Tali

Tali itu begitu mudah putus dan lepas.

Sedikit percikan api, atau goresan, maka kandas sudah ikatannya, betapapun kuatnya simpul yang diciptakan.

Harganya murah, kualitasnya standar, tetapi yang paling penting, tali itu kurang cocok untuk menghubungkan dua benda itu.

Mungkin untuk darurat, tali itu bisa dimanfaatkan.

Namun, aku ingin menggunakannya untuk jangka waktu yang cukup lama.

Jadi, aku putuskan untuk menggantinya dengan tali lain yang lebih berkualitas dan pantas.

Aku tak ingin mengganti tali pilihan terakhirku, hingga ia benar – benar rusak dan tak bisa digunakan lagi.

Hingga ia tak lagi punya kekuatan untuk mempertahankan ikatannya antara dua benda itu.

Bogor, 9 Januari 2023

Cinta Pertama

Setiap orang memiliki seseorang yang spesial di hatinya. Yang pertama mengukir kenangan manis di masa remaja, transisi, ataupun dewasa. Yang membedakan adalah, kita bisa berakhir bahagia dengan seseorang itu, atau kita malah terpaksa berpisah demi kebaikan masing – masing. Dan aku adalah salah satu yang harus mengucapkan selamat tinggal kepada seseorang itu.

Ketika aku tahu, bahwa orang – orang yang kukenal memiliki luka yang sama sepertiku, aku terhenyak, dan merenung akan betapa tidak adilnya dunia ini. Perbedaan agama, keyakinan dan prinsip, pengkhianatan, status sosial, jarak dan waktu, juga kematian memiliki andil yang cukup besar untuk memisahkan dua insan muda yang sedang digeluti asmara. Betapa sedikitnya orang yang berakhir bahagia bersama cinta pertamanya.

Dengan perpisahan, rasa menjadi mati, hambar dan tak lagi menggairahkan. Perasaan tak lagi mendominasi, karena rasa sakit menjadikan logika berjaya kedudukannya. Logikapun mendeklarasikan tujuan utamanya, yaitu tak mengulang kesalahan yang sama, juga mengutamakan masa depan yang mapan dan normal bersama keluarga kecil yang harmonis. Namun, perasaan yang terluka malah bolak – balik menggali masalalu yang telah dikubur, untuk bernostalgia dalam kesendirian. Lawan jenis lain yang datang untuk mengobati luka di hati, diabaikan karena tak sesuai dengan standar cinta pertama yang pernah berpengalaman di hati. Pernikahan diadakan karena logika menuntut pertemanan seumur hidup, untuk saling memberi manfaat terhadap pasangan sah, bukan lagi tentang memberi cinta yang semestinya.

Aku paham sekarang, mengapa ada orang yang begitu nekat untuk selingkuh dengan yang terdahulu mengisi hatinya. Sebab kenangan dan perasaan itu begitu kuat melekat dalam sanubari. Tak pernah tergantikan, tak pernah terhapus dari alam bawah sadar. Namun, bukan berarti aku setuju dengan selingkuh, walaupun mungkin aku sedang berselingkuh dengan nostalgia dan imajinasiku sendiri. Semuanya punya porsi masing – masing. Punya keluarga, tanggungjawab, masa depan dan komitmen yang harus dijaga.

Dengan rasa yang mati tadi pula, manusia bekerja hanya untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup, seperti robot pencari uang yang bisa lapar dan berekskresi. Bekerja menjadi pelarian, pelampiasan, dan distraksi atas rumitnya hati yang semrawut. Terlahir karya seni, penemuan hebat, kesepakatan penting perusahaan melalui hati – hati yang patah ini. Perut selalu panas oleh metabolisme, tetapi kalbu beku dan mematikan, jika tak disembuhkan.

Pertanyaan yang mungkin sulit untuk dijawab oleh semua orang adalah, bagaimana cara menyembuhkan luka patah hati itu? Menurutku, yang telah kulalui sejauh ini, waktu dan pengganti yang tepat akan menyembuhkan luka itu. Namun, bekasnya tetap ada, melintang di tengah keharmonisan keluarga baru. Dan menjadi bagian dari diri sendiri, selamanya, menjadi kisah lalu yang bisa dikenang pada masa tua nanti, atau bahkan menjadi cerita roman picisan versi diri sendiri untuk anak cucu kelak.

Satu lagi, jika kamu tak merasakan apa yang dijelaskan di tulisan ini, kemungkinannya, pertama, kamu menikahi cinta pertamamu. Kedua, kamu belum pernah mengalami jatuh cinta. Ketiga, kamu berhasil bangkit dan melupakan cinta pertamamu sepenuhnya, entah bagaimana caranya (dan aku akui kamu hebat!).

Tangerang, 8 Januari 2023

Lusuh

Seniman jalanan itu lusuh tak berbedak.

Menari – nari di kesendirian tengah malam.

Menertawakan semut – semut yang gagal membawa remah roti ke sarangnya.

Mengguratkan beribu sajak pada setiap permukaan yang rata dengan jarinya yang hitam legam.

Menghangatkan perut pada dinginnya dini hari, dengan beberapa sisa botol teh dan beberapa kotak makanan yang hampir basi.

Tak mandi, tak berbenah.

Ia perlihatkan gigi kuningnya pada semua orang yang memandangnya jijik.

Menjelang pagi, ia tata tempat tidurnya sebaik mungkin.

Mulai terlelap di antara lalu lalang manusia.

Hingga mimpinya buyar karena air bah yang turun dari langit.

Bogor, 24 Desember 2022

Validasi

Menata kehampaan yang tak kunjung berhenti untuk singgah di hati.

Meraba validasi rasa dari berbagai simfoni kehidupan.

Mencipta berbagai seni untuk menampung semua gejolak emosi.

Menyuarakan hening dalam guratan pena.

Mengagumi spektakulernya karya Sang Maestro di ujung cakrawala.

Mengasingkan diri dari berisiknya buana.

Merancang skenario yang takkan pernah terjadi.

Bernostalgia dengan koneksi batin di masalalu.

Berdebat dengan suara – suara di pikiran.

Berusaha mengetahui apa yang dirasakan di dalam benak.

Dalam kesendirian, berulangkali, hingga tak ada lagi oksigen dalam tubuh ini.

Bogor, 17 Desember 2022

Penasaran

Mengetahui, menyaksikan dan menawarkan.

Rasa penasaran akan membuatmu merasakan ketiganya.

Bagai dua sisi dalam satu koin, ketiganya memiliki antitesis yang sangat timpang dalam satu karakter.

Dengan penasaran, kamu bisa mengetahui hal – hal yang berguna untuk hidupmu; atau yang tak bermanfaat sama sekali bagimu.

Dengan penasaran, kamu bisa menyaksikan berbagai euforia kesenangan yang membuat batinmu bahagia; atau kejadian yang membuatmu traumatik seumur hidup.

Dengan penasaran, kamu bisa menawarkan solusi yang cukup signifikan untuk berbagai masalahmu; atau kehancuran untuk memporakporandakan hidupmu yang damai.

Ada kalanya penasaran membuatmu hidupmu lebih baik, tetapi tak jarang pula menjerumuskanmu ke dalam lingkaran setan yang tak berujung.

Dan kamu tahu?

Selalu ada pilihan untuk berhenti di dalam dirimu.

Gunakanlah dengan bijak, di saat yang tepat.

Bogor, 10 Desember 2022

Realita

Seperti apa wujud dari realita?

Apakah yang ada di depan mataku, atau hanya interpretasi dari apa yang kupikirkan?

Apakah realita tersusun dari sekelompok manusia yang berbisik membicarakan keburukan manusia lain?

Apakah realita terdeskripsi sebagai harapan – harapan yang tak pernah terwujud?

Apakah realita menceritakan sukacita kelulusan mahasiswa?

Apakah realita mencakup pencarian jati diri?

Apakah realita merangkul masalalu?

Apakah realita menetapkan suatu standar yang cukup ‘idealis’ bagi para penganut idealisme?

Apakah realita tempat yang cukup aman untuk berbagi?

Apakah realita menjanjikan kehidupan yang takkan ada lagi air mata?

Apakah realita tempat yang baik untuk dihuni?

Atau aku kembali saja ke utopiaku yang jauh lebih menyenangkan?

Bogor, 7 Desember 2022

Peluru

Menyusuri ruang antara langit dan tanah, lelaki itu terhuyung membawa tubuhnya sendiri.

Sinyal otaknya yang hampir lumpuh memerintahkannya untuk beristirahat di bawah pohon beringin tua.

Ia tersenyum menahan pedihnya peluru yang menancap ke jantungnya beberapa detik lalu.

Matanya yang entah kapan terakhir kali menangis, akhirnya tumpah tak terkendali, mengingat nikmatnya masakan Ibunya pada siang hari yang terik setelah shalat Zuhur.

Mengenang pelukan istrinya yang hangat setelah melayaninya di kegelapan malam.

Bernostalgia dengan tawa riang anak perempuannya yang menyambutnya pulang.

Semua memori itu begitu cepat berputar di kepalanya, hingga terhenti di satu adegan yang tak akan pernah ia ingat lagi esok hari;

Tangannya yang berlumur darah.

Bogor, 21 November 2022

Lagu

Terkadang aku berpikir, bahwa tak seharusnya lagu patah hati diciptakan.

Nada kepedihan dengan lirik yang menusuk, menjebak manusia terkurung di masa lalu.

Mengulang memori yang sama, tentang betapa indahnya kisah di album yang usang.

Membuang apa yang dimilikinya kini deminya yang imajiner.

Membiarkan luka – luka basah yang masih bersemayam di hati.

Memenjarakan diri dalam angan yang peluangnya hampir tak ada.

Menunggu datangnya kesempatan kedua yang mungkin saja tak pernah ditakdirkan.

Namun, realitanya, hampir semua orang menikmati rasa sakit itu.

Lucunya pula, akulah salah satunya.

Dan mungkin saja, jika aku memiliki kemampuan dalam bermusik, kini aku telah menciptakan berpuluh lagu patah hati.

Kudedikasikan lagu – laguku untuk seseorang yang telah berhasil membuatku berdamai dengan kenyataan, meskipun ia tak pernah tahu.

Nyatanya, aku hanya mampu membuat prosa, yang tak lebih dari sebuah literasi visual yang membosankan.

Yang takkan membuat orang lain ketagihan untuk membacanya, lagi dan lagi.

Tak apa, aku tahu sebatas mana kemampuanku.

Akupun yakin, di sana ia masih terus mencari lagu patah hati yang baru untuk memelihara nostalgianya.

Mendengarnya berulangkali, hingga ia terlelap dalam belenggu paralelnya, yang kupercaya bukan diriku.

Bogor, 6 November 2022

Tiga Dua

Dariku yang punya impian gila untukmu.

Dariku yang memikirkan apa yang kamu pikirkan.

Dariku yang hanya bisa mengibarkan bendera putih dari seberang pulau.

Dariku yang tak bisa memberikan apapun.

Dan untukmu, yang menggeluti utopiaku hingga suasana gulita; selamat menua.

Selamat menjajaki usia yang semakin dekat dengan langit.

Tentu saja, aku sedang merayakanmu… di pikiranku.

Bogor, 31 Oktober 2022

Overthinker

Kutukan dan anugerah, menyatu dalam konspirasi pikiran manusia.

Sebuah bibit ketidakadilan bagi seseorang, yang hanya ingin ‘hidup’ di dunia nyata. 

Berusaha menepis semua pemberontakan yang dibayangi oleh sisi gelapnya.

Detik demi detik ia lalui dengan belenggu batin yang menjeratnya. 

Menjadikan dunianya terlapisi kubah transparan, yang menyetrumnya setiap kali ia ingin lari dari dirinya. 

Membuatnya babak belur, dihajar oleh dunia yang ia ciptakan sendiri.

Tak ada siapapun, hanya ia seorang diri di sana. 

Meringkuk dalam kesepian yang pilu dan tak kenal ampun. 

Air matanyapun telah mengerak di setiap sudut wajahnya. 

Dari kejauhan, mulutnya terlihat bergerak pelan.

Bergumam pertanyaan yang sama berjuta kali.

“Seperti apa rasanya menjadi bodoh dan tak tahu apapun?”

“Seperti apa rasanya tak pernah berpikir?”

Bogor, 6 Oktober 2022