Kepada para manusia asing yang hanya terpisahkan oleh tirai tipis denganku.
Aku tahu, bagaimana gelisah menjalar di pikiran kalian.
Aku tahu, bagaimana kekhawatiran kalian menjadi – jadi saat pertama atau kesekian kalinya menginjak bangunan ini.
Aku tahu, bagaimana makhluk kecil yang berstatus ‘pasien’ menjadikan tubuh kalian berdiri seperti zombie; lunglai karena kurang tidur berhari – hari.
Aku tahu, bagaimana waktu demi waktu terasa begitu lama di bangsal rumah sakit.
Aku tahu, bagaimana rumah menjadi tempat yang begitu dirindukan.
Namun, kalian perlu tahu.
Aku ingin meminimalisir penularan penyakit dari dan ke ruangan ‘bagianku’.
Aku ingin meminimalisir waktu bermain pasien, sebab mereka lebih butuh banyak istirahat, agar sembuh.
Aku ingin meminimalisir waktu berinteraksiku dengan orang lain, termasuk kalian, sebab baik aku maupun kalian membutuhkan banyak istirahat, agar tetap fit dan waras dalam mengurus pasien dan mengobrol dengan penjenguk.
Aku ingin meminimalisir ‘rasa keberatan ingin pulang’ yang mungkin akan dimiliki para pasien cilik ini, akibat ‘saling’ memiliki teman baru.
Sebab, kita ditakdirkan bersebelahan di bangsal rumah sakit ini, untuk waktu yang hanya… sebentar.
Dan, aku berharap, semoga kita takkan bertemu lagi di rumah sakit manapun.
Semua orang bergegas menyambut Hari Raya terbesar umat mayoritas di negara ini dengan sukacita. Menyiapkan segala detail perayaan, mengunjungi sanak saudara, menginap beberapa hari di villa yang mewah atau rumah keluarga, berkumpul bersama keluarga besar, mengirim bingkisan untuk orang terkasih. Euforia yang terjalin antara manusia dengan tanggal merah menjadikan suasana riuh dengan segala hilir mudik perpindahan objek dunia dari satu tempat ke tempat lain.
Saat itu, aku meringkuk kedinginan dalam selimutku, menikmati setiap bunyi jangkrik yang menggema, mengisi setiap ruang antara langit malam di sekitarku. Itu adalah kali pertama aku meresapi hangatnya minuman sereal, sendirian, di malam perayaan. Aku tak terkejut, tak merasa kesepian, malah aku sedikit menertawakan situasi yang sedang kualami detik itu. Setelah dua kali mengalami transisi kenikmatan Hari Raya dalam hampir dua dekade, memasuki dekade kedua akhir, suasana itu benar – benar berbeda seratus delapan puluh derajat; tenang dan syahdu. Aku tak merasa menyesal, aku bisa saja melakukan hal yang sama seperti orang lain, tetapi pada tahun itu, aku memilih tidak melakukannya.
Berangkat dari kebelengguan yang mengekang setiap sudut jati diriku, aku sudah lama mendambakan kebebasan seperti itu, tak lama sejak aku menginjakkan kaki di tanah Pasundan. Tanah itu, yang kata orang begitu indah dan subur, aku akui memang benar adanya. Namun, dengan aku menghabiskan beberapa waktu di sana dalam hidupku, bukan hal yang mudah untuk hanya melihatnya dari sisi yang baik. Sebab, memori yang tercipta, juga banyak yang tak baik – baik saja.
Sejak saat itu, semua perayaan yang semestinya kurayakan, menjadi hari yang sama saja dengan yang lainnya. Semuanya datar. Pemikiranku yang aneh lainnya adalah bahwa aku juga melihat dari semua sisi; setiap ‘hari’ ada saja berita suka dan duka dari seluruh dunia, baik yang disiarkan maupun tidak. Bahkan yang kuhadapi di depan mata, dalam satu hari, aku bisa merasakan rollercoaster emosi; senang, sedih, marah, terharu. Kesenangan dan kesedihan, kebaikan dan kejahatan, putih dan hitam bercampur menjadi elemen keabuan; rasa syukur, hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik dari berbagai emosi tersebut. Warna – warni hanyalah pada permukaan layar.
Berempati, tetapi tak pesimis juga. Sebab, meskipun dunia dipenuhi oleh kejahatan, tetap selalu ada asa untuk mengamini semua kebaikan. Oleh karena itu, aku tetap menghormati prinsip semua orang. Hanya saja, aku menarik diri dari berbagai euforia perayaan dengan perspektif ini.
Justru, menurutku, yang menarik dari sebuah hari adalah, pertama, ketika aku bersama para manusia yang spesial di hidupku. Kedua, uanglah yang menjadikan kebersamaan itu terasa tidak membosankan dan meminimalisir konflik. Hei, ketika punya uang, semuanya terasa menyenangkan dan menenangkan, bukan? Ada atap untuk berteduh, pakaian untuk berbusana, makanan yang hangat untuk dimakan, tidurpun nyenyak sekalipun hujan deras, beribadah tenang karena tahu besok mau makan apa, bahkan bonusnya banyak lagi!
Bahkan ketika beberapa kali aku diuji, hari memang terasa berat untuk dijalani, tetapi hikmah yang kutarik selalu ada di hari selanjutnya. Aku bisa saja mengutuk hari – hari aku diuji itu, tetapi ternyata, pilihanku sendirilah juga takdir yang berkata bahwa itu semua terjadi. Jadi, antara salahku, atau memang takdir, hingga aku sampai pada titik ini. Aku bertanggungjawab atas hidupku.
Sekali lagi, ini pandanganku.Aku tahu kamu tak peduli. Namun, bagiku, semua hari terasa sama. Menyenangkan, juga menyedihkan, dan aku ada di antara keduanya.
“Teruntuk para orangtua di luar sana, ketika anak mengatakan ‘tidak betah’ saat tinggal di tempat lain selain rumah, selidiki, cari tahu alasan yang sebenarnya mengapa anak Anda mengatakan hal tersebut.”
Kira – kira seperti itulah pernyataan yang kudengar dengan seksama dari seorang ibu asuh, pada berita viral pelecehan seksual, kemarin sore di salah satu saluran stasiun televisi terkenal pada platform Youtube.
Seketika, memori buruk dari masa remaja mengintai kembali. Aku menghela napas panjang, dan tersadar betapa terhubungnya aku dengan berita viral itu, meskipun dalam kasus yang berbeda.
Pernyataan yang sedikit membuatku terhenyak, sebab, aku pernah mengatakan ‘tidak betah’, saat tinggal di rumah seseorang selain rumah orangtuaku saat remaja. Aku mengatakan itu kepada diriku sendiri. Orangtuaku saat itu tak sebersitpun tahu.
Aku benci menceritakan itu, tetapi ketika aku merasa lemah selemah – lemahnya, aku terpancing untuk menceritakan apa yang aku alami di sana. Memang bukan kekerasan verbal, fisik, ataupun pelecehan seperti yang dialami oleh korban lainnya, tetapi secara psikis, aku cukup rusak saat itu. Trauma berat yang aku rasakan, sebab aku jauh dari orangtua, jauh dari keluarga, membuatku merasa menghadapi semuanya sendirian kala itu. Aku sering berkata ‘aku ingin pulang’, tetapi hanya kuucapkan di pikiran, monolog, dan buku harianku saat itu, sebab aku masih ingin bertahan untuk mencapai masa depanku yang kuyakini gemilang.
Aku takkan menceritakan detail kejadian itu, tetapi aku berpikir, beberapa orang tahu kejadian apa yang aku maksud.
Dan di sini, saat ini, setelah aku menjadi ibu rumah tangga, yang ternyata impianku meleset jauh dari rencana awalku (dan aku tidak menyesal, if you know, you know), aku mengenang hari – hari itu sebagai proses yang mendewasakanku. Dua patah kata ‘tidak betah’, yang selalu kuulangi selama enam tahun aku di sana, yang akhirnya tersampaikan ketika Bapak menyambutku di bandara tanah kelahiranku, membuatku bertekad saat itu. ‘Kelak, aku akan selalu mendengarkan pendapat anakku, berempati pada perasaannya, menghargai keberadaannya, mendidiknya menjadi bijaksana dan tangguh, menceritakan pandanganku tentang kehidupan, juga tak membiarkannya jauh dariku di saat yang belum tepat’.
Aku akan mengisi kekosongan diriku dengan pelajaran yang akan kuterapkan saat menjadi orangtua kini. Aku akan mendengar ocehannya meskipun aku sendiri masih sibuk menghibur diriku akan penatnya rutinitas. Dan meskipun tak pernah ada kesempurnaan dalam metode parenting yang kuterapkan, aku akan melakukan segala cara yang kuyakini tepat. Aku takkan pernah menjadi ibu yang sempurna, tetapi aku akan menjadi ibu yang terbaik baginya. Tempat di mana ia bisa mengadu apapun selain pada Tuhannya. Tempat yang ia sebut rumah, ketika ia ingin pulang karena kelelahan menghadapi dunia yang keras ini. Tempat di mana ia berbagi suka dan duka.
Aku ingin ditangisi ketika mati, dicari ketika tak ada, disayang ketika ada, dan didoakan sepanjang hayatnya. Aku ingin ciuman dan pelukan bertubi – tubi darinya. Aku ingin menceritakan semuanya padanya. Aku akan membalas dendam inner child-ku dengan mencintainya sepenuh hati. The one and only, my daughter, my lovely L. She’s the greatest gift I’ve ever gotten in my life. Gonna listen to Daughters by John Mayer now.
Alkisah, seorang lelaki dewasa merupakan seorang pelukis dan desainer grafis yang cukup hebat. Guratan tinta di atas kertas bisa menghasilkan potret wajah seorang wanita yang tak bernama. Sapuan kuasnya mampu memunculkan sosok anak kecil yang sedang bersepeda roda tiga dengan latar hijau gradasi kuning. Spanduknya yang telah dibentang akan terisi ragam tipografi ciptaannya. Kreatifitasnya sungguh luar biasa. Sangat.
Lalu, era komputer mulai datang di awal tahun 2000-an. Hampir semua desainer grafis mulai beralih dari manual ke komputer. Lelaki itu berpikir jauh, bahwa beliau harus mengikuti perkembangan zaman. Beliau harus belajar mendesain suatu karya di komputer, sebab ini merupakan mata pencahariannya.
Beranjaklah beliau dari kursinya, mendekap sang istri, dan meminta izin untuk membeli sebuah komputer. Sang istri, yang ikut membantunya mendulang rupiah, menolak mentah karena komputer sangat mahal menurutnya, dan tak ada gunanya. Namun, lelaki itu tetap membujuknya sebisa yang beliau bisa. Apa dikata, istrinya tetap pada pendiriannya. Pupus sudah kesempatannya untuk belajar komputer.
Meski begitu, usaha yang didirikannya masih tetap berjalan. Sampai pada akhirnya, beberapa tahun kemudian desain grafis manual benar – benar ditinggalkan oleh semua orang, karena waktu pengerjaannya yang cukup lama, dan tidak lebih praktis dibandingkan di komputer. Usaha lelaki itu terkena imbasnya, dan akhirnya beliau memecat satu – satunya karyawan setia yang beliau miliki. Semua karyanya tinggal kenangan.
Karena masih ada perut anak – anaknya yang harus diisi, beliau menemani istrinya berjualan makanan, berpindah – pindah lokasi, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menjual rumah, dan membeli rumah di lokasi yang cukup jauh. Sebagian uangnya dijadikan modal usaha lain.
Istrinya masih tetap berjualan makanan, lelaki itupun membuka sebuah jasa tambal ban secara daring. Namun, karena minatnya bukan di pekerjaan itu, beliau menyulap barang – barang tak berguna menjadi sebuah karya seni, yang seringkali tak rampung karena kekurangan alat atau bahan. Semua itu dilakukan sembari menunggu panggilan dari pelanggan tambal ban.
Dicibir, dihina, diremehkan. Dianggap malas, disebut miskin, gila. Semua hinaan kenyang dilahapnya. Bahkan ia hanya tertawa menanggapi semua itu, walaupun entah apa yang ada di pikirannya.
Bertahun – tahun kemudian, beliau ikut bekerja dengan orang lain membuat patung dan hiasan dinding timbul di taman rumah orang kaya, dan mendapat upah tak seberapa, tetapi sangat disyukurinya. Itupun beliau berencana menabung untuk membuat usaha sendiri, yang akhirnya rencana hanyalah rencana, sebab uangnya selalu terpakai untuk membeli beras atau sekedar uang saku anak – anaknya.
Sampai suatu hari, di usianya yang sudah senja, beliau ingin tinggal dengan anaknya yang sudah menikah di pulau seberang. Badannya sudah sakit – sakitan, berdiri saja sudah gemetar, tetapi beliau masih menyuarakan impiannya untuk berkarya lukisan timbul dan membuat warung di depan rumah.
Ternyata, dua hal itu adalah impian terakhir beliau. Ia berpulang di hari Jumat malam yang agung, di bulan kelahiran anak pertama dan keduanya, yang tak beliau temui bertahun – tahun lamanya.
Aku punya teman sekolah yang bernama Bimo. Sebenarnya, dia adalah sepupu jauhku, tetapi aku sendiri tak tahu apakah aku ada hubungan darah dengannya, sebab kabarnya, dia merupakan anak angkat dari ipar Uakku. Entahlah.
Aku pertamakali mulai akrab dengannya saat duduk di kelas empat. Dengan jumlah siswa lebih dari limapuluh orang, siswa diperintahkan untuk duduk bertiga sebangku. Bangkunya persis seperti yang ada di warteg, dengan meja kayu penuh coretan tip-x. Saat itulah aku duduk bersamanya. Seorang lainnya adalah Rumi.
Sejak saat itu, kami menjadi sering saling membantu dalam mengerjakan tugas sekolah. Bimo sangat pintar dalam pelajaran eksak, sehingga aku dan Rumi seringkali minta diajarkan, atau bahkan mencontek tugasnya. Figurnya yang rapi, sopan dan lembut, membuatku dan Rumi sering merasa bahwa kami harus melindunginya. Bahkan, aku merasa lebih maskulin dibandingkan Bimo.
Rumi sendiri merupakan pemeriah suasana di antara aku dan Bimo, yang sama – sama pendiam. Berkat dirinya, suasana yang tadinya kikuk, menjadi cair dan luwes karena kepribadian Rumi yang ceria dan berisik. Tawanya juga menular. Kami bertiga banyak menghabiskan waktu bersama di sekolah.
Seiring berjalannya waktu, aku menaruh rasa suka terhadap Bimo. Bagaimana tidak, dibalik sikap pendiamnya, dia merupakan anak yang cerdas dan baik terhadap aku maupun Rumi. Cinta monyet; bisa dibilang begitu. Namun, aku hanya memendam rasa itu sendiri.
Suatu hari, ketika tugas menggambar tiba, aku bingung harus menggambar apa. Aku sudah bosan sekali menggambar dua gunung yang ada matahari di tengahnya. Biasanya, jika sudah buntu, tugas kategori ini aku serahkan kepada Bapak. Lalu, setelah aku memberikan kertas dari buku tulis, Bapak mulai menggambar pemandangan pesisir pantai tanpa contoh sama sekali. Gambar itu didominasi oleh laut, sehingga aku dapat menirunya dengan mudah. Toh, laut hanya gambar garis horizontal yang diberi gelombang. Tinggal fokus membuat detail pohon kelapa dan gubuk di pantainya.
Hasilnya cukup memuaskan bagiku. Sebenarnya, aku bisa menggambar dengan baik, hanya saja aku perlu contoh atau meniru sesuatu. Mungkin otakku imajinatif, tapi tidak sinkron dengan tanganku yang payah dalam hal seni rupa.
Sesampai di sekolah, dua teman sebangkuku itu siap menerkamku hidup – hidup. Mereka mencontek gambarku! Sudah pula aku mencontek dari Bapak, mereka malah mencontek hasil contekanku. Alhasil gambar kami bertiga menjadi sama persis.
Saat istirahat sekolah tiba, aku dan Rumi ke warung di depan sekolah bersama.
“Nona, aku mau ceritalah samamu”, Rumi berkata sambil menyeruput es limunnya.
Mengapa nama panggilanku berbeda di rumah dan di sekolah? Sebab, nama belakangku terlalu pasaran, dan kurang menarik bagiku. Nama depanku jauh lebih elegan dan unik menurutku, sehingga saat di sekolah, aku selalu memperkenalkan diri sebagai Nona, bukan Winda.
“Ceritalah”, jawabku singkat.
“Duduk dululah kita di situ”, ajak Rumi sambil menarik tanganku menuju depan ruang kelas tiga.
“Jadi?”, aku membetulkan posisi rokku untuk duduk di lantai.
“Non, awak suka loh sama Bimo. Ganteng ya dia, manis, pintar pula, ya kan?”, Rumi tersenyum lebar.
Aku terdiam sejenak, kaget, dan berusaha mencerna kata – kata yang baru diucapkan oleh Rumi.
Bagaimana bisa kami menyukai orang yang sama? Apa yang harus kulakukan? Aku tersenyum ketir. Tak mudah bagi seorang anak kelas empat menerima ini.
“Kok diam, Non?”
“Oh, engga. Iya ya, ganteng sih memang dia”, kataku seraya menggaruk kepala dan tersenyum canggung.
“Cocok kau rasa, aku sama dia?”
Pertanyaan macam apa itu? Mengapa harus aku yang menjawab pertanyaan bodoh itu?
Bel berbunyi. Aku selamat. Tak kujawab pertanyaannya. Aku segera mengajak Rumi untuk masuk kelas.
Sejak saat itu, aku selalu memperhatikan gerak – gerik Rumi. Dia terlihat sangat berbunga – bunga dan selalu tersenyum anggun saat di dekat Bimo, yang menurutku sedikit dipaksakan, sebab Rumi yang ceria dan berisik berubah menjadi kemayu. Yang lebih membuatku terkejut lagi, Rumi menjadi sering mendekapkan diri untuk berbisik sesuatu kepada Bimo. Tentu saja aku tak tahu apa yang mereka bisikkan.
Akhirnya, demi kebaikan pertemanan kami, aku mengalah dengan Rumi. Rumi sudah lebih dulu mengatakan perasaannya padaku. Aku tak berhak mengganggunya hanya karena aku juga suka dengan Bimo. Aku tak apa – apa. Selagi belum terlampau jauh perasaan ini. Aku yakin bisa menepis perasaan sukaku dengan Bimo dalam waktu singkat.
Saat itu merupakan cinta segitiga yang pertama kali aku alami, dan juga terakhir kali, sebab aku memegang prinsip itu hingga aku dewasa. Aku berusaha untuk tak menaruh rasa dengan lelaki yang disukai temanku, karena aku yakin hal itu hanya akan merusak pertemanan kami.
Ternyata, keputusan yang kuambil memang tepat. Saat naik kelas lima, aku pindah rumah kembali ke Perumnas Simalingkar. Komunikasi pertemanan kami putus begitu saja, karena memang kami tak punya ponsel, dan aku tak pernah lagi bertemu dengan mereka. Perasaanku juga tak lagi berkembang lebih jauh kepada Bimo, sebab di sekolah pindahanku, aku bahkan bingung memilih siapa yang harus benar – benar aku sukai.
Andai aku bisa kembali ke masa lalu, seperti yang dilakukan Takemichi atau Doraemon, aku ingin sekali menasihati betapa buruknya salah satu kelakuanku saat masih anak – anak, dan efeknya di masa depan nanti. Semuanya berawal dari warung Bulek Anti.
“Winda, jaga kede ya, Bulek mau mandi dulu!”
Teriakan Bulek Anti dari dapur rumahnya membuatku tersadar bahwa aku sudah memainkan congklak selama berjam – jam.
“Iya, Bulek”, teriakku.
Jika di daerah lain orang menggunakan kata warung, maka orang Medan menggunakan kata kede, yang berasal dari kata kedai. Mungkin karena malasnya menekan huruf i yang mendayu di akhir kata kedai, maka digantilah dengan huruf e. Seperti halnya orang Australia menyebut thanks dengan kata ta, atau bikkie untuk biscuit, karena mereka cenderung malas mengeja kata secara lengkap.
Akupun bergegas ke warung milik Bulek Anti yang masih terletak di pekarangan rumah yang sama. Rumah yang aku tempati sekarang sebenarnya merupakan rumah Mbah. Tanah rumah ini luas sekali, terdiri dari satu kavling sebesar dua ratus meter persegi, yang memuat pekarangan depan, satu rumah yang aku huni sekarang, satu rumah Mbah, yang dihuni oleh Mbah dan Bulek Anti, juga pekarangan belakang yang terdapat berbagai jenis pohon dan tanaman, sekaligus bak sampah yang cukup besar. Di pekarangan depan inilah warung Bulek Anti dan studio kerja Bapak berhadapan, tetapi masih menyisakan sisa pekarangan yang cukup luas untuk aku sapu setiap sore, akibat daun pohon jambu air yang berguguran. Itupun karena disuruh Bulek.
Sejak pindah ke sini, aku memang sering disuruh menjaga warung, karena Bulek sibuk mengurus Mbah yang mungkin sudah berumur lebih dari delapan puluh tahun, jadi beliau merasa terbantu dengan adanya aku di sini.
Warung kecil ini menjual beberapa macam jajanan, beberapa merek permen yang dipajang di sejumlah toples bening bertutup hitam, rokok, peralatan tulis, bola kok, berbagai jenis mainan kertas, dan lainnya. Namun, pada beberapa barang dagangan yang bukan berjenis makanan, baik yang digantung maupun dipajang di lemari, rata – rata dipenuhi debu, karena jarang dilap. Hanya lantainya yang disapu dan toples makanan yang dilap.
Supaya tidak jenuh menunggu pembeli, aku terkadang membawa mainan, mengerjakan tugas sekolah, atau membaca majalah wanita tahun 90-an, yang kupinjam dari Bulek Anti. Terdengar aneh memang, anak sembilan tahun membaca majalah wanita dewasa, tetapi aku memang senang membaca apa saja, selama konten bacaan itu tidak membuat aku pusing. Aku suka melihat para model memakai berbagai pakaian dan tata rias. Aku suka bernostalgia, membayangkan bagaimana rasanya hidup di era 60-an hingga 90-an. Aku suka membaca kisah inspiratif orang lain. Bahkan, hingga resep masakan yang tertera di majalah itu juga aku baca. Namun, jangan mengira diriku cerdas: aku bisa lupa apa yang kubaca atau kudengar lima menit yang lalu.
Sambil menunggupun, terkadang aku bolak – balik mengitari isi warung, melihat dagangan yang masih tersedia. Mainan kertas, peralatan tulis, sejumlah jajanan dan permen, menjadi fokus utamaku, karena rasanya ingin sekali aku memiliki semua itu. Berada di warung ini membuatku dilema. Bagaimana tidak, uang jajan sekolahku hanya tersisa lima ratus atau seribu perak, yang terkadang habis atau kutabung, entah buat apa, sedangkan aku ingin membeli banyak hal di warung ini.
Di hari yang kesekian kalinya menjaga warung ini, aku gugup, karena akhirnya aku memutuskan untuk mencuri mainan ular tangga yang terletak di rak bawah. Sudah lama sekali rasanya aku mendambakan mainan itu. Aku sembunyikan di balik kaos tipisku, tetapi bodohnya, karena ini pertama kalinya aku mencuri dalam hidupku, setelah aku keluar dari warung, aku berlari ke rumah, meletakkan mainan ular tangga tadi di bawah kasur, dan aku bergegas kembali ke warung, dan lagi – lagi berlari.
“Kok lari – lari kau?”, tanya Bulek Anti sambil bersandar di depan pintu rumahnya.
“Mau ke kamar mandi tadi, Bulek. Ini aku mau balek lagi ke kede”, jawabku dengan gugup, sambil mengatur napas habis berlari.
Saat di warung, tak henti – hentinya aku menyesali hal yang kulakukan tadi. Dilema kembali menyerangku. Apakah sebaiknya aku kembalikan saja mainan ular tangga tadi? Atau kubiarkan saja? Apakah Bulek Anti tahu aku tadi mencuri? Ah, memikirkannya saja semakin membuatku pusing.
Pikiranku teralihkan dengan datangnya satu pembeli. Tetangga depan warung ini, Rika, membeli permen yang bertekstur kenyal beberapa bungkus. Cukup banyak untuk dimakan sendiri.
Setelah Rika kembali ke rumahnya, aku melihat permen itu cukup lama. Aku membuka tutup hitam dan mengaduk permen – permen itu. Lalu, kututup kembali.
Ada lagi, kebiasaan aneh saat aku menjaga warung ini. Setiap kali aku melihat kendaraan lewat, aku bersembunyi di balik lemari warung. Aku berimajinasi bahwa berbagai kendaraan akan datang dan membawaku pergi, jauh dari sini dan tak akan pernah kembali lagi. Sungguh pemikiran yang bodoh.
Akhirnya, adzan magrib berkumandang. Aku mempersiapkan diri untuk kembali ke rumah. Setelah berpikir beberapa saat, aku memutuskan untuk mengambil beberapa permen kenyal seperti yang dibeli oleh Rika tadi. Hanya beberapa bungkus. Aku ingin membaginya dengan adik perempuanku yang berbeda dua tahun dariku.
Sore itu, aku merahasiakan kebiasaan burukku ini dari siapapun, dan hal ini berlanjut hingga aku duduk di bangku kuliah.
Jika manusia bisa memilih untuk terlahir dari siapa, maka aku akan memilih untuk terlahir di keluarga kaya raya.
Mengapa? Jelas sekali, aku ingin semua kebutuhan dan keinginanku terpenuhi. Tak perlu khawatir terhadap kebutuhan pangan hari ini, bahkan esok hari. Tak lupa, aku bisa membeli semua mainan yang aku inginkan tanpa harus menunggu berbulan – bulan sampai akhirnya aku tidak minat lagi terhadap mainan itu. Aku juga bisa membeli jajanan warung sebelah rumahku, bahkan satu warungnya aku beli sekalian, demi memenuhi hasrat ngemil-ku. Ada banyak lagi yang bisa kupenuhi ketika aku terlahir menjadi orang kaya raya. Inilah pikiran seorang anak kecil berusia sembilan tahun yang berandai – andai jika ia terlahir dari seorang kaya raya.
Congklak adalah barang yang pertama kali membuatku berimajinasi seperti itu. Sudah beberapa bulan berlalu sejak aku meminta kepada Ibu untuk dibelikan congklak. Berkali – kali aku meminta, berkali – kali pula ditolak. Aku tak tahu apa penyebabnya, tetapi aku lelah meminta dan hanya bisa berharap dalam angan, seandainya orangtuaku kaya raya.
Aku memiliki sebuah celengan plastik berwarna merah, yang terkadang kuiisi dengan uang lima ratus atau seribu perak, sisa uang jajan sekolahku. Namun, membayangkan celengan itu dibongkar hanya demi sebuah congklak, menjadi sebuah dilema bagiku, sebab walaupun aku menginginkannya, aku tak sudi pengorbananku berakhir hanya karena mainan plastik itu. Aku ingin membeli sesuatu yang lebih mahal dan berarti daripada sekedar congklak, dengan tabungan yang tidak seberapa itu.
Setelah berpikir lebih keras lagi, akhirnya sesuatu terlintas dalam pikiranku.
Aku bergegas mengambil tas sekolah yang kugantung di dinding kamar, dan mengambil kertas tiga kali dari bagian tengah buku tulis. Tak lupa, pensil dan penghapus aku keluarkan dari kotak pensil. Lalu, barang persiapan tadi aku bawa ke studio kerja Bapak, yang disebut ‘kios’ oleh Bapak dan orang disekitarku.
Mungkin studio kerja inilah yang menjadi alasan kepindahan keluargaku dari Perumnas Simalingkar, rumahku dulu. Sebab, tak lama setelah pindah ke sini, pohon rambutan yang tadinya besar, lebat dan berbuah setiap musim hujan, ditebang untuk membangun studio kerja yang hanya bersekat dinding pembatas tetangga setinggi tiga setengah meter ini. Bagian luar hanya ditutupi spanduk bekas, seperti penjual pecel lele, yang dilubangi di beberapa bagian agar pertukaran udara lebih baik, sekaligus sebagai peneduh dari terik matahari dan pelindung terpaan air hujan yang menyiprat ke studio kerja. Jika hujan sangat deras, lantai bagian dalam studio kerja bisa basah.
Aku sering membantu Bapak mengerjakan berbagai proyeknya di sini. Awalnya, aku diajari membuat huruf di spanduk bekas, lalu setelah Bapak menilai hasilnya bagus, Bapak menyuruhku menggoreskan kuas untuk membentuk huruf pada spanduk hijau yang telah dipaku di berbagai sisi tepi kainnya.
Di studio kerja ini juga terdapat meja besar yang digunakan untuk sablon spanduk. Di atas meja itu, terdapat screen sablon seukuran meja, beserta rakelnya, yang digunakan untuk menyapu tinta sablon di atas screen. Aku sering membantu Bapak menyablon spanduk, karena sapuan antara rakel dan screen sablon begitu halus dan memuaskan suatu bagian dari diriku. Bahkan seringkali hingga malam tiba, aku masih berkutat di studio kerja, mengerjakan tugas sekolahku, atau sekedar melihat Bapak berkarya.
Setiap kali melihat Bapak bekerja di sini, aku merasa takjub. Jiwa seni yang ada pada dirinya mengalir kental dalam darahnya. Mungkin butuh satu bab penuh untuk menceritakan betapa aku mengagumi Sang Maestro di keluargaku ini. Studio kerja ini menjadi salah satu saksi bisu atas karya beliau yang luar biasa, setidaknya di mata anak sembilan tahun ini.
Di lantai semen dekat meja sablon ini, aku menyingkirkan beberapa botol plastik yang berisi cat. Aku memilih area yang dekat dengan kipas angin. Walaupun bunyinya mengganggu karena berderik, hari ini terlalu panas untuk dilalui. Jadi, lebih baik aku mengalah padanya. Lalu, aku letakkan lembar kertas tadi di lantai dan kususun secara memanjang.
Ada yang terlupa, selotip! Setelah beberapa saat mencari, aku menemukan sebuah selotip kertas milik Bapak di kotak berisi tumpukan perkakas.
Kusambung kertas tadi dengan selotip. Aku mulai membagi kertas menjadi dua baris horizontal dan menggambar tujuh lingkaran sedang di setiap baris, serta dua buah lingkaran besar di sisi kiri dan kanan lingkaran sebelumnya. Tanpa jangkar, lingkaran yang kugambar tampak jelek dan reyot, sehingga berulang kali aku menghapus dan memperbaiki agar bentuknya lebih manusiawi.
Setelah itu, aku mencari bebatuan kecil. Beberapa bulan ini jarang sekali hujan, sehingga selokan depan pagar rumahku mengering. Aku menemukan beberapa batuan kecil dan biji salak di selokan itu. Aku kumpulkan sebanyak – banyaknya dan kusortir bebatuan yang layak saja. Senangnya bukan main, akupun tak sampai berpikir untuk mencuci bebatuan terlebih dahulu.
Di antara cahaya terik kota Medan yang memasuki studio kerja Bapak melalui celah – celah kain spanduk bekas, aku terhanyut dalam permainan tradisional itu.
Siang itu, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku memiliki “sepapan” congklak.