“Teruntuk para orangtua di luar sana, ketika anak mengatakan ‘tidak betah’ saat tinggal di tempat lain selain rumah, selidiki, cari tahu alasan yang sebenarnya mengapa anak Anda mengatakan hal tersebut.”
Kira – kira seperti itulah pernyataan yang kudengar dengan seksama dari seorang ibu asuh, pada berita viral pelecehan seksual, kemarin sore di salah satu saluran stasiun televisi terkenal pada platform Youtube.
Seketika, memori buruk dari masa remaja mengintai kembali. Aku menghela napas panjang, dan tersadar betapa terhubungnya aku dengan berita viral itu, meskipun dalam kasus yang berbeda.
Pernyataan yang sedikit membuatku terhenyak, sebab, aku pernah mengatakan ‘tidak betah’, saat tinggal di rumah seseorang selain rumah orangtuaku saat remaja. Aku mengatakan itu kepada diriku sendiri. Orangtuaku saat itu tak sebersitpun tahu.
Aku benci menceritakan itu, tetapi ketika aku merasa lemah selemah – lemahnya, aku terpancing untuk menceritakan apa yang aku alami di sana. Memang bukan kekerasan verbal, fisik, ataupun pelecehan seperti yang dialami oleh korban lainnya, tetapi secara psikis, aku cukup rusak saat itu. Trauma berat yang aku rasakan, sebab aku jauh dari orangtua, jauh dari keluarga, membuatku merasa menghadapi semuanya sendirian kala itu. Aku sering berkata ‘aku ingin pulang’, tetapi hanya kuucapkan di pikiran, monolog, dan buku harianku saat itu, sebab aku masih ingin bertahan untuk mencapai masa depanku yang kuyakini gemilang.
Aku takkan menceritakan detail kejadian itu, tetapi aku berpikir, beberapa orang tahu kejadian apa yang aku maksud.
Dan di sini, saat ini, setelah aku menjadi ibu rumah tangga, yang ternyata impianku meleset jauh dari rencana awalku (dan aku tidak menyesal, if you know, you know), aku mengenang hari – hari itu sebagai proses yang mendewasakanku. Dua patah kata ‘tidak betah’, yang selalu kuulangi selama enam tahun aku di sana, yang akhirnya tersampaikan ketika Bapak menyambutku di bandara tanah kelahiranku, membuatku bertekad saat itu. ‘Kelak, aku akan selalu mendengarkan pendapat anakku, berempati pada perasaannya, menghargai keberadaannya, mendidiknya menjadi bijaksana dan tangguh, menceritakan pandanganku tentang kehidupan, juga tak membiarkannya jauh dariku di saat yang belum tepat’.
Aku akan mengisi kekosongan diriku dengan pelajaran yang akan kuterapkan saat menjadi orangtua kini. Aku akan mendengar ocehannya meskipun aku sendiri masih sibuk menghibur diriku akan penatnya rutinitas. Dan meskipun tak pernah ada kesempurnaan dalam metode parenting yang kuterapkan, aku akan melakukan segala cara yang kuyakini tepat. Aku takkan pernah menjadi ibu yang sempurna, tetapi aku akan menjadi ibu yang terbaik baginya. Tempat di mana ia bisa mengadu apapun selain pada Tuhannya. Tempat yang ia sebut rumah, ketika ia ingin pulang karena kelelahan menghadapi dunia yang keras ini. Tempat di mana ia berbagi suka dan duka.
Aku ingin ditangisi ketika mati, dicari ketika tak ada, disayang ketika ada, dan didoakan sepanjang hayatnya. Aku ingin ciuman dan pelukan bertubi – tubi darinya. Aku ingin menceritakan semuanya padanya. Aku akan membalas dendam inner child-ku dengan mencintainya sepenuh hati. The one and only, my daughter, my lovely L. She’s the greatest gift I’ve ever gotten in my life. Gonna listen to Daughters by John Mayer now.
Alkisah, seorang lelaki dewasa merupakan seorang pelukis dan desainer grafis yang cukup hebat. Guratan tinta di atas kertas bisa menghasilkan potret wajah seorang wanita yang tak bernama. Sapuan kuasnya mampu memunculkan sosok anak kecil yang sedang bersepeda roda tiga dengan latar hijau gradasi kuning. Spanduknya yang telah dibentang akan terisi ragam tipografi ciptaannya. Kreatifitasnya sungguh luar biasa. Sangat.
Lalu, era komputer mulai datang di awal tahun 2000-an. Hampir semua desainer grafis mulai beralih dari manual ke komputer. Lelaki itu berpikir jauh, bahwa beliau harus mengikuti perkembangan zaman. Beliau harus belajar mendesain suatu karya di komputer, sebab ini merupakan mata pencahariannya.
Beranjaklah beliau dari kursinya, mendekap sang istri, dan meminta izin untuk membeli sebuah komputer. Sang istri, yang ikut membantunya mendulang rupiah, menolak mentah karena komputer sangat mahal menurutnya, dan tak ada gunanya. Namun, lelaki itu tetap membujuknya sebisa yang beliau bisa. Apa dikata, istrinya tetap pada pendiriannya. Pupus sudah kesempatannya untuk belajar komputer.
Meski begitu, usaha yang didirikannya masih tetap berjalan. Sampai pada akhirnya, beberapa tahun kemudian desain grafis manual benar – benar ditinggalkan oleh semua orang, karena waktu pengerjaannya yang cukup lama, dan tidak lebih praktis dibandingkan di komputer. Usaha lelaki itu terkena imbasnya, dan akhirnya beliau memecat satu – satunya karyawan setia yang beliau miliki. Semua karyanya tinggal kenangan.
Karena masih ada perut anak – anaknya yang harus diisi, beliau menemani istrinya berjualan makanan, berpindah – pindah lokasi, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menjual rumah, dan membeli rumah di lokasi yang cukup jauh. Sebagian uangnya dijadikan modal usaha lain.
Istrinya masih tetap berjualan makanan, lelaki itupun membuka sebuah jasa tambal ban secara daring. Namun, karena minatnya bukan di pekerjaan itu, beliau menyulap barang – barang tak berguna menjadi sebuah karya seni, yang seringkali tak rampung karena kekurangan alat atau bahan. Semua itu dilakukan sembari menunggu panggilan dari pelanggan tambal ban.
Dicibir, dihina, diremehkan. Dianggap malas, disebut miskin, gila. Semua hinaan kenyang dilahapnya. Bahkan ia hanya tertawa menanggapi semua itu, walaupun entah apa yang ada di pikirannya.
Bertahun – tahun kemudian, beliau ikut bekerja dengan orang lain membuat patung dan hiasan dinding timbul di taman rumah orang kaya, dan mendapat upah tak seberapa, tetapi sangat disyukurinya. Itupun beliau berencana menabung untuk membuat usaha sendiri, yang akhirnya rencana hanyalah rencana, sebab uangnya selalu terpakai untuk membeli beras atau sekedar uang saku anak – anaknya.
Sampai suatu hari, di usianya yang sudah senja, beliau ingin tinggal dengan anaknya yang sudah menikah di pulau seberang. Badannya sudah sakit – sakitan, berdiri saja sudah gemetar, tetapi beliau masih menyuarakan impiannya untuk berkarya lukisan timbul dan membuat warung di depan rumah.
Ternyata, dua hal itu adalah impian terakhir beliau. Ia berpulang di hari Jumat malam yang agung, di bulan kelahiran anak pertama dan keduanya, yang tak beliau temui bertahun – tahun lamanya.