Rapeseed

Punggungku terhampar di atas lantai.

Hari ini terasa panas, sungguh.

Burung bersahutan satu sama lain.

Langit di luar jendela begitu biru merona.

Kupandangi plafon gipsum putih di ruang tamu.

Lalu, kupejamkan mata.

Dan aku tiba di suatu tempat di Perancis.

Di hamparan rapeseed yang menari disentuh angin.

Mengurai rambut tipisku ke satu arah yang ia tuju.

Matahari terik di atas kepalaku.

Namun, anginnya begitu menyejukkan.

Tenang, sunyi, hanya aku seorang diri.

Berteriak sepuasnya tanpa merasa bersalah.

Kusebutkan namanya yang berhasil menggoyahkan logikaku.

Menulis puisi tentang keindahan semesta.

Bersenandung bak diva di atas panggung megah.

Menari bersama angin diiringi musik alam.

Terlelap dalam senyuman.

Damai.

—–

Bogor, 13 Mei 2022

Berkelana

Semestaku kembali berjaya di kegelapan.

Berkelana ke berbagai tempat asing tak bertuan.

Berusaha kutahan kantuk yang melelahkan ini.

Sayu mata terlihat tua di usia muda.

Kutelusuri lautan gagasan yang mulai surut.

Kutemukan, satu!

Kuraih dirinya yang mulai terkikis oleh tumpulnya rasa malas.

Kutata kembali agar ia menjadi indah dan menawan.

Lalu, kupajang dia di antara teman – temannya yang sudah dipoles terlebih dulu.

Menakjubkan!

Dia akan dibaca oleh banyak pasang netra di muka bumi ini.

Dan aku harus melanjutkan perjalananku esok hari.

Jadi, selamat bermimpi!

—–

Bogor, 12 Mei 2022