Diam

Semua insan bisa melakukannya.

Begitu mudah untuk melakukannya.

Namun, ada begitu banyak makna dibaliknya.

Bisa jadi tanda bahaya tersembunyi, atau kabar gembira yang tak disiarkan.

Ada kemarahan yang begitu meluap di dada.

Ada jeritan tangis yang sayup – sayup terdengar.

Ada derita tiada akhir dari trauma yang telah mengakar selama beberapa dekade.

Ada secercah kebahagiaan yang terlalu penuh untuk dibagi.

Ada berbagai ucapan buruk yang tertahan di lidah.

Ada rasa angkuh yang terpaku di sudut hati.

Ada rasa bangga yang kelu untuk disampaikan.

Ada cinta yang tersirat dari tindakan.

Semuanya hanya dengan diam.

Diamku, diammu, diamnya kita semua.

Dalam hening yang menggugah sukma.

—–

Bogor, 25 Juni 2022

Delusi

Pasang surut kulalui gelombang rasa ini.

Memekikkan nama indah di balik wujud yang entah nyata apa tidak.

Delusi diri yang tercipta menjalin asmara dengannya yang tak bisa kusentuh.

Hanya pikiranku yang bekerja rodi, menerima sinyal hati yang mendobrak kokohnya logika yang telah kubangun bertahun – tahun.

Rapuh dalam imajinasiku sendiri.

Mengisi energipun tertatih – tatih, menjelma menjadi tubuh yang lemah tak berdaya.

Hilang sudah harga diri yang harusnya aku pegang teguh.

Aku menawarkan diri untuk meraih genggamannya.

Kamu tahu mengapa?

Sebab aku sudah terjerat olehnya.

Setidaknya… untuk saat ini.

—–

Bogor, 24 Juni 2022

Ekspektasi

Jalur orbit semestaku penuh dengan jutaan gelembung ekspektasi.

Ekspektasi yang membuatku lelah, karena peluangnya sangat kecil, bahkan hampir tak ada.

Tak bisa menyalahkan siapapun juga, karena aku dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan.

Ingin kusudahi saja permainan ini, tetapi aku sudah terlanjur basah dalam kubangan lumpur.

Tak ayal, aku menikmati setiap dentuman detak jantung yang berdegup kencang mengiringi sensasi yang menegangkan.

Mungkin aku adalah manusia paling buruk yang pernah ada.

Sebab beraninya menghirup dosa layaknya oksigen.

—–

Bogor, 22 Juni 2022

Dewasa

Kukira, menjadi dewasa itu menyenangkan.

Bebas hilir mudik melakukan apapun yang kumau.

Bebas menyatakan pendapat apapun yang kupunya.

Menyenangkan karena memiliki kekasih sepanjang hidup.

Menyenangkan karena bisa melawan siapapun yang tak kusukai.

Namun, ternyata, menjadi dewasa tak sebercanda itu.

Ternyata, uang menjadi alat pembayaran kebahagiaan kala dewasa.

Ternyata, uang menjadi penentu sikap asli manusia yang selama ini selalu menggunakan persona.

Ternyata, tak ada hubungan yang murni give and give, manusia adalah makhluk mutualisme yang harus saling menguntungkan satu sama lain.

Ternyata, masa muda adalah investasi berharga untuk meningkatkan kualitas diri.

Ternyata, waktu dan jarak yang dekat adalah alat yang jitu untuk memperdalam kasih sayang antara manusia.

Ternyata, semua kebijaksanaan membutuhkan hati seluas samudera.

Ternyata, semua ketangguhan membutuhkan logika sekuat baja.

Ternyata, semua orang dewasa hanya saling menyalahkan, tanpa introspeksi diri dalam berbagai masalah.

Ternyata, dunia orang dewasa itu beringas dan tak kenal ampun.

Ternyata, meninggalkan dan ditinggalkan adalah siklus yang lumrah terjadi dalam lingkaran setan ‘kedewasaan’.

Ternyata, penyesalan banyak bermunculan di fase dewasa.

Ternyata, salah pilih pasangan bisa berdampak sangat buruk untuk kehidupan diri, anak dan cucu.

Jika tak kenal rimbanya, bersiap – siaplah tergerus oleh kejamnya ‘kedewasaan’ manusia.

Tujuh tahun menginjak kepala dua, kusadari, bahwa aku cukup jauh melangkah dibanding orang lain seusiaku.

Mentalku cukup tua untuk menjalani usia yang cukup muda.

Seringkali hatiku dingin dan tak berperasaan, tetapi melunak sesekali oleh kehangatan empati manusia lain.

Jadi, untukmu yang baru saja ‘dewasa’, aku, yang bukan siapa – siapa ini, menitipkan pesan padamu.

Berhati – hatilah dan kuatkan dirimu, Kawan!

—–

Bogor, 20 Juni 2022

Dua Tahun

Darah mengalir ke kakiku.

Meninggalkan jejak merah di beberapa petak lantai ruang inap.

Panik, menangis, dan pasrah.

Hingga aku terkapar di ranjang pasien.

Menghitung denyut nadi lemah dari sebuah nyawa dalam perutku.

Selama tujuh bulan itu aku menjaganya, saat itu pula aku tahu bahwa dia ingin menghirup oksigen.

Kulayangkan zikir dan doa untuk keselamatan kami.

Menenangkan kepanikan diri dan pikiran negatif yang bermunculan.

Sirine memekik telinga, aku hanya terbaring lemas di tandu.

Berusaha untuk tak tidur agar tak “hilang”.

Berbagai pertanyaan muncul dari para petugas medis, sembari menunggu jadwal operasi yang belum jelas rimbanya.

Setelah menunggu beberapa waktu, akhirnya aku masuk ke ruangan yang cukup bersih dan putih.

Dikelilingi orang – orang berpakaian hijau, yang siap memberiku anestesi dan membedah perutku.

Dengan probabilitas limapuluh banding limapuluh, dia mengirim kekuatan padaku sehingga aku bisa tenang menghadapi semuanya.

Lalu, satu persatu bagian badanku mulai kaku, hingga aku tak sadarkan diri.

Kamu tahu?

Suatu keajaiban bahwa aku masih hidup.

Namun, bagaimana dengannya?

Aku terbangun, dan perutku sudah rata.

Penglihatanku menjadi buram, dan aku menggigil.

Komat – kamit berzikir tiada henti.

Perlahan, aku mulai sadar kembali.

Namun, untuk bersin saja, jahitan di perutku langsung kesakitan.

***

Hari ketiga, untuk pertama kalinya, aku melihat wujud nyata dari manusia mungil yang sudah tujuh bulan mendekam di perutku.

Terpasang selang ventilator di hidungnya.

Mulutnyapun tak luput dari selang yang berbeda fungsi.

Di tangannya, terpasang selang infus untuk nutrisinya.

Tubuhnya dihiasi sinar biru.

Popoknya yang terlalu besarpun tak luput dari pengamatanku.

Empat titik monitor terpasang di dadanya.

Pandanganku nanar melihatnya tak berdaya di dalam inkubator.

Hanya bisa memegang tangan kecilnya dan menangis pilu.

Dia bahkan belum bisa menerima hangatnya tubuhku dan air susuku.

Namun, di ruangan yang sama, ada bayi berkepala besar dengan orangtua yang menangis lebih pilu dariku.

Aku terdistraksi oleh sayup – sayup kata “ikhlas”.

Tak sanggup kubayangkan jika aku ada di posisi mereka.

Kembali kupandang putri kecilku yang sejauh itu kuat bertahan untuk melihat dunia.

Aku yakin dia bisa melewati semua ini dengan baik.

Dia anak yang kuat, sama sepertiku.

***

Dua tahun berlalu, dia telah menjadi seorang gadis kecil yang sangat cantik, cerdas, dan menggemaskan.

Aku selalu berterimakasih padanya, karena telah menjadi hadiah terbaik dalam hidupku.

Berbagai doa baik selalu kupanjatkan untuknya.

Kurajutkan selalu asa terbaik baginya, sembari memantaskan diri untuk jadi Ibu yang lebih baik lagi.

Jadi…

Selamat dua tahun, Cantik.

—–

Bogor, 18 Mei 2022

1 – Congklak

Photo by Tobias Tullius on Unsplash

Jika manusia bisa memilih untuk terlahir dari siapa, maka aku akan memilih untuk terlahir di keluarga kaya raya.

Mengapa? Jelas sekali, aku ingin semua kebutuhan dan keinginanku terpenuhi. Tak perlu khawatir terhadap kebutuhan pangan hari ini, bahkan esok hari. Tak lupa, aku bisa membeli semua mainan yang aku inginkan tanpa harus menunggu berbulan – bulan sampai akhirnya aku tidak minat lagi terhadap mainan itu. Aku juga bisa membeli jajanan warung sebelah rumahku, bahkan satu warungnya aku beli sekalian, demi memenuhi hasrat ngemil-ku. Ada banyak lagi yang bisa kupenuhi ketika aku terlahir menjadi orang kaya raya. Inilah pikiran seorang anak kecil berusia sembilan tahun yang berandai – andai jika ia terlahir dari seorang kaya raya.

Congklak adalah barang yang pertama kali membuatku berimajinasi seperti itu. Sudah beberapa bulan berlalu sejak aku meminta kepada Ibu untuk dibelikan congklak. Berkali – kali aku meminta, berkali – kali pula ditolak. Aku tak tahu apa penyebabnya, tetapi aku lelah meminta dan hanya bisa berharap dalam angan, seandainya orangtuaku kaya raya.

Aku memiliki sebuah celengan plastik berwarna merah, yang terkadang kuiisi dengan uang lima ratus atau seribu perak, sisa uang jajan sekolahku. Namun, membayangkan celengan itu dibongkar hanya demi sebuah congklak, menjadi sebuah dilema bagiku, sebab walaupun aku menginginkannya, aku tak sudi pengorbananku berakhir hanya karena mainan plastik itu. Aku ingin membeli sesuatu yang lebih mahal dan berarti daripada sekedar congklak, dengan tabungan yang tidak seberapa itu.

Setelah berpikir lebih keras lagi, akhirnya sesuatu terlintas dalam pikiranku.

Aku bergegas mengambil tas sekolah yang kugantung di dinding kamar, dan mengambil kertas tiga kali dari bagian tengah buku tulis. Tak lupa, pensil dan penghapus aku keluarkan dari kotak pensil. Lalu, barang persiapan tadi aku bawa ke studio kerja Bapak, yang disebut ‘kios’ oleh Bapak dan orang disekitarku.

Mungkin studio kerja inilah yang menjadi alasan kepindahan keluargaku dari Perumnas Simalingkar, rumahku dulu. Sebab, tak lama setelah pindah ke sini, pohon rambutan yang tadinya besar, lebat dan berbuah setiap musim hujan, ditebang untuk membangun studio kerja yang hanya bersekat dinding pembatas tetangga setinggi tiga setengah meter ini. Bagian luar hanya ditutupi spanduk bekas, seperti penjual pecel lele, yang dilubangi di beberapa bagian agar pertukaran udara lebih baik, sekaligus sebagai peneduh dari terik matahari dan pelindung terpaan air hujan yang menyiprat ke studio kerja. Jika hujan sangat deras, lantai bagian dalam studio kerja bisa basah.

Aku sering membantu Bapak mengerjakan berbagai proyeknya di sini. Awalnya, aku diajari membuat huruf di spanduk bekas, lalu setelah Bapak menilai hasilnya bagus, Bapak menyuruhku menggoreskan kuas untuk membentuk huruf pada spanduk hijau yang telah dipaku di berbagai sisi tepi kainnya.

Di studio kerja ini juga terdapat meja besar yang digunakan untuk sablon spanduk. Di atas meja itu, terdapat screen sablon seukuran meja, beserta rakelnya, yang digunakan untuk menyapu tinta sablon di atas screen. Aku sering membantu Bapak menyablon spanduk, karena sapuan antara rakel dan screen sablon begitu halus dan memuaskan suatu bagian dari diriku. Bahkan seringkali hingga malam tiba, aku masih berkutat di studio kerja, mengerjakan tugas sekolahku, atau sekedar melihat Bapak berkarya.

Setiap kali melihat Bapak bekerja di sini, aku merasa takjub. Jiwa seni yang ada pada dirinya mengalir kental dalam darahnya. Mungkin butuh satu bab penuh untuk menceritakan betapa aku mengagumi Sang Maestro di keluargaku ini. Studio kerja ini menjadi salah satu saksi bisu atas karya beliau yang luar biasa, setidaknya di mata anak sembilan tahun ini.

Di lantai semen dekat meja sablon ini, aku menyingkirkan beberapa botol plastik yang berisi cat. Aku memilih area yang dekat dengan kipas angin. Walaupun bunyinya mengganggu karena berderik, hari ini terlalu panas untuk dilalui. Jadi, lebih baik aku mengalah padanya. Lalu, aku letakkan lembar kertas tadi di lantai dan kususun secara memanjang.

Ada yang terlupa, selotip! Setelah beberapa saat mencari, aku menemukan sebuah selotip kertas milik Bapak di kotak berisi tumpukan perkakas.

Kusambung kertas tadi dengan selotip. Aku mulai membagi kertas menjadi dua baris horizontal dan menggambar tujuh lingkaran sedang di setiap baris, serta dua buah lingkaran besar di sisi kiri dan kanan lingkaran sebelumnya. Tanpa jangkar, lingkaran yang kugambar tampak jelek dan reyot, sehingga berulang kali aku menghapus dan memperbaiki agar bentuknya lebih manusiawi.

Setelah itu, aku mencari bebatuan kecil. Beberapa bulan ini jarang sekali hujan, sehingga selokan depan pagar rumahku mengering. Aku menemukan beberapa batuan kecil dan biji salak di selokan itu. Aku kumpulkan sebanyak – banyaknya dan kusortir bebatuan yang layak saja. Senangnya bukan main, akupun tak sampai berpikir untuk mencuci bebatuan terlebih dahulu.

Di antara cahaya terik kota Medan yang memasuki studio kerja Bapak melalui celah – celah kain spanduk bekas, aku terhanyut dalam permainan tradisional itu.

Siang itu, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku memiliki “sepapan” congklak.

—–

Bogor, 6 Mei 2022

Tulisan

Aku tak punya keahlian apapun selain draft tulisan yang ada di kepalaku.

Kusalurkan beribu – ribu kata di blog gratis kesukaanku.

Kutata rapi tampilannya.

Walaupun hampir tak ada yang membaca tulisanku yang tak berguna ini, aku senang berbagi kepada dunia, tentang pemikiranku yang tak awam di kalangan manusia.

Tak suka? Tak usah dibaca.

Tak mengerti? Tanyakan. Ribet? Tak usah tanya.

Ternyata ada segelintir orang yang berpikir hal yang sama dengan apa yang kutuliskan.

Ada manusia yang sama gilanya denganku, atau bahkan lebih gila lagi.

Manusia gila yang merupakan minoritas di muka bumi ini.

Orang – orang yang tersisihkan karena stereotypes masyarakat.

Terimakasih telah membaca tulisanku, wahai minoritas.

—–

Bogor, 4 Mei 2022

Manggarai

Keretaku berakhir di Manggarai.

Turun berdesakan.

Ramai lalu lalang di jantung negeri.

Sebuah earphone melekat di telingaku, sambil kudengar beberapa playlist musik instrumentalku.

Menepi sebentar, sekedar menikmati suasana dan kehidupan stasiun.

Kuperhatikan mata – mata yang kusut di atas berbagai jenis masker.

Hingga akhirnya, pandanganku tertuju pada sesosok yang tinggi di antara lautan manusia.

Aku tak tahu siapa dia, tetapi hatiku berkata bahwa aku pernah mengenalnya.

Sekali lagi, otakku berputar, mencoba keras untuk mengingat siapa dia.

Sambil bangkit menuju ke arahnya, aku menepuk tas punggungnya.

Dia menoleh, mengernyitkan dahi seraya bertanya, “ada apa ya?”

Kubuka maskerku beberapa detik, lalu kutanya, “masih ingatkah?”

Dia terdiam sejenak, tanda berpikir keras.

Tertegun, akhirnya ia menyadari siapa aku.

Siang itu, saat cuaca mendung, aku menghabiskan banyak kata dari mulutku untuk meresponnya.

Seraya menghabiskan dua gelas kopi di gerai minimarket terdekat.

Jadi… Akankah ini terjadi?

—–

Bogor, 19 April 2022

Aku

Aku adalah manusia paradoks.

Aku adalah manusia ‘beracun’ bagi sebagian orang.

Aku adalah manusia yang didesain untuk mandiri dan kuat.

Aku adalah manusia hasil ketidakadilan dunia.

Aku adalah manusia yang sering diremehkan hanya karena aku tak memiliki apa yang mereka miliki.

Aku adalah manusia yang ingin menjadi pahlawan tersembunyi di kegelapan.

Aku adalah manusia biasa.

Aku adalah aku.

—–

Bogor, 17 April 2022

Angin

Di senja nan syahdu ini, angin kering bertiup semilir, menyentuh dedaunan yang berirama karena sentuhannya.

Berbagai spesies bergerak menyatukan dirinya dengan angin itu, adapula yang melawannya.

Air sawah yang belum ditanami bibit padi, bergeming menyapa angin itu.

Sang petani yang sedang membajak sawahpun tak sampai hati membiarkan angin lewat begitu saja.

Ya, tentu, zat tak berupa dan tak berbau itu dihirup dalam, dan dihembuskan kembali sebagai alur kehidupan.

Di atasnya, langit dan matahari menyapa dengan indah dan terik.

Awan – awan membentuk pola naturalis yang sangat indah, karya Sang Maestro yang luar biasa menakjubkan.

Putih seperti kapas, biru seperti biasan cahaya pada air di laut.

Sungguh, tempat – tempat inilah yang dilalui oleh angin kering tadi. Begitu mempesona, indah tak terperi.

Namun, di balik langit itu, ada berjuta tempat di dunia ini, yang telah dijelajahi oleh Sang Angin.

***

Aku menerawang jauh, di sini, di salah satu tempat yang telah membuatku jatuh cinta, yang telah membuatku bersyukur menjadi makhluk Sang Penguasa Jagat Raya yang mempesona ini; Majalengka.

Sang angin memberikanku berbagai pertanyaan yang sebelumnya tak pernah terbayangkan olehku; darimana dan ke mana tujuan gerangan, Sang Angin yang telah menjadi salah satu sumber kehidupanku, kehidupanmu, dan kita?

Akankah Sang Angin dapat menyampaikan rinduku pada Ibuku yang bermil – mil jauhnya dari kursi yang kududuki saat ini?

Akankah Sang Angin dapat menyampaikan salamku pada warga negara yang terasing dan tak pernah mengenal dunia di luar wilayah mereka?

Akankah Sang Angin mengutarakan perasaanku akan cinta yang indah tak terperi kepada Tuhanku, meskipun aku sering berkhianat padaNya?

Akankah Sang Angin dapat menyampaikan pelukku pada kekasih masa depanku yang telah digariskanNya untukku?

Akankah Sang Angin dapat menyampaikan empatiku, untuk negara – negara yang telah mengalami peperangan selama berpuluh – puluh tahun? Akankah?

Akankah Sang Angin menyampaikan jeritan milyaran rakyat kecil yang ingin keluar dari garis kemiskinan kepada yang katanya ‘Pemerintah Berdaulat’?

Akankah Sang Angin dapat menyampaikan kebusukan – kebusukan yang terdapat di berbagai bidang kehidupan kepada Sang Hakim Penguasa Sejagat Raya?

Akankah Sang Angin dapat menunjukkan arah pada segerombolan musafir yang tersesat di Gurun Sahara?

Akankah Sang Angin dapat melambat ketika berada di Kutub Utara untuk menghangatkan orang – orang yang ada di dalam iglo? Akankah?

Entah, aku tak tahu ke mana Sang Angin akan bertuju, akan bermuara.

Atau mungkin, ia memang tak pernah bermuara.

Sang Angin akan terus berhilir mudik ke arah yang tak pernah kita duga.

Terus berhembus, menyegarkan kehidupan bumi yang mulai beranjak mati, karena mengering oleh teriknya dosa – dosa manusia yang semakin merajalela di muka bumi ini.

Dan salah satu manusia itu adalah aku.

—–

Majalengka, 16 April 2016