
Langit malam semakin pekat dan tak bergeming.
Aku terbaring di hamparan pasir yang luas dan kering.
Dingin, pilu menusuk hingga tulang.
Namun, pesona gemintang di antara gelapnya malam membuatku sedikit tersenyum.
Ternyata, masih ada keindahan yang terlihat di balik kebelengguan ini.
Aku sudah berulang kali merasakan adegan yang sama, tetapi tidak pernah sedamai ini.
Melangkah pergi dari suatu kehidupan yang penuh warna, menuju hitam putih layar tak pernah semenarik ini.
Ada yang kunantikan di suatu masa, di mana keintiman fisik tak lagi menjadi prioritas.
Suatu masa, di mana kemungkinan kecil itu hadir menembus ketidakmungkinan.
Suatu masa di mana, rambut kita memutih tanda menuanya kita sebagai manusia.
Suatu masa di mana, kita duduk bersama, mengenang petualangan beberapa bulan ini dengan hati yang penuh.
Selamat mengarungi samudera tanpaku, Kawan.
Jika takdir berpihak, aku yakin, perahumu akan berlabuh di daratanku, meskipun sedikit terlambat.
—
Bogor, 25 Januari 2024