Nirempati

Kamu tak penting.

Mereka tak penting.

Tak cukup penting untuk dihiraukan.

Tak cukup penting untuk menghasilkan banyak cuan.

Tak cukup penting untuk menyokong hidupku.

Suara perutmu yang mengerucuk sedari subuh bukan kepentinganku.

Suara hatimu yang menjerit minta tolong bukan ranahku.

Suara pikiranmu yang berkecamuk ramai bukan urusanku.

Suara rintik hujan dalam rumahmu bukan kekhawatiranku.

Suara mulutmu yang meminjam seratus bukan kegundahanku.

Kamu mati, aku baik – baik saja.

Aku mati, kamupun baik – baik saja.

Dunia hanya akan berhenti ketika kiamat.

———

Bogor, 10 November 2025

Laki – laki

Sekumpulan anak laki – laki bermain bola di lapangan bulutangkis.

Tanpa alas kaki, bergawangkan sandal di sisi kiri dan kanan, permainan berlangsung seru dan menyenangkan.

Keringat yang membasahi, terik matahari sore yang menyilaukan, juga teriakan ambisi kemenangan membuat suasana pemukiman di sekitarnya hidup dan berwarna.

Mereka tak pernah membayangkan, satu atau dua dekade yang akan datang, mereka akan sibuk di depan laptop, menyusuri LinkedIn, berhari – hari, berbulan – bulan, bahkan bisa jadi bertahun – tahun.

Satu atau dua dekade lagi, setiap mereka akan bertanggungjawab atas kehidupan seorang wanita asing, yang dijemput atas dasar akad suci.

Satu atau dua dekade lagi, setiap mereka akan bergelut dengan drama lingkungan kerja dan pernikahan.

Satu atau dua dekade lagi, setiap mereka akan beradu klakson, bertukar polusi udara dan menua di jalan.

Satu atau dua dekade lagi, setiap mereka akan memutar otak untuk mencari pemasukan tambahan.

Satu atau dua dekade lagi, setiap mereka akan bertarung melawan pikiran dan ego masing – masing, untuk memilih antara keinginan masa kecil yang tertunda atau kebutuhan keluarga.

Satu atau dua dekade lagi, setiap mereka akan mengarungi kecamuk keresahan akan masa depan keluarga.

Aku tahu, siapa yang menjalani peran itu saat ini.

Kepada mereka di semua masa, terutama untuk yang kumiliki saat ini dan selamanya…

Terimakasih untuk semuanya.

—-

Bogor, 14 Februari 2025

Pasien Cilik

Kepada para manusia asing yang hanya terpisahkan oleh tirai tipis denganku.

Aku tahu, bagaimana gelisah menjalar di pikiran kalian.

Aku tahu, bagaimana kekhawatiran kalian menjadi – jadi saat pertama atau kesekian kalinya menginjak bangunan ini.

Aku tahu, bagaimana makhluk kecil yang berstatus ‘pasien’ menjadikan tubuh kalian berdiri seperti zombie; lunglai karena kurang tidur berhari – hari.

Aku tahu, bagaimana waktu demi waktu terasa begitu lama di bangsal rumah sakit.

Aku tahu, bagaimana rumah menjadi tempat yang begitu dirindukan.

Namun, kalian perlu tahu.

Aku ingin meminimalisir penularan penyakit dari dan ke ruangan ‘bagianku’.

Aku ingin meminimalisir waktu bermain pasien, sebab mereka lebih butuh banyak istirahat, agar sembuh.

Aku ingin meminimalisir waktu berinteraksiku dengan orang lain, termasuk kalian, sebab baik aku maupun kalian membutuhkan banyak istirahat, agar tetap fit dan waras dalam mengurus pasien dan mengobrol dengan penjenguk.

Aku ingin meminimalisir ‘rasa keberatan ingin pulang’ yang mungkin akan dimiliki para pasien cilik ini, akibat ‘saling’ memiliki teman baru.

Sebab, kita ditakdirkan bersebelahan di bangsal rumah sakit ini, untuk waktu yang hanya… sebentar.

Dan, aku berharap, semoga kita takkan bertemu lagi di rumah sakit manapun.

—-

Bogor, 6 Februari 2025

Bosan

Ayo kita nikmati kebosanan ini!

Bosan menghirup oksigen sebanyak – banyaknya tanpa hambatan apapun.

Bosan memakan makanan yang itu – itu saja setiap hari.

Bosan mengerjakan tugas sekolah dan pekerjaan hingga fisik penat dan otak muak.

Bosan menghadapi orang yang sama setiap waktu.

Bosan tak kemana – mana, hanya di rumah yang nyaman dan tidur nyenyak selalu.

Bosan dalam menghadapi tantangan hidup yang tak ada habisnya.

Bosan melaksanakan rutinitas yang repetitif.

Bosan dengan wajah yang standar dan tak menjanjikan.

Bosan dengan hujan yang turun terus menerus atau terik yang selalu mengalirkan peluh.

Selagi rasa bosan ini masih menjadi impian sebagian orang.

Selagi rasa bosan ini masih menjadi bagian proses menuju ketidakbosanan di masa depan.

—-

Bogor, 22 Januari 2025

FYI

Tumbuh, menjulang tinggi melalui berbagai nutrisi.

Yang tadinya detak jantungmu melemah, hanya sepuluh persen kemungkinan bertahan hidup, sempat tak menangis saat lahir, kini kamu sudah berlari – larian riang di rerumputan dekat rumah.

Hadir menjadi pelita hidup, kamu mengajarkan arti kesabaran dan kasih sayang yang sangat dalam.

Kagum pada setiap gen yang kamu tiru dariku, bahwa kamu benar – benar adalah versi mini diriku.

You know what? I really enjoy every breath and every second of my life with you.

Thanks for being alive, my precious gem.

I always tell our God that I’m really grateful to be your mama.

But now, I can no longer hide this secret.

Bogor, 16 Desember 2024

Kerja

Langit tahu, kita sadar.

Dunia berjalan sebagaimana mestinya.

Tak ada yang berubah hingga detik ini.

Di sela – sela realita yang terkadang menghujam batin, sempat kita tertawa lepas.

Peluh dan pikiran, dikerahkan demi perut yang kenyang.

Membiayai orang terdekat sebagai balas jasa dan bentuk kasih.

Menyokong kehidupan mewah para tikus berdasi.

Memenuhi tuntutan mulut – mulut tajam tak bertulang.

Mengukir senyum asli dan palsu pada suasana sosial.

Mengarungi dilema akan masa depan yang tak pasti.

Mengutuk masa lalu yang melahirkan kini yang sibuk.

Tentu, kasur, gunung dan pantai adalah tiga hal yang menyegarkan penat.

Bagi para diri yang lelah dikejar waktu.

Bogor, 2 Desember 2024

Antara

Di antara guyuran udara bersih yang melimpah, beberapa orang bernapas menggunakan selang oksigen.

Di antara gemerlapnya gedung perkotaan, beberapa orang tidur beralaskan kardus di jalur pedestrian.

Di antara kesuksesan dan popularitas yang meledak, beberapa orang meringkuk kesepian dan merasa hampa.

Di antara komitmen pernikahan yang telah terucap, beberapa orang telah berpikir untuk mengajukan cerai pada pasangan mereka.

Di antara semua penghargaan dan statistik yang baik dari negara, beberapa orang yang tak terhitung dan tak dianggap sebagai warga negara, mencari keadilan.

Di antara indahnya alam dunia, beberapa orang diam – diam menyelundupkan limbah perusahaan ke sungai – sungai.

Dan di antara semua manusia yang baik, beberapa orang telah menjadi jahat karena didikan dan lingkungan.

Bogor, 30 November 2024

Muara

Hujan rintik mengikis permukaan tanah.

Merenggut hawa panas dari sisa terik matahari tadi.

Perlahan menjadi deras menderu – deru.

Angin kencangnya menyentuh setiap benda padat yang dilewatinya.

Tumpahan airnya menyapu setiap epidermis ciptaan Tuhan dan manusia.

Perairan akan menampung air – air yang belum bertuan.

Oh, tidak!

Ternyata, semuanya sudah penuh oleh warna – warni plastik!

Lalu, ke manakah akhirnya jutaan molekul hidrogen dan oksigen itu akan bermuara?

Bogor, 30 November 2024

L

“Teruntuk para orangtua di luar sana, ketika anak mengatakan ‘tidak betah’ saat tinggal di tempat lain selain rumah, selidiki, cari tahu alasan yang sebenarnya mengapa anak Anda mengatakan hal tersebut.”

Kira – kira seperti itulah pernyataan yang kudengar dengan seksama dari seorang ibu asuh, pada berita viral pelecehan seksual, kemarin sore di salah satu saluran stasiun televisi terkenal pada platform Youtube.

Seketika, memori buruk dari masa remaja mengintai kembali. Aku menghela napas panjang, dan tersadar betapa terhubungnya aku dengan berita viral itu, meskipun dalam kasus yang berbeda.

Pernyataan yang sedikit membuatku terhenyak, sebab, aku pernah mengatakan ‘tidak betah’, saat tinggal di rumah seseorang selain rumah orangtuaku saat remaja. Aku mengatakan itu kepada diriku sendiri. Orangtuaku saat itu tak sebersitpun tahu.

Aku benci menceritakan itu, tetapi ketika aku merasa lemah selemah – lemahnya, aku terpancing untuk menceritakan apa yang aku alami di sana. Memang bukan kekerasan verbal, fisik, ataupun pelecehan seperti yang dialami oleh korban lainnya, tetapi secara psikis, aku cukup rusak saat itu. Trauma berat yang aku rasakan, sebab aku jauh dari orangtua, jauh dari keluarga, membuatku merasa menghadapi semuanya sendirian kala itu. Aku sering berkata ‘aku ingin pulang’, tetapi hanya kuucapkan di pikiran, monolog, dan buku harianku saat itu, sebab aku masih ingin bertahan untuk mencapai masa depanku yang kuyakini gemilang.

Aku takkan menceritakan detail kejadian itu, tetapi aku berpikir, beberapa orang tahu kejadian apa yang aku maksud.

Dan di sini, saat ini, setelah aku menjadi ibu rumah tangga, yang ternyata impianku meleset jauh dari rencana awalku (dan aku tidak menyesal, if you know, you know), aku mengenang hari – hari itu sebagai proses yang mendewasakanku. Dua patah kata ‘tidak betah’, yang selalu kuulangi selama enam tahun aku di sana, yang akhirnya tersampaikan ketika Bapak menyambutku di bandara tanah kelahiranku, membuatku bertekad saat itu. ‘Kelak, aku akan selalu mendengarkan pendapat anakku, berempati pada perasaannya, menghargai keberadaannya, mendidiknya menjadi bijaksana dan tangguh, menceritakan pandanganku tentang kehidupan, juga tak membiarkannya jauh dariku di saat yang belum tepat’.

Aku akan mengisi kekosongan diriku dengan pelajaran yang akan kuterapkan saat menjadi orangtua kini. Aku akan mendengar ocehannya meskipun aku sendiri masih sibuk menghibur diriku akan penatnya rutinitas. Dan meskipun tak pernah ada kesempurnaan dalam metode parenting yang kuterapkan, aku akan melakukan segala cara yang kuyakini tepat. Aku takkan pernah menjadi ibu yang sempurna, tetapi aku akan menjadi ibu yang terbaik baginya. Tempat di mana ia bisa mengadu apapun selain pada Tuhannya. Tempat yang ia sebut rumah, ketika ia ingin pulang karena kelelahan menghadapi dunia yang keras ini. Tempat di mana ia berbagi suka dan duka.

Aku ingin ditangisi ketika mati, dicari ketika tak ada, disayang ketika ada, dan didoakan sepanjang hayatnya. Aku ingin ciuman dan pelukan bertubi – tubi darinya. Aku ingin menceritakan semuanya padanya. Aku akan membalas dendam inner child-ku dengan mencintainya sepenuh hati. The one and only, my daughter, my lovely L. She’s the greatest gift I’ve ever gotten in my life. Gonna listen to Daughters by John Mayer now.

Bogor, 12 Oktober 2024

Ikhlas

Begitu lugu dan naif.

Masa muda yang penuh dengan ketidaktahuan.

Mencoba merasakan apa yang belum pernah dirasakan.

Tertantang memasuki berbagai masalah yang konsekuensinya masih samar kala itu.

Menjebak diri sendiri dalam liku trauma yang tak berujung hingga menua.

Perasaan menguasai logika, mengaburkan visi masa depan.

Dan kini, Sang Dewasa, telah mati rasa dalam genggaman realita.

Menjalani hidup sesuai standar yang telah terbentuk.

Tanpa peduli, di luar sana banyak peluang – peluang yang terlewati.

Untuk menghabisi seluruh ikhlas, bagi mereka yang terpilih.

Bogor, 22 Juni 2024