
Udara pagi pedesaan ini menggetarkan epidermis kulitku.
Oksigen terasa sesak di paru – paru, mengalirkan kehidupan pada tubuh yang gersang ini.
Sepeda yang telah kuhias bunga daisy di keranjangnya, kunaiki perlahan menyusuri jalan setapak yang sunyi.
Lika – likunya membawaku ke hamparan padang ilalang di antah berantah.
Kutinggalkan sepedaku, dan membaur bersama lambaian ilalang yang berirama tersapu angin.
Berputar – putar, meresapi euforia cinta yang menggebu – gebu terhadap diriku yang rapuh.
Memeluk raga tangguhku yang selama ini membaluti luka di dalamnya.
Hingga kepalaku memekik dan segalanya meredup.
—–
Bogor, 12 Juli 2022
