Overthinker

Kutukan dan anugerah, menyatu dalam konspirasi pikiran manusia.

Sebuah bibit ketidakadilan bagi seseorang, yang hanya ingin ‘hidup’ di dunia nyata. 

Berusaha menepis semua pemberontakan yang dibayangi oleh sisi gelapnya.

Detik demi detik ia lalui dengan belenggu batin yang menjeratnya. 

Menjadikan dunianya terlapisi kubah transparan, yang menyetrumnya setiap kali ia ingin lari dari dirinya. 

Membuatnya babak belur, dihajar oleh dunia yang ia ciptakan sendiri.

Tak ada siapapun, hanya ia seorang diri di sana. 

Meringkuk dalam kesepian yang pilu dan tak kenal ampun. 

Air matanyapun telah mengerak di setiap sudut wajahnya. 

Dari kejauhan, mulutnya terlihat bergerak pelan.

Bergumam pertanyaan yang sama berjuta kali.

“Seperti apa rasanya menjadi bodoh dan tak tahu apapun?”

“Seperti apa rasanya tak pernah berpikir?”

Bogor, 6 Oktober 2022

Jejak Roti

Haruskah aku meninggalkan potongan roti di tanah tandus ini?

Membiarkanmu mengikuti jejakku ke gurun tak bernama?

Walaupun aku tahu itu mustahil terjadi, aku sedikit berharap kamu datang.

Setidaknya, sapalah aku dari fatamorgana.

Bawakanku air dari oasis yang tak pernah ada.

Penuhilah dahaga rinduku pada ilusi dirimu di pustaka pikiranku.

Jadi, bersediakah kamu?

Atau kumakan saja remah jejak ini?

Bogor, 4 Oktober 2022

Hologram

Beberapa orang meninggalkan pertanyaan besar untukku.

Pertanyaan yang tak pernah terjawab, meskipun telah bertahun – tahun berkomunikasi satu sama lain.

Kecemasan melanda, memikirkan peluang jawaban yang tersedia di data pikiranku.

Memikirkan berbagai kemungkinan yang terjadi, seandainya satu prediksiku meleset di kemudian hari.

Waktu terus berlalu, mereka tetap tak sudi memberi jawaban.

Hingga aku lelah, aku tak lagi percaya.

Aku tak lagi mencari mereka.

Tak lagi menghiraukan mereka.

Namun, aku bernostalgia dengan mereka, dalam wujud hologram imajiner yang tersangkut di utopiaku.

Yang tercipta saat mereka memberikan kenangan indah untukku.

Tak disangka, di dunia nyata, mereka kalang kabut, dan mencariku kembali.

Dan perlahan menghilang kembali, tanpa pernah menjawab pertanyaanku yang berharga.

Sampai detik ini, aku menyerah atas jawaban yang kunantikan.

Namun, sepertinya, hologram itu akan terus menghantuiku, hingga aku berhenti bernapas.

Bogor, 22 September 2022

Tunawisma

Berpatah kata bisa menjadi pisau tajam.

Tertahannya amarah bisa menjadi bom waktu.

Heningnya ruangan bisa menjadi pegunungan es di Kutub Selatan.

Adu mulut bisa menjadi ilusi negatif di pikiran.

Tak pernah belajar bisa menjadi bumerang di masa depan.

Perpisahan bisa menjadi perapuh ikatan batin.

Konflik fisik dan verbal bisa menjadi pembunuh rasa.

Dari sebuah hunian di tengah kota, dari sebuah subjek bernama keluarga.

Dari seorang makhluk yang berakal, dari seorang anak yang penuh luka di hatinya.

Melangkah gontai, meminta pertolongan pada siapapun yang dilewatinya.

Namun, tak ada yang mendengar, tak ada yang melihat.

Rintihan dan lukanya tak kasat mata, tertutupi oleh senyum palsu dan benteng diri yang kokoh.

Semuanya terasa hambar dan pekat.

Mencekik setiap napas yang harus ia lalui untuk menyambung hidup.

Kabarnya, hingga detik ini, ia masih mencari pengganti rumah.

Menelusuri alam liar di luar sana, yang mungkin saja akan menerkamnya hidup – hidup, seperti rumahnya dulu.

Bogor, 19 September 2022

Imajinasi

Dunia berhenti bergerak.

Namun, seorang lelaki tetap berjalan menuju bangku di sudut pantai.

Ia muak melihat fenomena itu.

Selalu saja ia sendiri saat semua hal mematung.

Selalu saja ia mengobrol dengan seorang makhluk tak berjiwa ketika dunia kumat.

Bahkan, air lautpun sudah lama tak ribut.

Rindu, ia kembali menghampiri perempuan yang menjadi pemeran utama di dunia itu.

Dipeluknya, diciumnya, dijahilinya.

Berharap jiwa perempuan itu segera kembali ke tubuh yang ada di depannya, di dunia yang tak ada itu.

Terlalu lama menetap di realita, tidakkah perempuan itu merindukannya sebagai rumah?

Bogor, 15 September 2022

Menua

Kata orang, menua itu menyenangkan.

Beranak pinak hingga cucu cicit.

Menikmati uang pensiunan yang telah disiapkan sedari muda.

Plesiran kemanapun tempat yang diinginkan.

Namun, kata orang pula, menua itu menyedihkan.

Menunggu datangnya sakaratul maut menjemput.

Masih mengais rezeki di sela – sela jemari yang sudah berkeriput dan punggung yang membungkuk.

Mengidap berbagai penyakit yang merupakan bom waktu pola hidup buruk semasa jaya.

Tenaga sudah tak banyak.

Melihat anak cucu berebut harta warisan di depan orang yang telah renta.

Ditinggalkan anak merantau di kota orang dan tak pernah pulang.

Meratapi masa muda yang ugal – ugalan dalam bertindak.

Menyesali impian yang tak terlaksana karena tak cukup berani mengambil risiko.

Apa yang salah?

Apa yang benar?

Apakah semua orang punya kesempatan untuk menua bersama yang tercinta?

Apakah menua tentang merenungi kisah masa lalu?

Apakah menua tentang mengenang indahnya cinta pertama yang tak pernah tercapai?

Apakah menua tentang menerima kenyataan?

Apakah menua menjadikanmu dan aku pribadi yang bijak dan hangat?

Dan, apakah kita semua akan menua?

Bogor, 7 September 2022

Pemburu Harta Karun

Jutaan kilometer telah dilalui oleh betisnya yang keras.

Menyusuri pelosok hingga pesisir, memanjakan hasrat berburunya yang kian hari kian mengganas menggerogoti setiap tetes darahnya.

Dengan seragam kebanggaannya bertahun – tahun, dengan gagah pula ia mendeteksi keberadaan harta karun di setiap sudut bumi ini.

Tak ayal, ransel yang ia jinjing menjadi wadah pembawa emas dan berlian yang ia temukan.

Kerap luput dari pandangan, iapun merangkap sebagai ahli sandi di beberapa level lapangan.

Setiap radar berbunyi, ia tak sungkan untuk menggali apa yang ada di sana, walaupun tak jarang ia kecewa dengan hasilnya.

Pulang dalam kurun waktu yang cukup lama, walaupun sebatas perak dan perunggu, ia tetap pulang tak dengan tangan hampa.

Sebab, cacing – cacing di beberapa perut lain sudah bergerilya, meracau menginginkan sebutir nasi.

Bogor, 28 Agustus 2022

Panggung

Kacau!

Dia begitu gugup setelah melihat ratusan wajah para tamunya.

Sebagai tuan rumah, ia bertekad memberikan kepuasan yang maksimal kepada mereka yang telah membayarnya di muka.

Sorot cahaya putih menambah nuansa megah pada kulitnya yang kuning langsat.

Haru biru bergemuruh didadanya!

Dan diamlah!

Mari kita dengar suara jernihnya yang perlahan ingin mendobrak tangguhnya peredam suara!

Diiringi simfoni orkestra yang membius siapapun yang ada di ruangan akbar itu, dan menciptakan kekayaan batin bagi telinga penikmatnya.

Kombinasi keduanya merasuki jiwa – jiwa yang tak berjiwa.

Menceritakan kisah kehidupan seorang manusia yang mati oleh racun lidah yang tak kenal moral.

Diakhiri dengan falseto yang membuat tangis pecah membahana.

Sorak – sorai menggelegar di segala penjuru atas sebuah karya seni yang luar biasa.

Riuh tepuk tangan yang tulus terdengar atas sebuah panggung yang eksklusif.

Lalu, cahaya meredup, tirai ditutup perlahan.

Kini, sisa kemegahan tadi bersenandung dalam gemerincing koin disakunya.

Bogor, 25 Agustus 2022