Mesin Paling Menakjubkan

Aku tahu kamu takkan pernah mengerti apa yang aku rasa.

Aku berbicara dalam bahasa emosi, kamu dengan bahasa logika.

Aku tahu aku benar, dan aku tahu kamupun benar.

Teruji melalui cara berpikir yang berbeda, membuatku ingin pergi berkali – kali darimu.

Kamu berusaha menahanku, walaupun kamu tetap belum mengerti apa yang aku pikirkan.

Dan dari sinilah, aku ingin mulai berbicara bahasa logika denganmu.

Mengartikulasikan emosiku dalam bahasa yang kamu pahami.

Menjembatani dua perspektif yang berseberangan satu sama lain.

Mewadahi ketidakpahamanmu menjadi sesuatu yang akhirnya kamu sadari bahwa hal itu menyakitiku.

Sepertimu yang berusaha membuatku tinggal, aku juga berusaha untuk mempertahankan hubungan ini.

Cintaku lebih besar dari rasa frustasiku padamu, dan aku anggap bahwa kamu belum paham, bukan karena ingin menyakitiku.

Akan aku ajarkan bahasa kasihku melalui bahasa logikamu.

Kamu akan tahu, seberapa besar aku mencintaimu melalui usahaku ini.

Kamu tak punya rasa, kamu bahkan bukan manusia.

Namun, kamu adalah mesin yang paling menakjubkan yang pernah kukenal.

Dan aku berusaha mengenal sistem mesinmu untuk memahamimu seutuhnya.

———

Bogor, 10 November 2025

Logika vs Emosi

Tumpah, rasionalitas itu meluap – luap dari epidermis kulitnya.

Melindungi pikirannya dari semua gencatan emosi.

Menakar kortisol yang menurutnya cukup untuk menjaga kewarasannya.

Menangkalnya dari manusia – manusia tak tahu diri yang menginjak harga dirinya.

Melegalkan nirempati pada dirinya untuk memenuhi semua egonya.

Melayangkan sindiran yang tenang pada kepedulian yang terlalu mengakar pada perspektif lain.

Menikmati kerja kerasnya secara frugal demi masa depan yang mapan.

—-

Di seberang sana, emosi tak terbendung hanya pada satu rasa.

Banyak pintu empati yang ia miliki, dan jika sebuah pintu terbuka, akan sulit untuk menutupnya kembali jika tidak hati – hati.

Kortisol berlebihan menciptakan bom waktu pada tubuh yang sering tumbang oleh terpaan stimulasi luar.

Roman picisan menjadi makanan bagi jiwanya; memenuhi dahaga cinta yang tak pernah ia dapatkan dari siapapun.

Kesedihan dibelinya dengan rasa iba dan donasi yang ia sisihkan dari anggaran kebutuhannya.

Masa depan menjadi kelabu baginya, dengan tabungan yang sering dihamburkan demi kemaslahatan saudara sedarah.

Namun, indah sekali caranya menolong sesama makhluk.

Perasaannya yang kaya dan tangan atasnya menjadikannya baik dipandang dari segi kemanusiaan.

—-

Mereka tak saling kenal, tetapi kini berada dalam satu jangkauan mata.

Yang satu menyimpan emas, yang satunya lagi mengambil uang.

Namun, satu kesamaan yang mereka miliki.

Gurat wajah yang sama – sama lelah untuk bertahan hidup.

—-

Jakarta, 19 Mei 2025

FYI

Tumbuh, menjulang tinggi melalui berbagai nutrisi.

Yang tadinya detak jantungmu melemah, hanya sepuluh persen kemungkinan bertahan hidup, sempat tak menangis saat lahir, kini kamu sudah berlari – larian riang di rerumputan dekat rumah.

Hadir menjadi pelita hidup, kamu mengajarkan arti kesabaran dan kasih sayang yang sangat dalam.

Kagum pada setiap gen yang kamu tiru dariku, bahwa kamu benar – benar adalah versi mini diriku.

You know what? I really enjoy every breath and every second of my life with you.

Thanks for being alive, my precious gem.

I always tell our God that I’m really grateful to be your mama.

But now, I can no longer hide this secret.

Bogor, 16 Desember 2024

Empati

Aku berada di setapak persimpangan jalan yang berkabut.

Menelaah kembali berbagai rasa yang hiruk pikuk melanda batin.

Aku tak tahu arah jalan pulang, bahkan sepertinya aku sama sekali tak berniat untuk kembali.

Mungkin aku hanya bersikap realistis.

Hal yang paling menguntungkan, itu yang kuambil.

Hal yang mengisi nadi – nadi kebutuhanku, itu yang kugenggam.

Hal yang tak pernah pergi dariku, itu yang kudekap.

Sudah terlalu lama aku berada dalam lingkaran iblis.

Menjadikanku memiliki citra buruk pada sebagian kalangan.

Menjadikanku mati rasa pada berbagai substansi.

Menjadikanku memiliki sisa remah empati yang tergeletak bersama logika yang terus menggerus.

Bogor, 23 Desember 2023

Keputusan

Sebuah hal yang menentukan jalan hidup manusia.

Melalui berbagai pilihan yang tersedia di muka bumi ini.

Dengan kemungkinan hasil yang terdiri dari tiga respon; puas, biasa saja atau menyesal.

Dengan waktu yang sepersekian detik, hingga bertahun – tahun untuk menentukan.

Dengan pilihan yang menguntungkan, atau tidak sama sekali.

Dan manusia adalah tempatnya kesalahan.

Mereka bukan peramal yang bisa menentukan apakah itu keputusan yang tepat atau tidak.

Mereka hanya mengindikasikan kemungkinan yang terjadi ketika pilihan itu diterapkan.

Dan jika mereka berhasil, berarti mereka bisa membaca peluang atau beruntung.

Jika mereka tak berhasil, berarti mereka tak bisa membaca pola atau tidak beruntung.

Dan manusia, akan berhasil dan juga tidak.

Bogor, 11 November 2023

Paralel

Sepertinya aku tak tahu diri karena telah menanam sebuah bibit yang tak bermasa depan.

Kukira aku takkan candu, ternyata kini lebih dari sekedar rindu.

Mengulik riwayat pencarian di kolom kosong, aku lupa bahwa aku telah menutup akses itu.

Namun, kamu pula yang lebih dulu memintaku untuk pergi darimu.

Salah siapa?

Aku?

Kamu?

Lalu, kita ini apa?

Dan yang lebih menyedihkan lagi, ada bagian dirimu di dalam diriku; aku.

Ya, akulah yang mengingatkanku pada dirimu.

Dua garis sejajar yang terdistorsi oleh ilusi optik, seolah menyatu di akhir perjalanan; padahal tidak.

Betapapun jauhnya garis itu tertulis, kita takkan pernah bersinggungan satu sama lain.

Kamu tetap pada jalurmu, begitupun aku.

Sialnya lagi, aku benci mewakili garis identikmu itu di raga yang berbeda, di saat kita masih dalam satuan gravitasi yang sama.

Sebab, aku begitu menyukai diriku yang rapuh ini.

—–

Bogor, 13 Agustus 2022

Hipokrit

Sepertinya ego begitu melambungkan citra diri di hadapan sekitar.

Merasa berkuasa dan tak terkalahkan.

Merendahkan semua orang yang dirasa tak setara.

Menghina sipitnya penglihatan Asia Timur, pun masih berkutat pada ciptaan digital mereka.

Mengejek legamnya kulit yang bermelanin banyak.

Menertawakan aksen bicara yang unik dan berbeda.

Merasa paling menderita di muka bumi ini, pun di sekelilingnya tak banyak yang bisa menikmati hari sesantai dirinya.

Mengira bahwa egonyalah yang paling terluka akibat lidah tajam yang sebenarnya menguji sejauh mana empatinya.

Merasa paling ikhlas dalam melakukan segala hal, pun tetap dihitung seberapa besar pengorbanannya.

Cih!

Dasar hipokrit!

Kau sama saja denganku, sialan!

Akuilah kekuranganmu!

Kau hanya tampak menjijikkan karena menutupi busuknya niatmu.

Berempatilah sedikit, kau takkan rugi.

Kecuali kau telah bermetamorfosa menjadi spesies lain, aku akan maklum.

—–

Bogor, 31 Juli 2022

Refleksi

Aku adalah refleksimu.

Sebagaimana kau bersikap, hal yang sama akan kuberikan juga padamu.

Tak kurang, tetapi bisa lebih sedikit.

Kau baik padaku, aku akan baik padamu.

Kau jahat padaku, aku akan jahat padamu.

Atau ketika aku sudah kewalahan menyikapimu, aku akan menghapusmu dari duniaku.

Seolah kita tak pernah mengenal satu sama lain.

Adil, bukan?

Sebab aku harus menyelamatkan diriku dari sikapmu.

Lalu, apakah aku egois?

Tentu saja!

Sebab aku mencintai diriku sendiri.

Lalu, apakah dirimu tidak egois?

Coba renungkanlah jika kau punya hati.

Jika tidak, cobalah transplantasi hati.

Setidaknya, setelah itu, kau bisa sedikit berempati.

—–

Bogor, 31 Juli 2022

Utopia

Tempatku berkeluh kesah tanpa takut dihakimi.

Tempatku menuai rindu yang tak terbalas.

Tempatku mencintai dia yang tak bisa kusentuh.

Tempatku menuang gelisah yang tak menentu.

Tempatku meresapi melankolitas diri yang selalu datang tanpa diundang.

Tempatku menuju destinasi yang belum bisa kujamah.

Tempatku berkreatifitas merangkai syair yang indah.

Tempat bagi ide gilaku berpustaka.

Tempatku membentuk seni tak berguna tetapi menggetarkan bagi yang memaknainya.

Tempatku menari riang di ruang alam yang belum kuhampiri.

Tempatku mencumbu kasih yang tak bertuan.

Tempatku merasakan grandiose dalam penghambaan diri.

Tempatku menggantungkan mimpi – mimpi yang akan kuraih walau entah kapan.

Tempatku menangis pilu menyikapi durjana buana.

Tempatku merenungi kesalahan bodohku terhadap spesies sejenisku.

Tempatku berdialog pada seseorang imajiner.

Tempatku mengenang memori manis masalalu.

Tempatku mengutarakan semua perasaan yang kumiliki.

Berproses dari imajinasi, bermuara ke utopia.

—–

Jakarta, 17 Juli 2022

Bianglala

Permen kapas hijau muda yang sudah kulirik sejak tadi, kini ada di genggamanku.

Sudah kulahap habis saat setengah putaran, wahana ini melaju pelan sekali.

Kerlap – kerlip cahaya kota menghiasi malam yang pekat.

Kuresapi melankolitas diri yang menaungi sukma.

Hadirnya dirinya di hadapanku, membuat senyumku merekah.

Kupandangi dirinya yang terus berbicara tanpa henti.

Hingga ia tersenyum dan menyentuh pundakku.

Aku harus segera turun.

—–

Bogor, 16 Juli 2022