Peluru

Menyusuri ruang antara langit dan tanah, lelaki itu terhuyung membawa tubuhnya sendiri.

Sinyal otaknya yang hampir lumpuh memerintahkannya untuk beristirahat di bawah pohon beringin tua.

Ia tersenyum menahan pedihnya peluru yang menancap ke jantungnya beberapa detik lalu.

Matanya yang entah kapan terakhir kali menangis, akhirnya tumpah tak terkendali, mengingat nikmatnya masakan Ibunya pada siang hari yang terik setelah shalat Zuhur.

Mengenang pelukan istrinya yang hangat setelah melayaninya di kegelapan malam.

Bernostalgia dengan tawa riang anak perempuannya yang menyambutnya pulang.

Semua memori itu begitu cepat berputar di kepalanya, hingga terhenti di satu adegan yang tak akan pernah ia ingat lagi esok hari;

Tangannya yang berlumur darah.

Bogor, 21 November 2022

Leave a comment