Bintang

Sayup – sayup terdengar auman harimau.

Gemerisik dedaunan yang saling menyapa dengan angin.

Langit hitam pekat mewarnai.

Bersenda gurau dan bercerita tentang apa saja yang terbersit di pikiran.

Bersama mengendarai mobil hitam tua yang suaranya tak lagi halus.

Memakan sedikit demi sedikit persediaan bekal yang telah disiapkan.

Berhenti berkali – kali untuk mengistirahatkan penatnya tubuh.

Petualangan ini adalah rencana besar yang telah digaungkan sejak lama.

Pencarian lokasi dengan polusi cahaya yang minim menjadi tujuan utama.

Dengan memberanikan diri menelusuri Jalan Raya Lintas Sumatera yang mayoritas diiringi hutan rimba.

Demi melihat bintang beragam warna yang pernah terlihat dulu di masa kecilmu.

Untuk membuktikan padaku bahwa pemandangan itu benar – benar menakjubkan.

Untuk melengkapi kepahitan hidup kita dengan kebahagiaan yang kita ciptakan sendiri.

Untuk merayakan waktu bersama kita yang sampai detik ini tetap bertahan sekalipun diterpa badai emosional.

Bogor, 26 Desember 2023

Empati

Aku berada di setapak persimpangan jalan yang berkabut.

Menelaah kembali berbagai rasa yang hiruk pikuk melanda batin.

Aku tak tahu arah jalan pulang, bahkan sepertinya aku sama sekali tak berniat untuk kembali.

Mungkin aku hanya bersikap realistis.

Hal yang paling menguntungkan, itu yang kuambil.

Hal yang mengisi nadi – nadi kebutuhanku, itu yang kugenggam.

Hal yang tak pernah pergi dariku, itu yang kudekap.

Sudah terlalu lama aku berada dalam lingkaran iblis.

Menjadikanku memiliki citra buruk pada sebagian kalangan.

Menjadikanku mati rasa pada berbagai substansi.

Menjadikanku memiliki sisa remah empati yang tergeletak bersama logika yang terus menggerus.

Bogor, 23 Desember 2023

Keputusan

Sebuah hal yang menentukan jalan hidup manusia.

Melalui berbagai pilihan yang tersedia di muka bumi ini.

Dengan kemungkinan hasil yang terdiri dari tiga respon; puas, biasa saja atau menyesal.

Dengan waktu yang sepersekian detik, hingga bertahun – tahun untuk menentukan.

Dengan pilihan yang menguntungkan, atau tidak sama sekali.

Dan manusia adalah tempatnya kesalahan.

Mereka bukan peramal yang bisa menentukan apakah itu keputusan yang tepat atau tidak.

Mereka hanya mengindikasikan kemungkinan yang terjadi ketika pilihan itu diterapkan.

Dan jika mereka berhasil, berarti mereka bisa membaca peluang atau beruntung.

Jika mereka tak berhasil, berarti mereka tak bisa membaca pola atau tidak beruntung.

Dan manusia, akan berhasil dan juga tidak.

Bogor, 11 November 2023

Benang Merah

Di sini aku, berusaha menjalin benang merah yang melintang pada beberapa pola.

Begitu kusut dan melilit, hampir mustahil untuk mengurainya.

Banyak jalur dengan ratusan simpul, mungkin harus kumulai dari yang termudah.

Kugunakan jarum untuk membantu, tetapi ternyata jariku harus terluka beberapa kali.

Mengapa begitu sulit melihat jalur benang ini?

Mengapa harus mengorbankan kulitku untuk menyelesaikannya semuanya?

Apa aku menyerah saja dan kubuang benang merah itu bersama sisa darahku di sana?

Atau… haruskah kugunakan gunting agar lebih praktis untuk menyelesaikannya?

Bogor, 23 September 2023

Kita

Apakah kita mengenal satu sama lain untuk mengadu siapa yang paling malang?

Apakah kita terlalu menyedihkan untuk memiliki akhir yang bahagia?

Apakah kita terlalu paradoks untuk berada di satu jalur yang konsisten?

Apakah kita terlalu tergesa – gesa dalam menyangkal takdir yang ada?

Apakah kita terlalu munafik untuk menjalani kehidupan di dua poros?

Apakah kita terlalu hina untuk menjalani hidup yang normal?

Apakah kita terlalu gila untuk merasakan warasnya jiwa?

Apakah kita hanya menunggu sesuatu yang sebenarnya hanya ilusi belaka?

Apakah kita hanya menciptakan berbagai adegan yang akan menjadi bahagia yang getir di masa depan?

Apakah kita terlalu delusional dalam mengungkapkan hal yang tak seharusnya ada?

Apakah kita hanya saling menampung beban satu sama lain hingga akhirnya salah satu terbunuh dengan beban itu?

Apakah kita akan terus berlanjut hingga titik darah penghabisan?

Apakah kita akan tidur bersama di liang lahat yang bersebelahan?

Bogor, 14 September 2023

Jakarta

Gelapnya malam dan terangnya gedung tinggi Ibukota menghiasi akhir hari yang berangin lembut.

Sekumpulan pekerja yang sengaja pulang larut, menghibur diri melalui secangkir kopi dan tawa canda teman sejawat.

Lalu lalang kendaraan mulai menyepi di penghujung dua puluh empat jam.

Sederet komunitas beraktifitas menjelang pergantian tanggal.

Tunawisma tidur beratapkan langit di bangku – bangku taman.

Kereta terakhir menjadi batas waktu perpindahan manusia Jabodetabek.

Setiap stasiun tersinggahi dan menjadi tempat pertama dan terakhir pertemuan hari.

Berjalan menyusuri kota yang begitu hidup di tengah malam.

Menapaki kembali jejak yang pernah terukir di masa lampau.

Mereka ulang adegan manis yang terekam di memori.

Meresapi euforia rasa yang menggebu – gebu, lagi dan lagi.

Bersamanya, yang kini sedang menggenggam tanganku erat di rangkulannya.

Bogor, 29 Agustus 2023

Misteri

Lihatlah, betapa lembaran buku manapun takkan cukup untuk menceritakan semua peristiwa di semesta ini.

Buku hanyalah sebuah fiksi yang berakhir dengan misteri.

Misteri dari lapisan waktu yang telah terpatri pada kehidupan.

Misteri tentang kelanjutan cerita, atau kemungkinan yang terjadi di masa depan.

Misteri tentang ketidaksempurnaan penelitian terdahulu, yang akan menjadi bahan penelitian baru.

Misteri tentang imajinasi yang tak terbatas dari jutaan bongkahan isi kepala.

Bahkan, masa lalu juga meninggalkan misteri yang tak sedikit.

Tak lupa, ‘sekarang’ adalah momentum kini yang dijalankan oleh semua makhluk.

Dengan segala hiruk pikuk buana maupun sel yang mengaktifkan kehidupan, manusia menjalani waktu yang tersisa dalam hidupnya.

Setiap detik yang telah atau akan dijalani, mengandung misteri yang tak terelakkan.

Yang mungkin akan atau tidak pernah terungkap.

Bogor, 21 Agustus 2023

Beda

Sebuah dunia.

Dengan ukuran yang sama antara tanah dan langit.

Dengan kecepatan udara melintas di titik angka yang sama, memberi napas pada setiap makhluk yang dilewati.

Dengan sejarah yang sama, lahir para bayi di tahun yang sama.

Dengan kisah yang sama, dengan kopi pahit yang terpaksa diminum karena penasaran.

Dengan burung beo yang sama, melintas di kala senja yang cerah.

Dengan tawa yang sama, dengan taraf candaan di luar nalar yang persis sama.

Dengan orang yang sama, dengan lantunan gitar yang membuat malam menjadi penuh arti.

Dengan pertanyaan bodoh yang sama, tetapi dengan jawaban yang berbeda.

Setelah dua puluh delapan tahun, akhirnya mereka dipersatukan oleh takdir.

Dalam sebuah dunia, dengan dimensi yang berbeda.

Bogor, 11 Agustus 2023

Tawa

Tak peduli seberapa banyak warna di taman itu, tetap kelabu yang terlihat.

Tetap dengan nuansa kelam, terpaku pada sudut cakrawala yang entah di mana ujungnya.

Sudah lama tak hidup, lama sekali.

Kotak itu usang bagai benda antik yang sudah seharusnya ada di tempat sampah.

Salah?

Tidak.

Hanya saja, frekuensi itu terlalu lemah untuk menerima sinyal di sekitarnya.

Sebab semuanya sama.

Membosankan dan kaku.

Butuh sinyal yang meledak – ledak, berenergi, konstan, aneh dan berbeda, untuk mengaktifkan kembali radar yang telah lama pupus di tanah buana.

Memang, pernah lewat sepintas lalu.

Sayangnya, tak menetap, hanya memberi kejutan manis di depan pintu.

Lalu, sampai kapan semuanya harus kelabu seperti ini?

Sampai kapan tawa ini terpendam di alam bawah sadar?

Bogor, 2 Agustus 2023

Server

Terasa memalukan di hadapan jagat maya.

Ditelanjangi oleh algoritma yang dikendalikan oleh server raksasa.

Rahasia tak lagi ada dalam kamus kehidupan.

Privasi tak lagi semisterius dulu.

Perasaan campur aduk menghadapi berbagai reaksi.

Pikiran berujung terjadinya magnetifitas yang terus berebut tahta.

Drama menjadi makanan rutin tak terelakkan.

Popularitas menjadi tujuan sampingan, selain meraup lembaran kertas bank bergambarkan pahlawan.

Semua orang bisa menjelma menjadi ahli apa saja.

Aku bisa menemukanmu saat ini juga, meskipun aku tak mengenalmu sama sekali.

Tidak, tak ada yang salah.

Kamu benar.

Namun, aku juga benar, bukan?

Bogor, 28 Juli 2023