Sekumpulan anak laki – laki bermain bola di lapangan bulutangkis.
Tanpa alas kaki, bergawangkan sandal di sisi kiri dan kanan, permainan berlangsung seru dan menyenangkan.
Keringat yang membasahi, terik matahari sore yang menyilaukan, juga teriakan ambisi kemenangan membuat suasana pemukiman di sekitarnya hidup dan berwarna.
Mereka tak pernah membayangkan, satu atau dua dekade yang akan datang, mereka akan sibuk di depan laptop, menyusuri LinkedIn, berhari – hari, berbulan – bulan, bahkan bisa jadi bertahun – tahun.
Satu atau dua dekade lagi, setiap mereka akan bertanggungjawab atas kehidupan seorang wanita asing, yang dijemput atas dasar akad suci.
Satu atau dua dekade lagi, setiap mereka akan bergelut dengan drama lingkungan kerja dan pernikahan.
Satu atau dua dekade lagi, setiap mereka akan beradu klakson, bertukar polusi udara dan menua di jalan.
Satu atau dua dekade lagi, setiap mereka akan memutar otak untuk mencari pemasukan tambahan.
Satu atau dua dekade lagi, setiap mereka akan bertarung melawan pikiran dan ego masing – masing, untuk memilih antara keinginan masa kecil yang tertunda atau kebutuhan keluarga.
Satu atau dua dekade lagi, setiap mereka akan mengarungi kecamuk keresahan akan masa depan keluarga.
Aku tahu, siapa yang menjalani peran itu saat ini.
Kepada mereka di semua masa, terutama untuk yang kumiliki saat ini dan selamanya…
Semua orang bergegas menyambut Hari Raya terbesar umat mayoritas di negara ini dengan sukacita. Menyiapkan segala detail perayaan, mengunjungi sanak saudara, menginap beberapa hari di villa yang mewah atau rumah keluarga, berkumpul bersama keluarga besar, mengirim bingkisan untuk orang terkasih. Euforia yang terjalin antara manusia dengan tanggal merah menjadikan suasana riuh dengan segala hilir mudik perpindahan objek dunia dari satu tempat ke tempat lain.
Saat itu, aku meringkuk kedinginan dalam selimutku, menikmati setiap bunyi jangkrik yang menggema, mengisi setiap ruang antara langit malam di sekitarku. Itu adalah kali pertama aku meresapi hangatnya minuman sereal, sendirian, di malam perayaan. Aku tak terkejut, tak merasa kesepian, malah aku sedikit menertawakan situasi yang sedang kualami detik itu. Setelah dua kali mengalami transisi kenikmatan Hari Raya dalam hampir dua dekade, memasuki dekade kedua akhir, suasana itu benar – benar berbeda seratus delapan puluh derajat; tenang dan syahdu. Aku tak merasa menyesal, aku bisa saja melakukan hal yang sama seperti orang lain, tetapi pada tahun itu, aku memilih tidak melakukannya.
Berangkat dari kebelengguan yang mengekang setiap sudut jati diriku, aku sudah lama mendambakan kebebasan seperti itu, tak lama sejak aku menginjakkan kaki di tanah Pasundan. Tanah itu, yang kata orang begitu indah dan subur, aku akui memang benar adanya. Namun, dengan aku menghabiskan beberapa waktu di sana dalam hidupku, bukan hal yang mudah untuk hanya melihatnya dari sisi yang baik. Sebab, memori yang tercipta, juga banyak yang tak baik – baik saja.
Sejak saat itu, semua perayaan yang semestinya kurayakan, menjadi hari yang sama saja dengan yang lainnya. Semuanya datar. Pemikiranku yang aneh lainnya adalah bahwa aku juga melihat dari semua sisi; setiap ‘hari’ ada saja berita suka dan duka dari seluruh dunia, baik yang disiarkan maupun tidak. Bahkan yang kuhadapi di depan mata, dalam satu hari, aku bisa merasakan rollercoaster emosi; senang, sedih, marah, terharu. Kesenangan dan kesedihan, kebaikan dan kejahatan, putih dan hitam bercampur menjadi elemen keabuan; rasa syukur, hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik dari berbagai emosi tersebut. Warna – warni hanyalah pada permukaan layar.
Berempati, tetapi tak pesimis juga. Sebab, meskipun dunia dipenuhi oleh kejahatan, tetap selalu ada asa untuk mengamini semua kebaikan. Oleh karena itu, aku tetap menghormati prinsip semua orang. Hanya saja, aku menarik diri dari berbagai euforia perayaan dengan perspektif ini.
Justru, menurutku, yang menarik dari sebuah hari adalah, pertama, ketika aku bersama para manusia yang spesial di hidupku. Kedua, uanglah yang menjadikan kebersamaan itu terasa tidak membosankan dan meminimalisir konflik. Hei, ketika punya uang, semuanya terasa menyenangkan dan menenangkan, bukan? Ada atap untuk berteduh, pakaian untuk berbusana, makanan yang hangat untuk dimakan, tidurpun nyenyak sekalipun hujan deras, beribadah tenang karena tahu besok mau makan apa, bahkan bonusnya banyak lagi!
Bahkan ketika beberapa kali aku diuji, hari memang terasa berat untuk dijalani, tetapi hikmah yang kutarik selalu ada di hari selanjutnya. Aku bisa saja mengutuk hari – hari aku diuji itu, tetapi ternyata, pilihanku sendirilah juga takdir yang berkata bahwa itu semua terjadi. Jadi, antara salahku, atau memang takdir, hingga aku sampai pada titik ini. Aku bertanggungjawab atas hidupku.
Sekali lagi, ini pandanganku.Aku tahu kamu tak peduli. Namun, bagiku, semua hari terasa sama. Menyenangkan, juga menyedihkan, dan aku ada di antara keduanya.
“Teruntuk para orangtua di luar sana, ketika anak mengatakan ‘tidak betah’ saat tinggal di tempat lain selain rumah, selidiki, cari tahu alasan yang sebenarnya mengapa anak Anda mengatakan hal tersebut.”
Kira – kira seperti itulah pernyataan yang kudengar dengan seksama dari seorang ibu asuh, pada berita viral pelecehan seksual, kemarin sore di salah satu saluran stasiun televisi terkenal pada platform Youtube.
Seketika, memori buruk dari masa remaja mengintai kembali. Aku menghela napas panjang, dan tersadar betapa terhubungnya aku dengan berita viral itu, meskipun dalam kasus yang berbeda.
Pernyataan yang sedikit membuatku terhenyak, sebab, aku pernah mengatakan ‘tidak betah’, saat tinggal di rumah seseorang selain rumah orangtuaku saat remaja. Aku mengatakan itu kepada diriku sendiri. Orangtuaku saat itu tak sebersitpun tahu.
Aku benci menceritakan itu, tetapi ketika aku merasa lemah selemah – lemahnya, aku terpancing untuk menceritakan apa yang aku alami di sana. Memang bukan kekerasan verbal, fisik, ataupun pelecehan seperti yang dialami oleh korban lainnya, tetapi secara psikis, aku cukup rusak saat itu. Trauma berat yang aku rasakan, sebab aku jauh dari orangtua, jauh dari keluarga, membuatku merasa menghadapi semuanya sendirian kala itu. Aku sering berkata ‘aku ingin pulang’, tetapi hanya kuucapkan di pikiran, monolog, dan buku harianku saat itu, sebab aku masih ingin bertahan untuk mencapai masa depanku yang kuyakini gemilang.
Aku takkan menceritakan detail kejadian itu, tetapi aku berpikir, beberapa orang tahu kejadian apa yang aku maksud.
Dan di sini, saat ini, setelah aku menjadi ibu rumah tangga, yang ternyata impianku meleset jauh dari rencana awalku (dan aku tidak menyesal, if you know, you know), aku mengenang hari – hari itu sebagai proses yang mendewasakanku. Dua patah kata ‘tidak betah’, yang selalu kuulangi selama enam tahun aku di sana, yang akhirnya tersampaikan ketika Bapak menyambutku di bandara tanah kelahiranku, membuatku bertekad saat itu. ‘Kelak, aku akan selalu mendengarkan pendapat anakku, berempati pada perasaannya, menghargai keberadaannya, mendidiknya menjadi bijaksana dan tangguh, menceritakan pandanganku tentang kehidupan, juga tak membiarkannya jauh dariku di saat yang belum tepat’.
Aku akan mengisi kekosongan diriku dengan pelajaran yang akan kuterapkan saat menjadi orangtua kini. Aku akan mendengar ocehannya meskipun aku sendiri masih sibuk menghibur diriku akan penatnya rutinitas. Dan meskipun tak pernah ada kesempurnaan dalam metode parenting yang kuterapkan, aku akan melakukan segala cara yang kuyakini tepat. Aku takkan pernah menjadi ibu yang sempurna, tetapi aku akan menjadi ibu yang terbaik baginya. Tempat di mana ia bisa mengadu apapun selain pada Tuhannya. Tempat yang ia sebut rumah, ketika ia ingin pulang karena kelelahan menghadapi dunia yang keras ini. Tempat di mana ia berbagi suka dan duka.
Aku ingin ditangisi ketika mati, dicari ketika tak ada, disayang ketika ada, dan didoakan sepanjang hayatnya. Aku ingin ciuman dan pelukan bertubi – tubi darinya. Aku ingin menceritakan semuanya padanya. Aku akan membalas dendam inner child-ku dengan mencintainya sepenuh hati. The one and only, my daughter, my lovely L. She’s the greatest gift I’ve ever gotten in my life. Gonna listen to Daughters by John Mayer now.
Setiap orang memiliki seseorang yang spesial di hatinya. Yang pertama mengukir kenangan manis di masa remaja, transisi, ataupun dewasa. Yang membedakan adalah, kita bisa berakhir bahagia dengan seseorang itu, atau kita malah terpaksa berpisah demi kebaikan masing – masing. Dan aku adalah salah satu yang harus mengucapkan selamat tinggal kepada seseorang itu.
Ketika aku tahu, bahwa orang – orang yang kukenal memiliki luka yang sama sepertiku, aku terhenyak, dan merenung akan betapa tidak adilnya dunia ini. Perbedaan agama, keyakinan dan prinsip, pengkhianatan, status sosial, jarak dan waktu, juga kematian memiliki andil yang cukup besar untuk memisahkan dua insan muda yang sedang digeluti asmara. Betapa sedikitnya orang yang berakhir bahagia bersama cinta pertamanya.
Dengan perpisahan, rasa menjadi mati, hambar dan tak lagi menggairahkan. Perasaan tak lagi mendominasi, karena rasa sakit menjadikan logika berjaya kedudukannya. Logikapun mendeklarasikan tujuan utamanya, yaitu tak mengulang kesalahan yang sama, juga mengutamakan masa depan yang mapan dan normal bersama keluarga kecil yang harmonis. Namun, perasaan yang terluka malah bolak – balik menggali masalalu yang telah dikubur, untuk bernostalgia dalam kesendirian. Lawan jenis lain yang datang untuk mengobati luka di hati, diabaikan karena tak sesuai dengan standar cinta pertama yang pernah berpengalaman di hati. Pernikahan diadakan karena logika menuntut pertemanan seumur hidup, untuk saling memberi manfaat terhadap pasangan sah, bukan lagi tentang memberi cinta yang semestinya.
Aku paham sekarang, mengapa ada orang yang begitu nekat untuk selingkuh dengan yang terdahulu mengisi hatinya. Sebab kenangan dan perasaan itu begitu kuat melekat dalam sanubari. Tak pernah tergantikan, tak pernah terhapus dari alam bawah sadar. Namun, bukan berarti aku setuju dengan selingkuh, walaupun mungkin aku sedang berselingkuh dengan nostalgia dan imajinasiku sendiri. Semuanya punya porsi masing – masing. Punya keluarga, tanggungjawab, masa depan dan komitmen yang harus dijaga.
Dengan rasa yang mati tadi pula, manusia bekerja hanya untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup, seperti robot pencari uang yang bisa lapar dan berekskresi. Bekerja menjadi pelarian, pelampiasan, dan distraksi atas rumitnya hati yang semrawut. Terlahir karya seni, penemuan hebat, kesepakatan penting perusahaan melalui hati – hati yang patah ini. Perut selalu panas oleh metabolisme, tetapi kalbu beku dan mematikan, jika tak disembuhkan.
Pertanyaan yang mungkin sulit untuk dijawab oleh semua orang adalah, bagaimana cara menyembuhkan luka patah hati itu? Menurutku, yang telah kulalui sejauh ini, waktu dan pengganti yang tepat akan menyembuhkan luka itu. Namun, bekasnya tetap ada, melintang di tengah keharmonisan keluarga baru. Dan menjadi bagian dari diri sendiri, selamanya, menjadi kisah lalu yang bisa dikenang pada masa tua nanti, atau bahkan menjadi cerita roman picisan versi diri sendiri untuk anak cucu kelak.
Satu lagi, jika kamu tak merasakan apa yang dijelaskan di tulisan ini, kemungkinannya, pertama, kamu menikahi cinta pertamamu. Kedua, kamu belum pernah mengalami jatuh cinta. Ketiga, kamu berhasil bangkit dan melupakan cinta pertamamu sepenuhnya, entah bagaimana caranya (dan aku akui kamu hebat!).
Hidup ini adalah sebuah paradoks. Salah satu paradoks yang paling kuyakini adalah, seringkali aku berpikir, bahwa untuk menjadi bahagia, kita harus menderita terlebih dahulu. Melepas hal yang kita sayangi, pergi demi kebaikan diri sendiri, merasakan cacing – cacing perut yang meraung kelaparan, dicaci maki, dan banyak lagi. Entah, aku tak ingin menggeneralisir semua orang seperti itu, tetapi hingga detik ini, aku berpikir bahwa banyak yang telah kukorbankan untuk kebahagiaanku sendiri. Hubunganku, ikatan batinku, karirku, hakku, apapun telah kukorbankan sejauh ini, hingga aku tak bisa lagi menghitung berapa banyak yang kuperjuangkan untuk kebahagiaanku. Aku bahkan pernah menekan ego dalam mengambil sebuah keputusan, dan itu benar – benar mengubah jalan hidupku sejak remaja.
Aku seringkali bertanya – tanya, apa jadinya hidupku jika aku tak pernah pergi dari rumah? Apa yang akan kulakukan saat ini? Apakah aku tetap sama, atau menjadi orang yang berbeda sama sekali saat ini? Bagaimana kisahku saat ini jika aku terus bersamanya yang dulu membuatku jatuh cinta untuk pertama kalinya? Andai, andai, andai, pertanyaan sejenis terus berputar dikepalaku.
Bukan, bukan aku tak bersyukur dengan keadaanku saat ini. Hanya saja, isi kepalaku dipenuhi pertanyaan – pertanyaan yang takkan pernah terjawab oleh siapapun dan kapanpun. Kemungkinan – kemungkinan yang takkan pernah bisa diperagakan di layer yang berbeda. Aku pusing sendiri memikirkannya. Namun, aku tak bisa menghentikannya. Dan aku sangat tahu bahwa pilihan – pilihanku sejak dulu merupakan takdir bagiku. Jadi, apapun keadaanku sekarang, akulah yang memegang kendali untuk berada di atas panggung ini. Akulah yang secara sadar memilih jalan ini.
Lalu, apakah aku bahagia sekarang? Jawabannya, ya dan tidak. Ya, karena aku bangga dengan diriku, aku sudah sejauh ini melangkah, dengan peluh, kekecewaan, kesedihan, dan keikhlasan yang kuhadapi. Aku sudah terlalu kuat untuk berdiri sendiri. Aku punya keluarga kecil yang sempurna, yang menyempurnakan kekurangan keluarga di masa kecilku yang penuh luka sana sini.
Tidak, karena luka – luka tadi membekas terlalu dalam, walaupun aku tak lagi membenci dan sudah memaafkan mereka, tetapi beberapa kali dalam setahun, luka itu muncul lagi dalam ingatan, mimpi, bahkan benda – benda yang berhubungan. Sebab, alam bawah sadarku telah merekam jejak luka itu hingga tersimpan secara tak sadar seperti kotak Pandora, yang bisa menganga setiap saat, bahkan dikala aku sedang tak ingin memikirkannya.
Kamu tahu? Aku sering menangis atau tertawa sendiri di sudut ruangan, mendengarkan lagu – lagu yang membuat pikiranku membara ke utopia yang kuciptakan. Apakah aku gila? Mungkin bagi orang normal, aku memang setengah gila, tetapi bagi orang gila, aku adalah orang terwaras yang pernah ada. Aku masih bisa membedakan realita dan fantasi. Dan lagi, utopia ini adalah tempat yang paling aku senangi di dunia ini. Dimana semua hal yang tak mungkin aku dapatkan di dunia nyata, bisa aku ciptakan di dunia fantasiku. Aku bisa menciptakan berbagai skenario, di berbagai latar tempat, waktu bahkan nuansa apapun. Akulah pemeran utama dalam utopiaku.
Aku ingat dulu, saat pertama kali cinta menyentuhku. Untuk pertama kalinya saat itu, aku melihat warna di dunia ini. Hingga akhirnya, sebuah kenyataan pahit menamparku berkali – kali. Perang batin menyelimuti diri. Hingga akhirnya, logikaku menang. Aku memilih pergi darinya, sebelum terlalu lama terjalin kenangan dengannya. Namun, ternyata aku salah. Belum lama, tapi dalamnya sudah mencapai ambang batas. Butuh waktu bertahun – tahun untuk bisa mengikhlaskannya.
Lagi, terkadang logika juga memaksa kita untuk melepaskan sesuatu yang kita inginkan, tetapi tak kita butuhkan. Terkadang pula, perasaan juga memaksa kita untuk menerima perlakuan tak menyenangkan dari orang lain, agar tak menjadi masalah di kemudian hari. Lihatlah, betapa setiap lini kehidupan memaksa kita untuk turut andil, meskipun betapa kerasnya kita menolak. Apa yang terjadi jika kita menolak? Kita juga akan dilanda masalah, karena terlena dengan keputusan yang semrawut dan gegabah. Keputusan yang bijak saja masih menimbulkan luka, apalagi dengan keputusan yang sembarangan? Musibahlah yang terjadi. Kamu pasti tahu maksudku. Serba salah ya.
Semakin dewasapun, manusia berusaha terlihat tegar dari luar, walaupun dirinya dipenuhi dengan luka – luka yang menganga dan masih basah. Sangat perih. Sebuah harga diri yang tak terbayarkan, dengan menambal luka – luka tadi dengan senyum palsu, hura – hura, niat menjatuhkan orang lain, cinta dari orang terdekat. Ah, sesekali, ingin kukatakan, betapa manusia memang makhluk yang munafik. Manusia adalah tempat berpadunya sumber kebajikan dan kejahatan dalam satu raga. Tak ada yang benar – benar baik, tak ada pula yang benar – benar buruk. Lagi – lagi, paradoks.
Mungkin tulisan ini akan membuatmu pesimis tentang hidup, tetapi lihatlah dari perspektif lain. Betapa kita menghakimi seseorang, disitu pula kita sebenarnya tak berbeda jauh dengannya. Sebab manusia tak luput dari kesalahan, sekecil apapun itu. Aku sendiri sering menghakimi orang lain, hanya saja metodenya yang berbeda – beda, tergantung situasi, dan tak semua baik di pandangan orang lain. Kebenaran itu relatif, bukan? Tergantung siapa dan bagaimana ia melihat.
Ah, sepertinya tulisan ini telah melebar kemana – mana, walaupun intisarinya masih sama; paradoks. Aku tahu, semua ini hanya ada dalam kepalaku, seperti yang pernah dikatakan oleh seseorang yang sama persis sepertiku (dan aku merindukannya, selalu). Namun, sampai detik ini, aku masih bertanya – tanya, apa arti kebahagiaan sebenarnya? Adakah manusia yang selalu merasa bahagia, hingga ia merasa bosan dan menghancurkan dirinya hanya untuk merasakan sedih dan sakit? Adakah manusia yang selalu sedih, hingga cara apapun tak mampu lagi menutupi luka – luka di hatinya?
Makna bahagia masih begitu ambigu bagiku, walaupun aku telah menikmati lingkup permukaannya. Namun, jauh di dalam hatiku, aku memiliki banyak lubang di hati, yang kulapisi persona tegar dari ragaku. Dan di dunia ini, ada milyaran orang yang sama sepertiku.
Jadi, apakah aku harus ‘menderita lagi’, agar aku bisa ‘bahagia lagi’?