
Wajah yang tak pernah kutemui itu selalu menghantamku siang dan malam.
Menggerogoti setiap fokus yang kadarnya tak pernah penuh.
Menghajarku bertubi – tubi dengan ilusi indah yang terlukis di utopiaku.
Menawarkan berbagai harapan semu, yang membuatku berbalik arah melawan gravitasi.
Ingin kuenyahkan ia selalu, tetapi aku tak berdaya.
Sebab pintu lainnya menghadirkan skenario yang entah akan terjadi apa tidak.
Skenario yang penuh dengan rencana gilaku menunggu waktu untuk menerobos ketidakmungkinan di suratan takdir.
Memberontak setiap sudut cakrawala yang menghalangiku bertemu dengannya.
Melihat matahari terbenam dalam hiruk pikuk angin pantai.
Menggenggam tangannya yang dingin karena pengalaman pahit yang ia tempuh.
Mengabadikan setiap momen indah dengannya melalui lensaku yang mulai samar.
Berharap ia akan membaca prosa ini dan memahami kata demi kata.
Berharap bahwa ia tak hanya ada dalam kepalaku.
—
Bogor, 17 Oktober 2022