Delusi

Pasang surut kulalui gelombang rasa ini.

Memekikkan nama indah di balik wujud yang entah nyata apa tidak.

Delusi diri yang tercipta menjalin asmara dengannya yang tak bisa kusentuh.

Hanya pikiranku yang bekerja rodi, menerima sinyal hati yang mendobrak kokohnya logika yang telah kubangun bertahun – tahun.

Rapuh dalam imajinasiku sendiri.

Mengisi energipun tertatih – tatih, menjelma menjadi tubuh yang lemah tak berdaya.

Hilang sudah harga diri yang harusnya aku pegang teguh.

Aku menawarkan diri untuk meraih genggamannya.

Kamu tahu mengapa?

Sebab aku sudah terjerat olehnya.

Setidaknya… untuk saat ini.

—–

Bogor, 24 Juni 2022

Ekspektasi

Jalur orbit semestaku penuh dengan jutaan gelembung ekspektasi.

Ekspektasi yang membuatku lelah, karena peluangnya sangat kecil, bahkan hampir tak ada.

Tak bisa menyalahkan siapapun juga, karena aku dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan.

Ingin kusudahi saja permainan ini, tetapi aku sudah terlanjur basah dalam kubangan lumpur.

Tak ayal, aku menikmati setiap dentuman detak jantung yang berdegup kencang mengiringi sensasi yang menegangkan.

Mungkin aku adalah manusia paling buruk yang pernah ada.

Sebab beraninya menghirup dosa layaknya oksigen.

—–

Bogor, 22 Juni 2022

Dewasa

Kukira, menjadi dewasa itu menyenangkan.

Bebas hilir mudik melakukan apapun yang kumau.

Bebas menyatakan pendapat apapun yang kupunya.

Menyenangkan karena memiliki kekasih sepanjang hidup.

Menyenangkan karena bisa melawan siapapun yang tak kusukai.

Namun, ternyata, menjadi dewasa tak sebercanda itu.

Ternyata, uang menjadi alat pembayaran kebahagiaan kala dewasa.

Ternyata, uang menjadi penentu sikap asli manusia yang selama ini selalu menggunakan persona.

Ternyata, tak ada hubungan yang murni give and give, manusia adalah makhluk mutualisme yang harus saling menguntungkan satu sama lain.

Ternyata, masa muda adalah investasi berharga untuk meningkatkan kualitas diri.

Ternyata, waktu dan jarak yang dekat adalah alat yang jitu untuk memperdalam kasih sayang antara manusia.

Ternyata, semua kebijaksanaan membutuhkan hati seluas samudera.

Ternyata, semua ketangguhan membutuhkan logika sekuat baja.

Ternyata, semua orang dewasa hanya saling menyalahkan, tanpa introspeksi diri dalam berbagai masalah.

Ternyata, dunia orang dewasa itu beringas dan tak kenal ampun.

Ternyata, meninggalkan dan ditinggalkan adalah siklus yang lumrah terjadi dalam lingkaran setan ‘kedewasaan’.

Ternyata, penyesalan banyak bermunculan di fase dewasa.

Ternyata, salah pilih pasangan bisa berdampak sangat buruk untuk kehidupan diri, anak dan cucu.

Jika tak kenal rimbanya, bersiap – siaplah tergerus oleh kejamnya ‘kedewasaan’ manusia.

Tujuh tahun menginjak kepala dua, kusadari, bahwa aku cukup jauh melangkah dibanding orang lain seusiaku.

Mentalku cukup tua untuk menjalani usia yang cukup muda.

Seringkali hatiku dingin dan tak berperasaan, tetapi melunak sesekali oleh kehangatan empati manusia lain.

Jadi, untukmu yang baru saja ‘dewasa’, aku, yang bukan siapa – siapa ini, menitipkan pesan padamu.

Berhati – hatilah dan kuatkan dirimu, Kawan!

—–

Bogor, 20 Juni 2022

Teluk

Hari ini tampak cerah.

Kuabadikan keindahan Sang Maestro dengan netraku yang masih sehat.

Dengan mobil hijau Rolls-Royce, aku melaju kencang tanpa hambatan menuju teluk negeri.

Angin menyapa rambut pendekku dengan lembut.

Sinar matahari menyinari kulitku yang kuning.

Sabana dan perbukitan yang kulewatipun tak luput membuatku tersenyum.

Setiba di teluk, kukeluarkan semua perkakas kebahagiaanku.

Alam menyambutku dengan sukacita.

Sambil mendengar musik instrumental, aku larut dalam imajinasi.

Kumenari, mengeluarkan toksin depresi dari pikiranku.

Kupejamkan mata, membayangkannya ada di sini bersamaku.

Tertawa bersama dalam khayalan.

Hingga topi anyamku terbang ke laut lepas yang biru jernih.

Untuk sesaat, aku merasakan grandiose dalam diri.

Hei, tak apa, teluk ini ada di tepi semestaku.

Aku adalah pusat semestaku.

Jadi, aku hanya gila untuk diriku sendiri.

Namun, aku suka.

Aku suka menjadi diriku.

Agar esok, aku siap menjadi diriku yang lainnya.

—–

Bogor, 9 Juni 2022

Dua Tahun

Darah mengalir ke kakiku.

Meninggalkan jejak merah di beberapa petak lantai ruang inap.

Panik, menangis, dan pasrah.

Hingga aku terkapar di ranjang pasien.

Menghitung denyut nadi lemah dari sebuah nyawa dalam perutku.

Selama tujuh bulan itu aku menjaganya, saat itu pula aku tahu bahwa dia ingin menghirup oksigen.

Kulayangkan zikir dan doa untuk keselamatan kami.

Menenangkan kepanikan diri dan pikiran negatif yang bermunculan.

Sirine memekik telinga, aku hanya terbaring lemas di tandu.

Berusaha untuk tak tidur agar tak “hilang”.

Berbagai pertanyaan muncul dari para petugas medis, sembari menunggu jadwal operasi yang belum jelas rimbanya.

Setelah menunggu beberapa waktu, akhirnya aku masuk ke ruangan yang cukup bersih dan putih.

Dikelilingi orang – orang berpakaian hijau, yang siap memberiku anestesi dan membedah perutku.

Dengan probabilitas limapuluh banding limapuluh, dia mengirim kekuatan padaku sehingga aku bisa tenang menghadapi semuanya.

Lalu, satu persatu bagian badanku mulai kaku, hingga aku tak sadarkan diri.

Kamu tahu?

Suatu keajaiban bahwa aku masih hidup.

Namun, bagaimana dengannya?

Aku terbangun, dan perutku sudah rata.

Penglihatanku menjadi buram, dan aku menggigil.

Komat – kamit berzikir tiada henti.

Perlahan, aku mulai sadar kembali.

Namun, untuk bersin saja, jahitan di perutku langsung kesakitan.

***

Hari ketiga, untuk pertama kalinya, aku melihat wujud nyata dari manusia mungil yang sudah tujuh bulan mendekam di perutku.

Terpasang selang ventilator di hidungnya.

Mulutnyapun tak luput dari selang yang berbeda fungsi.

Di tangannya, terpasang selang infus untuk nutrisinya.

Tubuhnya dihiasi sinar biru.

Popoknya yang terlalu besarpun tak luput dari pengamatanku.

Empat titik monitor terpasang di dadanya.

Pandanganku nanar melihatnya tak berdaya di dalam inkubator.

Hanya bisa memegang tangan kecilnya dan menangis pilu.

Dia bahkan belum bisa menerima hangatnya tubuhku dan air susuku.

Namun, di ruangan yang sama, ada bayi berkepala besar dengan orangtua yang menangis lebih pilu dariku.

Aku terdistraksi oleh sayup – sayup kata “ikhlas”.

Tak sanggup kubayangkan jika aku ada di posisi mereka.

Kembali kupandang putri kecilku yang sejauh itu kuat bertahan untuk melihat dunia.

Aku yakin dia bisa melewati semua ini dengan baik.

Dia anak yang kuat, sama sepertiku.

***

Dua tahun berlalu, dia telah menjadi seorang gadis kecil yang sangat cantik, cerdas, dan menggemaskan.

Aku selalu berterimakasih padanya, karena telah menjadi hadiah terbaik dalam hidupku.

Berbagai doa baik selalu kupanjatkan untuknya.

Kurajutkan selalu asa terbaik baginya, sembari memantaskan diri untuk jadi Ibu yang lebih baik lagi.

Jadi…

Selamat dua tahun, Cantik.

—–

Bogor, 18 Mei 2022

Rapeseed

Punggungku terhampar di atas lantai.

Hari ini terasa panas, sungguh.

Burung bersahutan satu sama lain.

Langit di luar jendela begitu biru merona.

Kupandangi plafon gipsum putih di ruang tamu.

Lalu, kupejamkan mata.

Dan aku tiba di suatu tempat di Perancis.

Di hamparan rapeseed yang menari disentuh angin.

Mengurai rambut tipisku ke satu arah yang ia tuju.

Matahari terik di atas kepalaku.

Namun, anginnya begitu menyejukkan.

Tenang, sunyi, hanya aku seorang diri.

Berteriak sepuasnya tanpa merasa bersalah.

Kusebutkan namanya yang berhasil menggoyahkan logikaku.

Menulis puisi tentang keindahan semesta.

Bersenandung bak diva di atas panggung megah.

Menari bersama angin diiringi musik alam.

Terlelap dalam senyuman.

Damai.

—–

Bogor, 13 Mei 2022

Berkelana

Semestaku kembali berjaya di kegelapan.

Berkelana ke berbagai tempat asing tak bertuan.

Berusaha kutahan kantuk yang melelahkan ini.

Sayu mata terlihat tua di usia muda.

Kutelusuri lautan gagasan yang mulai surut.

Kutemukan, satu!

Kuraih dirinya yang mulai terkikis oleh tumpulnya rasa malas.

Kutata kembali agar ia menjadi indah dan menawan.

Lalu, kupajang dia di antara teman – temannya yang sudah dipoles terlebih dulu.

Menakjubkan!

Dia akan dibaca oleh banyak pasang netra di muka bumi ini.

Dan aku harus melanjutkan perjalananku esok hari.

Jadi, selamat bermimpi!

—–

Bogor, 12 Mei 2022

Manggarai

Keretaku berakhir di Manggarai.

Turun berdesakan.

Ramai lalu lalang di jantung negeri.

Sebuah earphone melekat di telingaku, sambil kudengar beberapa playlist musik instrumentalku.

Menepi sebentar, sekedar menikmati suasana dan kehidupan stasiun.

Kuperhatikan mata – mata yang kusut di atas berbagai jenis masker.

Hingga akhirnya, pandanganku tertuju pada sesosok yang tinggi di antara lautan manusia.

Aku tak tahu siapa dia, tetapi hatiku berkata bahwa aku pernah mengenalnya.

Sekali lagi, otakku berputar, mencoba keras untuk mengingat siapa dia.

Sambil bangkit menuju ke arahnya, aku menepuk tas punggungnya.

Dia menoleh, mengernyitkan dahi seraya bertanya, “ada apa ya?”

Kubuka maskerku beberapa detik, lalu kutanya, “masih ingatkah?”

Dia terdiam sejenak, tanda berpikir keras.

Tertegun, akhirnya ia menyadari siapa aku.

Siang itu, saat cuaca mendung, aku menghabiskan banyak kata dari mulutku untuk meresponnya.

Seraya menghabiskan dua gelas kopi di gerai minimarket terdekat.

Jadi… Akankah ini terjadi?

—–

Bogor, 19 April 2022

Ayam Goreng

Rintik air dari langit membasahi bumi.

Malas beranjak, enggan kuyup.

Tak lama, sayup suara familiar terdengar dari kejauhan.

Terbayang vespa putih yang dikaitkan triplek horizontal di sampingnya, diberi pagar kecil di sekelilingnya.

Tergopoh – gopoh aku melenggang keluar kamar.

Benar, dia pulang.

Tercium aroma ayam goreng yang cukup mewah bagiku.

Dia tersenyum lebar, kamipun sumringah.

Setelah mengeringkan diri, dia bergabung bersama kami.

Menikmati ayam goreng hangat yang ia bawa pulang.

Sambil menonton acara kesayangan.

Lebih dari tujuh belas tahun kemudian, momen sederhana itu menjadi memori paling indah yang selalu kukenang.

Tak tahu apakah dia masih ingat atau tidak.

Yang jelas, sekarang dia tahu apa yang aku rasakan untuknya.

Sebab… Saat ini, dia bisa melihatku dari suatu tempat yang tak kuketahui.

Sebab… Dia sudah pulang.

—–

Bogor, 18 April 2022

Aku

Aku adalah manusia paradoks.

Aku adalah manusia ‘beracun’ bagi sebagian orang.

Aku adalah manusia yang didesain untuk mandiri dan kuat.

Aku adalah manusia hasil ketidakadilan dunia.

Aku adalah manusia yang sering diremehkan hanya karena aku tak memiliki apa yang mereka miliki.

Aku adalah manusia yang ingin menjadi pahlawan tersembunyi di kegelapan.

Aku adalah manusia biasa.

Aku adalah aku.

—–

Bogor, 17 April 2022