
Kata orang, menua itu menyenangkan.
Beranak pinak hingga cucu cicit.
Menikmati uang pensiunan yang telah disiapkan sedari muda.
Plesiran kemanapun tempat yang diinginkan.
Namun, kata orang pula, menua itu menyedihkan.
Menunggu datangnya sakaratul maut menjemput.
Masih mengais rezeki di sela – sela jemari yang sudah berkeriput dan punggung yang membungkuk.
Mengidap berbagai penyakit yang merupakan bom waktu pola hidup buruk semasa jaya.
Tenaga sudah tak banyak.
Melihat anak cucu berebut harta warisan di depan orang yang telah renta.
Ditinggalkan anak merantau di kota orang dan tak pernah pulang.
Meratapi masa muda yang ugal – ugalan dalam bertindak.
Menyesali impian yang tak terlaksana karena tak cukup berani mengambil risiko.
Apa yang salah?
Apa yang benar?
Apakah semua orang punya kesempatan untuk menua bersama yang tercinta?
Apakah menua tentang merenungi kisah masa lalu?
Apakah menua tentang mengenang indahnya cinta pertama yang tak pernah tercapai?
Apakah menua tentang menerima kenyataan?
Apakah menua menjadikanmu dan aku pribadi yang bijak dan hangat?
Dan, apakah kita semua akan menua?
—
Bogor, 7 September 2022