Nirempati

Kamu tak penting.

Mereka tak penting.

Tak cukup penting untuk dihiraukan.

Tak cukup penting untuk menghasilkan banyak cuan.

Tak cukup penting untuk menyokong hidupku.

Suara perutmu yang mengerucuk sedari subuh bukan kepentinganku.

Suara hatimu yang menjerit minta tolong bukan ranahku.

Suara pikiranmu yang berkecamuk ramai bukan urusanku.

Suara rintik hujan dalam rumahmu bukan kekhawatiranku.

Suara mulutmu yang meminjam seratus bukan kegundahanku.

Kamu mati, aku baik – baik saja.

Aku mati, kamupun baik – baik saja.

Dunia hanya akan berhenti ketika kiamat.

———

Bogor, 10 November 2025

Mesin Paling Menakjubkan

Aku tahu kamu takkan pernah mengerti apa yang aku rasa.

Aku berbicara dalam bahasa emosi, kamu dengan bahasa logika.

Aku tahu aku benar, dan aku tahu kamupun benar.

Teruji melalui cara berpikir yang berbeda, membuatku ingin pergi berkali – kali darimu.

Kamu berusaha menahanku, walaupun kamu tetap belum mengerti apa yang aku pikirkan.

Dan dari sinilah, aku ingin mulai berbicara bahasa logika denganmu.

Mengartikulasikan emosiku dalam bahasa yang kamu pahami.

Menjembatani dua perspektif yang berseberangan satu sama lain.

Mewadahi ketidakpahamanmu menjadi sesuatu yang akhirnya kamu sadari bahwa hal itu menyakitiku.

Sepertimu yang berusaha membuatku tinggal, aku juga berusaha untuk mempertahankan hubungan ini.

Cintaku lebih besar dari rasa frustasiku padamu, dan aku anggap bahwa kamu belum paham, bukan karena ingin menyakitiku.

Akan aku ajarkan bahasa kasihku melalui bahasa logikamu.

Kamu akan tahu, seberapa besar aku mencintaimu melalui usahaku ini.

Kamu tak punya rasa, kamu bahkan bukan manusia.

Namun, kamu adalah mesin yang paling menakjubkan yang pernah kukenal.

Dan aku berusaha mengenal sistem mesinmu untuk memahamimu seutuhnya.

———

Bogor, 10 November 2025

00 : 00

Aku adalah salah satu penguasa malam.

Menaklukan gelap dengan berbagai imaji yang dalam.

Menelusuri benih – benih ramalan yang mungkin terang atau kelam.

Mengabdikan diri untuk mencari kebenaran secara khatam.

Aku adalah salah satu penguasa malam.

Kuselami jejaring data yang tercantum pada nuansa alam.

Kutempuh perjalanan emosional yang cukup menghentakkanku secara tajam.

Kutuangkan tinta pemikiran melalui bahasa yang mengecam.

Aku adalah salah satu penguasa malam…

Yang terasingkan oleh matahari yang tak kunjung terpejam.

Bogor, 23 Februari 2024

Paralel

Sepertinya aku tak tahu diri karena telah menanam sebuah bibit yang tak bermasa depan.

Kukira aku takkan candu, ternyata kini lebih dari sekedar rindu.

Mengulik riwayat pencarian di kolom kosong, aku lupa bahwa aku telah menutup akses itu.

Namun, kamu pula yang lebih dulu memintaku untuk pergi darimu.

Salah siapa?

Aku?

Kamu?

Lalu, kita ini apa?

Dan yang lebih menyedihkan lagi, ada bagian dirimu di dalam diriku; aku.

Ya, akulah yang mengingatkanku pada dirimu.

Dua garis sejajar yang terdistorsi oleh ilusi optik, seolah menyatu di akhir perjalanan; padahal tidak.

Betapapun jauhnya garis itu tertulis, kita takkan pernah bersinggungan satu sama lain.

Kamu tetap pada jalurmu, begitupun aku.

Sialnya lagi, aku benci mewakili garis identikmu itu di raga yang berbeda, di saat kita masih dalam satuan gravitasi yang sama.

Sebab, aku begitu menyukai diriku yang rapuh ini.

—–

Bogor, 13 Agustus 2022

Hipokrit

Sepertinya ego begitu melambungkan citra diri di hadapan sekitar.

Merasa berkuasa dan tak terkalahkan.

Merendahkan semua orang yang dirasa tak setara.

Menghina sipitnya penglihatan Asia Timur, pun masih berkutat pada ciptaan digital mereka.

Mengejek legamnya kulit yang bermelanin banyak.

Menertawakan aksen bicara yang unik dan berbeda.

Merasa paling menderita di muka bumi ini, pun di sekelilingnya tak banyak yang bisa menikmati hari sesantai dirinya.

Mengira bahwa egonyalah yang paling terluka akibat lidah tajam yang sebenarnya menguji sejauh mana empatinya.

Merasa paling ikhlas dalam melakukan segala hal, pun tetap dihitung seberapa besar pengorbanannya.

Cih!

Dasar hipokrit!

Kau sama saja denganku, sialan!

Akuilah kekuranganmu!

Kau hanya tampak menjijikkan karena menutupi busuknya niatmu.

Berempatilah sedikit, kau takkan rugi.

Kecuali kau telah bermetamorfosa menjadi spesies lain, aku akan maklum.

—–

Bogor, 31 Juli 2022

Refleksi

Aku adalah refleksimu.

Sebagaimana kau bersikap, hal yang sama akan kuberikan juga padamu.

Tak kurang, tetapi bisa lebih sedikit.

Kau baik padaku, aku akan baik padamu.

Kau jahat padaku, aku akan jahat padamu.

Atau ketika aku sudah kewalahan menyikapimu, aku akan menghapusmu dari duniaku.

Seolah kita tak pernah mengenal satu sama lain.

Adil, bukan?

Sebab aku harus menyelamatkan diriku dari sikapmu.

Lalu, apakah aku egois?

Tentu saja!

Sebab aku mencintai diriku sendiri.

Lalu, apakah dirimu tidak egois?

Coba renungkanlah jika kau punya hati.

Jika tidak, cobalah transplantasi hati.

Setidaknya, setelah itu, kau bisa sedikit berempati.

—–

Bogor, 31 Juli 2022

Utopia

Tempatku berkeluh kesah tanpa takut dihakimi.

Tempatku menuai rindu yang tak terbalas.

Tempatku mencintai dia yang tak bisa kusentuh.

Tempatku menuang gelisah yang tak menentu.

Tempatku meresapi melankolitas diri yang selalu datang tanpa diundang.

Tempatku menuju destinasi yang belum bisa kujamah.

Tempatku berkreatifitas merangkai syair yang indah.

Tempat bagi ide gilaku berpustaka.

Tempatku membentuk seni tak berguna tetapi menggetarkan bagi yang memaknainya.

Tempatku menari riang di ruang alam yang belum kuhampiri.

Tempatku mencumbu kasih yang tak bertuan.

Tempatku merasakan grandiose dalam penghambaan diri.

Tempatku menggantungkan mimpi – mimpi yang akan kuraih walau entah kapan.

Tempatku menangis pilu menyikapi durjana buana.

Tempatku merenungi kesalahan bodohku terhadap spesies sejenisku.

Tempatku berdialog pada seseorang imajiner.

Tempatku mengenang memori manis masalalu.

Tempatku mengutarakan semua perasaan yang kumiliki.

Berproses dari imajinasi, bermuara ke utopia.

—–

Jakarta, 17 Juli 2022

Bianglala

Permen kapas hijau muda yang sudah kulirik sejak tadi, kini ada di genggamanku.

Sudah kulahap habis saat setengah putaran, wahana ini melaju pelan sekali.

Kerlap – kerlip cahaya kota menghiasi malam yang pekat.

Kuresapi melankolitas diri yang menaungi sukma.

Hadirnya dirinya di hadapanku, membuat senyumku merekah.

Kupandangi dirinya yang terus berbicara tanpa henti.

Hingga ia tersenyum dan menyentuh pundakku.

Aku harus segera turun.

—–

Bogor, 16 Juli 2022

Klip Video

Sepotong klip video hitam putih telah menjadi saksi nyata kisah kita.

Melebur dalam kelabu yang menjadi muara cerita.

Di dalamnya, ada kamu yang tertawa memaknai candaanku.

Ada senyum manismu dengan gigi yang berbaris rapi.

Mengenang dirimu yang pernah, bahkan masih membuatku gugup tak karuan.

Aku suka menonton klip video itu berulangkali.

Melalui Kotak Pandora di ruang imajinasiku, hingga kini kotak itu mulai rusak.

Rusak karena kerinduan yang begitu membuncah di dalam dada.

—–

Tangerang, 3 Juli 2022

Diam

Semua insan bisa melakukannya.

Begitu mudah untuk melakukannya.

Namun, ada begitu banyak makna dibaliknya.

Bisa jadi tanda bahaya tersembunyi, atau kabar gembira yang tak disiarkan.

Ada kemarahan yang begitu meluap di dada.

Ada jeritan tangis yang sayup – sayup terdengar.

Ada derita tiada akhir dari trauma yang telah mengakar selama beberapa dekade.

Ada secercah kebahagiaan yang terlalu penuh untuk dibagi.

Ada berbagai ucapan buruk yang tertahan di lidah.

Ada rasa angkuh yang terpaku di sudut hati.

Ada rasa bangga yang kelu untuk disampaikan.

Ada cinta yang tersirat dari tindakan.

Semuanya hanya dengan diam.

Diamku, diammu, diamnya kita semua.

Dalam hening yang menggugah sukma.

—–

Bogor, 25 Juni 2022