
Mencari inspirasi di kala tak ada inspirasi itu, sulit.
Namun, dengan mulai menulis, mengetik atau mengguratkan hitam di atas putih, berbagai diksi mengalir deras walaupun aku tak berpikir sama sekali apa yang ingin kutuliskan.
Aku heran, bagaimana semua ini terjadi?
Padahal otakku kosong melompong.
Lalu, aku terus menulis, dan menulis, hingga aku teringat seseorang yang pernah mengusik pikiran dan hatiku, saat lampau.
Hingga kini, dia tetap menjadi yang terindah, dan aku sudah terbiasa dengan rasa sakit itu.
Mungkin diapun sakit, atau tidak sama sekali, entah, karena aku tak tahu apa artinya aku di dalam hatinya.
Kadang, ketidaktahuan itu menjadi hal terbaik untuk melanjutkan hidup.
Dan kuharap dia bahagia. Sebab aku sudah bahagia dengan jalanku.
Terimakasih, kamu.
Aku sudahi di sini saja.
Esok lanjut lagi, jika berumur.
—–
Bogor, 12 April 2022
