Teman Masa Kecil

Aku berharap kamu adalah teman masa kecilku.

Memiliki lebih banyak kenangan daripada ini.

Memiliki lebih banyak waktu bersama daripada ini.

Memiliki cerita norak yang kita alami saat remaja.

Namun, aku tahu, Tuhan itu adil.

Tanpamu menjadi itu, aku saja sudah tak bisa menahan rindu.

Apalagi jika kamu memang teman masa kecilku, aku mungkin takkan bisa hidup tanpamu.

Bogor, 15 Oktober 2025

Bosan

Ayo kita nikmati kebosanan ini!

Bosan menghirup oksigen sebanyak – banyaknya tanpa hambatan apapun.

Bosan memakan makanan yang itu – itu saja setiap hari.

Bosan mengerjakan tugas sekolah dan pekerjaan hingga fisik penat dan otak muak.

Bosan menghadapi orang yang sama setiap waktu.

Bosan tak kemana – mana, hanya di rumah yang nyaman dan tidur nyenyak selalu.

Bosan dalam menghadapi tantangan hidup yang tak ada habisnya.

Bosan melaksanakan rutinitas yang repetitif.

Bosan dengan wajah yang standar dan tak menjanjikan.

Bosan dengan hujan yang turun terus menerus atau terik yang selalu mengalirkan peluh.

Selagi rasa bosan ini masih menjadi impian sebagian orang.

Selagi rasa bosan ini masih menjadi bagian proses menuju ketidakbosanan di masa depan.

—-

Bogor, 22 Januari 2025

Kisah

Suatu kisah tersembunyi di balik hingar bingar panggung sandiwara.

Yang tak dipahami oleh pihak manapun, termasuk tokoh yang menjalankannya.

Apa, bagaimana, mengapa, siapa, dan kapan, semuanya hanyalah keabuan di antara hitam dan putih.

Terasa nyata, tetapi tidak juga, di ambang batas kewajaran peraturan yang telah ditetapkan.

Tak pernah tertuang dalam layar lebar, lagu, apalagi hingga diakui dunia, tidak, atau mungkinkah?

Semua hanya tertuang pada tulisan yang bahkan tak dimengerti oleh salah satu pelaku.

Sampai akhirnya, kebaikan meredupkan kisah itu.

Hingga yang tersisa hanyalah gelombang memori berwarna – warni dalam transmisi otak.

—-

Bogor, 13 Januari 2025

Tepat Waktu

Menapakkan diri di atas surau berbilik bambu, ia merayakan setiap langkah yang sudah terjejak pada tanah basah.

Jauh, jauh sekali ia berjalan, menyusuri udara dinihari yang menusuk kulit.

Bercahayakan api dari lampu semprong, teknologi abad lampau yang sudah mengaliri berbagai kota masa kini, belum juga sempat menjamah rumah ibadah itu.

Dalam temaramnya bangunan ringkih itu, seseorang melantunkan panggilan subuh dengan suara yang begitu merdu dan menggetarkan jiwa.

“Aku tepat waktu”, ujarnya sumringah.

Aku tepat waktu”, juga gumam seseorang yang jauhnya hampir dua ribu kilometer dari surau, yang ia ucapkan sesaat sebelum matanya terpejam, setelah lelah semalaman mengejar tenggat waktu pekerjaan.

—-

Bogor, 8 Januari 2025

FYI

Tumbuh, menjulang tinggi melalui berbagai nutrisi.

Yang tadinya detak jantungmu melemah, hanya sepuluh persen kemungkinan bertahan hidup, sempat tak menangis saat lahir, kini kamu sudah berlari – larian riang di rerumputan dekat rumah.

Hadir menjadi pelita hidup, kamu mengajarkan arti kesabaran dan kasih sayang yang sangat dalam.

Kagum pada setiap gen yang kamu tiru dariku, bahwa kamu benar – benar adalah versi mini diriku.

You know what? I really enjoy every breath and every second of my life with you.

Thanks for being alive, my precious gem.

I always tell our God that I’m really grateful to be your mama.

But now, I can no longer hide this secret.

Bogor, 16 Desember 2024

Kerja

Langit tahu, kita sadar.

Dunia berjalan sebagaimana mestinya.

Tak ada yang berubah hingga detik ini.

Di sela – sela realita yang terkadang menghujam batin, sempat kita tertawa lepas.

Peluh dan pikiran, dikerahkan demi perut yang kenyang.

Membiayai orang terdekat sebagai balas jasa dan bentuk kasih.

Menyokong kehidupan mewah para tikus berdasi.

Memenuhi tuntutan mulut – mulut tajam tak bertulang.

Mengukir senyum asli dan palsu pada suasana sosial.

Mengarungi dilema akan masa depan yang tak pasti.

Mengutuk masa lalu yang melahirkan kini yang sibuk.

Tentu, kasur, gunung dan pantai adalah tiga hal yang menyegarkan penat.

Bagi para diri yang lelah dikejar waktu.

Bogor, 2 Desember 2024

Antara

Di antara guyuran udara bersih yang melimpah, beberapa orang bernapas menggunakan selang oksigen.

Di antara gemerlapnya gedung perkotaan, beberapa orang tidur beralaskan kardus di jalur pedestrian.

Di antara kesuksesan dan popularitas yang meledak, beberapa orang meringkuk kesepian dan merasa hampa.

Di antara komitmen pernikahan yang telah terucap, beberapa orang telah berpikir untuk mengajukan cerai pada pasangan mereka.

Di antara semua penghargaan dan statistik yang baik dari negara, beberapa orang yang tak terhitung dan tak dianggap sebagai warga negara, mencari keadilan.

Di antara indahnya alam dunia, beberapa orang diam – diam menyelundupkan limbah perusahaan ke sungai – sungai.

Dan di antara semua manusia yang baik, beberapa orang telah menjadi jahat karena didikan dan lingkungan.

Bogor, 30 November 2024

Muara

Hujan rintik mengikis permukaan tanah.

Merenggut hawa panas dari sisa terik matahari tadi.

Perlahan menjadi deras menderu – deru.

Angin kencangnya menyentuh setiap benda padat yang dilewatinya.

Tumpahan airnya menyapu setiap epidermis ciptaan Tuhan dan manusia.

Perairan akan menampung air – air yang belum bertuan.

Oh, tidak!

Ternyata, semuanya sudah penuh oleh warna – warni plastik!

Lalu, ke manakah akhirnya jutaan molekul hidrogen dan oksigen itu akan bermuara?

Bogor, 30 November 2024

Api

Sinar itu menyala dengan sangat terang.

Menjalar pada kegelapan yang mengitarinya.

Meluluhlantakkan beton, baja dan kayu di dekatnya.

Membumihanguskan saksi bisu perjalanan hidup makhluk di dalamnya.

Menelan banyak sel yang berusaha mempertahankan nyawa.

Mengudarakan kepul hitam yang mematikan pada ruangan tertutup.

Memecah kepadatan tekstur menjadi partikel debu.

Sudah tak ada lagi celah untuk oksigen.

Perlahan tersulut, lalu membara di antara kerumunan sinar.

Akhirnya, dunia menjadi legam tak bercahaya.

Bogor, 6 Oktober 2024

Ikhlas

Begitu lugu dan naif.

Masa muda yang penuh dengan ketidaktahuan.

Mencoba merasakan apa yang belum pernah dirasakan.

Tertantang memasuki berbagai masalah yang konsekuensinya masih samar kala itu.

Menjebak diri sendiri dalam liku trauma yang tak berujung hingga menua.

Perasaan menguasai logika, mengaburkan visi masa depan.

Dan kini, Sang Dewasa, telah mati rasa dalam genggaman realita.

Menjalani hidup sesuai standar yang telah terbentuk.

Tanpa peduli, di luar sana banyak peluang – peluang yang terlewati.

Untuk menghabisi seluruh ikhlas, bagi mereka yang terpilih.

Bogor, 22 Juni 2024