Logika vs Emosi

Tumpah, rasionalitas itu meluap – luap dari epidermis kulitnya.

Melindungi pikirannya dari semua gencatan emosi.

Menakar kortisol yang menurutnya cukup untuk menjaga kewarasannya.

Menangkalnya dari manusia – manusia tak tahu diri yang menginjak harga dirinya.

Melegalkan nirempati pada dirinya untuk memenuhi semua egonya.

Melayangkan sindiran yang tenang pada kepedulian yang terlalu mengakar pada perspektif lain.

Menikmati kerja kerasnya secara frugal demi masa depan yang mapan.

—-

Di seberang sana, emosi tak terbendung hanya pada satu rasa.

Banyak pintu empati yang ia miliki, dan jika sebuah pintu terbuka, akan sulit untuk menutupnya kembali jika tidak hati – hati.

Kortisol berlebihan menciptakan bom waktu pada tubuh yang sering tumbang oleh terpaan stimulasi luar.

Roman picisan menjadi makanan bagi jiwanya; memenuhi dahaga cinta yang tak pernah ia dapatkan dari siapapun.

Kesedihan dibelinya dengan rasa iba dan donasi yang ia sisihkan dari anggaran kebutuhannya.

Masa depan menjadi kelabu baginya, dengan tabungan yang sering dihamburkan demi kemaslahatan saudara sedarah.

Namun, indah sekali caranya menolong sesama makhluk.

Perasaannya yang kaya dan tangan atasnya menjadikannya baik dipandang dari segi kemanusiaan.

—-

Mereka tak saling kenal, tetapi kini berada dalam satu jangkauan mata.

Yang satu menyimpan emas, yang satunya lagi mengambil uang.

Namun, satu kesamaan yang mereka miliki.

Gurat wajah yang sama – sama lelah untuk bertahan hidup.

—-

Jakarta, 19 Mei 2025

Empati

Aku berada di setapak persimpangan jalan yang berkabut.

Menelaah kembali berbagai rasa yang hiruk pikuk melanda batin.

Aku tak tahu arah jalan pulang, bahkan sepertinya aku sama sekali tak berniat untuk kembali.

Mungkin aku hanya bersikap realistis.

Hal yang paling menguntungkan, itu yang kuambil.

Hal yang mengisi nadi – nadi kebutuhanku, itu yang kugenggam.

Hal yang tak pernah pergi dariku, itu yang kudekap.

Sudah terlalu lama aku berada dalam lingkaran iblis.

Menjadikanku memiliki citra buruk pada sebagian kalangan.

Menjadikanku mati rasa pada berbagai substansi.

Menjadikanku memiliki sisa remah empati yang tergeletak bersama logika yang terus menggerus.

Bogor, 23 Desember 2023

Seni

Seni yang tercipta berasal dari hati – hati yang patah.

Seni yang tergurat berasal dari kegelisahan pikiran yang tersapu melalui jari jemari.

Seni yang terukir berasal dari imajinasi tak terbatas, yang terlampiaskan melalui lihainya tangan.

Seni yang tertulis berasal dari trauma masalalu yang menghantui selama beberapa dekade.

Sepertinya, semua orang menyukai hadirnya seni.

Namun, tak semua orang bisa menciptakan seni yang utuh dan dalam.

Dan aku, sebagai orang sombong yang tak pernah menunjukkan siapa diriku yang sebenarnya ini, akan terus membuat karya seni yang tak berguna.

Kupersembahkan untuk diriku yang telah bertahan sejauh ini.

Bogor, 3 Desember 2022

Tulisan

Aku tak punya keahlian apapun selain draft tulisan yang ada di kepalaku.

Kusalurkan beribu – ribu kata di blog gratis kesukaanku.

Kutata rapi tampilannya.

Walaupun hampir tak ada yang membaca tulisanku yang tak berguna ini, aku senang berbagi kepada dunia, tentang pemikiranku yang tak awam di kalangan manusia.

Tak suka? Tak usah dibaca.

Tak mengerti? Tanyakan. Ribet? Tak usah tanya.

Ternyata ada segelintir orang yang berpikir hal yang sama dengan apa yang kutuliskan.

Ada manusia yang sama gilanya denganku, atau bahkan lebih gila lagi.

Manusia gila yang merupakan minoritas di muka bumi ini.

Orang – orang yang tersisihkan karena stereotypes masyarakat.

Terimakasih telah membaca tulisanku, wahai minoritas.

—–

Bogor, 4 Mei 2022