Server

Terasa memalukan di hadapan jagat maya.

Ditelanjangi oleh algoritma yang dikendalikan oleh server raksasa.

Rahasia tak lagi ada dalam kamus kehidupan.

Privasi tak lagi semisterius dulu.

Perasaan campur aduk menghadapi berbagai reaksi.

Pikiran berujung terjadinya magnetifitas yang terus berebut tahta.

Drama menjadi makanan rutin tak terelakkan.

Popularitas menjadi tujuan sampingan, selain meraup lembaran kertas bank bergambarkan pahlawan.

Semua orang bisa menjelma menjadi ahli apa saja.

Aku bisa menemukanmu saat ini juga, meskipun aku tak mengenalmu sama sekali.

Tidak, tak ada yang salah.

Kamu benar.

Namun, aku juga benar, bukan?

Bogor, 28 Juli 2023

Simalingkar

Menjulang tinggi, sekolah dan rumah petak yang tersusun di atas tanah Perumnas, kuabadikan sebagai memori yang menetap.

Jalanan lebar yang penuh dengan bebatuan, mobil – mobil yang besar, kusemayamkan sebagai ingatan yang terpatri.

Sungai yang lebar, jernih dan asri, kuanggap sebagai kenangan tak terlupakan.

Orang – orang dewasa yang tinggi, gemuk, dan juga gagah, kuterima sebagai wujud masalalu.

Teman – teman yang lalu lalang di hadapan diriku, kuakui sebagai euforia nostalgia.

Lalu, perlahan, bangunan di sana terasa kecil dan sesak.

Jalanan terasa sempit, mobilpun tak sebesar dulu.

Sungai terasa kering.

Orang dewasa juga terasa tua dan ringkih.

Teman – teman terasa berbeda, realistis dan selektif.

Aku sadar, detik telah menggantikan masa.

Akulah yang saat ini dipandang oleh anak – anak sebagai orang yang tinggi, besar dan kuat.

Dengan berlalunya enambelas tahun, tempat itu sedikit berubah.

Begitupun aku, yang tak bisa kabur dari gerusan waktu.

Bogor, 11 Juni 2023

Harmonis

Mungkin, seseorang hanya ditakdirkan untuk memiliki sahabat sejati.

Mungkin, seseorang hanya ditakdirkan untuk memiliki cinta yang abadi.

Mungkin, seseorang hanya ditakdirkan untuk memiliki orangtua yang tulus menyayangi.

Mungkin, seseorang hanya ditakdirkan untuk memiliki anak yang berbakti.

Mungkin, seseorang hanya ditakdirkan untuk memiliki saudara kandung yang bersolidaritas tinggi.

Atau, mungkin saja, seseorang hanya ditakdirkan untuk memiliki dirinya sendiri yang berani.

Aku baru sadar, bahwa gabungan semua hubungan yang harmonis itu hanya ditakdirkan untuk orang – orang tertentu saja.

Bahwa mungkin, beberapa hubungan harmonis tadi, masih ditujukan pada segelintir orang saja.

Dan bukan tak mungkin, beberapa manusia hanya memiliki satu hubungan harmonis saja.

Memiliki semua bukan berarti sempurna, meskipun beruntung, bisa jadi artinya butuh penopang hidup yang banyak untuk berdiri tegak.

Hanya memiliki satu bukan berarti sampah, tak perlu berkecil hati, bisa jadi satu tetapi terlalu kokoh untuk dihempaskan oleh badai kehidupan.

Bogor, 23 April 2023

Hidup dan Mati

Aku berdiri di atas banyak kesalahan.

Memuja hal yang seharusnya tak kupikirkan sedetikpun.

Mati rasa pada hal yang seharusnya aku pelihara.

Berbagai paradoksikal rasa yang aku sendiri lelah menjalaninya.

Mimpi – mimpi malamkupun merupakan pelarian atas rumitnya jalan pikiranku.

Aku sakit, hanya saja aku masih bisa tidur nyenyak akibat kelelahan.

Aku sakit, hanya saja aku masih bisa makan dua kali sehari.

Sesehat itu fisikku untuk pikiran – pikiran yang membunuhku.

Bagaimana lagi aku harus mengenyahkan gundah yang perlahan mematikanku?

Bagaimana lagi aku harus menghidupkan rasa yang seharusnya tumbuh subur saat ini?

Aku hidup dan mati, di tempat yang tak seharusnya.

Namun, aku tak berdaya untuk menukarnya.

Seakan – akan, aku harus hidup dengan ini dalam waktu yang lama.

Aku lelah.

Aku lelah.

Bogor, 17 Februari 2023

Laut

Biru menghampar di sepanjang pandangan.

Aroma asin menyeruak ke dalam penciuman yang mulai mati rasa.

Jernihnya menipu, seringkali mengelabui dengan menghadirkan beberapa makhluk yang menyeramkan.

Namun, tak jarang, beberapa jenis kumpulan ikan mengepakkan sirip dan membentuk formasi indah di dekat perahu.

Memainkan perbedaan kedalaman sebagai trik pertunjukan yang menakjubkan.

Disuguhi timur pagi yang menyulutkan semangat hidup.

Pun terik tengah hari yang menyengat kulit, dibersamai burung – burung camar yang melintas, menyampaikan salam dari negeri seberang dengan kicauannya.

Pula panorama senja yang mendamaikan jiwa yang lelah.

Begitupun cakrawala malam yang dipenuhi dengan rasi bintang sebagai alat navigasi.

Sayangnya, ombak tak membiarkan adegan ini berlangsung lama.

Gelombangnya membuat ciptaan darat ini terombang – ambing, terbalik dan menenggelamkan seisinya.

Kilat menyambar, dan semakin pecahlah dengan rintik hujan yang menyertainya.

Drama kian memanas di tengah dinginnya hembusan angin malam.

Siklus berulang, dan darat mulai tampak dari kejauhan.

Ada harapan, bahwa perjalanan ini akan segera berlabuh.

Namun, yang muncul hanyalah kapal besar yang sudah karam sebagian badannya.

Bogor, 18 Januari 2023

Cinta Pertama

Setiap orang memiliki seseorang yang spesial di hatinya. Yang pertama mengukir kenangan manis di masa remaja, transisi, ataupun dewasa. Yang membedakan adalah, kita bisa berakhir bahagia dengan seseorang itu, atau kita malah terpaksa berpisah demi kebaikan masing – masing. Dan aku adalah salah satu yang harus mengucapkan selamat tinggal kepada seseorang itu.

Ketika aku tahu, bahwa orang – orang yang kukenal memiliki luka yang sama sepertiku, aku terhenyak, dan merenung akan betapa tidak adilnya dunia ini. Perbedaan agama, keyakinan dan prinsip, pengkhianatan, status sosial, jarak dan waktu, juga kematian memiliki andil yang cukup besar untuk memisahkan dua insan muda yang sedang digeluti asmara. Betapa sedikitnya orang yang berakhir bahagia bersama cinta pertamanya.

Dengan perpisahan, rasa menjadi mati, hambar dan tak lagi menggairahkan. Perasaan tak lagi mendominasi, karena rasa sakit menjadikan logika berjaya kedudukannya. Logikapun mendeklarasikan tujuan utamanya, yaitu tak mengulang kesalahan yang sama, juga mengutamakan masa depan yang mapan dan normal bersama keluarga kecil yang harmonis. Namun, perasaan yang terluka malah bolak – balik menggali masalalu yang telah dikubur, untuk bernostalgia dalam kesendirian. Lawan jenis lain yang datang untuk mengobati luka di hati, diabaikan karena tak sesuai dengan standar cinta pertama yang pernah berpengalaman di hati. Pernikahan diadakan karena logika menuntut pertemanan seumur hidup, untuk saling memberi manfaat terhadap pasangan sah, bukan lagi tentang memberi cinta yang semestinya.

Aku paham sekarang, mengapa ada orang yang begitu nekat untuk selingkuh dengan yang terdahulu mengisi hatinya. Sebab kenangan dan perasaan itu begitu kuat melekat dalam sanubari. Tak pernah tergantikan, tak pernah terhapus dari alam bawah sadar. Namun, bukan berarti aku setuju dengan selingkuh, walaupun mungkin aku sedang berselingkuh dengan nostalgia dan imajinasiku sendiri. Semuanya punya porsi masing – masing. Punya keluarga, tanggungjawab, masa depan dan komitmen yang harus dijaga.

Dengan rasa yang mati tadi pula, manusia bekerja hanya untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup, seperti robot pencari uang yang bisa lapar dan berekskresi. Bekerja menjadi pelarian, pelampiasan, dan distraksi atas rumitnya hati yang semrawut. Terlahir karya seni, penemuan hebat, kesepakatan penting perusahaan melalui hati – hati yang patah ini. Perut selalu panas oleh metabolisme, tetapi kalbu beku dan mematikan, jika tak disembuhkan.

Pertanyaan yang mungkin sulit untuk dijawab oleh semua orang adalah, bagaimana cara menyembuhkan luka patah hati itu? Menurutku, yang telah kulalui sejauh ini, waktu dan pengganti yang tepat akan menyembuhkan luka itu. Namun, bekasnya tetap ada, melintang di tengah keharmonisan keluarga baru. Dan menjadi bagian dari diri sendiri, selamanya, menjadi kisah lalu yang bisa dikenang pada masa tua nanti, atau bahkan menjadi cerita roman picisan versi diri sendiri untuk anak cucu kelak.

Satu lagi, jika kamu tak merasakan apa yang dijelaskan di tulisan ini, kemungkinannya, pertama, kamu menikahi cinta pertamamu. Kedua, kamu belum pernah mengalami jatuh cinta. Ketiga, kamu berhasil bangkit dan melupakan cinta pertamamu sepenuhnya, entah bagaimana caranya (dan aku akui kamu hebat!).

Tangerang, 8 Januari 2023

Penasaran

Mengetahui, menyaksikan dan menawarkan.

Rasa penasaran akan membuatmu merasakan ketiganya.

Bagai dua sisi dalam satu koin, ketiganya memiliki antitesis yang sangat timpang dalam satu karakter.

Dengan penasaran, kamu bisa mengetahui hal – hal yang berguna untuk hidupmu; atau yang tak bermanfaat sama sekali bagimu.

Dengan penasaran, kamu bisa menyaksikan berbagai euforia kesenangan yang membuat batinmu bahagia; atau kejadian yang membuatmu traumatik seumur hidup.

Dengan penasaran, kamu bisa menawarkan solusi yang cukup signifikan untuk berbagai masalahmu; atau kehancuran untuk memporakporandakan hidupmu yang damai.

Ada kalanya penasaran membuatmu hidupmu lebih baik, tetapi tak jarang pula menjerumuskanmu ke dalam lingkaran setan yang tak berujung.

Dan kamu tahu?

Selalu ada pilihan untuk berhenti di dalam dirimu.

Gunakanlah dengan bijak, di saat yang tepat.

Bogor, 10 Desember 2022

Realita

Seperti apa wujud dari realita?

Apakah yang ada di depan mataku, atau hanya interpretasi dari apa yang kupikirkan?

Apakah realita tersusun dari sekelompok manusia yang berbisik membicarakan keburukan manusia lain?

Apakah realita terdeskripsi sebagai harapan – harapan yang tak pernah terwujud?

Apakah realita menceritakan sukacita kelulusan mahasiswa?

Apakah realita mencakup pencarian jati diri?

Apakah realita merangkul masalalu?

Apakah realita menetapkan suatu standar yang cukup ‘idealis’ bagi para penganut idealisme?

Apakah realita tempat yang cukup aman untuk berbagi?

Apakah realita menjanjikan kehidupan yang takkan ada lagi air mata?

Apakah realita tempat yang baik untuk dihuni?

Atau aku kembali saja ke utopiaku yang jauh lebih menyenangkan?

Bogor, 7 Desember 2022

Lagu

Terkadang aku berpikir, bahwa tak seharusnya lagu patah hati diciptakan.

Nada kepedihan dengan lirik yang menusuk, menjebak manusia terkurung di masa lalu.

Mengulang memori yang sama, tentang betapa indahnya kisah di album yang usang.

Membuang apa yang dimilikinya kini deminya yang imajiner.

Membiarkan luka – luka basah yang masih bersemayam di hati.

Memenjarakan diri dalam angan yang peluangnya hampir tak ada.

Menunggu datangnya kesempatan kedua yang mungkin saja tak pernah ditakdirkan.

Namun, realitanya, hampir semua orang menikmati rasa sakit itu.

Lucunya pula, akulah salah satunya.

Dan mungkin saja, jika aku memiliki kemampuan dalam bermusik, kini aku telah menciptakan berpuluh lagu patah hati.

Kudedikasikan lagu – laguku untuk seseorang yang telah berhasil membuatku berdamai dengan kenyataan, meskipun ia tak pernah tahu.

Nyatanya, aku hanya mampu membuat prosa, yang tak lebih dari sebuah literasi visual yang membosankan.

Yang takkan membuat orang lain ketagihan untuk membacanya, lagi dan lagi.

Tak apa, aku tahu sebatas mana kemampuanku.

Akupun yakin, di sana ia masih terus mencari lagu patah hati yang baru untuk memelihara nostalgianya.

Mendengarnya berulangkali, hingga ia terlelap dalam belenggu paralelnya, yang kupercaya bukan diriku.

Bogor, 6 November 2022

Tiga Dua

Dariku yang punya impian gila untukmu.

Dariku yang memikirkan apa yang kamu pikirkan.

Dariku yang hanya bisa mengibarkan bendera putih dari seberang pulau.

Dariku yang tak bisa memberikan apapun.

Dan untukmu, yang menggeluti utopiaku hingga suasana gulita; selamat menua.

Selamat menjajaki usia yang semakin dekat dengan langit.

Tentu saja, aku sedang merayakanmu… di pikiranku.

Bogor, 31 Oktober 2022