
Menapakkan diri di atas surau berbilik bambu, ia merayakan setiap langkah yang sudah terjejak pada tanah basah.
Jauh, jauh sekali ia berjalan, menyusuri udara dinihari yang menusuk kulit.
Bercahayakan api dari lampu semprong, teknologi abad lampau yang sudah mengaliri berbagai kota masa kini, belum juga sempat menjamah rumah ibadah itu.
Dalam temaramnya bangunan ringkih itu, seseorang melantunkan panggilan subuh dengan suara yang begitu merdu dan menggetarkan jiwa.
“Aku tepat waktu”, ujarnya sumringah.
“Aku tepat waktu”, juga gumam seseorang yang jauhnya hampir dua ribu kilometer dari surau, yang ia ucapkan sesaat sebelum matanya terpejam, setelah lelah semalaman mengejar tenggat waktu pekerjaan.
—-
Bogor, 8 Januari 2025