Validasi

Menata kehampaan yang tak kunjung berhenti untuk singgah di hati.

Meraba validasi rasa dari berbagai simfoni kehidupan.

Mencipta berbagai seni untuk menampung semua gejolak emosi.

Menyuarakan hening dalam guratan pena.

Mengagumi spektakulernya karya Sang Maestro di ujung cakrawala.

Mengasingkan diri dari berisiknya buana.

Merancang skenario yang takkan pernah terjadi.

Bernostalgia dengan koneksi batin di masalalu.

Berdebat dengan suara – suara di pikiran.

Berusaha mengetahui apa yang dirasakan di dalam benak.

Dalam kesendirian, berulangkali, hingga tak ada lagi oksigen dalam tubuh ini.

Bogor, 17 Desember 2022

Penasaran

Mengetahui, menyaksikan dan menawarkan.

Rasa penasaran akan membuatmu merasakan ketiganya.

Bagai dua sisi dalam satu koin, ketiganya memiliki antitesis yang sangat timpang dalam satu karakter.

Dengan penasaran, kamu bisa mengetahui hal – hal yang berguna untuk hidupmu; atau yang tak bermanfaat sama sekali bagimu.

Dengan penasaran, kamu bisa menyaksikan berbagai euforia kesenangan yang membuat batinmu bahagia; atau kejadian yang membuatmu traumatik seumur hidup.

Dengan penasaran, kamu bisa menawarkan solusi yang cukup signifikan untuk berbagai masalahmu; atau kehancuran untuk memporakporandakan hidupmu yang damai.

Ada kalanya penasaran membuatmu hidupmu lebih baik, tetapi tak jarang pula menjerumuskanmu ke dalam lingkaran setan yang tak berujung.

Dan kamu tahu?

Selalu ada pilihan untuk berhenti di dalam dirimu.

Gunakanlah dengan bijak, di saat yang tepat.

Bogor, 10 Desember 2022

Hujan Asam

Formasi terbang sekumpulan burung menjadi berantakan seketika.

Satu persatu anggota mereka jatuh, diiringi dengan rintik air yang mulai membasahi bumi.

Dedaunan berlubang, ranting kecil patah, tanah tak kuat menampung derasnya air yang turun.

Sayup – sayup terdengar manusia menjerit, karena pakaian menghilang perlahan dari tubuh mereka.

Asap kecil membumbung dari permukaan kulit yang melepuh.

Binatang ternakpun tak sanggup menahan asam sulfat dan nitrat yang tumpah dari langit.

Berbagai bangunan menganga lebar pada tampak atas.

Seluruh makhluk berlarian kesana kemari, mencari sebuah naungan untuk melindungi aset mereka yang berharga; raga.

Namun, sudah terlambat.

Sudah terlambat.

Bogor, 30 November 2022

Overthinker

Kutukan dan anugerah, menyatu dalam konspirasi pikiran manusia.

Sebuah bibit ketidakadilan bagi seseorang, yang hanya ingin ‘hidup’ di dunia nyata. 

Berusaha menepis semua pemberontakan yang dibayangi oleh sisi gelapnya.

Detik demi detik ia lalui dengan belenggu batin yang menjeratnya. 

Menjadikan dunianya terlapisi kubah transparan, yang menyetrumnya setiap kali ia ingin lari dari dirinya. 

Membuatnya babak belur, dihajar oleh dunia yang ia ciptakan sendiri.

Tak ada siapapun, hanya ia seorang diri di sana. 

Meringkuk dalam kesepian yang pilu dan tak kenal ampun. 

Air matanyapun telah mengerak di setiap sudut wajahnya. 

Dari kejauhan, mulutnya terlihat bergerak pelan.

Bergumam pertanyaan yang sama berjuta kali.

“Seperti apa rasanya menjadi bodoh dan tak tahu apapun?”

“Seperti apa rasanya tak pernah berpikir?”

Bogor, 6 Oktober 2022

Impian

Alkisah, seorang lelaki dewasa merupakan seorang pelukis dan desainer grafis yang cukup hebat. Guratan tinta di atas kertas bisa menghasilkan potret wajah seorang wanita yang tak bernama. Sapuan kuasnya mampu memunculkan sosok anak kecil yang sedang bersepeda roda tiga dengan latar hijau gradasi kuning. Spanduknya yang telah dibentang akan terisi ragam tipografi ciptaannya. Kreatifitasnya sungguh luar biasa. Sangat.

Lalu, era komputer mulai datang di awal tahun 2000-an. Hampir semua desainer grafis mulai beralih dari manual ke komputer. Lelaki itu berpikir jauh, bahwa beliau harus mengikuti perkembangan zaman. Beliau harus belajar mendesain suatu karya di komputer, sebab ini merupakan mata pencahariannya.

Beranjaklah beliau dari kursinya, mendekap sang istri, dan meminta izin untuk membeli sebuah komputer. Sang istri, yang ikut membantunya mendulang rupiah, menolak mentah karena komputer sangat mahal menurutnya, dan tak ada gunanya. Namun, lelaki itu tetap membujuknya sebisa yang beliau bisa. Apa dikata, istrinya tetap pada pendiriannya. Pupus sudah kesempatannya untuk belajar komputer.

Meski begitu, usaha yang didirikannya masih tetap berjalan. Sampai pada akhirnya, beberapa tahun kemudian desain grafis manual benar – benar ditinggalkan oleh semua orang, karena waktu pengerjaannya yang cukup lama, dan tidak lebih praktis dibandingkan di komputer. Usaha lelaki itu terkena imbasnya, dan akhirnya beliau memecat satu – satunya karyawan setia yang beliau miliki. Semua karyanya tinggal kenangan.

Karena masih ada perut anak – anaknya yang harus diisi, beliau menemani istrinya berjualan makanan, berpindah – pindah lokasi, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menjual rumah, dan membeli rumah di lokasi yang cukup jauh. Sebagian uangnya dijadikan modal usaha lain.

Istrinya masih tetap berjualan makanan, lelaki itupun membuka sebuah jasa tambal ban secara daring. Namun, karena minatnya bukan di pekerjaan itu, beliau menyulap barang – barang tak berguna menjadi sebuah karya seni, yang seringkali tak rampung karena kekurangan alat atau bahan. Semua itu dilakukan sembari menunggu panggilan dari pelanggan tambal ban.

Dicibir, dihina, diremehkan. Dianggap malas, disebut miskin, gila. Semua hinaan kenyang dilahapnya. Bahkan ia hanya tertawa menanggapi semua itu, walaupun entah apa yang ada di pikirannya.

Bertahun – tahun kemudian, beliau ikut bekerja dengan orang lain membuat patung dan hiasan dinding timbul di taman rumah orang kaya, dan mendapat upah tak seberapa, tetapi sangat disyukurinya. Itupun beliau berencana menabung untuk membuat usaha sendiri, yang akhirnya rencana hanyalah rencana, sebab uangnya selalu terpakai untuk membeli beras atau sekedar uang saku anak – anaknya.

Sampai suatu hari, di usianya yang sudah senja, beliau ingin tinggal dengan anaknya yang sudah menikah di pulau seberang. Badannya sudah sakit – sakitan, berdiri saja sudah gemetar, tetapi beliau masih menyuarakan impiannya untuk berkarya lukisan timbul dan membuat warung di depan rumah.

Ternyata, dua hal itu adalah impian terakhir beliau. Ia berpulang di hari Jumat malam yang agung, di bulan kelahiran anak pertama dan keduanya, yang tak beliau temui bertahun – tahun lamanya.

Bogor, 24 September 2022

Hologram

Beberapa orang meninggalkan pertanyaan besar untukku.

Pertanyaan yang tak pernah terjawab, meskipun telah bertahun – tahun berkomunikasi satu sama lain.

Kecemasan melanda, memikirkan peluang jawaban yang tersedia di data pikiranku.

Memikirkan berbagai kemungkinan yang terjadi, seandainya satu prediksiku meleset di kemudian hari.

Waktu terus berlalu, mereka tetap tak sudi memberi jawaban.

Hingga aku lelah, aku tak lagi percaya.

Aku tak lagi mencari mereka.

Tak lagi menghiraukan mereka.

Namun, aku bernostalgia dengan mereka, dalam wujud hologram imajiner yang tersangkut di utopiaku.

Yang tercipta saat mereka memberikan kenangan indah untukku.

Tak disangka, di dunia nyata, mereka kalang kabut, dan mencariku kembali.

Dan perlahan menghilang kembali, tanpa pernah menjawab pertanyaanku yang berharga.

Sampai detik ini, aku menyerah atas jawaban yang kunantikan.

Namun, sepertinya, hologram itu akan terus menghantuiku, hingga aku berhenti bernapas.

Bogor, 22 September 2022

Tunawisma

Berpatah kata bisa menjadi pisau tajam.

Tertahannya amarah bisa menjadi bom waktu.

Heningnya ruangan bisa menjadi pegunungan es di Kutub Selatan.

Adu mulut bisa menjadi ilusi negatif di pikiran.

Tak pernah belajar bisa menjadi bumerang di masa depan.

Perpisahan bisa menjadi perapuh ikatan batin.

Konflik fisik dan verbal bisa menjadi pembunuh rasa.

Dari sebuah hunian di tengah kota, dari sebuah subjek bernama keluarga.

Dari seorang makhluk yang berakal, dari seorang anak yang penuh luka di hatinya.

Melangkah gontai, meminta pertolongan pada siapapun yang dilewatinya.

Namun, tak ada yang mendengar, tak ada yang melihat.

Rintihan dan lukanya tak kasat mata, tertutupi oleh senyum palsu dan benteng diri yang kokoh.

Semuanya terasa hambar dan pekat.

Mencekik setiap napas yang harus ia lalui untuk menyambung hidup.

Kabarnya, hingga detik ini, ia masih mencari pengganti rumah.

Menelusuri alam liar di luar sana, yang mungkin saja akan menerkamnya hidup – hidup, seperti rumahnya dulu.

Bogor, 19 September 2022