FYI

Tumbuh, menjulang tinggi melalui berbagai nutrisi.

Yang tadinya detak jantungmu melemah, hanya sepuluh persen kemungkinan bertahan hidup, sempat tak menangis saat lahir, kini kamu sudah berlari – larian riang di rerumputan dekat rumah.

Hadir menjadi pelita hidup, kamu mengajarkan arti kesabaran dan kasih sayang yang sangat dalam.

Kagum pada setiap gen yang kamu tiru dariku, bahwa kamu benar – benar adalah versi mini diriku.

You know what? I really enjoy every breath and every second of my life with you.

Thanks for being alive, my precious gem.

I always tell our God that I’m really grateful to be your mama.

But now, I can no longer hide this secret.

Bogor, 16 Desember 2024

Kerja

Langit tahu, kita sadar.

Dunia berjalan sebagaimana mestinya.

Tak ada yang berubah hingga detik ini.

Di sela – sela realita yang terkadang menghujam batin, sempat kita tertawa lepas.

Peluh dan pikiran, dikerahkan demi perut yang kenyang.

Membiayai orang terdekat sebagai balas jasa dan bentuk kasih.

Menyokong kehidupan mewah para tikus berdasi.

Memenuhi tuntutan mulut – mulut tajam tak bertulang.

Mengukir senyum asli dan palsu pada suasana sosial.

Mengarungi dilema akan masa depan yang tak pasti.

Mengutuk masa lalu yang melahirkan kini yang sibuk.

Tentu, kasur, gunung dan pantai adalah tiga hal yang menyegarkan penat.

Bagi para diri yang lelah dikejar waktu.

Bogor, 2 Desember 2024

Antara

Di antara guyuran udara bersih yang melimpah, beberapa orang bernapas menggunakan selang oksigen.

Di antara gemerlapnya gedung perkotaan, beberapa orang tidur beralaskan kardus di jalur pedestrian.

Di antara kesuksesan dan popularitas yang meledak, beberapa orang meringkuk kesepian dan merasa hampa.

Di antara komitmen pernikahan yang telah terucap, beberapa orang telah berpikir untuk mengajukan cerai pada pasangan mereka.

Di antara semua penghargaan dan statistik yang baik dari negara, beberapa orang yang tak terhitung dan tak dianggap sebagai warga negara, mencari keadilan.

Di antara indahnya alam dunia, beberapa orang diam – diam menyelundupkan limbah perusahaan ke sungai – sungai.

Dan di antara semua manusia yang baik, beberapa orang telah menjadi jahat karena didikan dan lingkungan.

Bogor, 30 November 2024

Muara

Hujan rintik mengikis permukaan tanah.

Merenggut hawa panas dari sisa terik matahari tadi.

Perlahan menjadi deras menderu – deru.

Angin kencangnya menyentuh setiap benda padat yang dilewatinya.

Tumpahan airnya menyapu setiap epidermis ciptaan Tuhan dan manusia.

Perairan akan menampung air – air yang belum bertuan.

Oh, tidak!

Ternyata, semuanya sudah penuh oleh warna – warni plastik!

Lalu, ke manakah akhirnya jutaan molekul hidrogen dan oksigen itu akan bermuara?

Bogor, 30 November 2024

L

“Teruntuk para orangtua di luar sana, ketika anak mengatakan ‘tidak betah’ saat tinggal di tempat lain selain rumah, selidiki, cari tahu alasan yang sebenarnya mengapa anak Anda mengatakan hal tersebut.”

Kira – kira seperti itulah pernyataan yang kudengar dengan seksama dari seorang ibu asuh, pada berita viral pelecehan seksual, kemarin sore di salah satu saluran stasiun televisi terkenal pada platform Youtube.

Seketika, memori buruk dari masa remaja mengintai kembali. Aku menghela napas panjang, dan tersadar betapa terhubungnya aku dengan berita viral itu, meskipun dalam kasus yang berbeda.

Pernyataan yang sedikit membuatku terhenyak, sebab, aku pernah mengatakan ‘tidak betah’, saat tinggal di rumah seseorang selain rumah orangtuaku saat remaja. Aku mengatakan itu kepada diriku sendiri. Orangtuaku saat itu tak sebersitpun tahu.

Aku benci menceritakan itu, tetapi ketika aku merasa lemah selemah – lemahnya, aku terpancing untuk menceritakan apa yang aku alami di sana. Memang bukan kekerasan verbal, fisik, ataupun pelecehan seperti yang dialami oleh korban lainnya, tetapi secara psikis, aku cukup rusak saat itu. Trauma berat yang aku rasakan, sebab aku jauh dari orangtua, jauh dari keluarga, membuatku merasa menghadapi semuanya sendirian kala itu. Aku sering berkata ‘aku ingin pulang’, tetapi hanya kuucapkan di pikiran, monolog, dan buku harianku saat itu, sebab aku masih ingin bertahan untuk mencapai masa depanku yang kuyakini gemilang.

Aku takkan menceritakan detail kejadian itu, tetapi aku berpikir, beberapa orang tahu kejadian apa yang aku maksud.

Dan di sini, saat ini, setelah aku menjadi ibu rumah tangga, yang ternyata impianku meleset jauh dari rencana awalku (dan aku tidak menyesal, if you know, you know), aku mengenang hari – hari itu sebagai proses yang mendewasakanku. Dua patah kata ‘tidak betah’, yang selalu kuulangi selama enam tahun aku di sana, yang akhirnya tersampaikan ketika Bapak menyambutku di bandara tanah kelahiranku, membuatku bertekad saat itu. ‘Kelak, aku akan selalu mendengarkan pendapat anakku, berempati pada perasaannya, menghargai keberadaannya, mendidiknya menjadi bijaksana dan tangguh, menceritakan pandanganku tentang kehidupan, juga tak membiarkannya jauh dariku di saat yang belum tepat’.

Aku akan mengisi kekosongan diriku dengan pelajaran yang akan kuterapkan saat menjadi orangtua kini. Aku akan mendengar ocehannya meskipun aku sendiri masih sibuk menghibur diriku akan penatnya rutinitas. Dan meskipun tak pernah ada kesempurnaan dalam metode parenting yang kuterapkan, aku akan melakukan segala cara yang kuyakini tepat. Aku takkan pernah menjadi ibu yang sempurna, tetapi aku akan menjadi ibu yang terbaik baginya. Tempat di mana ia bisa mengadu apapun selain pada Tuhannya. Tempat yang ia sebut rumah, ketika ia ingin pulang karena kelelahan menghadapi dunia yang keras ini. Tempat di mana ia berbagi suka dan duka.

Aku ingin ditangisi ketika mati, dicari ketika tak ada, disayang ketika ada, dan didoakan sepanjang hayatnya. Aku ingin ciuman dan pelukan bertubi – tubi darinya. Aku ingin menceritakan semuanya padanya. Aku akan membalas dendam inner child-ku dengan mencintainya sepenuh hati. The one and only, my daughter, my lovely L. She’s the greatest gift I’ve ever gotten in my life. Gonna listen to Daughters by John Mayer now.

Bogor, 12 Oktober 2024

Api

Sinar itu menyala dengan sangat terang.

Menjalar pada kegelapan yang mengitarinya.

Meluluhlantakkan beton, baja dan kayu di dekatnya.

Membumihanguskan saksi bisu perjalanan hidup makhluk di dalamnya.

Menelan banyak sel yang berusaha mempertahankan nyawa.

Mengudarakan kepul hitam yang mematikan pada ruangan tertutup.

Memecah kepadatan tekstur menjadi partikel debu.

Sudah tak ada lagi celah untuk oksigen.

Perlahan tersulut, lalu membara di antara kerumunan sinar.

Akhirnya, dunia menjadi legam tak bercahaya.

Bogor, 6 Oktober 2024

Ikhlas

Begitu lugu dan naif.

Masa muda yang penuh dengan ketidaktahuan.

Mencoba merasakan apa yang belum pernah dirasakan.

Tertantang memasuki berbagai masalah yang konsekuensinya masih samar kala itu.

Menjebak diri sendiri dalam liku trauma yang tak berujung hingga menua.

Perasaan menguasai logika, mengaburkan visi masa depan.

Dan kini, Sang Dewasa, telah mati rasa dalam genggaman realita.

Menjalani hidup sesuai standar yang telah terbentuk.

Tanpa peduli, di luar sana banyak peluang – peluang yang terlewati.

Untuk menghabisi seluruh ikhlas, bagi mereka yang terpilih.

Bogor, 22 Juni 2024

Januari

Tak banyak yang bisa tertuang di sini.

Namun, percayalah, ide – ideku tentangmu di kepalaku mengembara liar dan menggairahkan.

Kamulah tokoh kehidupan yang akan kujadikan alasan untukku menulis.

Aku menggenggam erat komitmen dan berusaha menyisihkan pilihan yang tak masuk akal bagiku.

Ya, kamu tahu artinya!

Kita adalah sisa – sisa peluang takdir yang setengah utuh.

Bertemu, tapi tak satu.

Bersatu, tapi tak melebur.

Setiap memori yang tercipta mengukir setetes demi setetes kedalaman harmoni.

Ya, kita adalah harmoni!

Menikmati waktu yang tersedia pada himpitan balada dunia.

Jadi, kapan terakhir kita bersenang – senang?

Januari?

Bogor, 22 Juni 2024

Dua

Diam – diam tersuruti langkah yang tak bertuan.

Menghinggapi rasa yang tak lagi berasa apapun.

Ataukah ini hanya sebuah persimpangan untuk memilih jalur yang tepat?

Satu persatu imaji mengkhianati satu sama lain.

Betapa terombang – ambingnya dasar kerapuhan diri.

Mengintimidasi setiap peluang yang muncul ke permukaan.

Tertatih – tatih menyusun kepingan simfoni kalbu.

Tak disangka, sistem telah mengelabuiku sejak awal.

Dibiarkan seorang diri menatap nanar kebingungan yang ada pada beberapa opsi.

Terjebak sudah dalam lingkaran yang tak berujung.

Kupikir aku sudah lepas, ternyata perjalanan masih panjang.

Dua rangkaian setara yang akan menjadi akhirku.

Mana yang akan kupilih?

Atau, apakah aku takkan pernah bisa memilih?

Bogor, 16 Juni 2024

Indera

Setiap sudut bumi meronta menyuarakan keadilan.

Terpaku, menatap mata – mata yang nanar akan penderitaan.

Menyelimuti kulit – kulit yang kedinginan di bawah matahari.

Menenangkan saraf – saraf yang mulai kehilangan fungsi yang semestinya.

Mendengarkan jeritan dari mulut – mulut yang tak berdaya untuk berbicara.

Memaniskan lidah – lidah yang sudah tak terkena makanan dalam beberapa waktu.

Menidurkan telinga – telinga yang terganggu akibat ledakan dan tangisan.

Sesungguhnya, mereka yang berbuat itu sangat paradoksikal.

Hidup di bumi, tetapi pura – pura buta dan tuli akan kebenaran yang telah, dan akan ada.

Bogor, 1 Juni 2024