Gymnopedie No.1 ~ Erik Satie

Perjalanan ini terasa dingin dan suram.

Langit kelabu menumpahkan rintik air yang tertahan di sela – sela awan.

Seperti air mataku yang tak terbendung lagi untuk kesekian kalinya.

Pantai tempatku beranjak tadipun menjadi penuh dengan amukan ombak.

Seperti hatiku yang bergejolak ingin memaki dunia yang kerap tak berpihak padaku.

Tiba di kota, aku memarkirkan mobil tuaku di depan toko barang antik Cina.

Berjalan kaki menyusuri jalur pedestrian yang ramai akan makhluk sepertiku.

Entah ke mana, otakku hanya mengirimkan sinyal untuk kakiku melaju tanpa henti.

Sampai di persimpangan, aku ragu.

Kutegakkan kepalaku.

Aku diam di tempat, sedangkan semua orang bergerak begitu cepat, layaknya kilat.

Ternyata, aku berjalan sangat lambat, melampaui kura – kura.

Hujanpun semakin membuatku melankolis.

Aku terpaku oleh pesatnya sekitarku mengisi hari yang tersisa di Bima Sakti.

Tak lama, pandanganku memudar, semakin pekat akan hitam yang menjemput.

Kurasa, inilah akhirku.

—–

Bogor, 9 Juli 2022

Diam

Semua insan bisa melakukannya.

Begitu mudah untuk melakukannya.

Namun, ada begitu banyak makna dibaliknya.

Bisa jadi tanda bahaya tersembunyi, atau kabar gembira yang tak disiarkan.

Ada kemarahan yang begitu meluap di dada.

Ada jeritan tangis yang sayup – sayup terdengar.

Ada derita tiada akhir dari trauma yang telah mengakar selama beberapa dekade.

Ada secercah kebahagiaan yang terlalu penuh untuk dibagi.

Ada berbagai ucapan buruk yang tertahan di lidah.

Ada rasa angkuh yang terpaku di sudut hati.

Ada rasa bangga yang kelu untuk disampaikan.

Ada cinta yang tersirat dari tindakan.

Semuanya hanya dengan diam.

Diamku, diammu, diamnya kita semua.

Dalam hening yang menggugah sukma.

—–

Bogor, 25 Juni 2022

Ekspektasi

Jalur orbit semestaku penuh dengan jutaan gelembung ekspektasi.

Ekspektasi yang membuatku lelah, karena peluangnya sangat kecil, bahkan hampir tak ada.

Tak bisa menyalahkan siapapun juga, karena aku dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan.

Ingin kusudahi saja permainan ini, tetapi aku sudah terlanjur basah dalam kubangan lumpur.

Tak ayal, aku menikmati setiap dentuman detak jantung yang berdegup kencang mengiringi sensasi yang menegangkan.

Mungkin aku adalah manusia paling buruk yang pernah ada.

Sebab beraninya menghirup dosa layaknya oksigen.

—–

Bogor, 22 Juni 2022

Dewasa

Kukira, menjadi dewasa itu menyenangkan.

Bebas hilir mudik melakukan apapun yang kumau.

Bebas menyatakan pendapat apapun yang kupunya.

Menyenangkan karena memiliki kekasih sepanjang hidup.

Menyenangkan karena bisa melawan siapapun yang tak kusukai.

Namun, ternyata, menjadi dewasa tak sebercanda itu.

Ternyata, uang menjadi alat pembayaran kebahagiaan kala dewasa.

Ternyata, uang menjadi penentu sikap asli manusia yang selama ini selalu menggunakan persona.

Ternyata, tak ada hubungan yang murni give and give, manusia adalah makhluk mutualisme yang harus saling menguntungkan satu sama lain.

Ternyata, masa muda adalah investasi berharga untuk meningkatkan kualitas diri.

Ternyata, waktu dan jarak yang dekat adalah alat yang jitu untuk memperdalam kasih sayang antara manusia.

Ternyata, semua kebijaksanaan membutuhkan hati seluas samudera.

Ternyata, semua ketangguhan membutuhkan logika sekuat baja.

Ternyata, semua orang dewasa hanya saling menyalahkan, tanpa introspeksi diri dalam berbagai masalah.

Ternyata, dunia orang dewasa itu beringas dan tak kenal ampun.

Ternyata, meninggalkan dan ditinggalkan adalah siklus yang lumrah terjadi dalam lingkaran setan ‘kedewasaan’.

Ternyata, penyesalan banyak bermunculan di fase dewasa.

Ternyata, salah pilih pasangan bisa berdampak sangat buruk untuk kehidupan diri, anak dan cucu.

Jika tak kenal rimbanya, bersiap – siaplah tergerus oleh kejamnya ‘kedewasaan’ manusia.

Tujuh tahun menginjak kepala dua, kusadari, bahwa aku cukup jauh melangkah dibanding orang lain seusiaku.

Mentalku cukup tua untuk menjalani usia yang cukup muda.

Seringkali hatiku dingin dan tak berperasaan, tetapi melunak sesekali oleh kehangatan empati manusia lain.

Jadi, untukmu yang baru saja ‘dewasa’, aku, yang bukan siapa – siapa ini, menitipkan pesan padamu.

Berhati – hatilah dan kuatkan dirimu, Kawan!

—–

Bogor, 20 Juni 2022

Angin

Di senja nan syahdu ini, angin kering bertiup semilir, menyentuh dedaunan yang berirama karena sentuhannya.

Berbagai spesies bergerak menyatukan dirinya dengan angin itu, adapula yang melawannya.

Air sawah yang belum ditanami bibit padi, bergeming menyapa angin itu.

Sang petani yang sedang membajak sawahpun tak sampai hati membiarkan angin lewat begitu saja.

Ya, tentu, zat tak berupa dan tak berbau itu dihirup dalam, dan dihembuskan kembali sebagai alur kehidupan.

Di atasnya, langit dan matahari menyapa dengan indah dan terik.

Awan – awan membentuk pola naturalis yang sangat indah, karya Sang Maestro yang luar biasa menakjubkan.

Putih seperti kapas, biru seperti biasan cahaya pada air di laut.

Sungguh, tempat – tempat inilah yang dilalui oleh angin kering tadi. Begitu mempesona, indah tak terperi.

Namun, di balik langit itu, ada berjuta tempat di dunia ini, yang telah dijelajahi oleh Sang Angin.

***

Aku menerawang jauh, di sini, di salah satu tempat yang telah membuatku jatuh cinta, yang telah membuatku bersyukur menjadi makhluk Sang Penguasa Jagat Raya yang mempesona ini; Majalengka.

Sang angin memberikanku berbagai pertanyaan yang sebelumnya tak pernah terbayangkan olehku; darimana dan ke mana tujuan gerangan, Sang Angin yang telah menjadi salah satu sumber kehidupanku, kehidupanmu, dan kita?

Akankah Sang Angin dapat menyampaikan rinduku pada Ibuku yang bermil – mil jauhnya dari kursi yang kududuki saat ini?

Akankah Sang Angin dapat menyampaikan salamku pada warga negara yang terasing dan tak pernah mengenal dunia di luar wilayah mereka?

Akankah Sang Angin mengutarakan perasaanku akan cinta yang indah tak terperi kepada Tuhanku, meskipun aku sering berkhianat padaNya?

Akankah Sang Angin dapat menyampaikan pelukku pada kekasih masa depanku yang telah digariskanNya untukku?

Akankah Sang Angin dapat menyampaikan empatiku, untuk negara – negara yang telah mengalami peperangan selama berpuluh – puluh tahun? Akankah?

Akankah Sang Angin menyampaikan jeritan milyaran rakyat kecil yang ingin keluar dari garis kemiskinan kepada yang katanya ‘Pemerintah Berdaulat’?

Akankah Sang Angin dapat menyampaikan kebusukan – kebusukan yang terdapat di berbagai bidang kehidupan kepada Sang Hakim Penguasa Sejagat Raya?

Akankah Sang Angin dapat menunjukkan arah pada segerombolan musafir yang tersesat di Gurun Sahara?

Akankah Sang Angin dapat melambat ketika berada di Kutub Utara untuk menghangatkan orang – orang yang ada di dalam iglo? Akankah?

Entah, aku tak tahu ke mana Sang Angin akan bertuju, akan bermuara.

Atau mungkin, ia memang tak pernah bermuara.

Sang Angin akan terus berhilir mudik ke arah yang tak pernah kita duga.

Terus berhembus, menyegarkan kehidupan bumi yang mulai beranjak mati, karena mengering oleh teriknya dosa – dosa manusia yang semakin merajalela di muka bumi ini.

Dan salah satu manusia itu adalah aku.

—–

Majalengka, 16 April 2016

Piring Cantik

Tiga kali dapat piring cantik.

Mana hadiah piringku yang tak sejajar lingkarannya dan banyak gerigi di permukaannya?

Aku menagihnya, sebab tiga kali diserang itu cukup menyakitkan.

Cukup membuatku menjadi tidak peduli pada pihak penyerang.

Cukup membuatku abai dengan kondisi mereka saat ini.

Cukup membuatku bereaksi dingin ketika yang terdengar adalah kabar panas dari mereka.

Terimakasih sudah membuatku begini ya.

Terimakasih telah menjadi mimpi buruk di malam berhargaku beberapa kali sebulan.

Jadi, mana tiga piring cantikku?

—–

Bogor, 11 April 2022

The Bitter Truth

Be water if you can’t be the wind.
Make it balance.
It’s the same thing when you look at those thing.
Well, you hate it but you’re afraid to be like that.
Fallen into memories.
You hate to say it to yourself.
But the truth is always going to be the truth.
If you learn how to hate, then you must learn how to love,
And to forgive.

—–

Bandung, 16 Desember 2017