
Dunia berhenti bergerak.
Namun, seorang lelaki tetap berjalan menuju bangku di sudut pantai.
Ia muak melihat fenomena itu.
Selalu saja ia sendiri saat semua hal mematung.
Selalu saja ia mengobrol dengan seorang makhluk tak berjiwa ketika dunia kumat.
Bahkan, air lautpun sudah lama tak ribut.
Rindu, ia kembali menghampiri perempuan yang menjadi pemeran utama di dunia itu.
Dipeluknya, diciumnya, dijahilinya.
Berharap jiwa perempuan itu segera kembali ke tubuh yang ada di depannya, di dunia yang tak ada itu.
Terlalu lama menetap di realita, tidakkah perempuan itu merindukannya sebagai rumah?
—
Bogor, 15 September 2022