Reverie ~ Claude Debussy

Udara pagi pedesaan ini menggetarkan epidermis kulitku.

Oksigen terasa sesak di paru – paru, mengalirkan kehidupan pada tubuh yang gersang ini.

Sepeda yang telah kuhias bunga daisy di keranjangnya, kunaiki perlahan menyusuri jalan setapak yang sunyi.

Lika – likunya membawaku ke hamparan padang ilalang di antah berantah.

Kutinggalkan sepedaku, dan membaur bersama lambaian ilalang yang berirama tersapu angin.

Berputar – putar, meresapi euforia cinta yang menggebu – gebu terhadap diriku yang rapuh.

Memeluk raga tangguhku yang selama ini membaluti luka di dalamnya.

Hingga kepalaku memekik dan segalanya meredup.

—–

Bogor, 12 Juli 2022

Gymnopedie No.1 ~ Erik Satie

Perjalanan ini terasa dingin dan suram.

Langit kelabu menumpahkan rintik air yang tertahan di sela – sela awan.

Seperti air mataku yang tak terbendung lagi untuk kesekian kalinya.

Pantai tempatku beranjak tadipun menjadi penuh dengan amukan ombak.

Seperti hatiku yang bergejolak ingin memaki dunia yang kerap tak berpihak padaku.

Tiba di kota, aku memarkirkan mobil tuaku di depan toko barang antik Cina.

Berjalan kaki menyusuri jalur pedestrian yang ramai akan makhluk sepertiku.

Entah ke mana, otakku hanya mengirimkan sinyal untuk kakiku melaju tanpa henti.

Sampai di persimpangan, aku ragu.

Kutegakkan kepalaku.

Aku diam di tempat, sedangkan semua orang bergerak begitu cepat, layaknya kilat.

Ternyata, aku berjalan sangat lambat, melampaui kura – kura.

Hujanpun semakin membuatku melankolis.

Aku terpaku oleh pesatnya sekitarku mengisi hari yang tersisa di Bima Sakti.

Tak lama, pandanganku memudar, semakin pekat akan hitam yang menjemput.

Kurasa, inilah akhirku.

—–

Bogor, 9 Juli 2022