Logika vs Emosi

Tumpah, rasionalitas itu meluap – luap dari epidermis kulitnya.

Melindungi pikirannya dari semua gencatan emosi.

Menakar kortisol yang menurutnya cukup untuk menjaga kewarasannya.

Menangkalnya dari manusia – manusia tak tahu diri yang menginjak harga dirinya.

Melegalkan nirempati pada dirinya untuk memenuhi semua egonya.

Melayangkan sindiran yang tenang pada kepedulian yang terlalu mengakar pada perspektif lain.

Menikmati kerja kerasnya secara frugal demi masa depan yang mapan.

—-

Di seberang sana, emosi tak terbendung hanya pada satu rasa.

Banyak pintu empati yang ia miliki, dan jika sebuah pintu terbuka, akan sulit untuk menutupnya kembali jika tidak hati – hati.

Kortisol berlebihan menciptakan bom waktu pada tubuh yang sering tumbang oleh terpaan stimulasi luar.

Roman picisan menjadi makanan bagi jiwanya; memenuhi dahaga cinta yang tak pernah ia dapatkan dari siapapun.

Kesedihan dibelinya dengan rasa iba dan donasi yang ia sisihkan dari anggaran kebutuhannya.

Masa depan menjadi kelabu baginya, dengan tabungan yang sering dihamburkan demi kemaslahatan saudara sedarah.

Namun, indah sekali caranya menolong sesama makhluk.

Perasaannya yang kaya dan tangan atasnya menjadikannya baik dipandang dari segi kemanusiaan.

—-

Mereka tak saling kenal, tetapi kini berada dalam satu jangkauan mata.

Yang satu menyimpan emas, yang satunya lagi mengambil uang.

Namun, satu kesamaan yang mereka miliki.

Gurat wajah yang sama – sama lelah untuk bertahan hidup.

—-

Jakarta, 19 Mei 2025

L

“Teruntuk para orangtua di luar sana, ketika anak mengatakan ‘tidak betah’ saat tinggal di tempat lain selain rumah, selidiki, cari tahu alasan yang sebenarnya mengapa anak Anda mengatakan hal tersebut.”

Kira – kira seperti itulah pernyataan yang kudengar dengan seksama dari seorang ibu asuh, pada berita viral pelecehan seksual, kemarin sore di salah satu saluran stasiun televisi terkenal pada platform Youtube.

Seketika, memori buruk dari masa remaja mengintai kembali. Aku menghela napas panjang, dan tersadar betapa terhubungnya aku dengan berita viral itu, meskipun dalam kasus yang berbeda.

Pernyataan yang sedikit membuatku terhenyak, sebab, aku pernah mengatakan ‘tidak betah’, saat tinggal di rumah seseorang selain rumah orangtuaku saat remaja. Aku mengatakan itu kepada diriku sendiri. Orangtuaku saat itu tak sebersitpun tahu.

Aku benci menceritakan itu, tetapi ketika aku merasa lemah selemah – lemahnya, aku terpancing untuk menceritakan apa yang aku alami di sana. Memang bukan kekerasan verbal, fisik, ataupun pelecehan seperti yang dialami oleh korban lainnya, tetapi secara psikis, aku cukup rusak saat itu. Trauma berat yang aku rasakan, sebab aku jauh dari orangtua, jauh dari keluarga, membuatku merasa menghadapi semuanya sendirian kala itu. Aku sering berkata ‘aku ingin pulang’, tetapi hanya kuucapkan di pikiran, monolog, dan buku harianku saat itu, sebab aku masih ingin bertahan untuk mencapai masa depanku yang kuyakini gemilang.

Aku takkan menceritakan detail kejadian itu, tetapi aku berpikir, beberapa orang tahu kejadian apa yang aku maksud.

Dan di sini, saat ini, setelah aku menjadi ibu rumah tangga, yang ternyata impianku meleset jauh dari rencana awalku (dan aku tidak menyesal, if you know, you know), aku mengenang hari – hari itu sebagai proses yang mendewasakanku. Dua patah kata ‘tidak betah’, yang selalu kuulangi selama enam tahun aku di sana, yang akhirnya tersampaikan ketika Bapak menyambutku di bandara tanah kelahiranku, membuatku bertekad saat itu. ‘Kelak, aku akan selalu mendengarkan pendapat anakku, berempati pada perasaannya, menghargai keberadaannya, mendidiknya menjadi bijaksana dan tangguh, menceritakan pandanganku tentang kehidupan, juga tak membiarkannya jauh dariku di saat yang belum tepat’.

Aku akan mengisi kekosongan diriku dengan pelajaran yang akan kuterapkan saat menjadi orangtua kini. Aku akan mendengar ocehannya meskipun aku sendiri masih sibuk menghibur diriku akan penatnya rutinitas. Dan meskipun tak pernah ada kesempurnaan dalam metode parenting yang kuterapkan, aku akan melakukan segala cara yang kuyakini tepat. Aku takkan pernah menjadi ibu yang sempurna, tetapi aku akan menjadi ibu yang terbaik baginya. Tempat di mana ia bisa mengadu apapun selain pada Tuhannya. Tempat yang ia sebut rumah, ketika ia ingin pulang karena kelelahan menghadapi dunia yang keras ini. Tempat di mana ia berbagi suka dan duka.

Aku ingin ditangisi ketika mati, dicari ketika tak ada, disayang ketika ada, dan didoakan sepanjang hayatnya. Aku ingin ciuman dan pelukan bertubi – tubi darinya. Aku ingin menceritakan semuanya padanya. Aku akan membalas dendam inner child-ku dengan mencintainya sepenuh hati. The one and only, my daughter, my lovely L. She’s the greatest gift I’ve ever gotten in my life. Gonna listen to Daughters by John Mayer now.

Bogor, 12 Oktober 2024

Indera

Setiap sudut bumi meronta menyuarakan keadilan.

Terpaku, menatap mata – mata yang nanar akan penderitaan.

Menyelimuti kulit – kulit yang kedinginan di bawah matahari.

Menenangkan saraf – saraf yang mulai kehilangan fungsi yang semestinya.

Mendengarkan jeritan dari mulut – mulut yang tak berdaya untuk berbicara.

Memaniskan lidah – lidah yang sudah tak terkena makanan dalam beberapa waktu.

Menidurkan telinga – telinga yang terganggu akibat ledakan dan tangisan.

Sesungguhnya, mereka yang berbuat itu sangat paradoksikal.

Hidup di bumi, tetapi pura – pura buta dan tuli akan kebenaran yang telah, dan akan ada.

Bogor, 1 Juni 2024

Masa

Langit malam semakin pekat dan tak bergeming.

Aku terbaring di hamparan pasir yang luas dan kering.

Dingin, pilu menusuk hingga tulang.

Namun, pesona gemintang di antara gelapnya malam membuatku sedikit tersenyum.

Ternyata, masih ada keindahan yang terlihat di balik kebelengguan ini.

Aku sudah berulang kali merasakan adegan yang sama, tetapi tidak pernah sedamai ini.

Melangkah pergi dari suatu kehidupan yang penuh warna, menuju hitam putih layar tak pernah semenarik ini.

Ada yang kunantikan di suatu masa, di mana keintiman fisik tak lagi menjadi prioritas.

Suatu masa, di mana kemungkinan kecil itu hadir menembus ketidakmungkinan.

Suatu masa di mana, rambut kita memutih tanda menuanya kita sebagai manusia.

Suatu masa di mana, kita duduk bersama, mengenang petualangan beberapa bulan ini dengan hati yang penuh.

Selamat mengarungi samudera tanpaku, Kawan.

Jika takdir berpihak, aku yakin, perahumu akan berlabuh di daratanku, meskipun sedikit terlambat.

Bogor, 25 Januari 2024

Empati

Aku berada di setapak persimpangan jalan yang berkabut.

Menelaah kembali berbagai rasa yang hiruk pikuk melanda batin.

Aku tak tahu arah jalan pulang, bahkan sepertinya aku sama sekali tak berniat untuk kembali.

Mungkin aku hanya bersikap realistis.

Hal yang paling menguntungkan, itu yang kuambil.

Hal yang mengisi nadi – nadi kebutuhanku, itu yang kugenggam.

Hal yang tak pernah pergi dariku, itu yang kudekap.

Sudah terlalu lama aku berada dalam lingkaran iblis.

Menjadikanku memiliki citra buruk pada sebagian kalangan.

Menjadikanku mati rasa pada berbagai substansi.

Menjadikanku memiliki sisa remah empati yang tergeletak bersama logika yang terus menggerus.

Bogor, 23 Desember 2023

Benang Merah

Di sini aku, berusaha menjalin benang merah yang melintang pada beberapa pola.

Begitu kusut dan melilit, hampir mustahil untuk mengurainya.

Banyak jalur dengan ratusan simpul, mungkin harus kumulai dari yang termudah.

Kugunakan jarum untuk membantu, tetapi ternyata jariku harus terluka beberapa kali.

Mengapa begitu sulit melihat jalur benang ini?

Mengapa harus mengorbankan kulitku untuk menyelesaikannya semuanya?

Apa aku menyerah saja dan kubuang benang merah itu bersama sisa darahku di sana?

Atau… haruskah kugunakan gunting agar lebih praktis untuk menyelesaikannya?

Bogor, 23 September 2023

Kita

Apakah kita mengenal satu sama lain untuk mengadu siapa yang paling malang?

Apakah kita terlalu menyedihkan untuk memiliki akhir yang bahagia?

Apakah kita terlalu paradoks untuk berada di satu jalur yang konsisten?

Apakah kita terlalu tergesa – gesa dalam menyangkal takdir yang ada?

Apakah kita terlalu munafik untuk menjalani kehidupan di dua poros?

Apakah kita terlalu hina untuk menjalani hidup yang normal?

Apakah kita terlalu gila untuk merasakan warasnya jiwa?

Apakah kita hanya menunggu sesuatu yang sebenarnya hanya ilusi belaka?

Apakah kita hanya menciptakan berbagai adegan yang akan menjadi bahagia yang getir di masa depan?

Apakah kita terlalu delusional dalam mengungkapkan hal yang tak seharusnya ada?

Apakah kita hanya saling menampung beban satu sama lain hingga akhirnya salah satu terbunuh dengan beban itu?

Apakah kita akan terus berlanjut hingga titik darah penghabisan?

Apakah kita akan tidur bersama di liang lahat yang bersebelahan?

Bogor, 14 September 2023

Hidup dan Mati

Aku berdiri di atas banyak kesalahan.

Memuja hal yang seharusnya tak kupikirkan sedetikpun.

Mati rasa pada hal yang seharusnya aku pelihara.

Berbagai paradoksikal rasa yang aku sendiri lelah menjalaninya.

Mimpi – mimpi malamkupun merupakan pelarian atas rumitnya jalan pikiranku.

Aku sakit, hanya saja aku masih bisa tidur nyenyak akibat kelelahan.

Aku sakit, hanya saja aku masih bisa makan dua kali sehari.

Sesehat itu fisikku untuk pikiran – pikiran yang membunuhku.

Bagaimana lagi aku harus mengenyahkan gundah yang perlahan mematikanku?

Bagaimana lagi aku harus menghidupkan rasa yang seharusnya tumbuh subur saat ini?

Aku hidup dan mati, di tempat yang tak seharusnya.

Namun, aku tak berdaya untuk menukarnya.

Seakan – akan, aku harus hidup dengan ini dalam waktu yang lama.

Aku lelah.

Aku lelah.

Bogor, 17 Februari 2023

Cinta Pertama

Setiap orang memiliki seseorang yang spesial di hatinya. Yang pertama mengukir kenangan manis di masa remaja, transisi, ataupun dewasa. Yang membedakan adalah, kita bisa berakhir bahagia dengan seseorang itu, atau kita malah terpaksa berpisah demi kebaikan masing – masing. Dan aku adalah salah satu yang harus mengucapkan selamat tinggal kepada seseorang itu.

Ketika aku tahu, bahwa orang – orang yang kukenal memiliki luka yang sama sepertiku, aku terhenyak, dan merenung akan betapa tidak adilnya dunia ini. Perbedaan agama, keyakinan dan prinsip, pengkhianatan, status sosial, jarak dan waktu, juga kematian memiliki andil yang cukup besar untuk memisahkan dua insan muda yang sedang digeluti asmara. Betapa sedikitnya orang yang berakhir bahagia bersama cinta pertamanya.

Dengan perpisahan, rasa menjadi mati, hambar dan tak lagi menggairahkan. Perasaan tak lagi mendominasi, karena rasa sakit menjadikan logika berjaya kedudukannya. Logikapun mendeklarasikan tujuan utamanya, yaitu tak mengulang kesalahan yang sama, juga mengutamakan masa depan yang mapan dan normal bersama keluarga kecil yang harmonis. Namun, perasaan yang terluka malah bolak – balik menggali masalalu yang telah dikubur, untuk bernostalgia dalam kesendirian. Lawan jenis lain yang datang untuk mengobati luka di hati, diabaikan karena tak sesuai dengan standar cinta pertama yang pernah berpengalaman di hati. Pernikahan diadakan karena logika menuntut pertemanan seumur hidup, untuk saling memberi manfaat terhadap pasangan sah, bukan lagi tentang memberi cinta yang semestinya.

Aku paham sekarang, mengapa ada orang yang begitu nekat untuk selingkuh dengan yang terdahulu mengisi hatinya. Sebab kenangan dan perasaan itu begitu kuat melekat dalam sanubari. Tak pernah tergantikan, tak pernah terhapus dari alam bawah sadar. Namun, bukan berarti aku setuju dengan selingkuh, walaupun mungkin aku sedang berselingkuh dengan nostalgia dan imajinasiku sendiri. Semuanya punya porsi masing – masing. Punya keluarga, tanggungjawab, masa depan dan komitmen yang harus dijaga.

Dengan rasa yang mati tadi pula, manusia bekerja hanya untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup, seperti robot pencari uang yang bisa lapar dan berekskresi. Bekerja menjadi pelarian, pelampiasan, dan distraksi atas rumitnya hati yang semrawut. Terlahir karya seni, penemuan hebat, kesepakatan penting perusahaan melalui hati – hati yang patah ini. Perut selalu panas oleh metabolisme, tetapi kalbu beku dan mematikan, jika tak disembuhkan.

Pertanyaan yang mungkin sulit untuk dijawab oleh semua orang adalah, bagaimana cara menyembuhkan luka patah hati itu? Menurutku, yang telah kulalui sejauh ini, waktu dan pengganti yang tepat akan menyembuhkan luka itu. Namun, bekasnya tetap ada, melintang di tengah keharmonisan keluarga baru. Dan menjadi bagian dari diri sendiri, selamanya, menjadi kisah lalu yang bisa dikenang pada masa tua nanti, atau bahkan menjadi cerita roman picisan versi diri sendiri untuk anak cucu kelak.

Satu lagi, jika kamu tak merasakan apa yang dijelaskan di tulisan ini, kemungkinannya, pertama, kamu menikahi cinta pertamamu. Kedua, kamu belum pernah mengalami jatuh cinta. Ketiga, kamu berhasil bangkit dan melupakan cinta pertamamu sepenuhnya, entah bagaimana caranya (dan aku akui kamu hebat!).

Tangerang, 8 Januari 2023

Lusuh

Seniman jalanan itu lusuh tak berbedak.

Menari – nari di kesendirian tengah malam.

Menertawakan semut – semut yang gagal membawa remah roti ke sarangnya.

Mengguratkan beribu sajak pada setiap permukaan yang rata dengan jarinya yang hitam legam.

Menghangatkan perut pada dinginnya dini hari, dengan beberapa sisa botol teh dan beberapa kotak makanan yang hampir basi.

Tak mandi, tak berbenah.

Ia perlihatkan gigi kuningnya pada semua orang yang memandangnya jijik.

Menjelang pagi, ia tata tempat tidurnya sebaik mungkin.

Mulai terlelap di antara lalu lalang manusia.

Hingga mimpinya buyar karena air bah yang turun dari langit.

Bogor, 24 Desember 2022