Tulisan

Aku tak punya keahlian apapun selain draft tulisan yang ada di kepalaku.

Kusalurkan beribu – ribu kata di blog gratis kesukaanku.

Kutata rapi tampilannya.

Walaupun hampir tak ada yang membaca tulisanku yang tak berguna ini, aku senang berbagi kepada dunia, tentang pemikiranku yang tak awam di kalangan manusia.

Tak suka? Tak usah dibaca.

Tak mengerti? Tanyakan. Ribet? Tak usah tanya.

Ternyata ada segelintir orang yang berpikir hal yang sama dengan apa yang kutuliskan.

Ada manusia yang sama gilanya denganku, atau bahkan lebih gila lagi.

Manusia gila yang merupakan minoritas di muka bumi ini.

Orang – orang yang tersisihkan karena stereotypes masyarakat.

Terimakasih telah membaca tulisanku, wahai minoritas.

—–

Bogor, 4 Mei 2022

Manggarai

Keretaku berakhir di Manggarai.

Turun berdesakan.

Ramai lalu lalang di jantung negeri.

Sebuah earphone melekat di telingaku, sambil kudengar beberapa playlist musik instrumentalku.

Menepi sebentar, sekedar menikmati suasana dan kehidupan stasiun.

Kuperhatikan mata – mata yang kusut di atas berbagai jenis masker.

Hingga akhirnya, pandanganku tertuju pada sesosok yang tinggi di antara lautan manusia.

Aku tak tahu siapa dia, tetapi hatiku berkata bahwa aku pernah mengenalnya.

Sekali lagi, otakku berputar, mencoba keras untuk mengingat siapa dia.

Sambil bangkit menuju ke arahnya, aku menepuk tas punggungnya.

Dia menoleh, mengernyitkan dahi seraya bertanya, “ada apa ya?”

Kubuka maskerku beberapa detik, lalu kutanya, “masih ingatkah?”

Dia terdiam sejenak, tanda berpikir keras.

Tertegun, akhirnya ia menyadari siapa aku.

Siang itu, saat cuaca mendung, aku menghabiskan banyak kata dari mulutku untuk meresponnya.

Seraya menghabiskan dua gelas kopi di gerai minimarket terdekat.

Jadi… Akankah ini terjadi?

—–

Bogor, 19 April 2022

Ayam Goreng

Rintik air dari langit membasahi bumi.

Malas beranjak, enggan kuyup.

Tak lama, sayup suara familiar terdengar dari kejauhan.

Terbayang vespa putih yang dikaitkan triplek horizontal di sampingnya, diberi pagar kecil di sekelilingnya.

Tergopoh – gopoh aku melenggang keluar kamar.

Benar, dia pulang.

Tercium aroma ayam goreng yang cukup mewah bagiku.

Dia tersenyum lebar, kamipun sumringah.

Setelah mengeringkan diri, dia bergabung bersama kami.

Menikmati ayam goreng hangat yang ia bawa pulang.

Sambil menonton acara kesayangan.

Lebih dari tujuh belas tahun kemudian, momen sederhana itu menjadi memori paling indah yang selalu kukenang.

Tak tahu apakah dia masih ingat atau tidak.

Yang jelas, sekarang dia tahu apa yang aku rasakan untuknya.

Sebab… Saat ini, dia bisa melihatku dari suatu tempat yang tak kuketahui.

Sebab… Dia sudah pulang.

—–

Bogor, 18 April 2022

Aku

Aku adalah manusia paradoks.

Aku adalah manusia ‘beracun’ bagi sebagian orang.

Aku adalah manusia yang didesain untuk mandiri dan kuat.

Aku adalah manusia hasil ketidakadilan dunia.

Aku adalah manusia yang sering diremehkan hanya karena aku tak memiliki apa yang mereka miliki.

Aku adalah manusia yang ingin menjadi pahlawan tersembunyi di kegelapan.

Aku adalah manusia biasa.

Aku adalah aku.

—–

Bogor, 17 April 2022

Angin

Di senja nan syahdu ini, angin kering bertiup semilir, menyentuh dedaunan yang berirama karena sentuhannya.

Berbagai spesies bergerak menyatukan dirinya dengan angin itu, adapula yang melawannya.

Air sawah yang belum ditanami bibit padi, bergeming menyapa angin itu.

Sang petani yang sedang membajak sawahpun tak sampai hati membiarkan angin lewat begitu saja.

Ya, tentu, zat tak berupa dan tak berbau itu dihirup dalam, dan dihembuskan kembali sebagai alur kehidupan.

Di atasnya, langit dan matahari menyapa dengan indah dan terik.

Awan – awan membentuk pola naturalis yang sangat indah, karya Sang Maestro yang luar biasa menakjubkan.

Putih seperti kapas, biru seperti biasan cahaya pada air di laut.

Sungguh, tempat – tempat inilah yang dilalui oleh angin kering tadi. Begitu mempesona, indah tak terperi.

Namun, di balik langit itu, ada berjuta tempat di dunia ini, yang telah dijelajahi oleh Sang Angin.

***

Aku menerawang jauh, di sini, di salah satu tempat yang telah membuatku jatuh cinta, yang telah membuatku bersyukur menjadi makhluk Sang Penguasa Jagat Raya yang mempesona ini; Majalengka.

Sang angin memberikanku berbagai pertanyaan yang sebelumnya tak pernah terbayangkan olehku; darimana dan ke mana tujuan gerangan, Sang Angin yang telah menjadi salah satu sumber kehidupanku, kehidupanmu, dan kita?

Akankah Sang Angin dapat menyampaikan rinduku pada Ibuku yang bermil – mil jauhnya dari kursi yang kududuki saat ini?

Akankah Sang Angin dapat menyampaikan salamku pada warga negara yang terasing dan tak pernah mengenal dunia di luar wilayah mereka?

Akankah Sang Angin mengutarakan perasaanku akan cinta yang indah tak terperi kepada Tuhanku, meskipun aku sering berkhianat padaNya?

Akankah Sang Angin dapat menyampaikan pelukku pada kekasih masa depanku yang telah digariskanNya untukku?

Akankah Sang Angin dapat menyampaikan empatiku, untuk negara – negara yang telah mengalami peperangan selama berpuluh – puluh tahun? Akankah?

Akankah Sang Angin menyampaikan jeritan milyaran rakyat kecil yang ingin keluar dari garis kemiskinan kepada yang katanya ‘Pemerintah Berdaulat’?

Akankah Sang Angin dapat menyampaikan kebusukan – kebusukan yang terdapat di berbagai bidang kehidupan kepada Sang Hakim Penguasa Sejagat Raya?

Akankah Sang Angin dapat menunjukkan arah pada segerombolan musafir yang tersesat di Gurun Sahara?

Akankah Sang Angin dapat melambat ketika berada di Kutub Utara untuk menghangatkan orang – orang yang ada di dalam iglo? Akankah?

Entah, aku tak tahu ke mana Sang Angin akan bertuju, akan bermuara.

Atau mungkin, ia memang tak pernah bermuara.

Sang Angin akan terus berhilir mudik ke arah yang tak pernah kita duga.

Terus berhembus, menyegarkan kehidupan bumi yang mulai beranjak mati, karena mengering oleh teriknya dosa – dosa manusia yang semakin merajalela di muka bumi ini.

Dan salah satu manusia itu adalah aku.

—–

Majalengka, 16 April 2016

Balada Bumi dan Surya

Sebutir pasir di hamparan samudera luas,
Terombang ambing,
Mengikis karena tergerus air,
Asin tanpa bau,
Dan perlahan hilang,
Melebur bersama udara.

Lalu, transformasi itu menghasilkan atom udara,
Tak berbau, tak pula berasa,
Namun, kau dapat merasakannya,
Begitu menghujam kalbu,
Menggugah sukma.

Setelah dia melihat dunia,
Berkumpullah dia bersama yang lain,
Mengepul dalam mutasi kapas putih,
Kemudian menjadi kelabu,
Berat dan besar.

Tumpah!
Semua pecah, berurai tetesan langit,
Halilintar menggema,
Langit begitu suram,
Anak ayam yang belum menetaspun ketakutan dibalik cangkangnya.

Kuajak adikku keluar rumah,
Kukatakan kepadanya, “Indah, bukan?”,
Sang Tangisan mereda,
Cakrawala merona,
Warna warni yang indah tak terperi muncul dengan malu di ujung Sang Tangisan.

Pelangi!!
Kamipun bersorak.
Lengkung nan elok, tanda senyum cakrawala kepada Sang Tangisan.

Perlahan, Sang Surya menyapa,
Lalu bersabda,
“Sudahkah kalian terima semuanya, Wahai Bumi dan seisinya?”
“Sudah”.
“Apa yang kalian rasakan?”

“Awalnya, kami merasa kehilangan arah, ketakutan. Namun, perlahan, kami menjadi kuat, dan akhirnya, kini, setelah Kau hadir, kami bahagia”.

Sang Surya tersenyum.
Lalu, bersabda lagi,
“Berarti kalian merindukanKu?”
“Ya, kami merindukanMu, dan selalu membutuhkanMu”.
“Kalian tahu, mengapa semua itu terjadi?”
“Tidak”.

“Inilah alasannya. Aku begitu mencintai kalian semua. Namun, aku tak ingin kalian menjadi manja, melainkan tangguh dan kokoh. Aku menciptakan semua kejadian itu untuk menempa kalian, agar menjadi kuat. Dan mengasah, sejauh mana kerinduan kalian terhadapKu”.

Secepat kilat, seisi Bumi memeluk Sang Surya dengan erat.

—–
Bandung, 17 Maret 2016

Piring Cantik

Tiga kali dapat piring cantik.

Mana hadiah piringku yang tak sejajar lingkarannya dan banyak gerigi di permukaannya?

Aku menagihnya, sebab tiga kali diserang itu cukup menyakitkan.

Cukup membuatku menjadi tidak peduli pada pihak penyerang.

Cukup membuatku abai dengan kondisi mereka saat ini.

Cukup membuatku bereaksi dingin ketika yang terdengar adalah kabar panas dari mereka.

Terimakasih sudah membuatku begini ya.

Terimakasih telah menjadi mimpi buruk di malam berhargaku beberapa kali sebulan.

Jadi, mana tiga piring cantikku?

—–

Bogor, 11 April 2022

Entah Apa Namanya Ini

Mencari inspirasi di kala tak ada inspirasi itu, sulit.

Namun, dengan mulai menulis, mengetik atau mengguratkan hitam di atas putih, berbagai diksi mengalir deras walaupun aku tak berpikir sama sekali apa yang ingin kutuliskan.

Aku heran, bagaimana semua ini terjadi?

Padahal otakku kosong melompong.

Lalu, aku terus menulis, dan menulis, hingga aku teringat seseorang yang pernah mengusik pikiran dan hatiku, saat lampau.

Hingga kini, dia tetap menjadi yang terindah, dan aku sudah terbiasa dengan rasa sakit itu.

Mungkin diapun sakit, atau tidak sama sekali, entah, karena aku tak tahu apa artinya aku di dalam hatinya.

Kadang, ketidaktahuan itu menjadi hal terbaik untuk melanjutkan hidup.

Dan kuharap dia bahagia. Sebab aku sudah bahagia dengan jalanku.

Terimakasih, kamu.

Aku sudahi di sini saja.

Esok lanjut lagi, jika berumur.

—–

Bogor, 12 April 2022