Angin

Di senja nan syahdu ini, angin kering bertiup semilir, menyentuh dedaunan yang berirama karena sentuhannya.

Berbagai spesies bergerak menyatukan dirinya dengan angin itu, adapula yang melawannya.

Air sawah yang belum ditanami bibit padi, bergeming menyapa angin itu.

Sang petani yang sedang membajak sawahpun tak sampai hati membiarkan angin lewat begitu saja.

Ya, tentu, zat tak berupa dan tak berbau itu dihirup dalam, dan dihembuskan kembali sebagai alur kehidupan.

Di atasnya, langit dan matahari menyapa dengan indah dan terik.

Awan – awan membentuk pola naturalis yang sangat indah, karya Sang Maestro yang luar biasa menakjubkan.

Putih seperti kapas, biru seperti biasan cahaya pada air di laut.

Sungguh, tempat – tempat inilah yang dilalui oleh angin kering tadi. Begitu mempesona, indah tak terperi.

Namun, di balik langit itu, ada berjuta tempat di dunia ini, yang telah dijelajahi oleh Sang Angin.

***

Aku menerawang jauh, di sini, di salah satu tempat yang telah membuatku jatuh cinta, yang telah membuatku bersyukur menjadi makhluk Sang Penguasa Jagat Raya yang mempesona ini; Majalengka.

Sang angin memberikanku berbagai pertanyaan yang sebelumnya tak pernah terbayangkan olehku; darimana dan ke mana tujuan gerangan, Sang Angin yang telah menjadi salah satu sumber kehidupanku, kehidupanmu, dan kita?

Akankah Sang Angin dapat menyampaikan rinduku pada Ibuku yang bermil – mil jauhnya dari kursi yang kududuki saat ini?

Akankah Sang Angin dapat menyampaikan salamku pada warga negara yang terasing dan tak pernah mengenal dunia di luar wilayah mereka?

Akankah Sang Angin mengutarakan perasaanku akan cinta yang indah tak terperi kepada Tuhanku, meskipun aku sering berkhianat padaNya?

Akankah Sang Angin dapat menyampaikan pelukku pada kekasih masa depanku yang telah digariskanNya untukku?

Akankah Sang Angin dapat menyampaikan empatiku, untuk negara – negara yang telah mengalami peperangan selama berpuluh – puluh tahun? Akankah?

Akankah Sang Angin menyampaikan jeritan milyaran rakyat kecil yang ingin keluar dari garis kemiskinan kepada yang katanya ‘Pemerintah Berdaulat’?

Akankah Sang Angin dapat menyampaikan kebusukan – kebusukan yang terdapat di berbagai bidang kehidupan kepada Sang Hakim Penguasa Sejagat Raya?

Akankah Sang Angin dapat menunjukkan arah pada segerombolan musafir yang tersesat di Gurun Sahara?

Akankah Sang Angin dapat melambat ketika berada di Kutub Utara untuk menghangatkan orang – orang yang ada di dalam iglo? Akankah?

Entah, aku tak tahu ke mana Sang Angin akan bertuju, akan bermuara.

Atau mungkin, ia memang tak pernah bermuara.

Sang Angin akan terus berhilir mudik ke arah yang tak pernah kita duga.

Terus berhembus, menyegarkan kehidupan bumi yang mulai beranjak mati, karena mengering oleh teriknya dosa – dosa manusia yang semakin merajalela di muka bumi ini.

Dan salah satu manusia itu adalah aku.

—–

Majalengka, 16 April 2016

Balada Bumi dan Surya

Sebutir pasir di hamparan samudera luas,
Terombang ambing,
Mengikis karena tergerus air,
Asin tanpa bau,
Dan perlahan hilang,
Melebur bersama udara.

Lalu, transformasi itu menghasilkan atom udara,
Tak berbau, tak pula berasa,
Namun, kau dapat merasakannya,
Begitu menghujam kalbu,
Menggugah sukma.

Setelah dia melihat dunia,
Berkumpullah dia bersama yang lain,
Mengepul dalam mutasi kapas putih,
Kemudian menjadi kelabu,
Berat dan besar.

Tumpah!
Semua pecah, berurai tetesan langit,
Halilintar menggema,
Langit begitu suram,
Anak ayam yang belum menetaspun ketakutan dibalik cangkangnya.

Kuajak adikku keluar rumah,
Kukatakan kepadanya, “Indah, bukan?”,
Sang Tangisan mereda,
Cakrawala merona,
Warna warni yang indah tak terperi muncul dengan malu di ujung Sang Tangisan.

Pelangi!!
Kamipun bersorak.
Lengkung nan elok, tanda senyum cakrawala kepada Sang Tangisan.

Perlahan, Sang Surya menyapa,
Lalu bersabda,
“Sudahkah kalian terima semuanya, Wahai Bumi dan seisinya?”
“Sudah”.
“Apa yang kalian rasakan?”

“Awalnya, kami merasa kehilangan arah, ketakutan. Namun, perlahan, kami menjadi kuat, dan akhirnya, kini, setelah Kau hadir, kami bahagia”.

Sang Surya tersenyum.
Lalu, bersabda lagi,
“Berarti kalian merindukanKu?”
“Ya, kami merindukanMu, dan selalu membutuhkanMu”.
“Kalian tahu, mengapa semua itu terjadi?”
“Tidak”.

“Inilah alasannya. Aku begitu mencintai kalian semua. Namun, aku tak ingin kalian menjadi manja, melainkan tangguh dan kokoh. Aku menciptakan semua kejadian itu untuk menempa kalian, agar menjadi kuat. Dan mengasah, sejauh mana kerinduan kalian terhadapKu”.

Secepat kilat, seisi Bumi memeluk Sang Surya dengan erat.

—–
Bandung, 17 Maret 2016

Piring Cantik

Tiga kali dapat piring cantik.

Mana hadiah piringku yang tak sejajar lingkarannya dan banyak gerigi di permukaannya?

Aku menagihnya, sebab tiga kali diserang itu cukup menyakitkan.

Cukup membuatku menjadi tidak peduli pada pihak penyerang.

Cukup membuatku abai dengan kondisi mereka saat ini.

Cukup membuatku bereaksi dingin ketika yang terdengar adalah kabar panas dari mereka.

Terimakasih sudah membuatku begini ya.

Terimakasih telah menjadi mimpi buruk di malam berhargaku beberapa kali sebulan.

Jadi, mana tiga piring cantikku?

—–

Bogor, 11 April 2022

Entah Apa Namanya Ini

Mencari inspirasi di kala tak ada inspirasi itu, sulit.

Namun, dengan mulai menulis, mengetik atau mengguratkan hitam di atas putih, berbagai diksi mengalir deras walaupun aku tak berpikir sama sekali apa yang ingin kutuliskan.

Aku heran, bagaimana semua ini terjadi?

Padahal otakku kosong melompong.

Lalu, aku terus menulis, dan menulis, hingga aku teringat seseorang yang pernah mengusik pikiran dan hatiku, saat lampau.

Hingga kini, dia tetap menjadi yang terindah, dan aku sudah terbiasa dengan rasa sakit itu.

Mungkin diapun sakit, atau tidak sama sekali, entah, karena aku tak tahu apa artinya aku di dalam hatinya.

Kadang, ketidaktahuan itu menjadi hal terbaik untuk melanjutkan hidup.

Dan kuharap dia bahagia. Sebab aku sudah bahagia dengan jalanku.

Terimakasih, kamu.

Aku sudahi di sini saja.

Esok lanjut lagi, jika berumur.

—–

Bogor, 12 April 2022

Ada

Bandung.

Ada berjuta rasa yang kau tinggalkan.
Ada beribu kisah yang kau guratkan.
Ada beratus orang yang kau besarkan.
Ada berpuluh bangunan yang kau kokohkan.

Ada.

Ada sebuah rasa yang mengisahkanku pada seseorang, di antara megahnya bangunan di Kota Kembang.

Aku menantimu.
Dalam diamku.
Dalam doaku.
Langit telah mengetahui semuanya.
Langit telah melaporkannya kepada Sang Pemilik Semesta.

Lalu,
Aku hanya perlu melangkah.
Maju, mendekatimu.
Dan mencintaimu, di saat yang tepat.

—–

Bandung, 4 Desember 2015

Runtuhan malam

Angin malam menerpa sebagian wajah dan bahuku di balik jendela.

Sambil kupandangi titik – titik cahaya di kejauhan.

Indah, sungguh indah,
Kerlap – kerlip yang timbul di permukaan gelapnya malam.

Sembari kudengarkan indahnya melodi yang terlantun dari beberapa instrumen.

Aku menerawang jauh,
Memikirkan semuanya,
Yang telah terjadi dalam hidupku.

Apa yang telah kulakukan?
Apa yang telah kuperbuat?
Apa yang telah kuberi?
Apa yang telah kuperbaiki?

Masih sanggupkah aku bermuhasabah diri di dunia hingga akhir waktu?
Sudah siapkah bekalku untuk meninggalkan dunia yang fana ini?

Dilema kudapati diriku,
Yang muncul seiring cepatnya kendaraan melaju.

Yang tadinya indah, titik – titik cahaya itu berubah,
Membentuk gerakan kilatan cahaya,
Gerakan yang seolah menimpaku bersama kegelapan yang menyertainya,
Yang membuatku bergidik ngeri.

Sebab…
Aku sadar,
Aku belum melakukan apapun,
Aku masih terdiam, terpaku di sini,
Bersama segala kemaksiatan yang kubuat.

Aku masih belum beranjak,
Dan mereka semakin runtuh,
Membuatku kehilangan arah dan tujuan,
Sementara aku semakin melunjak,
Tetap dalam belenggu diri jahiliyah yang tak kunjung diperbaiki.

Aku meringkik, layaknya keledai,
Betapa hinanya aku.

—–

Bandung, 18 Oktober 2015

Manusia

Ketika aku belum beranjak dewasa, Sang Khianat masih bersembunyi di balik kebaikan.

Ketika aku belum mengerti dunia, aku tertelan mentah – mentah atas manisnya berbagai hal.

Ketika aku belum tahu seperti apa kebenarannya, semua terasa lebih indah.

Ketika aku belum melakukan sesuatu yang besar, banyak orang yang menganggapku remeh.

Ketika aku masih berada di titik nol, banyak orang yang meninggalkanku.

Ketika aku berada di antara keramaian, aku merasa sendiri.

Ketika aku berada di antara manusia, aku merasa dikelilingi topeng berjalan yang menutupi muka dan hati iblis di muka bumi.

Ketika aku berada di antara saudara Raja Hutan di depan kamarku, aku merasa dikelilingi makhluk  suci dari surgawi.

Ketika aku berada di masa jatuhku, hanya beberapa orang yang merangkulku dan menguatkanku.

Ketika aku berjuang terlebih dahulu di medan perang, manusia yang baru terjun sekarang ke medan perang menyombongkan diri dan menganggap dirinya hebat.

Ketika mereka baru merasakan sakitnya seperti ini, aku telah menambal rasa luka dan duka hingga berlapis.

Ketika aku mengeluh dengan keadaan, di luar sana banyak yang lebih menderita daripada aku, tetapi mereka lebih tangguh dariku.

Ketika aku dihadapkan dengan rasa ini, aku menjadi bejat kepada Tuhanku.

Ketika aku tahu apa yang sebenarnya terjadi, Sang Khianat rupanya telah menertawai tangis dan lukaku sejak lama.

Ketika aku dituntut untuk bersosialisasi ke dunia luar, aku menutup diri, karena Sang Khianat tak pernah berhenti menertawaiku.

Ketika aku harus percaya dengan manusia, aku malah kehilangan rasa percaya yang telah kubentuk sejak lama, pudar, terkikis, tergerus oleh Sang Khianat.

***

Aku menjadi bejat di depan Tuhanku.
Aku menjadi waspada terhadap manusia.
Aku menjadi pembenci yang tak bertuan.
Namun, aku juga menjadi pendoa yang terselubung kepada Tuhanku.

***

Shalat yang kerap kali dilakukan belum tentu menjamin hati yang bersih.

Haji berkali – kali belum tentu menjamin hati seiya sekata dengan ucapan.

Berjilbab belum tentu menjamin penjagaan diri yang baik.

Mendirikan masjid belum tentu mereka selalu ke masjid.

Menyumbang rutin belum tentu mereka sembunyikan dari khalayak.

Sering puasa sunnah belum tentu mereka tidak menonton film biru.

Punya harta berkecukupan belum tentu mau memberi.

Seorang motivator belum tentu punya timbangan dalam berpendapat.

***

Seorang pelacur belum tentu mau selamanya menjadi pelacur.

Seseorang yang miskin belum tentu mau meminta – minta.

Seseorang yang miskin memikirkan apakah bisa makan hari ini.

Seseorang yang tidak pernah shalat belum tentu tidak akan shalat selamanya.

Seseorang yang bejat, pasti ada terbersit di pikiran mereka untuk kembali ke jalan yang benar.

***

Kereligiusan seseorang belum tentu menjamin attitude dan moral yang baik.

Kebejatan seseorang belum tentu menjamin attitude dan moral yang buruk.

Hati manusia, siapa yang tahu.
Hanya Allah yang tahu.

Manusia hanya mencoba untuk menjadi lebih baik.

Jangan mengidolakan hanya karena dia seorang figur masyarakat terkenal.

Jangan mengidolakan hanya karena dia seorang pimpinan di organisasinya.

Jangan menuhankan manusia hanya karena dia tampan, cantik atau berbakat.

Kita akan kecewa jika berharap terlalu banyak pada manusia.

Dia hanya manusia, sama seperti kita.

Teladani sisi baiknya, abaikan sisi buruknya, sebab setiap orang punya sisi buruk.

—–

Bandung, 16 Juni 2017

The Bitter Truth

Be water if you can’t be the wind.
Make it balance.
It’s the same thing when you look at those thing.
Well, you hate it but you’re afraid to be like that.
Fallen into memories.
You hate to say it to yourself.
But the truth is always going to be the truth.
If you learn how to hate, then you must learn how to love,
And to forgive.

—–

Bandung, 16 Desember 2017