Teman Masa Kecil

Aku berharap kamu adalah teman masa kecilku.

Memiliki lebih banyak kenangan daripada ini.

Memiliki lebih banyak waktu bersama daripada ini.

Memiliki cerita norak yang kita alami saat remaja.

Namun, aku tahu, Tuhan itu adil.

Tanpamu menjadi itu, aku saja sudah tak bisa menahan rindu.

Apalagi jika kamu memang teman masa kecilku, aku mungkin takkan bisa hidup tanpamu.

Bogor, 15 Oktober 2025

Januari

Tak banyak yang bisa tertuang di sini.

Namun, percayalah, ide – ideku tentangmu di kepalaku mengembara liar dan menggairahkan.

Kamulah tokoh kehidupan yang akan kujadikan alasan untukku menulis.

Aku menggenggam erat komitmen dan berusaha menyisihkan pilihan yang tak masuk akal bagiku.

Ya, kamu tahu artinya!

Kita adalah sisa – sisa peluang takdir yang setengah utuh.

Bertemu, tapi tak satu.

Bersatu, tapi tak melebur.

Setiap memori yang tercipta mengukir setetes demi setetes kedalaman harmoni.

Ya, kita adalah harmoni!

Menikmati waktu yang tersedia pada himpitan balada dunia.

Jadi, kapan terakhir kita bersenang – senang?

Januari?

Bogor, 22 Juni 2024

00 : 00

Aku adalah salah satu penguasa malam.

Menaklukan gelap dengan berbagai imaji yang dalam.

Menelusuri benih – benih ramalan yang mungkin terang atau kelam.

Mengabdikan diri untuk mencari kebenaran secara khatam.

Aku adalah salah satu penguasa malam.

Kuselami jejaring data yang tercantum pada nuansa alam.

Kutempuh perjalanan emosional yang cukup menghentakkanku secara tajam.

Kutuangkan tinta pemikiran melalui bahasa yang mengecam.

Aku adalah salah satu penguasa malam…

Yang terasingkan oleh matahari yang tak kunjung terpejam.

Bogor, 23 Februari 2024

Benang Merah

Di sini aku, berusaha menjalin benang merah yang melintang pada beberapa pola.

Begitu kusut dan melilit, hampir mustahil untuk mengurainya.

Banyak jalur dengan ratusan simpul, mungkin harus kumulai dari yang termudah.

Kugunakan jarum untuk membantu, tetapi ternyata jariku harus terluka beberapa kali.

Mengapa begitu sulit melihat jalur benang ini?

Mengapa harus mengorbankan kulitku untuk menyelesaikannya semuanya?

Apa aku menyerah saja dan kubuang benang merah itu bersama sisa darahku di sana?

Atau… haruskah kugunakan gunting agar lebih praktis untuk menyelesaikannya?

Bogor, 23 September 2023

Jakarta

Gelapnya malam dan terangnya gedung tinggi Ibukota menghiasi akhir hari yang berangin lembut.

Sekumpulan pekerja yang sengaja pulang larut, menghibur diri melalui secangkir kopi dan tawa canda teman sejawat.

Lalu lalang kendaraan mulai menyepi di penghujung dua puluh empat jam.

Sederet komunitas beraktifitas menjelang pergantian tanggal.

Tunawisma tidur beratapkan langit di bangku – bangku taman.

Kereta terakhir menjadi batas waktu perpindahan manusia Jabodetabek.

Setiap stasiun tersinggahi dan menjadi tempat pertama dan terakhir pertemuan hari.

Berjalan menyusuri kota yang begitu hidup di tengah malam.

Menapaki kembali jejak yang pernah terukir di masa lampau.

Mereka ulang adegan manis yang terekam di memori.

Meresapi euforia rasa yang menggebu – gebu, lagi dan lagi.

Bersamanya, yang kini sedang menggenggam tanganku erat di rangkulannya.

Bogor, 29 Agustus 2023

Beda

Sebuah dunia.

Dengan ukuran yang sama antara tanah dan langit.

Dengan kecepatan udara melintas di titik angka yang sama, memberi napas pada setiap makhluk yang dilewati.

Dengan sejarah yang sama, lahir para bayi di tahun yang sama.

Dengan kisah yang sama, dengan kopi pahit yang terpaksa diminum karena penasaran.

Dengan burung beo yang sama, melintas di kala senja yang cerah.

Dengan tawa yang sama, dengan taraf candaan di luar nalar yang persis sama.

Dengan orang yang sama, dengan lantunan gitar yang membuat malam menjadi penuh arti.

Dengan pertanyaan bodoh yang sama, tetapi dengan jawaban yang berbeda.

Setelah dua puluh delapan tahun, akhirnya mereka dipersatukan oleh takdir.

Dalam sebuah dunia, dengan dimensi yang berbeda.

Bogor, 11 Agustus 2023

Pertanyaan

Biarkan aku memandang putihnya salju yang menutupi suatu distrik.

Biarkan aku mengembara ke gurun tak bernama.

Biarkan aku menelusuri jejak yang tercetak di tanah hutan belantara.

Biarkan aku menghirup aroma bunga – bunga yang tertanam pada kebun antah berantah.

Biarkan aku menjelajahi salah satu galaksi di jagat raya ini.

Biarkan aku berbicara pada bintang – bintang.

Biarkan aku berpetualang mendulang emas di antara piramida.

Biarkan aku terbenam dalam asinnya air laut sejenak.

Biarkan aku berteriak memanggil suatu nama di kerajaan awan.

Aku mencari, dan terus mencari.

Suatu rasa, yang asing dan membelengguku.

Suatu penjelasan, atas berbagai pertanyaanku.

Suatu hari, yang aku takkan lagi bertanya, mengapa dan mengapa.

Suatu tempat, yang bisa menjadi rumah bagiku.

Dan suatu hal, tempatku membuang semua gejolak emosi.

Jadi…

Apa? Bagaimana? Mengapa? Di mana? Siapa?

Bogor, 9 Juni 2023

Malam

Tenang, aku tak bersamanya kali ini.

Saat ini, aku bebas mencintaimu sedalam – dalamnya.

Tanpa takut terluka akan realita yang ada.

Kita mengarungi sebuah kota tak berpenghuni, sebuah distrik yang dipenuhi banyak sarang laba – laba di dalam bangunannya.

Begitu lengang di siang hari yang tak pernah kita lihat, dan mencekam di malam hari.

Namun, aku bersamamu.

Jadi, aku tak takut apapun.

Kamu nyata di sini, di tempat ini.

Sambil menyanyi senyaring – nyaringnya dalam balutan hitam pekat malam hari.

Sambil menari gembira menyambut baterai senter yang sudah kita cari sejauh ini.

Kita tak peduli, kita menyatu dalam kegelapan, dalam malam panjang terakhir kita.

Lalu, kita terisak satu sama lain, menangisi pagi yang hampir tiba.

Waktu kita hampir habis.

Kita benci fajar, kita benci terik.

Sebab, matahari menuntutku untuk menggunakan kembali tiara logika yang kemarin sengaja kutinggalkan.

Bogor, 27 Februari 2023

Kunjungan

Pelarian dari rutinitasku yang membosankan.

Runtuh semua persona yang kupasang.

Beberapa jam di tengah malam merupakan waktu berkunjung.

Sudah tak terhitung berapa kali aku didatangi dalam keadaan sadar.

Begitu haru aku menyaksikannya dalam adegan yang sama.

Melalui obrolan hangat dan bermakna.

Sebuah imajinasi yang nyata, dengan realita yang samar tak tersentuh.

Bandara, pantai, petang, jalanan, rumah.

Sudah berapa lama aku terjebak di lalu lintas masa?

Oh, sudah setahun.

Namun, jika aku punya tiga permintaan, pertama, bisakah aku kembali lagi?

Kedua, bisakah aku memutuskan untuk tak mengirim sesuatu pada siapapun?

Ketiga, bisakah aku mematikan satu titik rasa yang terlalu delusional untuk ditekan?

Tolonglah, aku hanya sedikit… lelah.

Bogor, 22 Januari 2023

Cinta Pertama

Setiap orang memiliki seseorang yang spesial di hatinya. Yang pertama mengukir kenangan manis di masa remaja, transisi, ataupun dewasa. Yang membedakan adalah, kita bisa berakhir bahagia dengan seseorang itu, atau kita malah terpaksa berpisah demi kebaikan masing – masing. Dan aku adalah salah satu yang harus mengucapkan selamat tinggal kepada seseorang itu.

Ketika aku tahu, bahwa orang – orang yang kukenal memiliki luka yang sama sepertiku, aku terhenyak, dan merenung akan betapa tidak adilnya dunia ini. Perbedaan agama, keyakinan dan prinsip, pengkhianatan, status sosial, jarak dan waktu, juga kematian memiliki andil yang cukup besar untuk memisahkan dua insan muda yang sedang digeluti asmara. Betapa sedikitnya orang yang berakhir bahagia bersama cinta pertamanya.

Dengan perpisahan, rasa menjadi mati, hambar dan tak lagi menggairahkan. Perasaan tak lagi mendominasi, karena rasa sakit menjadikan logika berjaya kedudukannya. Logikapun mendeklarasikan tujuan utamanya, yaitu tak mengulang kesalahan yang sama, juga mengutamakan masa depan yang mapan dan normal bersama keluarga kecil yang harmonis. Namun, perasaan yang terluka malah bolak – balik menggali masalalu yang telah dikubur, untuk bernostalgia dalam kesendirian. Lawan jenis lain yang datang untuk mengobati luka di hati, diabaikan karena tak sesuai dengan standar cinta pertama yang pernah berpengalaman di hati. Pernikahan diadakan karena logika menuntut pertemanan seumur hidup, untuk saling memberi manfaat terhadap pasangan sah, bukan lagi tentang memberi cinta yang semestinya.

Aku paham sekarang, mengapa ada orang yang begitu nekat untuk selingkuh dengan yang terdahulu mengisi hatinya. Sebab kenangan dan perasaan itu begitu kuat melekat dalam sanubari. Tak pernah tergantikan, tak pernah terhapus dari alam bawah sadar. Namun, bukan berarti aku setuju dengan selingkuh, walaupun mungkin aku sedang berselingkuh dengan nostalgia dan imajinasiku sendiri. Semuanya punya porsi masing – masing. Punya keluarga, tanggungjawab, masa depan dan komitmen yang harus dijaga.

Dengan rasa yang mati tadi pula, manusia bekerja hanya untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup, seperti robot pencari uang yang bisa lapar dan berekskresi. Bekerja menjadi pelarian, pelampiasan, dan distraksi atas rumitnya hati yang semrawut. Terlahir karya seni, penemuan hebat, kesepakatan penting perusahaan melalui hati – hati yang patah ini. Perut selalu panas oleh metabolisme, tetapi kalbu beku dan mematikan, jika tak disembuhkan.

Pertanyaan yang mungkin sulit untuk dijawab oleh semua orang adalah, bagaimana cara menyembuhkan luka patah hati itu? Menurutku, yang telah kulalui sejauh ini, waktu dan pengganti yang tepat akan menyembuhkan luka itu. Namun, bekasnya tetap ada, melintang di tengah keharmonisan keluarga baru. Dan menjadi bagian dari diri sendiri, selamanya, menjadi kisah lalu yang bisa dikenang pada masa tua nanti, atau bahkan menjadi cerita roman picisan versi diri sendiri untuk anak cucu kelak.

Satu lagi, jika kamu tak merasakan apa yang dijelaskan di tulisan ini, kemungkinannya, pertama, kamu menikahi cinta pertamamu. Kedua, kamu belum pernah mengalami jatuh cinta. Ketiga, kamu berhasil bangkit dan melupakan cinta pertamamu sepenuhnya, entah bagaimana caranya (dan aku akui kamu hebat!).

Tangerang, 8 Januari 2023