Hidup dan Mati

Aku berdiri di atas banyak kesalahan.

Memuja hal yang seharusnya tak kupikirkan sedetikpun.

Mati rasa pada hal yang seharusnya aku pelihara.

Berbagai paradoksikal rasa yang aku sendiri lelah menjalaninya.

Mimpi – mimpi malamkupun merupakan pelarian atas rumitnya jalan pikiranku.

Aku sakit, hanya saja aku masih bisa tidur nyenyak akibat kelelahan.

Aku sakit, hanya saja aku masih bisa makan dua kali sehari.

Sesehat itu fisikku untuk pikiran – pikiran yang membunuhku.

Bagaimana lagi aku harus mengenyahkan gundah yang perlahan mematikanku?

Bagaimana lagi aku harus menghidupkan rasa yang seharusnya tumbuh subur saat ini?

Aku hidup dan mati, di tempat yang tak seharusnya.

Namun, aku tak berdaya untuk menukarnya.

Seakan – akan, aku harus hidup dengan ini dalam waktu yang lama.

Aku lelah.

Aku lelah.

Bogor, 17 Februari 2023

Surga

Jika surga itu abadi, seperti apa keabadian itu?

Seperti apa rasanya tak pernah lagi merasakan sakit?

Seperti apa rasanya tak pernah lagi merasakan kelelahan?

Seperti apa rasanya tak pernah lagi merasakan sedih dan kecewa?

Seperti apa rasanya tak pernah lagi merasakan bosan?

Seperti apa rasanya perasaan bahagia yang konstan itu?

Seperti apa rasanya kenikmatan yang tak pernah berhenti mengalir?

Seperti apa rasanya dikelilingi suasana alam yang jauh lebih indah daripada dunia?

Apakah surga itu nyata?

Ataukah mungkin surga hanya sekedar khayalan belaka?

Apakah aku bisa ke sana?

Kapan aku bisa ke sana?

Ataukah aku harus ke neraka dulu untuk membasuh semua dosaku sebelum memasuki surga yang suci itu?

Bogor, 17 Februari 2023

Laut

Biru menghampar di sepanjang pandangan.

Aroma asin menyeruak ke dalam penciuman yang mulai mati rasa.

Jernihnya menipu, seringkali mengelabui dengan menghadirkan beberapa makhluk yang menyeramkan.

Namun, tak jarang, beberapa jenis kumpulan ikan mengepakkan sirip dan membentuk formasi indah di dekat perahu.

Memainkan perbedaan kedalaman sebagai trik pertunjukan yang menakjubkan.

Disuguhi timur pagi yang menyulutkan semangat hidup.

Pun terik tengah hari yang menyengat kulit, dibersamai burung – burung camar yang melintas, menyampaikan salam dari negeri seberang dengan kicauannya.

Pula panorama senja yang mendamaikan jiwa yang lelah.

Begitupun cakrawala malam yang dipenuhi dengan rasi bintang sebagai alat navigasi.

Sayangnya, ombak tak membiarkan adegan ini berlangsung lama.

Gelombangnya membuat ciptaan darat ini terombang – ambing, terbalik dan menenggelamkan seisinya.

Kilat menyambar, dan semakin pecahlah dengan rintik hujan yang menyertainya.

Drama kian memanas di tengah dinginnya hembusan angin malam.

Siklus berulang, dan darat mulai tampak dari kejauhan.

Ada harapan, bahwa perjalanan ini akan segera berlabuh.

Namun, yang muncul hanyalah kapal besar yang sudah karam sebagian badannya.

Bogor, 18 Januari 2023

Tali

Tali itu begitu mudah putus dan lepas.

Sedikit percikan api, atau goresan, maka kandas sudah ikatannya, betapapun kuatnya simpul yang diciptakan.

Harganya murah, kualitasnya standar, tetapi yang paling penting, tali itu kurang cocok untuk menghubungkan dua benda itu.

Mungkin untuk darurat, tali itu bisa dimanfaatkan.

Namun, aku ingin menggunakannya untuk jangka waktu yang cukup lama.

Jadi, aku putuskan untuk menggantinya dengan tali lain yang lebih berkualitas dan pantas.

Aku tak ingin mengganti tali pilihan terakhirku, hingga ia benar – benar rusak dan tak bisa digunakan lagi.

Hingga ia tak lagi punya kekuatan untuk mempertahankan ikatannya antara dua benda itu.

Bogor, 9 Januari 2023

Lusuh

Seniman jalanan itu lusuh tak berbedak.

Menari – nari di kesendirian tengah malam.

Menertawakan semut – semut yang gagal membawa remah roti ke sarangnya.

Mengguratkan beribu sajak pada setiap permukaan yang rata dengan jarinya yang hitam legam.

Menghangatkan perut pada dinginnya dini hari, dengan beberapa sisa botol teh dan beberapa kotak makanan yang hampir basi.

Tak mandi, tak berbenah.

Ia perlihatkan gigi kuningnya pada semua orang yang memandangnya jijik.

Menjelang pagi, ia tata tempat tidurnya sebaik mungkin.

Mulai terlelap di antara lalu lalang manusia.

Hingga mimpinya buyar karena air bah yang turun dari langit.

Bogor, 24 Desember 2022

Validasi

Menata kehampaan yang tak kunjung berhenti untuk singgah di hati.

Meraba validasi rasa dari berbagai simfoni kehidupan.

Mencipta berbagai seni untuk menampung semua gejolak emosi.

Menyuarakan hening dalam guratan pena.

Mengagumi spektakulernya karya Sang Maestro di ujung cakrawala.

Mengasingkan diri dari berisiknya buana.

Merancang skenario yang takkan pernah terjadi.

Bernostalgia dengan koneksi batin di masalalu.

Berdebat dengan suara – suara di pikiran.

Berusaha mengetahui apa yang dirasakan di dalam benak.

Dalam kesendirian, berulangkali, hingga tak ada lagi oksigen dalam tubuh ini.

Bogor, 17 Desember 2022

Penasaran

Mengetahui, menyaksikan dan menawarkan.

Rasa penasaran akan membuatmu merasakan ketiganya.

Bagai dua sisi dalam satu koin, ketiganya memiliki antitesis yang sangat timpang dalam satu karakter.

Dengan penasaran, kamu bisa mengetahui hal – hal yang berguna untuk hidupmu; atau yang tak bermanfaat sama sekali bagimu.

Dengan penasaran, kamu bisa menyaksikan berbagai euforia kesenangan yang membuat batinmu bahagia; atau kejadian yang membuatmu traumatik seumur hidup.

Dengan penasaran, kamu bisa menawarkan solusi yang cukup signifikan untuk berbagai masalahmu; atau kehancuran untuk memporakporandakan hidupmu yang damai.

Ada kalanya penasaran membuatmu hidupmu lebih baik, tetapi tak jarang pula menjerumuskanmu ke dalam lingkaran setan yang tak berujung.

Dan kamu tahu?

Selalu ada pilihan untuk berhenti di dalam dirimu.

Gunakanlah dengan bijak, di saat yang tepat.

Bogor, 10 Desember 2022

Realita

Seperti apa wujud dari realita?

Apakah yang ada di depan mataku, atau hanya interpretasi dari apa yang kupikirkan?

Apakah realita tersusun dari sekelompok manusia yang berbisik membicarakan keburukan manusia lain?

Apakah realita terdeskripsi sebagai harapan – harapan yang tak pernah terwujud?

Apakah realita menceritakan sukacita kelulusan mahasiswa?

Apakah realita mencakup pencarian jati diri?

Apakah realita merangkul masalalu?

Apakah realita menetapkan suatu standar yang cukup ‘idealis’ bagi para penganut idealisme?

Apakah realita tempat yang cukup aman untuk berbagi?

Apakah realita menjanjikan kehidupan yang takkan ada lagi air mata?

Apakah realita tempat yang baik untuk dihuni?

Atau aku kembali saja ke utopiaku yang jauh lebih menyenangkan?

Bogor, 7 Desember 2022

Peluru

Menyusuri ruang antara langit dan tanah, lelaki itu terhuyung membawa tubuhnya sendiri.

Sinyal otaknya yang hampir lumpuh memerintahkannya untuk beristirahat di bawah pohon beringin tua.

Ia tersenyum menahan pedihnya peluru yang menancap ke jantungnya beberapa detik lalu.

Matanya yang entah kapan terakhir kali menangis, akhirnya tumpah tak terkendali, mengingat nikmatnya masakan Ibunya pada siang hari yang terik setelah shalat Zuhur.

Mengenang pelukan istrinya yang hangat setelah melayaninya di kegelapan malam.

Bernostalgia dengan tawa riang anak perempuannya yang menyambutnya pulang.

Semua memori itu begitu cepat berputar di kepalanya, hingga terhenti di satu adegan yang tak akan pernah ia ingat lagi esok hari;

Tangannya yang berlumur darah.

Bogor, 21 November 2022

Tiga Dua

Dariku yang punya impian gila untukmu.

Dariku yang memikirkan apa yang kamu pikirkan.

Dariku yang hanya bisa mengibarkan bendera putih dari seberang pulau.

Dariku yang tak bisa memberikan apapun.

Dan untukmu, yang menggeluti utopiaku hingga suasana gulita; selamat menua.

Selamat menjajaki usia yang semakin dekat dengan langit.

Tentu saja, aku sedang merayakanmu… di pikiranku.

Bogor, 31 Oktober 2022