Nirempati

Kamu tak penting.

Mereka tak penting.

Tak cukup penting untuk dihiraukan.

Tak cukup penting untuk menghasilkan banyak cuan.

Tak cukup penting untuk menyokong hidupku.

Suara perutmu yang mengerucuk sedari subuh bukan kepentinganku.

Suara hatimu yang menjerit minta tolong bukan ranahku.

Suara pikiranmu yang berkecamuk ramai bukan urusanku.

Suara rintik hujan dalam rumahmu bukan kekhawatiranku.

Suara mulutmu yang meminjam seratus bukan kegundahanku.

Kamu mati, aku baik – baik saja.

Aku mati, kamupun baik – baik saja.

Dunia hanya akan berhenti ketika kiamat.

———

Bogor, 10 November 2025

Api

Sinar itu menyala dengan sangat terang.

Menjalar pada kegelapan yang mengitarinya.

Meluluhlantakkan beton, baja dan kayu di dekatnya.

Membumihanguskan saksi bisu perjalanan hidup makhluk di dalamnya.

Menelan banyak sel yang berusaha mempertahankan nyawa.

Mengudarakan kepul hitam yang mematikan pada ruangan tertutup.

Memecah kepadatan tekstur menjadi partikel debu.

Sudah tak ada lagi celah untuk oksigen.

Perlahan tersulut, lalu membara di antara kerumunan sinar.

Akhirnya, dunia menjadi legam tak bercahaya.

Bogor, 6 Oktober 2024

Ikhlas

Begitu lugu dan naif.

Masa muda yang penuh dengan ketidaktahuan.

Mencoba merasakan apa yang belum pernah dirasakan.

Tertantang memasuki berbagai masalah yang konsekuensinya masih samar kala itu.

Menjebak diri sendiri dalam liku trauma yang tak berujung hingga menua.

Perasaan menguasai logika, mengaburkan visi masa depan.

Dan kini, Sang Dewasa, telah mati rasa dalam genggaman realita.

Menjalani hidup sesuai standar yang telah terbentuk.

Tanpa peduli, di luar sana banyak peluang – peluang yang terlewati.

Untuk menghabisi seluruh ikhlas, bagi mereka yang terpilih.

Bogor, 22 Juni 2024

Dua

Diam – diam tersuruti langkah yang tak bertuan.

Menghinggapi rasa yang tak lagi berasa apapun.

Ataukah ini hanya sebuah persimpangan untuk memilih jalur yang tepat?

Satu persatu imaji mengkhianati satu sama lain.

Betapa terombang – ambingnya dasar kerapuhan diri.

Mengintimidasi setiap peluang yang muncul ke permukaan.

Tertatih – tatih menyusun kepingan simfoni kalbu.

Tak disangka, sistem telah mengelabuiku sejak awal.

Dibiarkan seorang diri menatap nanar kebingungan yang ada pada beberapa opsi.

Terjebak sudah dalam lingkaran yang tak berujung.

Kupikir aku sudah lepas, ternyata perjalanan masih panjang.

Dua rangkaian setara yang akan menjadi akhirku.

Mana yang akan kupilih?

Atau, apakah aku takkan pernah bisa memilih?

Bogor, 16 Juni 2024

Indera

Setiap sudut bumi meronta menyuarakan keadilan.

Terpaku, menatap mata – mata yang nanar akan penderitaan.

Menyelimuti kulit – kulit yang kedinginan di bawah matahari.

Menenangkan saraf – saraf yang mulai kehilangan fungsi yang semestinya.

Mendengarkan jeritan dari mulut – mulut yang tak berdaya untuk berbicara.

Memaniskan lidah – lidah yang sudah tak terkena makanan dalam beberapa waktu.

Menidurkan telinga – telinga yang terganggu akibat ledakan dan tangisan.

Sesungguhnya, mereka yang berbuat itu sangat paradoksikal.

Hidup di bumi, tetapi pura – pura buta dan tuli akan kebenaran yang telah, dan akan ada.

Bogor, 1 Juni 2024

Rumah

Terabaikan, tersingkirkan, terdistraksi.

Rajut – rajut jaring tipis tanpa pondasi mulai menghiasi udara.

Jutaan partikel debu mulai menghinggapi permukaan.

Sinar menyelundupkan kecepatannya untuk mulai memudarkan para warna.

Temarampun semakin mengusir ramai yang membahagiakan.

Dan sebentar lagi, akan ada tamu yang tak diinginkan.

Mencuri beberapa harta yang nilainya tak terhingga.

Meninggalkan jejak darah yang hampir mengering di lantai kayu.

Pada sebuah rumah, yang belum lama ditinggal mati penghuninya.

Bogor, 4 Maret 2024

00 : 00

Aku adalah salah satu penguasa malam.

Menaklukan gelap dengan berbagai imaji yang dalam.

Menelusuri benih – benih ramalan yang mungkin terang atau kelam.

Mengabdikan diri untuk mencari kebenaran secara khatam.

Aku adalah salah satu penguasa malam.

Kuselami jejaring data yang tercantum pada nuansa alam.

Kutempuh perjalanan emosional yang cukup menghentakkanku secara tajam.

Kutuangkan tinta pemikiran melalui bahasa yang mengecam.

Aku adalah salah satu penguasa malam…

Yang terasingkan oleh matahari yang tak kunjung terpejam.

Bogor, 23 Februari 2024

Masa

Langit malam semakin pekat dan tak bergeming.

Aku terbaring di hamparan pasir yang luas dan kering.

Dingin, pilu menusuk hingga tulang.

Namun, pesona gemintang di antara gelapnya malam membuatku sedikit tersenyum.

Ternyata, masih ada keindahan yang terlihat di balik kebelengguan ini.

Aku sudah berulang kali merasakan adegan yang sama, tetapi tidak pernah sedamai ini.

Melangkah pergi dari suatu kehidupan yang penuh warna, menuju hitam putih layar tak pernah semenarik ini.

Ada yang kunantikan di suatu masa, di mana keintiman fisik tak lagi menjadi prioritas.

Suatu masa, di mana kemungkinan kecil itu hadir menembus ketidakmungkinan.

Suatu masa di mana, rambut kita memutih tanda menuanya kita sebagai manusia.

Suatu masa di mana, kita duduk bersama, mengenang petualangan beberapa bulan ini dengan hati yang penuh.

Selamat mengarungi samudera tanpaku, Kawan.

Jika takdir berpihak, aku yakin, perahumu akan berlabuh di daratanku, meskipun sedikit terlambat.

Bogor, 25 Januari 2024

Empati

Aku berada di setapak persimpangan jalan yang berkabut.

Menelaah kembali berbagai rasa yang hiruk pikuk melanda batin.

Aku tak tahu arah jalan pulang, bahkan sepertinya aku sama sekali tak berniat untuk kembali.

Mungkin aku hanya bersikap realistis.

Hal yang paling menguntungkan, itu yang kuambil.

Hal yang mengisi nadi – nadi kebutuhanku, itu yang kugenggam.

Hal yang tak pernah pergi dariku, itu yang kudekap.

Sudah terlalu lama aku berada dalam lingkaran iblis.

Menjadikanku memiliki citra buruk pada sebagian kalangan.

Menjadikanku mati rasa pada berbagai substansi.

Menjadikanku memiliki sisa remah empati yang tergeletak bersama logika yang terus menggerus.

Bogor, 23 Desember 2023

Keputusan

Sebuah hal yang menentukan jalan hidup manusia.

Melalui berbagai pilihan yang tersedia di muka bumi ini.

Dengan kemungkinan hasil yang terdiri dari tiga respon; puas, biasa saja atau menyesal.

Dengan waktu yang sepersekian detik, hingga bertahun – tahun untuk menentukan.

Dengan pilihan yang menguntungkan, atau tidak sama sekali.

Dan manusia adalah tempatnya kesalahan.

Mereka bukan peramal yang bisa menentukan apakah itu keputusan yang tepat atau tidak.

Mereka hanya mengindikasikan kemungkinan yang terjadi ketika pilihan itu diterapkan.

Dan jika mereka berhasil, berarti mereka bisa membaca peluang atau beruntung.

Jika mereka tak berhasil, berarti mereka tak bisa membaca pola atau tidak beruntung.

Dan manusia, akan berhasil dan juga tidak.

Bogor, 11 November 2023