Rumah

Terabaikan, tersingkirkan, terdistraksi.

Rajut – rajut jaring tipis tanpa pondasi mulai menghiasi udara.

Jutaan partikel debu mulai menghinggapi permukaan.

Sinar menyelundupkan kecepatannya untuk mulai memudarkan para warna.

Temarampun semakin mengusir ramai yang membahagiakan.

Dan sebentar lagi, akan ada tamu yang tak diinginkan.

Mencuri beberapa harta yang nilainya tak terhingga.

Meninggalkan jejak darah yang hampir mengering di lantai kayu.

Pada sebuah rumah, yang belum lama ditinggal mati penghuninya.

Bogor, 4 Maret 2024

00 : 00

Aku adalah salah satu penguasa malam.

Menaklukan gelap dengan berbagai imaji yang dalam.

Menelusuri benih – benih ramalan yang mungkin terang atau kelam.

Mengabdikan diri untuk mencari kebenaran secara khatam.

Aku adalah salah satu penguasa malam.

Kuselami jejaring data yang tercantum pada nuansa alam.

Kutempuh perjalanan emosional yang cukup menghentakkanku secara tajam.

Kutuangkan tinta pemikiran melalui bahasa yang mengecam.

Aku adalah salah satu penguasa malam…

Yang terasingkan oleh matahari yang tak kunjung terpejam.

Bogor, 23 Februari 2024

Masa

Langit malam semakin pekat dan tak bergeming.

Aku terbaring di hamparan pasir yang luas dan kering.

Dingin, pilu menusuk hingga tulang.

Namun, pesona gemintang di antara gelapnya malam membuatku sedikit tersenyum.

Ternyata, masih ada keindahan yang terlihat di balik kebelengguan ini.

Aku sudah berulang kali merasakan adegan yang sama, tetapi tidak pernah sedamai ini.

Melangkah pergi dari suatu kehidupan yang penuh warna, menuju hitam putih layar tak pernah semenarik ini.

Ada yang kunantikan di suatu masa, di mana keintiman fisik tak lagi menjadi prioritas.

Suatu masa, di mana kemungkinan kecil itu hadir menembus ketidakmungkinan.

Suatu masa di mana, rambut kita memutih tanda menuanya kita sebagai manusia.

Suatu masa di mana, kita duduk bersama, mengenang petualangan beberapa bulan ini dengan hati yang penuh.

Selamat mengarungi samudera tanpaku, Kawan.

Jika takdir berpihak, aku yakin, perahumu akan berlabuh di daratanku, meskipun sedikit terlambat.

Bogor, 25 Januari 2024

Hujan

Jikalau Tuan tak keberatan, maukah bersama kita menari di bawah guyuran hujan Januari?

Menikmati elemen angin dan air yang menyatu dalam simfoni langit kelabu.

Menertawakan pedih – pedih yang menggerus kebatinan.

Kita hitung rintik hujan yang berusaha membasahi luka kehidupan.

Kita layangkan gugatan pada cakrawala yang hendak mengeluarkan pelangi di sudut bumi.

Terimakasih, sebab akhirnya hari yang selalu terlupakan menjadi istimewa.

Selamat menua, untuk kita berdua.

Bogor, 16 Januari 2024

Bintang

Sayup – sayup terdengar auman harimau.

Gemerisik dedaunan yang saling menyapa dengan angin.

Langit hitam pekat mewarnai.

Bersenda gurau dan bercerita tentang apa saja yang terbersit di pikiran.

Bersama mengendarai mobil hitam tua yang suaranya tak lagi halus.

Memakan sedikit demi sedikit persediaan bekal yang telah disiapkan.

Berhenti berkali – kali untuk mengistirahatkan penatnya tubuh.

Petualangan ini adalah rencana besar yang telah digaungkan sejak lama.

Pencarian lokasi dengan polusi cahaya yang minim menjadi tujuan utama.

Dengan memberanikan diri menelusuri Jalan Raya Lintas Sumatera yang mayoritas diiringi hutan rimba.

Demi melihat bintang beragam warna yang pernah terlihat dulu di masa kecilmu.

Untuk membuktikan padaku bahwa pemandangan itu benar – benar menakjubkan.

Untuk melengkapi kepahitan hidup kita dengan kebahagiaan yang kita ciptakan sendiri.

Untuk merayakan waktu bersama kita yang sampai detik ini tetap bertahan sekalipun diterpa badai emosional.

Bogor, 26 Desember 2023

Empati

Aku berada di setapak persimpangan jalan yang berkabut.

Menelaah kembali berbagai rasa yang hiruk pikuk melanda batin.

Aku tak tahu arah jalan pulang, bahkan sepertinya aku sama sekali tak berniat untuk kembali.

Mungkin aku hanya bersikap realistis.

Hal yang paling menguntungkan, itu yang kuambil.

Hal yang mengisi nadi – nadi kebutuhanku, itu yang kugenggam.

Hal yang tak pernah pergi dariku, itu yang kudekap.

Sudah terlalu lama aku berada dalam lingkaran iblis.

Menjadikanku memiliki citra buruk pada sebagian kalangan.

Menjadikanku mati rasa pada berbagai substansi.

Menjadikanku memiliki sisa remah empati yang tergeletak bersama logika yang terus menggerus.

Bogor, 23 Desember 2023

Keputusan

Sebuah hal yang menentukan jalan hidup manusia.

Melalui berbagai pilihan yang tersedia di muka bumi ini.

Dengan kemungkinan hasil yang terdiri dari tiga respon; puas, biasa saja atau menyesal.

Dengan waktu yang sepersekian detik, hingga bertahun – tahun untuk menentukan.

Dengan pilihan yang menguntungkan, atau tidak sama sekali.

Dan manusia adalah tempatnya kesalahan.

Mereka bukan peramal yang bisa menentukan apakah itu keputusan yang tepat atau tidak.

Mereka hanya mengindikasikan kemungkinan yang terjadi ketika pilihan itu diterapkan.

Dan jika mereka berhasil, berarti mereka bisa membaca peluang atau beruntung.

Jika mereka tak berhasil, berarti mereka tak bisa membaca pola atau tidak beruntung.

Dan manusia, akan berhasil dan juga tidak.

Bogor, 11 November 2023

Benang Merah

Di sini aku, berusaha menjalin benang merah yang melintang pada beberapa pola.

Begitu kusut dan melilit, hampir mustahil untuk mengurainya.

Banyak jalur dengan ratusan simpul, mungkin harus kumulai dari yang termudah.

Kugunakan jarum untuk membantu, tetapi ternyata jariku harus terluka beberapa kali.

Mengapa begitu sulit melihat jalur benang ini?

Mengapa harus mengorbankan kulitku untuk menyelesaikannya semuanya?

Apa aku menyerah saja dan kubuang benang merah itu bersama sisa darahku di sana?

Atau… haruskah kugunakan gunting agar lebih praktis untuk menyelesaikannya?

Bogor, 23 September 2023

Kita

Apakah kita mengenal satu sama lain untuk mengadu siapa yang paling malang?

Apakah kita terlalu menyedihkan untuk memiliki akhir yang bahagia?

Apakah kita terlalu paradoks untuk berada di satu jalur yang konsisten?

Apakah kita terlalu tergesa – gesa dalam menyangkal takdir yang ada?

Apakah kita terlalu munafik untuk menjalani kehidupan di dua poros?

Apakah kita terlalu hina untuk menjalani hidup yang normal?

Apakah kita terlalu gila untuk merasakan warasnya jiwa?

Apakah kita hanya menunggu sesuatu yang sebenarnya hanya ilusi belaka?

Apakah kita hanya menciptakan berbagai adegan yang akan menjadi bahagia yang getir di masa depan?

Apakah kita terlalu delusional dalam mengungkapkan hal yang tak seharusnya ada?

Apakah kita hanya saling menampung beban satu sama lain hingga akhirnya salah satu terbunuh dengan beban itu?

Apakah kita akan terus berlanjut hingga titik darah penghabisan?

Apakah kita akan tidur bersama di liang lahat yang bersebelahan?

Bogor, 14 September 2023

Jakarta

Gelapnya malam dan terangnya gedung tinggi Ibukota menghiasi akhir hari yang berangin lembut.

Sekumpulan pekerja yang sengaja pulang larut, menghibur diri melalui secangkir kopi dan tawa canda teman sejawat.

Lalu lalang kendaraan mulai menyepi di penghujung dua puluh empat jam.

Sederet komunitas beraktifitas menjelang pergantian tanggal.

Tunawisma tidur beratapkan langit di bangku – bangku taman.

Kereta terakhir menjadi batas waktu perpindahan manusia Jabodetabek.

Setiap stasiun tersinggahi dan menjadi tempat pertama dan terakhir pertemuan hari.

Berjalan menyusuri kota yang begitu hidup di tengah malam.

Menapaki kembali jejak yang pernah terukir di masa lampau.

Mereka ulang adegan manis yang terekam di memori.

Meresapi euforia rasa yang menggebu – gebu, lagi dan lagi.

Bersamanya, yang kini sedang menggenggam tanganku erat di rangkulannya.

Bogor, 29 Agustus 2023