Teman Masa Kecil

Aku berharap kamu adalah teman masa kecilku.

Memiliki lebih banyak kenangan daripada ini.

Memiliki lebih banyak waktu bersama daripada ini.

Memiliki cerita norak yang kita alami saat remaja.

Namun, aku tahu, Tuhan itu adil.

Tanpamu menjadi itu, aku saja sudah tak bisa menahan rindu.

Apalagi jika kamu memang teman masa kecilku, aku mungkin takkan bisa hidup tanpamu.

Bogor, 15 Oktober 2025

L

“Teruntuk para orangtua di luar sana, ketika anak mengatakan ‘tidak betah’ saat tinggal di tempat lain selain rumah, selidiki, cari tahu alasan yang sebenarnya mengapa anak Anda mengatakan hal tersebut.”

Kira – kira seperti itulah pernyataan yang kudengar dengan seksama dari seorang ibu asuh, pada berita viral pelecehan seksual, kemarin sore di salah satu saluran stasiun televisi terkenal pada platform Youtube.

Seketika, memori buruk dari masa remaja mengintai kembali. Aku menghela napas panjang, dan tersadar betapa terhubungnya aku dengan berita viral itu, meskipun dalam kasus yang berbeda.

Pernyataan yang sedikit membuatku terhenyak, sebab, aku pernah mengatakan ‘tidak betah’, saat tinggal di rumah seseorang selain rumah orangtuaku saat remaja. Aku mengatakan itu kepada diriku sendiri. Orangtuaku saat itu tak sebersitpun tahu.

Aku benci menceritakan itu, tetapi ketika aku merasa lemah selemah – lemahnya, aku terpancing untuk menceritakan apa yang aku alami di sana. Memang bukan kekerasan verbal, fisik, ataupun pelecehan seperti yang dialami oleh korban lainnya, tetapi secara psikis, aku cukup rusak saat itu. Trauma berat yang aku rasakan, sebab aku jauh dari orangtua, jauh dari keluarga, membuatku merasa menghadapi semuanya sendirian kala itu. Aku sering berkata ‘aku ingin pulang’, tetapi hanya kuucapkan di pikiran, monolog, dan buku harianku saat itu, sebab aku masih ingin bertahan untuk mencapai masa depanku yang kuyakini gemilang.

Aku takkan menceritakan detail kejadian itu, tetapi aku berpikir, beberapa orang tahu kejadian apa yang aku maksud.

Dan di sini, saat ini, setelah aku menjadi ibu rumah tangga, yang ternyata impianku meleset jauh dari rencana awalku (dan aku tidak menyesal, if you know, you know), aku mengenang hari – hari itu sebagai proses yang mendewasakanku. Dua patah kata ‘tidak betah’, yang selalu kuulangi selama enam tahun aku di sana, yang akhirnya tersampaikan ketika Bapak menyambutku di bandara tanah kelahiranku, membuatku bertekad saat itu. ‘Kelak, aku akan selalu mendengarkan pendapat anakku, berempati pada perasaannya, menghargai keberadaannya, mendidiknya menjadi bijaksana dan tangguh, menceritakan pandanganku tentang kehidupan, juga tak membiarkannya jauh dariku di saat yang belum tepat’.

Aku akan mengisi kekosongan diriku dengan pelajaran yang akan kuterapkan saat menjadi orangtua kini. Aku akan mendengar ocehannya meskipun aku sendiri masih sibuk menghibur diriku akan penatnya rutinitas. Dan meskipun tak pernah ada kesempurnaan dalam metode parenting yang kuterapkan, aku akan melakukan segala cara yang kuyakini tepat. Aku takkan pernah menjadi ibu yang sempurna, tetapi aku akan menjadi ibu yang terbaik baginya. Tempat di mana ia bisa mengadu apapun selain pada Tuhannya. Tempat yang ia sebut rumah, ketika ia ingin pulang karena kelelahan menghadapi dunia yang keras ini. Tempat di mana ia berbagi suka dan duka.

Aku ingin ditangisi ketika mati, dicari ketika tak ada, disayang ketika ada, dan didoakan sepanjang hayatnya. Aku ingin ciuman dan pelukan bertubi – tubi darinya. Aku ingin menceritakan semuanya padanya. Aku akan membalas dendam inner child-ku dengan mencintainya sepenuh hati. The one and only, my daughter, my lovely L. She’s the greatest gift I’ve ever gotten in my life. Gonna listen to Daughters by John Mayer now.

Bogor, 12 Oktober 2024

Hujan

Jikalau Tuan tak keberatan, maukah bersama kita menari di bawah guyuran hujan Januari?

Menikmati elemen angin dan air yang menyatu dalam simfoni langit kelabu.

Menertawakan pedih – pedih yang menggerus kebatinan.

Kita hitung rintik hujan yang berusaha membasahi luka kehidupan.

Kita layangkan gugatan pada cakrawala yang hendak mengeluarkan pelangi di sudut bumi.

Terimakasih, sebab akhirnya hari yang selalu terlupakan menjadi istimewa.

Selamat menua, untuk kita berdua.

Bogor, 16 Januari 2024

Bintang

Sayup – sayup terdengar auman harimau.

Gemerisik dedaunan yang saling menyapa dengan angin.

Langit hitam pekat mewarnai.

Bersenda gurau dan bercerita tentang apa saja yang terbersit di pikiran.

Bersama mengendarai mobil hitam tua yang suaranya tak lagi halus.

Memakan sedikit demi sedikit persediaan bekal yang telah disiapkan.

Berhenti berkali – kali untuk mengistirahatkan penatnya tubuh.

Petualangan ini adalah rencana besar yang telah digaungkan sejak lama.

Pencarian lokasi dengan polusi cahaya yang minim menjadi tujuan utama.

Dengan memberanikan diri menelusuri Jalan Raya Lintas Sumatera yang mayoritas diiringi hutan rimba.

Demi melihat bintang beragam warna yang pernah terlihat dulu di masa kecilmu.

Untuk membuktikan padaku bahwa pemandangan itu benar – benar menakjubkan.

Untuk melengkapi kepahitan hidup kita dengan kebahagiaan yang kita ciptakan sendiri.

Untuk merayakan waktu bersama kita yang sampai detik ini tetap bertahan sekalipun diterpa badai emosional.

Bogor, 26 Desember 2023

Benang Merah

Di sini aku, berusaha menjalin benang merah yang melintang pada beberapa pola.

Begitu kusut dan melilit, hampir mustahil untuk mengurainya.

Banyak jalur dengan ratusan simpul, mungkin harus kumulai dari yang termudah.

Kugunakan jarum untuk membantu, tetapi ternyata jariku harus terluka beberapa kali.

Mengapa begitu sulit melihat jalur benang ini?

Mengapa harus mengorbankan kulitku untuk menyelesaikannya semuanya?

Apa aku menyerah saja dan kubuang benang merah itu bersama sisa darahku di sana?

Atau… haruskah kugunakan gunting agar lebih praktis untuk menyelesaikannya?

Bogor, 23 September 2023

Simalingkar

Menjulang tinggi, sekolah dan rumah petak yang tersusun di atas tanah Perumnas, kuabadikan sebagai memori yang menetap.

Jalanan lebar yang penuh dengan bebatuan, mobil – mobil yang besar, kusemayamkan sebagai ingatan yang terpatri.

Sungai yang lebar, jernih dan asri, kuanggap sebagai kenangan tak terlupakan.

Orang – orang dewasa yang tinggi, gemuk, dan juga gagah, kuterima sebagai wujud masalalu.

Teman – teman yang lalu lalang di hadapan diriku, kuakui sebagai euforia nostalgia.

Lalu, perlahan, bangunan di sana terasa kecil dan sesak.

Jalanan terasa sempit, mobilpun tak sebesar dulu.

Sungai terasa kering.

Orang dewasa juga terasa tua dan ringkih.

Teman – teman terasa berbeda, realistis dan selektif.

Aku sadar, detik telah menggantikan masa.

Akulah yang saat ini dipandang oleh anak – anak sebagai orang yang tinggi, besar dan kuat.

Dengan berlalunya enambelas tahun, tempat itu sedikit berubah.

Begitupun aku, yang tak bisa kabur dari gerusan waktu.

Bogor, 11 Juni 2023

Hidup dan Mati

Aku berdiri di atas banyak kesalahan.

Memuja hal yang seharusnya tak kupikirkan sedetikpun.

Mati rasa pada hal yang seharusnya aku pelihara.

Berbagai paradoksikal rasa yang aku sendiri lelah menjalaninya.

Mimpi – mimpi malamkupun merupakan pelarian atas rumitnya jalan pikiranku.

Aku sakit, hanya saja aku masih bisa tidur nyenyak akibat kelelahan.

Aku sakit, hanya saja aku masih bisa makan dua kali sehari.

Sesehat itu fisikku untuk pikiran – pikiran yang membunuhku.

Bagaimana lagi aku harus mengenyahkan gundah yang perlahan mematikanku?

Bagaimana lagi aku harus menghidupkan rasa yang seharusnya tumbuh subur saat ini?

Aku hidup dan mati, di tempat yang tak seharusnya.

Namun, aku tak berdaya untuk menukarnya.

Seakan – akan, aku harus hidup dengan ini dalam waktu yang lama.

Aku lelah.

Aku lelah.

Bogor, 17 Februari 2023

Impian

Alkisah, seorang lelaki dewasa merupakan seorang pelukis dan desainer grafis yang cukup hebat. Guratan tinta di atas kertas bisa menghasilkan potret wajah seorang wanita yang tak bernama. Sapuan kuasnya mampu memunculkan sosok anak kecil yang sedang bersepeda roda tiga dengan latar hijau gradasi kuning. Spanduknya yang telah dibentang akan terisi ragam tipografi ciptaannya. Kreatifitasnya sungguh luar biasa. Sangat.

Lalu, era komputer mulai datang di awal tahun 2000-an. Hampir semua desainer grafis mulai beralih dari manual ke komputer. Lelaki itu berpikir jauh, bahwa beliau harus mengikuti perkembangan zaman. Beliau harus belajar mendesain suatu karya di komputer, sebab ini merupakan mata pencahariannya.

Beranjaklah beliau dari kursinya, mendekap sang istri, dan meminta izin untuk membeli sebuah komputer. Sang istri, yang ikut membantunya mendulang rupiah, menolak mentah karena komputer sangat mahal menurutnya, dan tak ada gunanya. Namun, lelaki itu tetap membujuknya sebisa yang beliau bisa. Apa dikata, istrinya tetap pada pendiriannya. Pupus sudah kesempatannya untuk belajar komputer.

Meski begitu, usaha yang didirikannya masih tetap berjalan. Sampai pada akhirnya, beberapa tahun kemudian desain grafis manual benar – benar ditinggalkan oleh semua orang, karena waktu pengerjaannya yang cukup lama, dan tidak lebih praktis dibandingkan di komputer. Usaha lelaki itu terkena imbasnya, dan akhirnya beliau memecat satu – satunya karyawan setia yang beliau miliki. Semua karyanya tinggal kenangan.

Karena masih ada perut anak – anaknya yang harus diisi, beliau menemani istrinya berjualan makanan, berpindah – pindah lokasi, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menjual rumah, dan membeli rumah di lokasi yang cukup jauh. Sebagian uangnya dijadikan modal usaha lain.

Istrinya masih tetap berjualan makanan, lelaki itupun membuka sebuah jasa tambal ban secara daring. Namun, karena minatnya bukan di pekerjaan itu, beliau menyulap barang – barang tak berguna menjadi sebuah karya seni, yang seringkali tak rampung karena kekurangan alat atau bahan. Semua itu dilakukan sembari menunggu panggilan dari pelanggan tambal ban.

Dicibir, dihina, diremehkan. Dianggap malas, disebut miskin, gila. Semua hinaan kenyang dilahapnya. Bahkan ia hanya tertawa menanggapi semua itu, walaupun entah apa yang ada di pikirannya.

Bertahun – tahun kemudian, beliau ikut bekerja dengan orang lain membuat patung dan hiasan dinding timbul di taman rumah orang kaya, dan mendapat upah tak seberapa, tetapi sangat disyukurinya. Itupun beliau berencana menabung untuk membuat usaha sendiri, yang akhirnya rencana hanyalah rencana, sebab uangnya selalu terpakai untuk membeli beras atau sekedar uang saku anak – anaknya.

Sampai suatu hari, di usianya yang sudah senja, beliau ingin tinggal dengan anaknya yang sudah menikah di pulau seberang. Badannya sudah sakit – sakitan, berdiri saja sudah gemetar, tetapi beliau masih menyuarakan impiannya untuk berkarya lukisan timbul dan membuat warung di depan rumah.

Ternyata, dua hal itu adalah impian terakhir beliau. Ia berpulang di hari Jumat malam yang agung, di bulan kelahiran anak pertama dan keduanya, yang tak beliau temui bertahun – tahun lamanya.

Bogor, 24 September 2022

Tunawisma

Berpatah kata bisa menjadi pisau tajam.

Tertahannya amarah bisa menjadi bom waktu.

Heningnya ruangan bisa menjadi pegunungan es di Kutub Selatan.

Adu mulut bisa menjadi ilusi negatif di pikiran.

Tak pernah belajar bisa menjadi bumerang di masa depan.

Perpisahan bisa menjadi perapuh ikatan batin.

Konflik fisik dan verbal bisa menjadi pembunuh rasa.

Dari sebuah hunian di tengah kota, dari sebuah subjek bernama keluarga.

Dari seorang makhluk yang berakal, dari seorang anak yang penuh luka di hatinya.

Melangkah gontai, meminta pertolongan pada siapapun yang dilewatinya.

Namun, tak ada yang mendengar, tak ada yang melihat.

Rintihan dan lukanya tak kasat mata, tertutupi oleh senyum palsu dan benteng diri yang kokoh.

Semuanya terasa hambar dan pekat.

Mencekik setiap napas yang harus ia lalui untuk menyambung hidup.

Kabarnya, hingga detik ini, ia masih mencari pengganti rumah.

Menelusuri alam liar di luar sana, yang mungkin saja akan menerkamnya hidup – hidup, seperti rumahnya dulu.

Bogor, 19 September 2022

Bianglala

Permen kapas hijau muda yang sudah kulirik sejak tadi, kini ada di genggamanku.

Sudah kulahap habis saat setengah putaran, wahana ini melaju pelan sekali.

Kerlap – kerlip cahaya kota menghiasi malam yang pekat.

Kuresapi melankolitas diri yang menaungi sukma.

Hadirnya dirinya di hadapanku, membuat senyumku merekah.

Kupandangi dirinya yang terus berbicara tanpa henti.

Hingga ia tersenyum dan menyentuh pundakku.

Aku harus segera turun.

—–

Bogor, 16 Juli 2022