Benang Merah

Di sini aku, berusaha menjalin benang merah yang melintang pada beberapa pola.

Begitu kusut dan melilit, hampir mustahil untuk mengurainya.

Banyak jalur dengan ratusan simpul, mungkin harus kumulai dari yang termudah.

Kugunakan jarum untuk membantu, tetapi ternyata jariku harus terluka beberapa kali.

Mengapa begitu sulit melihat jalur benang ini?

Mengapa harus mengorbankan kulitku untuk menyelesaikannya semuanya?

Apa aku menyerah saja dan kubuang benang merah itu bersama sisa darahku di sana?

Atau… haruskah kugunakan gunting agar lebih praktis untuk menyelesaikannya?

Bogor, 23 September 2023

Kita

Apakah kita mengenal satu sama lain untuk mengadu siapa yang paling malang?

Apakah kita terlalu menyedihkan untuk memiliki akhir yang bahagia?

Apakah kita terlalu paradoks untuk berada di satu jalur yang konsisten?

Apakah kita terlalu tergesa – gesa dalam menyangkal takdir yang ada?

Apakah kita terlalu munafik untuk menjalani kehidupan di dua poros?

Apakah kita terlalu hina untuk menjalani hidup yang normal?

Apakah kita terlalu gila untuk merasakan warasnya jiwa?

Apakah kita hanya menunggu sesuatu yang sebenarnya hanya ilusi belaka?

Apakah kita hanya menciptakan berbagai adegan yang akan menjadi bahagia yang getir di masa depan?

Apakah kita terlalu delusional dalam mengungkapkan hal yang tak seharusnya ada?

Apakah kita hanya saling menampung beban satu sama lain hingga akhirnya salah satu terbunuh dengan beban itu?

Apakah kita akan terus berlanjut hingga titik darah penghabisan?

Apakah kita akan tidur bersama di liang lahat yang bersebelahan?

Bogor, 14 September 2023

Misteri

Lihatlah, betapa lembaran buku manapun takkan cukup untuk menceritakan semua peristiwa di semesta ini.

Buku hanyalah sebuah fiksi yang berakhir dengan misteri.

Misteri dari lapisan waktu yang telah terpatri pada kehidupan.

Misteri tentang kelanjutan cerita, atau kemungkinan yang terjadi di masa depan.

Misteri tentang ketidaksempurnaan penelitian terdahulu, yang akan menjadi bahan penelitian baru.

Misteri tentang imajinasi yang tak terbatas dari jutaan bongkahan isi kepala.

Bahkan, masa lalu juga meninggalkan misteri yang tak sedikit.

Tak lupa, ‘sekarang’ adalah momentum kini yang dijalankan oleh semua makhluk.

Dengan segala hiruk pikuk buana maupun sel yang mengaktifkan kehidupan, manusia menjalani waktu yang tersisa dalam hidupnya.

Setiap detik yang telah atau akan dijalani, mengandung misteri yang tak terelakkan.

Yang mungkin akan atau tidak pernah terungkap.

Bogor, 21 Agustus 2023

Tawa

Tak peduli seberapa banyak warna di taman itu, tetap kelabu yang terlihat.

Tetap dengan nuansa kelam, terpaku pada sudut cakrawala yang entah di mana ujungnya.

Sudah lama tak hidup, lama sekali.

Kotak itu usang bagai benda antik yang sudah seharusnya ada di tempat sampah.

Salah?

Tidak.

Hanya saja, frekuensi itu terlalu lemah untuk menerima sinyal di sekitarnya.

Sebab semuanya sama.

Membosankan dan kaku.

Butuh sinyal yang meledak – ledak, berenergi, konstan, aneh dan berbeda, untuk mengaktifkan kembali radar yang telah lama pupus di tanah buana.

Memang, pernah lewat sepintas lalu.

Sayangnya, tak menetap, hanya memberi kejutan manis di depan pintu.

Lalu, sampai kapan semuanya harus kelabu seperti ini?

Sampai kapan tawa ini terpendam di alam bawah sadar?

Bogor, 2 Agustus 2023

Siklus

Ego berlutut di depan cermin.

Mengabadikan setiap momen kepasrahan pada takdir yang tergores.

Malam menjadi lengang, seperti sediakala.

Berusaha untuk tidak muak atas siklus yang terus menjerat.

Menyayatkan rasa yang berulangkali membanting semangat, hingga lemah tak berdaya.

Sesungguhnya, aku tak pernah belajar.

Hanya menikmati hingga akhirnya tertampar oleh kebenaran yang pahit.

Apalagi, kali ini yang terbaik pergi.

Tak kehilangan akal begitupun asa.

Namun, sepertinya arus ini akan terus membuatku hanyut hingga akhirnya tiba di samudera yang luas.

Tak lagi mampu aku melawan.

Jadi, kugantungkan saja berbagai impianku di pinggiran sungai yang terlewati.

Hingga akhirnya hilang, tak bersisa di muara.

Bogor, 26 Juli 2023

Transformasi

Berubah menjadi ratusan kupu – kupu, berterbangan menjadi jutaan abu.

Menghilang dalam ketiadaan, mati perlahan dalam jiwa yang terlupakan.

Terurai menjadi unsur tanah, tersapu menjadi sampah.

Melebur dalam keramaian yang sunyi, menjelma dalam kesendirian yang abadi.

Hingar bingar ini semakin menjadi.

Aku gerah, aku geram.

Bogor, 4 Juli 2023

Pertanyaan

Biarkan aku memandang putihnya salju yang menutupi suatu distrik.

Biarkan aku mengembara ke gurun tak bernama.

Biarkan aku menelusuri jejak yang tercetak di tanah hutan belantara.

Biarkan aku menghirup aroma bunga – bunga yang tertanam pada kebun antah berantah.

Biarkan aku menjelajahi salah satu galaksi di jagat raya ini.

Biarkan aku berbicara pada bintang – bintang.

Biarkan aku berpetualang mendulang emas di antara piramida.

Biarkan aku terbenam dalam asinnya air laut sejenak.

Biarkan aku berteriak memanggil suatu nama di kerajaan awan.

Aku mencari, dan terus mencari.

Suatu rasa, yang asing dan membelengguku.

Suatu penjelasan, atas berbagai pertanyaanku.

Suatu hari, yang aku takkan lagi bertanya, mengapa dan mengapa.

Suatu tempat, yang bisa menjadi rumah bagiku.

Dan suatu hal, tempatku membuang semua gejolak emosi.

Jadi…

Apa? Bagaimana? Mengapa? Di mana? Siapa?

Bogor, 9 Juni 2023

Dansa

Dengan gaun indah, aku persembahkan tarian yang mendayu untukmu, yang tengah duduk di kursi tua itu.

Dengan sepatu pantofel yang berkilau, kamu bangkit dan menghentakkan kekuatanmu untuk menopang diriku agar aku tak terjatuh.

Bersama, menggerakkan seluruh tubuh mengiringi musik klasik di ruangan megah ini.

Memberikan sebuah pertunjukan menakjubkan pada kehampaan yang telah menunggu.

Meresapi setiap resonansi pada tuts piano yang dilantunkan, dan tak sadar air mata terjatuh perlahan.

Jika memang ini adalah dansa terakhir kita, aku akan merekam setiap jejak tubuhku bersamamu saat ini, di tempat ini.

Agar aku tak lupa, bahwa aku pernah merasa sangat bahagia… denganmu.

Bogor, 22 Februari 2023

Hidup dan Mati

Aku berdiri di atas banyak kesalahan.

Memuja hal yang seharusnya tak kupikirkan sedetikpun.

Mati rasa pada hal yang seharusnya aku pelihara.

Berbagai paradoksikal rasa yang aku sendiri lelah menjalaninya.

Mimpi – mimpi malamkupun merupakan pelarian atas rumitnya jalan pikiranku.

Aku sakit, hanya saja aku masih bisa tidur nyenyak akibat kelelahan.

Aku sakit, hanya saja aku masih bisa makan dua kali sehari.

Sesehat itu fisikku untuk pikiran – pikiran yang membunuhku.

Bagaimana lagi aku harus mengenyahkan gundah yang perlahan mematikanku?

Bagaimana lagi aku harus menghidupkan rasa yang seharusnya tumbuh subur saat ini?

Aku hidup dan mati, di tempat yang tak seharusnya.

Namun, aku tak berdaya untuk menukarnya.

Seakan – akan, aku harus hidup dengan ini dalam waktu yang lama.

Aku lelah.

Aku lelah.

Bogor, 17 Februari 2023

Surga

Jika surga itu abadi, seperti apa keabadian itu?

Seperti apa rasanya tak pernah lagi merasakan sakit?

Seperti apa rasanya tak pernah lagi merasakan kelelahan?

Seperti apa rasanya tak pernah lagi merasakan sedih dan kecewa?

Seperti apa rasanya tak pernah lagi merasakan bosan?

Seperti apa rasanya perasaan bahagia yang konstan itu?

Seperti apa rasanya kenikmatan yang tak pernah berhenti mengalir?

Seperti apa rasanya dikelilingi suasana alam yang jauh lebih indah daripada dunia?

Apakah surga itu nyata?

Ataukah mungkin surga hanya sekedar khayalan belaka?

Apakah aku bisa ke sana?

Kapan aku bisa ke sana?

Ataukah aku harus ke neraka dulu untuk membasuh semua dosaku sebelum memasuki surga yang suci itu?

Bogor, 17 Februari 2023