Darah mengalir ke kakiku.
Meninggalkan jejak merah di beberapa petak lantai ruang inap.
Panik, menangis, dan pasrah.
Hingga aku terkapar di ranjang pasien.
Menghitung denyut nadi lemah dari sebuah nyawa dalam perutku.
Selama tujuh bulan itu aku menjaganya, saat itu pula aku tahu bahwa dia ingin menghirup oksigen.
Kulayangkan zikir dan doa untuk keselamatan kami.
Menenangkan kepanikan diri dan pikiran negatif yang bermunculan.
Sirine memekik telinga, aku hanya terbaring lemas di tandu.
Berusaha untuk tak tidur agar tak “hilang”.
Berbagai pertanyaan muncul dari para petugas medis, sembari menunggu jadwal operasi yang belum jelas rimbanya.
Setelah menunggu beberapa waktu, akhirnya aku masuk ke ruangan yang cukup bersih dan putih.
Dikelilingi orang – orang berpakaian hijau, yang siap memberiku anestesi dan membedah perutku.
Dengan probabilitas limapuluh banding limapuluh, dia mengirim kekuatan padaku sehingga aku bisa tenang menghadapi semuanya.
Lalu, satu persatu bagian badanku mulai kaku, hingga aku tak sadarkan diri.
Kamu tahu?
Suatu keajaiban bahwa aku masih hidup.
Namun, bagaimana dengannya?
Aku terbangun, dan perutku sudah rata.
Penglihatanku menjadi buram, dan aku menggigil.
Komat – kamit berzikir tiada henti.
Perlahan, aku mulai sadar kembali.
Namun, untuk bersin saja, jahitan di perutku langsung kesakitan.
***
Hari ketiga, untuk pertama kalinya, aku melihat wujud nyata dari manusia mungil yang sudah tujuh bulan mendekam di perutku.
Terpasang selang ventilator di hidungnya.
Mulutnyapun tak luput dari selang yang berbeda fungsi.
Di tangannya, terpasang selang infus untuk nutrisinya.
Tubuhnya dihiasi sinar biru.
Popoknya yang terlalu besarpun tak luput dari pengamatanku.
Empat titik monitor terpasang di dadanya.
Pandanganku nanar melihatnya tak berdaya di dalam inkubator.
Hanya bisa memegang tangan kecilnya dan menangis pilu.
Dia bahkan belum bisa menerima hangatnya tubuhku dan air susuku.
Namun, di ruangan yang sama, ada bayi berkepala besar dengan orangtua yang menangis lebih pilu dariku.
Aku terdistraksi oleh sayup – sayup kata “ikhlas”.
Tak sanggup kubayangkan jika aku ada di posisi mereka.
Kembali kupandang putri kecilku yang sejauh itu kuat bertahan untuk melihat dunia.
Aku yakin dia bisa melewati semua ini dengan baik.
Dia anak yang kuat, sama sepertiku.
***
Dua tahun berlalu, dia telah menjadi seorang gadis kecil yang sangat cantik, cerdas, dan menggemaskan.
Aku selalu berterimakasih padanya, karena telah menjadi hadiah terbaik dalam hidupku.
Berbagai doa baik selalu kupanjatkan untuknya.
Kurajutkan selalu asa terbaik baginya, sembari memantaskan diri untuk jadi Ibu yang lebih baik lagi.
Jadi…
Selamat dua tahun, Cantik.
—–
Bogor, 18 Mei 2022