada derita tiada akhir dari trauma yang telah mengakar selama beberapa dekade.

Ada secercah kebahagiaan yang terlalu penuh untuk dibagi.

Ada berbagai ucapan buruk yang tertahan di lidah.

Ada rasa angkuh yang terpaku di sudut hati.

Ada rasa bangga yang kelu untuk disampaikan.

Ada cinta yang tersirat dari tindakan.

Semuanya hanya dengan diam.

Diamku, diammu, diamnya kita semua.

Dalam hening yang menggugah sukma.

—–

Bogor, 25 Juni 2022

Delusi

Pasang surut kulalui gelombang rasa ini.

Memekikkan nama indah di balik wujud yang entah nyata apa tidak.

Delusi diri yang tercipta menjalin asmara dengannya yang tak bisa kusentuh.

Hanya pikiranku yang bekerja rodi, menerima sinyal hati yang mendobrak kokohnya logika yang telah kubangun bertahun – tahun.

Rapuh dalam imajinasiku sendiri.

Mengisi energipun tertatih – tatih, menjelma menjadi tubuh yang lemah tak berdaya.

Hilang sudah harga diri yang harusnya aku pegang teguh.

Aku menawarkan diri untuk meraih genggamannya.

Kamu tahu mengapa?

Sebab aku sudah terjerat olehnya.

Setidaknya… untuk saat ini.

—–

Bogor, 24 Juni 2022