Tunawisma

Berpatah kata bisa menjadi pisau tajam.

Tertahannya amarah bisa menjadi bom waktu.

Heningnya ruangan bisa menjadi pegunungan es di Kutub Selatan.

Adu mulut bisa menjadi ilusi negatif di pikiran.

Tak pernah belajar bisa menjadi bumerang di masa depan.

Perpisahan bisa menjadi perapuh ikatan batin.

Konflik fisik dan verbal bisa menjadi pembunuh rasa.

Dari sebuah hunian di tengah kota, dari sebuah subjek bernama keluarga.

Dari seorang makhluk yang berakal, dari seorang anak yang penuh luka di hatinya.

Melangkah gontai, meminta pertolongan pada siapapun yang dilewatinya.

Namun, tak ada yang mendengar, tak ada yang melihat.

Rintihan dan lukanya tak kasat mata, tertutupi oleh senyum palsu dan benteng diri yang kokoh.

Semuanya terasa hambar dan pekat.

Mencekik setiap napas yang harus ia lalui untuk menyambung hidup.

Kabarnya, hingga detik ini, ia masih mencari pengganti rumah.

Menelusuri alam liar di luar sana, yang mungkin saja akan menerkamnya hidup – hidup, seperti rumahnya dulu.

Bogor, 19 September 2022

Leave a comment