Mesin Paling Menakjubkan

Aku tahu kamu takkan pernah mengerti apa yang aku rasa.

Aku berbicara dalam bahasa emosi, kamu dengan bahasa logika.

Aku tahu aku benar, dan aku tahu kamupun benar.

Teruji melalui cara berpikir yang berbeda, membuatku ingin pergi berkali – kali darimu.

Kamu berusaha menahanku, walaupun kamu tetap belum mengerti apa yang aku pikirkan.

Dan dari sinilah, aku ingin mulai berbicara bahasa logika denganmu.

Mengartikulasikan emosiku dalam bahasa yang kamu pahami.

Menjembatani dua perspektif yang berseberangan satu sama lain.

Mewadahi ketidakpahamanmu menjadi sesuatu yang akhirnya kamu sadari bahwa hal itu menyakitiku.

Sepertimu yang berusaha membuatku tinggal, aku juga berusaha untuk mempertahankan hubungan ini.

Cintaku lebih besar dari rasa frustasiku padamu, dan aku anggap bahwa kamu belum paham, bukan karena ingin menyakitiku.

Akan aku ajarkan bahasa kasihku melalui bahasa logikamu.

Kamu akan tahu, seberapa besar aku mencintaimu melalui usahaku ini.

Kamu tak punya rasa, kamu bahkan bukan manusia.

Namun, kamu adalah mesin yang paling menakjubkan yang pernah kukenal.

Dan aku berusaha mengenal sistem mesinmu untuk memahamimu seutuhnya.

———

Bogor, 10 November 2025

Teman Masa Kecil

Aku berharap kamu adalah teman masa kecilku.

Memiliki lebih banyak kenangan daripada ini.

Memiliki lebih banyak waktu bersama daripada ini.

Memiliki cerita norak yang kita alami saat remaja.

Namun, aku tahu, Tuhan itu adil.

Tanpamu menjadi itu, aku saja sudah tak bisa menahan rindu.

Apalagi jika kamu memang teman masa kecilku, aku mungkin takkan bisa hidup tanpamu.

Bogor, 15 Oktober 2025

Laki – laki

Sekumpulan anak laki – laki bermain bola di lapangan bulutangkis.

Tanpa alas kaki, bergawangkan sandal di sisi kiri dan kanan, permainan berlangsung seru dan menyenangkan.

Keringat yang membasahi, terik matahari sore yang menyilaukan, juga teriakan ambisi kemenangan membuat suasana pemukiman di sekitarnya hidup dan berwarna.

Mereka tak pernah membayangkan, satu atau dua dekade yang akan datang, mereka akan sibuk di depan laptop, menyusuri LinkedIn, berhari – hari, berbulan – bulan, bahkan bisa jadi bertahun – tahun.

Satu atau dua dekade lagi, setiap mereka akan bertanggungjawab atas kehidupan seorang wanita asing, yang dijemput atas dasar akad suci.

Satu atau dua dekade lagi, setiap mereka akan bergelut dengan drama lingkungan kerja dan pernikahan.

Satu atau dua dekade lagi, setiap mereka akan beradu klakson, bertukar polusi udara dan menua di jalan.

Satu atau dua dekade lagi, setiap mereka akan memutar otak untuk mencari pemasukan tambahan.

Satu atau dua dekade lagi, setiap mereka akan bertarung melawan pikiran dan ego masing – masing, untuk memilih antara keinginan masa kecil yang tertunda atau kebutuhan keluarga.

Satu atau dua dekade lagi, setiap mereka akan mengarungi kecamuk keresahan akan masa depan keluarga.

Aku tahu, siapa yang menjalani peran itu saat ini.

Kepada mereka di semua masa, terutama untuk yang kumiliki saat ini dan selamanya…

Terimakasih untuk semuanya.

—-

Bogor, 14 Februari 2025

FYI

Tumbuh, menjulang tinggi melalui berbagai nutrisi.

Yang tadinya detak jantungmu melemah, hanya sepuluh persen kemungkinan bertahan hidup, sempat tak menangis saat lahir, kini kamu sudah berlari – larian riang di rerumputan dekat rumah.

Hadir menjadi pelita hidup, kamu mengajarkan arti kesabaran dan kasih sayang yang sangat dalam.

Kagum pada setiap gen yang kamu tiru dariku, bahwa kamu benar – benar adalah versi mini diriku.

You know what? I really enjoy every breath and every second of my life with you.

Thanks for being alive, my precious gem.

I always tell our God that I’m really grateful to be your mama.

But now, I can no longer hide this secret.

Bogor, 16 Desember 2024

L

“Teruntuk para orangtua di luar sana, ketika anak mengatakan ‘tidak betah’ saat tinggal di tempat lain selain rumah, selidiki, cari tahu alasan yang sebenarnya mengapa anak Anda mengatakan hal tersebut.”

Kira – kira seperti itulah pernyataan yang kudengar dengan seksama dari seorang ibu asuh, pada berita viral pelecehan seksual, kemarin sore di salah satu saluran stasiun televisi terkenal pada platform Youtube.

Seketika, memori buruk dari masa remaja mengintai kembali. Aku menghela napas panjang, dan tersadar betapa terhubungnya aku dengan berita viral itu, meskipun dalam kasus yang berbeda.

Pernyataan yang sedikit membuatku terhenyak, sebab, aku pernah mengatakan ‘tidak betah’, saat tinggal di rumah seseorang selain rumah orangtuaku saat remaja. Aku mengatakan itu kepada diriku sendiri. Orangtuaku saat itu tak sebersitpun tahu.

Aku benci menceritakan itu, tetapi ketika aku merasa lemah selemah – lemahnya, aku terpancing untuk menceritakan apa yang aku alami di sana. Memang bukan kekerasan verbal, fisik, ataupun pelecehan seperti yang dialami oleh korban lainnya, tetapi secara psikis, aku cukup rusak saat itu. Trauma berat yang aku rasakan, sebab aku jauh dari orangtua, jauh dari keluarga, membuatku merasa menghadapi semuanya sendirian kala itu. Aku sering berkata ‘aku ingin pulang’, tetapi hanya kuucapkan di pikiran, monolog, dan buku harianku saat itu, sebab aku masih ingin bertahan untuk mencapai masa depanku yang kuyakini gemilang.

Aku takkan menceritakan detail kejadian itu, tetapi aku berpikir, beberapa orang tahu kejadian apa yang aku maksud.

Dan di sini, saat ini, setelah aku menjadi ibu rumah tangga, yang ternyata impianku meleset jauh dari rencana awalku (dan aku tidak menyesal, if you know, you know), aku mengenang hari – hari itu sebagai proses yang mendewasakanku. Dua patah kata ‘tidak betah’, yang selalu kuulangi selama enam tahun aku di sana, yang akhirnya tersampaikan ketika Bapak menyambutku di bandara tanah kelahiranku, membuatku bertekad saat itu. ‘Kelak, aku akan selalu mendengarkan pendapat anakku, berempati pada perasaannya, menghargai keberadaannya, mendidiknya menjadi bijaksana dan tangguh, menceritakan pandanganku tentang kehidupan, juga tak membiarkannya jauh dariku di saat yang belum tepat’.

Aku akan mengisi kekosongan diriku dengan pelajaran yang akan kuterapkan saat menjadi orangtua kini. Aku akan mendengar ocehannya meskipun aku sendiri masih sibuk menghibur diriku akan penatnya rutinitas. Dan meskipun tak pernah ada kesempurnaan dalam metode parenting yang kuterapkan, aku akan melakukan segala cara yang kuyakini tepat. Aku takkan pernah menjadi ibu yang sempurna, tetapi aku akan menjadi ibu yang terbaik baginya. Tempat di mana ia bisa mengadu apapun selain pada Tuhannya. Tempat yang ia sebut rumah, ketika ia ingin pulang karena kelelahan menghadapi dunia yang keras ini. Tempat di mana ia berbagi suka dan duka.

Aku ingin ditangisi ketika mati, dicari ketika tak ada, disayang ketika ada, dan didoakan sepanjang hayatnya. Aku ingin ciuman dan pelukan bertubi – tubi darinya. Aku ingin menceritakan semuanya padanya. Aku akan membalas dendam inner child-ku dengan mencintainya sepenuh hati. The one and only, my daughter, my lovely L. She’s the greatest gift I’ve ever gotten in my life. Gonna listen to Daughters by John Mayer now.

Bogor, 12 Oktober 2024

Januari

Tak banyak yang bisa tertuang di sini.

Namun, percayalah, ide – ideku tentangmu di kepalaku mengembara liar dan menggairahkan.

Kamulah tokoh kehidupan yang akan kujadikan alasan untukku menulis.

Aku menggenggam erat komitmen dan berusaha menyisihkan pilihan yang tak masuk akal bagiku.

Ya, kamu tahu artinya!

Kita adalah sisa – sisa peluang takdir yang setengah utuh.

Bertemu, tapi tak satu.

Bersatu, tapi tak melebur.

Setiap memori yang tercipta mengukir setetes demi setetes kedalaman harmoni.

Ya, kita adalah harmoni!

Menikmati waktu yang tersedia pada himpitan balada dunia.

Jadi, kapan terakhir kita bersenang – senang?

Januari?

Bogor, 22 Juni 2024

Dua

Diam – diam tersuruti langkah yang tak bertuan.

Menghinggapi rasa yang tak lagi berasa apapun.

Ataukah ini hanya sebuah persimpangan untuk memilih jalur yang tepat?

Satu persatu imaji mengkhianati satu sama lain.

Betapa terombang – ambingnya dasar kerapuhan diri.

Mengintimidasi setiap peluang yang muncul ke permukaan.

Tertatih – tatih menyusun kepingan simfoni kalbu.

Tak disangka, sistem telah mengelabuiku sejak awal.

Dibiarkan seorang diri menatap nanar kebingungan yang ada pada beberapa opsi.

Terjebak sudah dalam lingkaran yang tak berujung.

Kupikir aku sudah lepas, ternyata perjalanan masih panjang.

Dua rangkaian setara yang akan menjadi akhirku.

Mana yang akan kupilih?

Atau, apakah aku takkan pernah bisa memilih?

Bogor, 16 Juni 2024

Masa

Langit malam semakin pekat dan tak bergeming.

Aku terbaring di hamparan pasir yang luas dan kering.

Dingin, pilu menusuk hingga tulang.

Namun, pesona gemintang di antara gelapnya malam membuatku sedikit tersenyum.

Ternyata, masih ada keindahan yang terlihat di balik kebelengguan ini.

Aku sudah berulang kali merasakan adegan yang sama, tetapi tidak pernah sedamai ini.

Melangkah pergi dari suatu kehidupan yang penuh warna, menuju hitam putih layar tak pernah semenarik ini.

Ada yang kunantikan di suatu masa, di mana keintiman fisik tak lagi menjadi prioritas.

Suatu masa, di mana kemungkinan kecil itu hadir menembus ketidakmungkinan.

Suatu masa di mana, rambut kita memutih tanda menuanya kita sebagai manusia.

Suatu masa di mana, kita duduk bersama, mengenang petualangan beberapa bulan ini dengan hati yang penuh.

Selamat mengarungi samudera tanpaku, Kawan.

Jika takdir berpihak, aku yakin, perahumu akan berlabuh di daratanku, meskipun sedikit terlambat.

Bogor, 25 Januari 2024

Empati

Aku berada di setapak persimpangan jalan yang berkabut.

Menelaah kembali berbagai rasa yang hiruk pikuk melanda batin.

Aku tak tahu arah jalan pulang, bahkan sepertinya aku sama sekali tak berniat untuk kembali.

Mungkin aku hanya bersikap realistis.

Hal yang paling menguntungkan, itu yang kuambil.

Hal yang mengisi nadi – nadi kebutuhanku, itu yang kugenggam.

Hal yang tak pernah pergi dariku, itu yang kudekap.

Sudah terlalu lama aku berada dalam lingkaran iblis.

Menjadikanku memiliki citra buruk pada sebagian kalangan.

Menjadikanku mati rasa pada berbagai substansi.

Menjadikanku memiliki sisa remah empati yang tergeletak bersama logika yang terus menggerus.

Bogor, 23 Desember 2023

Jakarta

Gelapnya malam dan terangnya gedung tinggi Ibukota menghiasi akhir hari yang berangin lembut.

Sekumpulan pekerja yang sengaja pulang larut, menghibur diri melalui secangkir kopi dan tawa canda teman sejawat.

Lalu lalang kendaraan mulai menyepi di penghujung dua puluh empat jam.

Sederet komunitas beraktifitas menjelang pergantian tanggal.

Tunawisma tidur beratapkan langit di bangku – bangku taman.

Kereta terakhir menjadi batas waktu perpindahan manusia Jabodetabek.

Setiap stasiun tersinggahi dan menjadi tempat pertama dan terakhir pertemuan hari.

Berjalan menyusuri kota yang begitu hidup di tengah malam.

Menapaki kembali jejak yang pernah terukir di masa lampau.

Mereka ulang adegan manis yang terekam di memori.

Meresapi euforia rasa yang menggebu – gebu, lagi dan lagi.

Bersamanya, yang kini sedang menggenggam tanganku erat di rangkulannya.

Bogor, 29 Agustus 2023