Sekumpulan anak laki – laki bermain bola di lapangan bulutangkis.
Tanpa alas kaki, bergawangkan sandal di sisi kiri dan kanan, permainan berlangsung seru dan menyenangkan.
Keringat yang membasahi, terik matahari sore yang menyilaukan, juga teriakan ambisi kemenangan membuat suasana pemukiman di sekitarnya hidup dan berwarna.
Mereka tak pernah membayangkan, satu atau dua dekade yang akan datang, mereka akan sibuk di depan laptop, menyusuri LinkedIn, berhari – hari, berbulan – bulan, bahkan bisa jadi bertahun – tahun.
Satu atau dua dekade lagi, setiap mereka akan bertanggungjawab atas kehidupan seorang wanita asing, yang dijemput atas dasar akad suci.
Satu atau dua dekade lagi, setiap mereka akan bergelut dengan drama lingkungan kerja dan pernikahan.
Satu atau dua dekade lagi, setiap mereka akan beradu klakson, bertukar polusi udara dan menua di jalan.
Satu atau dua dekade lagi, setiap mereka akan memutar otak untuk mencari pemasukan tambahan.
Satu atau dua dekade lagi, setiap mereka akan bertarung melawan pikiran dan ego masing – masing, untuk memilih antara keinginan masa kecil yang tertunda atau kebutuhan keluarga.
Satu atau dua dekade lagi, setiap mereka akan mengarungi kecamuk keresahan akan masa depan keluarga.
Aku tahu, siapa yang menjalani peran itu saat ini.
Kepada mereka di semua masa, terutama untuk yang kumiliki saat ini dan selamanya…
Kepada para manusia asing yang hanya terpisahkan oleh tirai tipis denganku.
Aku tahu, bagaimana gelisah menjalar di pikiran kalian.
Aku tahu, bagaimana kekhawatiran kalian menjadi – jadi saat pertama atau kesekian kalinya menginjak bangunan ini.
Aku tahu, bagaimana makhluk kecil yang berstatus ‘pasien’ menjadikan tubuh kalian berdiri seperti zombie; lunglai karena kurang tidur berhari – hari.
Aku tahu, bagaimana waktu demi waktu terasa begitu lama di bangsal rumah sakit.
Aku tahu, bagaimana rumah menjadi tempat yang begitu dirindukan.
Namun, kalian perlu tahu.
Aku ingin meminimalisir penularan penyakit dari dan ke ruangan ‘bagianku’.
Aku ingin meminimalisir waktu bermain pasien, sebab mereka lebih butuh banyak istirahat, agar sembuh.
Aku ingin meminimalisir waktu berinteraksiku dengan orang lain, termasuk kalian, sebab baik aku maupun kalian membutuhkan banyak istirahat, agar tetap fit dan waras dalam mengurus pasien dan mengobrol dengan penjenguk.
Aku ingin meminimalisir ‘rasa keberatan ingin pulang’ yang mungkin akan dimiliki para pasien cilik ini, akibat ‘saling’ memiliki teman baru.
Sebab, kita ditakdirkan bersebelahan di bangsal rumah sakit ini, untuk waktu yang hanya… sebentar.
Dan, aku berharap, semoga kita takkan bertemu lagi di rumah sakit manapun.
Menapakkan diri di atas surau berbilik bambu, ia merayakan setiap langkah yang sudah terjejak pada tanah basah.
Jauh, jauh sekali ia berjalan, menyusuri udara dinihari yang menusuk kulit.
Bercahayakan api dari lampu semprong, teknologi abad lampau yang sudah mengaliri berbagai kota masa kini, belum juga sempat menjamah rumah ibadah itu.
Dalam temaramnya bangunan ringkih itu, seseorang melantunkan panggilan subuh dengan suara yang begitu merdu dan menggetarkan jiwa.
“Aku tepat waktu”, ujarnya sumringah.
“Aku tepat waktu”, juga gumam seseorang yang jauhnya hampir dua ribu kilometer dari surau, yang ia ucapkan sesaat sebelum matanya terpejam, setelah lelah semalaman mengejar tenggat waktu pekerjaan.
Tumbuh, menjulang tinggi melalui berbagai nutrisi.
Yang tadinya detak jantungmu melemah, hanya sepuluh persen kemungkinan bertahan hidup, sempat tak menangis saat lahir, kini kamu sudah berlari – larian riang di rerumputan dekat rumah.
Hadir menjadi pelita hidup, kamu mengajarkan arti kesabaran dan kasih sayang yang sangat dalam.
Kagum pada setiap gen yang kamu tiru dariku, bahwa kamu benar – benar adalah versi mini diriku.
You know what? I really enjoy every breath and every second of my life with you.
Thanks for being alive, my precious gem.
I always tell our God that I’m really grateful to be your mama.