Overthinker

Kutukan dan anugerah, menyatu dalam konspirasi pikiran manusia.

Sebuah bibit ketidakadilan bagi seseorang, yang hanya ingin ‘hidup’ di dunia nyata. 

Berusaha menepis semua pemberontakan yang dibayangi oleh sisi gelapnya.

Detik demi detik ia lalui dengan belenggu batin yang menjeratnya. 

Menjadikan dunianya terlapisi kubah transparan, yang menyetrumnya setiap kali ia ingin lari dari dirinya. 

Membuatnya babak belur, dihajar oleh dunia yang ia ciptakan sendiri.

Tak ada siapapun, hanya ia seorang diri di sana. 

Meringkuk dalam kesepian yang pilu dan tak kenal ampun. 

Air matanyapun telah mengerak di setiap sudut wajahnya. 

Dari kejauhan, mulutnya terlihat bergerak pelan.

Bergumam pertanyaan yang sama berjuta kali.

“Seperti apa rasanya menjadi bodoh dan tak tahu apapun?”

“Seperti apa rasanya tak pernah berpikir?”

Bogor, 6 Oktober 2022

Impian

Alkisah, seorang lelaki dewasa merupakan seorang pelukis dan desainer grafis yang cukup hebat. Guratan tinta di atas kertas bisa menghasilkan potret wajah seorang wanita yang tak bernama. Sapuan kuasnya mampu memunculkan sosok anak kecil yang sedang bersepeda roda tiga dengan latar hijau gradasi kuning. Spanduknya yang telah dibentang akan terisi ragam tipografi ciptaannya. Kreatifitasnya sungguh luar biasa. Sangat.

Lalu, era komputer mulai datang di awal tahun 2000-an. Hampir semua desainer grafis mulai beralih dari manual ke komputer. Lelaki itu berpikir jauh, bahwa beliau harus mengikuti perkembangan zaman. Beliau harus belajar mendesain suatu karya di komputer, sebab ini merupakan mata pencahariannya.

Beranjaklah beliau dari kursinya, mendekap sang istri, dan meminta izin untuk membeli sebuah komputer. Sang istri, yang ikut membantunya mendulang rupiah, menolak mentah karena komputer sangat mahal menurutnya, dan tak ada gunanya. Namun, lelaki itu tetap membujuknya sebisa yang beliau bisa. Apa dikata, istrinya tetap pada pendiriannya. Pupus sudah kesempatannya untuk belajar komputer.

Meski begitu, usaha yang didirikannya masih tetap berjalan. Sampai pada akhirnya, beberapa tahun kemudian desain grafis manual benar – benar ditinggalkan oleh semua orang, karena waktu pengerjaannya yang cukup lama, dan tidak lebih praktis dibandingkan di komputer. Usaha lelaki itu terkena imbasnya, dan akhirnya beliau memecat satu – satunya karyawan setia yang beliau miliki. Semua karyanya tinggal kenangan.

Karena masih ada perut anak – anaknya yang harus diisi, beliau menemani istrinya berjualan makanan, berpindah – pindah lokasi, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menjual rumah, dan membeli rumah di lokasi yang cukup jauh. Sebagian uangnya dijadikan modal usaha lain.

Istrinya masih tetap berjualan makanan, lelaki itupun membuka sebuah jasa tambal ban secara daring. Namun, karena minatnya bukan di pekerjaan itu, beliau menyulap barang – barang tak berguna menjadi sebuah karya seni, yang seringkali tak rampung karena kekurangan alat atau bahan. Semua itu dilakukan sembari menunggu panggilan dari pelanggan tambal ban.

Dicibir, dihina, diremehkan. Dianggap malas, disebut miskin, gila. Semua hinaan kenyang dilahapnya. Bahkan ia hanya tertawa menanggapi semua itu, walaupun entah apa yang ada di pikirannya.

Bertahun – tahun kemudian, beliau ikut bekerja dengan orang lain membuat patung dan hiasan dinding timbul di taman rumah orang kaya, dan mendapat upah tak seberapa, tetapi sangat disyukurinya. Itupun beliau berencana menabung untuk membuat usaha sendiri, yang akhirnya rencana hanyalah rencana, sebab uangnya selalu terpakai untuk membeli beras atau sekedar uang saku anak – anaknya.

Sampai suatu hari, di usianya yang sudah senja, beliau ingin tinggal dengan anaknya yang sudah menikah di pulau seberang. Badannya sudah sakit – sakitan, berdiri saja sudah gemetar, tetapi beliau masih menyuarakan impiannya untuk berkarya lukisan timbul dan membuat warung di depan rumah.

Ternyata, dua hal itu adalah impian terakhir beliau. Ia berpulang di hari Jumat malam yang agung, di bulan kelahiran anak pertama dan keduanya, yang tak beliau temui bertahun – tahun lamanya.

Bogor, 24 September 2022

Hologram

Beberapa orang meninggalkan pertanyaan besar untukku.

Pertanyaan yang tak pernah terjawab, meskipun telah bertahun – tahun berkomunikasi satu sama lain.

Kecemasan melanda, memikirkan peluang jawaban yang tersedia di data pikiranku.

Memikirkan berbagai kemungkinan yang terjadi, seandainya satu prediksiku meleset di kemudian hari.

Waktu terus berlalu, mereka tetap tak sudi memberi jawaban.

Hingga aku lelah, aku tak lagi percaya.

Aku tak lagi mencari mereka.

Tak lagi menghiraukan mereka.

Namun, aku bernostalgia dengan mereka, dalam wujud hologram imajiner yang tersangkut di utopiaku.

Yang tercipta saat mereka memberikan kenangan indah untukku.

Tak disangka, di dunia nyata, mereka kalang kabut, dan mencariku kembali.

Dan perlahan menghilang kembali, tanpa pernah menjawab pertanyaanku yang berharga.

Sampai detik ini, aku menyerah atas jawaban yang kunantikan.

Namun, sepertinya, hologram itu akan terus menghantuiku, hingga aku berhenti bernapas.

Bogor, 22 September 2022

Tunawisma

Berpatah kata bisa menjadi pisau tajam.

Tertahannya amarah bisa menjadi bom waktu.

Heningnya ruangan bisa menjadi pegunungan es di Kutub Selatan.

Adu mulut bisa menjadi ilusi negatif di pikiran.

Tak pernah belajar bisa menjadi bumerang di masa depan.

Perpisahan bisa menjadi perapuh ikatan batin.

Konflik fisik dan verbal bisa menjadi pembunuh rasa.

Dari sebuah hunian di tengah kota, dari sebuah subjek bernama keluarga.

Dari seorang makhluk yang berakal, dari seorang anak yang penuh luka di hatinya.

Melangkah gontai, meminta pertolongan pada siapapun yang dilewatinya.

Namun, tak ada yang mendengar, tak ada yang melihat.

Rintihan dan lukanya tak kasat mata, tertutupi oleh senyum palsu dan benteng diri yang kokoh.

Semuanya terasa hambar dan pekat.

Mencekik setiap napas yang harus ia lalui untuk menyambung hidup.

Kabarnya, hingga detik ini, ia masih mencari pengganti rumah.

Menelusuri alam liar di luar sana, yang mungkin saja akan menerkamnya hidup – hidup, seperti rumahnya dulu.

Bogor, 19 September 2022

Menua

Kata orang, menua itu menyenangkan.

Beranak pinak hingga cucu cicit.

Menikmati uang pensiunan yang telah disiapkan sedari muda.

Plesiran kemanapun tempat yang diinginkan.

Namun, kata orang pula, menua itu menyedihkan.

Menunggu datangnya sakaratul maut menjemput.

Masih mengais rezeki di sela – sela jemari yang sudah berkeriput dan punggung yang membungkuk.

Mengidap berbagai penyakit yang merupakan bom waktu pola hidup buruk semasa jaya.

Tenaga sudah tak banyak.

Melihat anak cucu berebut harta warisan di depan orang yang telah renta.

Ditinggalkan anak merantau di kota orang dan tak pernah pulang.

Meratapi masa muda yang ugal – ugalan dalam bertindak.

Menyesali impian yang tak terlaksana karena tak cukup berani mengambil risiko.

Apa yang salah?

Apa yang benar?

Apakah semua orang punya kesempatan untuk menua bersama yang tercinta?

Apakah menua tentang merenungi kisah masa lalu?

Apakah menua tentang mengenang indahnya cinta pertama yang tak pernah tercapai?

Apakah menua tentang menerima kenyataan?

Apakah menua menjadikanmu dan aku pribadi yang bijak dan hangat?

Dan, apakah kita semua akan menua?

Bogor, 7 September 2022

Paradoks

Hidup ini adalah sebuah paradoks. Salah satu paradoks yang paling kuyakini adalah, seringkali aku berpikir, bahwa untuk menjadi bahagia, kita harus menderita terlebih dahulu. Melepas hal yang kita sayangi, pergi demi kebaikan diri sendiri, merasakan cacing – cacing perut yang meraung kelaparan, dicaci maki, dan banyak lagi. Entah, aku tak ingin menggeneralisir semua orang seperti itu, tetapi hingga detik ini, aku berpikir bahwa banyak yang telah kukorbankan untuk kebahagiaanku sendiri. Hubunganku, ikatan batinku, karirku, hakku, apapun telah kukorbankan sejauh ini, hingga aku tak bisa lagi menghitung berapa banyak yang kuperjuangkan untuk kebahagiaanku. Aku bahkan pernah menekan ego dalam mengambil sebuah keputusan, dan itu benar – benar mengubah jalan hidupku sejak remaja.

Aku seringkali bertanya – tanya, apa jadinya hidupku jika aku tak pernah pergi dari rumah? Apa yang akan kulakukan saat ini? Apakah aku tetap sama, atau menjadi orang yang berbeda sama sekali saat ini? Bagaimana kisahku saat ini jika aku terus bersamanya yang dulu membuatku jatuh cinta untuk pertama kalinya? Andai, andai, andai, pertanyaan sejenis terus berputar dikepalaku.

Bukan, bukan aku tak bersyukur dengan keadaanku saat ini. Hanya saja, isi kepalaku dipenuhi pertanyaan – pertanyaan yang takkan pernah terjawab oleh siapapun dan kapanpun. Kemungkinan – kemungkinan yang takkan pernah bisa diperagakan di layer yang berbeda. Aku pusing sendiri memikirkannya. Namun, aku tak bisa menghentikannya. Dan aku sangat tahu bahwa pilihan – pilihanku sejak dulu merupakan takdir bagiku. Jadi, apapun keadaanku sekarang, akulah yang memegang kendali untuk berada di atas panggung ini. Akulah yang secara sadar memilih jalan ini.

Lalu, apakah aku bahagia sekarang? Jawabannya, ya dan tidak. Ya, karena aku bangga dengan diriku, aku sudah sejauh ini melangkah, dengan peluh, kekecewaan, kesedihan, dan keikhlasan yang kuhadapi. Aku sudah terlalu kuat untuk berdiri sendiri. Aku punya keluarga kecil yang sempurna, yang menyempurnakan kekurangan keluarga di masa kecilku yang penuh luka sana sini.

Tidak, karena luka – luka tadi membekas terlalu dalam, walaupun aku tak lagi membenci dan sudah memaafkan mereka, tetapi beberapa kali dalam setahun, luka itu muncul lagi dalam ingatan, mimpi, bahkan benda – benda yang berhubungan. Sebab, alam bawah sadarku telah merekam jejak luka itu hingga tersimpan secara tak sadar seperti kotak Pandora, yang bisa menganga setiap saat, bahkan dikala aku sedang tak ingin memikirkannya.

Kamu tahu? Aku sering menangis atau tertawa sendiri di sudut ruangan, mendengarkan lagu – lagu yang membuat pikiranku membara ke utopia yang kuciptakan. Apakah aku gila? Mungkin bagi orang normal, aku memang setengah gila, tetapi bagi orang gila, aku adalah orang terwaras yang pernah ada. Aku masih bisa membedakan realita dan fantasi. Dan lagi, utopia ini adalah tempat yang paling aku senangi di dunia ini. Dimana semua hal yang tak mungkin aku dapatkan di dunia nyata, bisa aku ciptakan di dunia fantasiku. Aku bisa menciptakan berbagai skenario, di berbagai latar tempat, waktu bahkan nuansa apapun. Akulah pemeran utama dalam utopiaku.

Aku ingat dulu, saat pertama kali cinta menyentuhku. Untuk pertama kalinya saat itu, aku melihat warna di dunia ini. Hingga akhirnya, sebuah kenyataan pahit menamparku berkali – kali. Perang batin menyelimuti diri. Hingga akhirnya, logikaku menang. Aku memilih pergi darinya, sebelum terlalu lama terjalin kenangan dengannya. Namun, ternyata aku salah. Belum lama, tapi dalamnya sudah mencapai ambang batas. Butuh waktu bertahun – tahun untuk bisa mengikhlaskannya.

Lagi, terkadang logika juga memaksa kita untuk melepaskan sesuatu yang kita inginkan, tetapi tak kita butuhkan. Terkadang pula, perasaan juga memaksa kita untuk menerima perlakuan tak menyenangkan dari orang lain, agar tak menjadi masalah di kemudian hari. Lihatlah, betapa setiap lini kehidupan memaksa kita untuk turut andil, meskipun betapa kerasnya kita menolak. Apa yang terjadi jika kita menolak? Kita juga akan dilanda masalah, karena terlena dengan keputusan yang semrawut dan gegabah. Keputusan yang bijak saja masih menimbulkan luka, apalagi dengan keputusan yang sembarangan? Musibahlah yang terjadi. Kamu pasti tahu maksudku. Serba salah ya.

Semakin dewasapun, manusia berusaha terlihat tegar dari luar, walaupun dirinya dipenuhi dengan luka – luka yang menganga dan masih basah. Sangat perih. Sebuah harga diri yang tak terbayarkan, dengan menambal luka – luka tadi dengan senyum palsu, hura – hura, niat menjatuhkan orang lain, cinta dari orang terdekat. Ah, sesekali, ingin kukatakan, betapa manusia memang makhluk yang munafik. Manusia adalah tempat berpadunya sumber kebajikan dan kejahatan dalam satu raga. Tak ada yang benar – benar baik, tak ada pula yang benar – benar buruk. Lagi – lagi, paradoks.

Mungkin tulisan ini akan membuatmu pesimis tentang hidup, tetapi lihatlah dari perspektif lain. Betapa kita menghakimi seseorang, disitu pula kita sebenarnya tak berbeda jauh dengannya. Sebab manusia tak luput dari kesalahan, sekecil apapun itu. Aku sendiri sering menghakimi orang lain, hanya saja metodenya yang berbeda – beda, tergantung situasi, dan tak semua baik di pandangan orang lain. Kebenaran itu relatif, bukan? Tergantung siapa dan bagaimana ia melihat.

Ah, sepertinya tulisan ini telah melebar kemana – mana, walaupun intisarinya masih sama; paradoks. Aku tahu, semua ini hanya ada dalam kepalaku, seperti yang pernah dikatakan oleh seseorang yang sama persis sepertiku (dan aku merindukannya, selalu). Namun, sampai detik ini, aku masih bertanya – tanya, apa arti kebahagiaan sebenarnya? Adakah manusia yang selalu merasa bahagia, hingga ia merasa bosan dan menghancurkan dirinya hanya untuk merasakan sedih dan sakit? Adakah manusia yang selalu sedih, hingga cara apapun tak mampu lagi menutupi luka – luka di hatinya?

Makna bahagia masih begitu ambigu bagiku, walaupun aku telah menikmati lingkup permukaannya. Namun, jauh di dalam hatiku, aku memiliki banyak lubang di hati, yang kulapisi persona tegar dari ragaku. Dan di dunia ini, ada milyaran orang yang sama sepertiku.

Jadi, apakah aku harus ‘menderita lagi’, agar aku bisa ‘bahagia lagi’?

Bogor, 28 Agustus 2022

Pemburu Harta Karun

Jutaan kilometer telah dilalui oleh betisnya yang keras.

Menyusuri pelosok hingga pesisir, memanjakan hasrat berburunya yang kian hari kian mengganas menggerogoti setiap tetes darahnya.

Dengan seragam kebanggaannya bertahun – tahun, dengan gagah pula ia mendeteksi keberadaan harta karun di setiap sudut bumi ini.

Tak ayal, ransel yang ia jinjing menjadi wadah pembawa emas dan berlian yang ia temukan.

Kerap luput dari pandangan, iapun merangkap sebagai ahli sandi di beberapa level lapangan.

Setiap radar berbunyi, ia tak sungkan untuk menggali apa yang ada di sana, walaupun tak jarang ia kecewa dengan hasilnya.

Pulang dalam kurun waktu yang cukup lama, walaupun sebatas perak dan perunggu, ia tetap pulang tak dengan tangan hampa.

Sebab, cacing – cacing di beberapa perut lain sudah bergerilya, meracau menginginkan sebutir nasi.

Bogor, 28 Agustus 2022

Paralel

Sepertinya aku tak tahu diri karena telah menanam sebuah bibit yang tak bermasa depan.

Kukira aku takkan candu, ternyata kini lebih dari sekedar rindu.

Mengulik riwayat pencarian di kolom kosong, aku lupa bahwa aku telah menutup akses itu.

Namun, kamu pula yang lebih dulu memintaku untuk pergi darimu.

Salah siapa?

Aku?

Kamu?

Lalu, kita ini apa?

Dan yang lebih menyedihkan lagi, ada bagian dirimu di dalam diriku; aku.

Ya, akulah yang mengingatkanku pada dirimu.

Dua garis sejajar yang terdistorsi oleh ilusi optik, seolah menyatu di akhir perjalanan; padahal tidak.

Betapapun jauhnya garis itu tertulis, kita takkan pernah bersinggungan satu sama lain.

Kamu tetap pada jalurmu, begitupun aku.

Sialnya lagi, aku benci mewakili garis identikmu itu di raga yang berbeda, di saat kita masih dalam satuan gravitasi yang sama.

Sebab, aku begitu menyukai diriku yang rapuh ini.

—–

Bogor, 13 Agustus 2022

Hipokrit

Sepertinya ego begitu melambungkan citra diri di hadapan sekitar.

Merasa berkuasa dan tak terkalahkan.

Merendahkan semua orang yang dirasa tak setara.

Menghina sipitnya penglihatan Asia Timur, pun masih berkutat pada ciptaan digital mereka.

Mengejek legamnya kulit yang bermelanin banyak.

Menertawakan aksen bicara yang unik dan berbeda.

Merasa paling menderita di muka bumi ini, pun di sekelilingnya tak banyak yang bisa menikmati hari sesantai dirinya.

Mengira bahwa egonyalah yang paling terluka akibat lidah tajam yang sebenarnya menguji sejauh mana empatinya.

Merasa paling ikhlas dalam melakukan segala hal, pun tetap dihitung seberapa besar pengorbanannya.

Cih!

Dasar hipokrit!

Kau sama saja denganku, sialan!

Akuilah kekuranganmu!

Kau hanya tampak menjijikkan karena menutupi busuknya niatmu.

Berempatilah sedikit, kau takkan rugi.

Kecuali kau telah bermetamorfosa menjadi spesies lain, aku akan maklum.

—–

Bogor, 31 Juli 2022

Refleksi

Aku adalah refleksimu.

Sebagaimana kau bersikap, hal yang sama akan kuberikan juga padamu.

Tak kurang, tetapi bisa lebih sedikit.

Kau baik padaku, aku akan baik padamu.

Kau jahat padaku, aku akan jahat padamu.

Atau ketika aku sudah kewalahan menyikapimu, aku akan menghapusmu dari duniaku.

Seolah kita tak pernah mengenal satu sama lain.

Adil, bukan?

Sebab aku harus menyelamatkan diriku dari sikapmu.

Lalu, apakah aku egois?

Tentu saja!

Sebab aku mencintai diriku sendiri.

Lalu, apakah dirimu tidak egois?

Coba renungkanlah jika kau punya hati.

Jika tidak, cobalah transplantasi hati.

Setidaknya, setelah itu, kau bisa sedikit berempati.

—–

Bogor, 31 Juli 2022