Skenario

Wajah yang tak pernah kutemui itu selalu menghantamku siang dan malam.

Menggerogoti setiap fokus yang kadarnya tak pernah penuh.

Menghajarku bertubi – tubi dengan ilusi indah yang terlukis di utopiaku.

Menawarkan berbagai harapan semu, yang membuatku berbalik arah melawan gravitasi.

Ingin kuenyahkan ia selalu, tetapi aku tak berdaya.

Sebab pintu lainnya menghadirkan skenario yang entah akan terjadi apa tidak.

Skenario yang penuh dengan rencana gilaku menunggu waktu untuk menerobos ketidakmungkinan di suratan takdir.

Memberontak setiap sudut cakrawala yang menghalangiku bertemu dengannya.

Melihat matahari terbenam dalam hiruk pikuk angin pantai.

Menggenggam tangannya yang dingin karena pengalaman pahit yang ia tempuh.

Mengabadikan setiap momen indah dengannya melalui lensaku yang mulai samar.

Berharap ia akan membaca prosa ini dan memahami kata demi kata.

Berharap bahwa ia tak hanya ada dalam kepalaku.

Bogor, 17 Oktober 2022

Jejak Roti

Haruskah aku meninggalkan potongan roti di tanah tandus ini?

Membiarkanmu mengikuti jejakku ke gurun tak bernama?

Walaupun aku tahu itu mustahil terjadi, aku sedikit berharap kamu datang.

Setidaknya, sapalah aku dari fatamorgana.

Bawakanku air dari oasis yang tak pernah ada.

Penuhilah dahaga rinduku pada ilusi dirimu di pustaka pikiranku.

Jadi, bersediakah kamu?

Atau kumakan saja remah jejak ini?

Bogor, 4 Oktober 2022

Imajinasi

Dunia berhenti bergerak.

Namun, seorang lelaki tetap berjalan menuju bangku di sudut pantai.

Ia muak melihat fenomena itu.

Selalu saja ia sendiri saat semua hal mematung.

Selalu saja ia mengobrol dengan seorang makhluk tak berjiwa ketika dunia kumat.

Bahkan, air lautpun sudah lama tak ribut.

Rindu, ia kembali menghampiri perempuan yang menjadi pemeran utama di dunia itu.

Dipeluknya, diciumnya, dijahilinya.

Berharap jiwa perempuan itu segera kembali ke tubuh yang ada di depannya, di dunia yang tak ada itu.

Terlalu lama menetap di realita, tidakkah perempuan itu merindukannya sebagai rumah?

Bogor, 15 September 2022

Panggung

Kacau!

Dia begitu gugup setelah melihat ratusan wajah para tamunya.

Sebagai tuan rumah, ia bertekad memberikan kepuasan yang maksimal kepada mereka yang telah membayarnya di muka.

Sorot cahaya putih menambah nuansa megah pada kulitnya yang kuning langsat.

Haru biru bergemuruh didadanya!

Dan diamlah!

Mari kita dengar suara jernihnya yang perlahan ingin mendobrak tangguhnya peredam suara!

Diiringi simfoni orkestra yang membius siapapun yang ada di ruangan akbar itu, dan menciptakan kekayaan batin bagi telinga penikmatnya.

Kombinasi keduanya merasuki jiwa – jiwa yang tak berjiwa.

Menceritakan kisah kehidupan seorang manusia yang mati oleh racun lidah yang tak kenal moral.

Diakhiri dengan falseto yang membuat tangis pecah membahana.

Sorak – sorai menggelegar di segala penjuru atas sebuah karya seni yang luar biasa.

Riuh tepuk tangan yang tulus terdengar atas sebuah panggung yang eksklusif.

Lalu, cahaya meredup, tirai ditutup perlahan.

Kini, sisa kemegahan tadi bersenandung dalam gemerincing koin disakunya.

Bogor, 25 Agustus 2022

Paralel

Sepertinya aku tak tahu diri karena telah menanam sebuah bibit yang tak bermasa depan.

Kukira aku takkan candu, ternyata kini lebih dari sekedar rindu.

Mengulik riwayat pencarian di kolom kosong, aku lupa bahwa aku telah menutup akses itu.

Namun, kamu pula yang lebih dulu memintaku untuk pergi darimu.

Salah siapa?

Aku?

Kamu?

Lalu, kita ini apa?

Dan yang lebih menyedihkan lagi, ada bagian dirimu di dalam diriku; aku.

Ya, akulah yang mengingatkanku pada dirimu.

Dua garis sejajar yang terdistorsi oleh ilusi optik, seolah menyatu di akhir perjalanan; padahal tidak.

Betapapun jauhnya garis itu tertulis, kita takkan pernah bersinggungan satu sama lain.

Kamu tetap pada jalurmu, begitupun aku.

Sialnya lagi, aku benci mewakili garis identikmu itu di raga yang berbeda, di saat kita masih dalam satuan gravitasi yang sama.

Sebab, aku begitu menyukai diriku yang rapuh ini.

—–

Bogor, 13 Agustus 2022

Bianglala

Permen kapas hijau muda yang sudah kulirik sejak tadi, kini ada di genggamanku.

Sudah kulahap habis saat setengah putaran, wahana ini melaju pelan sekali.

Kerlap – kerlip cahaya kota menghiasi malam yang pekat.

Kuresapi melankolitas diri yang menaungi sukma.

Hadirnya dirinya di hadapanku, membuat senyumku merekah.

Kupandangi dirinya yang terus berbicara tanpa henti.

Hingga ia tersenyum dan menyentuh pundakku.

Aku harus segera turun.

—–

Bogor, 16 Juli 2022

Klip Video

Sepotong klip video hitam putih telah menjadi saksi nyata kisah kita.

Melebur dalam kelabu yang menjadi muara cerita.

Di dalamnya, ada kamu yang tertawa memaknai candaanku.

Ada senyum manismu dengan gigi yang berbaris rapi.

Mengenang dirimu yang pernah, bahkan masih membuatku gugup tak karuan.

Aku suka menonton klip video itu berulangkali.

Melalui Kotak Pandora di ruang imajinasiku, hingga kini kotak itu mulai rusak.

Rusak karena kerinduan yang begitu membuncah di dalam dada.

—–

Tangerang, 3 Juli 2022

Delusi

Pasang surut kulalui gelombang rasa ini.

Memekikkan nama indah di balik wujud yang entah nyata apa tidak.

Delusi diri yang tercipta menjalin asmara dengannya yang tak bisa kusentuh.

Hanya pikiranku yang bekerja rodi, menerima sinyal hati yang mendobrak kokohnya logika yang telah kubangun bertahun – tahun.

Rapuh dalam imajinasiku sendiri.

Mengisi energipun tertatih – tatih, menjelma menjadi tubuh yang lemah tak berdaya.

Hilang sudah harga diri yang harusnya aku pegang teguh.

Aku menawarkan diri untuk meraih genggamannya.

Kamu tahu mengapa?

Sebab aku sudah terjerat olehnya.

Setidaknya… untuk saat ini.

—–

Bogor, 24 Juni 2022

3 – Segitiga

Aku punya teman sekolah yang bernama Bimo. Sebenarnya, dia adalah sepupu jauhku, tetapi aku sendiri tak tahu apakah aku ada hubungan darah dengannya, sebab kabarnya, dia merupakan anak angkat dari ipar Uakku. Entahlah.

Aku pertamakali mulai akrab dengannya saat duduk di kelas empat. Dengan jumlah siswa lebih dari limapuluh orang, siswa diperintahkan untuk duduk bertiga sebangku. Bangkunya persis seperti yang ada di warteg, dengan meja kayu penuh coretan tip-x. Saat itulah aku duduk bersamanya. Seorang lainnya adalah Rumi.

Sejak saat itu, kami menjadi sering saling membantu dalam mengerjakan tugas sekolah. Bimo sangat pintar dalam pelajaran eksak, sehingga aku dan Rumi seringkali minta diajarkan, atau bahkan mencontek tugasnya. Figurnya yang rapi, sopan dan lembut, membuatku dan Rumi sering merasa bahwa kami harus melindunginya. Bahkan, aku merasa lebih maskulin dibandingkan Bimo.

Rumi sendiri merupakan pemeriah suasana di antara aku dan Bimo, yang sama – sama pendiam. Berkat dirinya, suasana yang tadinya kikuk, menjadi cair dan luwes karena kepribadian Rumi yang ceria dan berisik. Tawanya juga menular. Kami bertiga banyak menghabiskan waktu bersama di sekolah.

Seiring berjalannya waktu, aku menaruh rasa suka terhadap Bimo. Bagaimana tidak, dibalik sikap pendiamnya, dia merupakan anak yang cerdas dan baik terhadap aku maupun Rumi. Cinta monyet; bisa dibilang begitu. Namun, aku hanya memendam rasa itu sendiri.

Suatu hari, ketika tugas menggambar tiba, aku bingung harus menggambar apa. Aku sudah bosan sekali menggambar dua gunung yang ada matahari di tengahnya. Biasanya, jika sudah buntu, tugas kategori ini aku serahkan kepada Bapak. Lalu, setelah aku memberikan kertas dari buku tulis, Bapak mulai menggambar pemandangan pesisir pantai tanpa contoh sama sekali. Gambar itu didominasi oleh laut, sehingga aku dapat menirunya dengan mudah. Toh, laut hanya gambar garis horizontal yang diberi gelombang. Tinggal fokus membuat detail pohon kelapa dan gubuk di pantainya.

Hasilnya cukup memuaskan bagiku. Sebenarnya, aku bisa menggambar dengan baik, hanya saja aku perlu contoh atau meniru sesuatu. Mungkin otakku imajinatif, tapi tidak sinkron dengan tanganku yang payah dalam hal seni rupa.

Sesampai di sekolah, dua teman sebangkuku itu siap menerkamku hidup – hidup. Mereka mencontek gambarku! Sudah pula aku mencontek dari Bapak, mereka malah mencontek hasil contekanku. Alhasil gambar kami bertiga menjadi sama persis.

Saat istirahat sekolah tiba, aku dan Rumi ke warung di depan sekolah bersama.

“Nona, aku mau ceritalah samamu”, Rumi berkata sambil menyeruput es limunnya.

Mengapa nama panggilanku berbeda di rumah dan di sekolah? Sebab, nama belakangku terlalu pasaran, dan kurang menarik bagiku. Nama depanku jauh lebih elegan dan unik menurutku, sehingga saat di sekolah, aku selalu memperkenalkan diri sebagai Nona, bukan Winda.

“Ceritalah”, jawabku singkat.

“Duduk dululah kita di situ”, ajak Rumi sambil menarik tanganku menuju depan ruang kelas tiga.

“Jadi?”, aku membetulkan posisi rokku untuk duduk di lantai.

“Non, awak suka loh sama Bimo. Ganteng ya dia, manis, pintar pula, ya kan?”, Rumi tersenyum lebar.

Aku terdiam sejenak, kaget, dan berusaha mencerna kata – kata yang baru diucapkan oleh Rumi.

Bagaimana bisa kami menyukai orang yang sama? Apa yang harus kulakukan? Aku tersenyum ketir. Tak mudah bagi seorang anak kelas empat menerima ini.

Kok diam, Non?”

“Oh, engga. Iya ya, ganteng sih memang dia”, kataku seraya menggaruk kepala dan tersenyum canggung.

“Cocok kau rasa, aku sama dia?”

Pertanyaan macam apa itu? Mengapa harus aku yang menjawab pertanyaan bodoh itu?

Bel berbunyi. Aku selamat. Tak kujawab pertanyaannya. Aku segera mengajak Rumi untuk masuk kelas.

Sejak saat itu, aku selalu memperhatikan gerak – gerik Rumi. Dia terlihat sangat berbunga – bunga dan selalu tersenyum anggun saat di dekat Bimo, yang menurutku sedikit dipaksakan, sebab Rumi yang ceria dan berisik berubah menjadi kemayu. Yang lebih membuatku terkejut lagi, Rumi menjadi sering mendekapkan diri untuk berbisik sesuatu kepada Bimo. Tentu saja aku tak tahu apa yang mereka bisikkan.

Akhirnya, demi kebaikan pertemanan kami, aku mengalah dengan Rumi. Rumi sudah lebih dulu mengatakan perasaannya padaku. Aku tak berhak mengganggunya hanya karena aku juga suka dengan Bimo. Aku tak apa – apa. Selagi belum terlampau jauh perasaan ini. Aku yakin bisa menepis perasaan sukaku dengan Bimo dalam waktu singkat.

Saat itu merupakan cinta segitiga yang pertama kali aku alami, dan juga terakhir kali, sebab aku memegang prinsip itu hingga aku dewasa. Aku berusaha untuk tak menaruh rasa dengan lelaki yang disukai temanku, karena aku yakin hal itu hanya akan merusak pertemanan kami.

Ternyata, keputusan yang kuambil memang tepat. Saat naik kelas lima, aku pindah rumah kembali ke Perumnas Simalingkar. Komunikasi pertemanan kami putus begitu saja, karena memang kami tak punya ponsel, dan aku tak pernah lagi bertemu dengan mereka. Perasaanku juga tak lagi berkembang lebih jauh kepada Bimo, sebab di sekolah pindahanku, aku bahkan bingung memilih siapa yang harus benar – benar aku sukai.

—–

Bogor, 29 Mei 2022

Dua Tahun

Darah mengalir ke kakiku.

Meninggalkan jejak merah di beberapa petak lantai ruang inap.

Panik, menangis, dan pasrah.

Hingga aku terkapar di ranjang pasien.

Menghitung denyut nadi lemah dari sebuah nyawa dalam perutku.

Selama tujuh bulan itu aku menjaganya, saat itu pula aku tahu bahwa dia ingin menghirup oksigen.

Kulayangkan zikir dan doa untuk keselamatan kami.

Menenangkan kepanikan diri dan pikiran negatif yang bermunculan.

Sirine memekik telinga, aku hanya terbaring lemas di tandu.

Berusaha untuk tak tidur agar tak “hilang”.

Berbagai pertanyaan muncul dari para petugas medis, sembari menunggu jadwal operasi yang belum jelas rimbanya.

Setelah menunggu beberapa waktu, akhirnya aku masuk ke ruangan yang cukup bersih dan putih.

Dikelilingi orang – orang berpakaian hijau, yang siap memberiku anestesi dan membedah perutku.

Dengan probabilitas limapuluh banding limapuluh, dia mengirim kekuatan padaku sehingga aku bisa tenang menghadapi semuanya.

Lalu, satu persatu bagian badanku mulai kaku, hingga aku tak sadarkan diri.

Kamu tahu?

Suatu keajaiban bahwa aku masih hidup.

Namun, bagaimana dengannya?

Aku terbangun, dan perutku sudah rata.

Penglihatanku menjadi buram, dan aku menggigil.

Komat – kamit berzikir tiada henti.

Perlahan, aku mulai sadar kembali.

Namun, untuk bersin saja, jahitan di perutku langsung kesakitan.

***

Hari ketiga, untuk pertama kalinya, aku melihat wujud nyata dari manusia mungil yang sudah tujuh bulan mendekam di perutku.

Terpasang selang ventilator di hidungnya.

Mulutnyapun tak luput dari selang yang berbeda fungsi.

Di tangannya, terpasang selang infus untuk nutrisinya.

Tubuhnya dihiasi sinar biru.

Popoknya yang terlalu besarpun tak luput dari pengamatanku.

Empat titik monitor terpasang di dadanya.

Pandanganku nanar melihatnya tak berdaya di dalam inkubator.

Hanya bisa memegang tangan kecilnya dan menangis pilu.

Dia bahkan belum bisa menerima hangatnya tubuhku dan air susuku.

Namun, di ruangan yang sama, ada bayi berkepala besar dengan orangtua yang menangis lebih pilu dariku.

Aku terdistraksi oleh sayup – sayup kata “ikhlas”.

Tak sanggup kubayangkan jika aku ada di posisi mereka.

Kembali kupandang putri kecilku yang sejauh itu kuat bertahan untuk melihat dunia.

Aku yakin dia bisa melewati semua ini dengan baik.

Dia anak yang kuat, sama sepertiku.

***

Dua tahun berlalu, dia telah menjadi seorang gadis kecil yang sangat cantik, cerdas, dan menggemaskan.

Aku selalu berterimakasih padanya, karena telah menjadi hadiah terbaik dalam hidupku.

Berbagai doa baik selalu kupanjatkan untuknya.

Kurajutkan selalu asa terbaik baginya, sembari memantaskan diri untuk jadi Ibu yang lebih baik lagi.

Jadi…

Selamat dua tahun, Cantik.

—–

Bogor, 18 Mei 2022