
Terkadang aku berpikir, bahwa tak seharusnya lagu patah hati diciptakan.
Nada kepedihan dengan lirik yang menusuk, menjebak manusia terkurung di masa lalu.
Mengulang memori yang sama, tentang betapa indahnya kisah di album yang usang.
Membuang apa yang dimilikinya kini deminya yang imajiner.
Membiarkan luka – luka basah yang masih bersemayam di hati.
Memenjarakan diri dalam angan yang peluangnya hampir tak ada.
Menunggu datangnya kesempatan kedua yang mungkin saja tak pernah ditakdirkan.
Namun, realitanya, hampir semua orang menikmati rasa sakit itu.
Lucunya pula, akulah salah satunya.
Dan mungkin saja, jika aku memiliki kemampuan dalam bermusik, kini aku telah menciptakan berpuluh lagu patah hati.
Kudedikasikan lagu – laguku untuk seseorang yang telah berhasil membuatku berdamai dengan kenyataan, meskipun ia tak pernah tahu.
Nyatanya, aku hanya mampu membuat prosa, yang tak lebih dari sebuah literasi visual yang membosankan.
Yang takkan membuat orang lain ketagihan untuk membacanya, lagi dan lagi.
Tak apa, aku tahu sebatas mana kemampuanku.
Akupun yakin, di sana ia masih terus mencari lagu patah hati yang baru untuk memelihara nostalgianya.
Mendengarnya berulangkali, hingga ia terlelap dalam belenggu paralelnya, yang kupercaya bukan diriku.
—
Bogor, 6 November 2022